Chereads / Dipanggil ke Dunia Lain untuk Menjadi Pahlawan? / Chapter 1 - Chapter 1: Dipanggil untuk Menyelamatkan (1)

Dipanggil ke Dunia Lain untuk Menjadi Pahlawan?

7Rocky_Aji
  • 7
    chs / week
  • --
    NOT RATINGS
  • 35
    Views
Synopsis

Chapter 1 - Chapter 1: Dipanggil untuk Menyelamatkan (1)

Matahari sore menerobos celah tirai, menerangi ruangan Vito dengan cahaya jingga kemerahan. Ruangan itu berantakan, penuh dengan poster film, komik, dan game. Di tengah ruangan, Vito dan Ruca duduk berhadapan, konsentrasi mereka sepenuhnya tertuju pada layar monitor.

"Oke, Vito, kita harus menggunakan taktik 'serangan kilat' untuk mengalahkan bos akhir," kata Ruca, jari-jari lentiknya menari-nari di atas keyboard, mengendalikan karakternya dalam game RPG "Aetheria". "Kita harus memanfaatkan kelemahannya saat dia mencoba menggunakan mantra 'Hujan Api'."

Vito, yang biasanya pendiam dan lebih suka berpikir strategis, mengangguk setuju. "Benar. Tapi kita harus berhati-hati, Ruca. Dia sangat kuat. Kita perlu memperkirakan serangan baliknya."

Mata Vito menatap layar dengan fokus, merencanakan strategi yang sempurna. Ia membayangkan dirinya sebagai seorang penyihir berjubah, dengan tongkat sihir yang bersinar. "Jika kita bisa mengalihkan perhatiannya ke arah timur," kata Vito, "kita bisa menyerang dari barat dan mengalahkan dia sebelum dia sadar."

Ruca, yang lebih gemar beraksi dan berpetualang, terkekeh. "Serangan dari arah yang tidak terduga! Kau memang jenius, Vito. Ayo kita lakukan!"

Mereka meneruskan permainan mereka, terhanyut dalam dunia fantasi "Aetheria," di mana sihir dan monster bersatu dalam petualangan yang epik. Mereka membayangkan diri mereka sebagai pahlawan pemberani yang menjelajahi dunia magis itu, mengalahkan musuh, dan menyelesaikan misi.

"Aetheria! Kau tahu, aku sangat berharap bisa berada di dunia itu," kata Ruca, sambil melepaskan napas lega setelah mengalahkan monster yang besar. "Bayangkan, kita bisa menggunakan sihir sungguhan, berpetualang di hutan ajaib, dan bertempur melawan naga."

Vito tersenyum kecil. "Aku juga ingin merasakannya, Ruca. Bayangkan, kita bisa terbang dengan sayap naga, menjelajahi istana bawah tanah, dan menemukan harta karun."

Tiba-tiba, ruangan mereka bergetar hebat. Cahaya terang menyilaukan mereka, dan hawa dingin yang menusuk mengalir dari sudut ruangan.

"Apa itu?" tanya Ruca, matanya terbelalak.

"Aku... aku tidak tahu," jawab Vito, merasa tidak berdaya saat ruangan berputar-putar.

Mereka merasakan kekuatan yang aneh mengalir di tubuh mereka, dan dunia di sekitar mereka berputar-putar seperti pusaran air. Saat cahaya mereda, mereka mendapati diri mereka berada di ruangan yang tidak dikenali.

"Di mana kita?" tanya Ruca, suaranya gemetar.

Vito terkesima menatap sekeliling ruangan. Desain futuristik dan cahaya yang aneh mengelilingi mereka. "Aku... aku tidak tahu," jawab Vito, merasa bingung dan takut.

"Tapi... ini seperti di game, Vito!" teriak Ruca dengan gembira, matanya berbinar. "Kita berada di dunia lain! Mimpi kita jadi kenyataan!"

Vito, yang biasanya lebih tenang, juga merasakan sedikit kegembiraan. Dia menatap sekeliling ruangan dengan rasa heran dan takjub. "Ini... ini luar biasa," gumamnya.

Mereka mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi. "Apakah kita dipindahkan?" tanya Vito, meraba dinding ruangan dengan tangan gemetar.

"Mungkin kita memang di dunia lain!" jawab Ruca dengan semangat, "Seperti di game 'Aetheria', tapi lebih nyata!"

Mereka bersemangat untuk menjelajahi ruangan itu, menemukan teknologi dan desain yang unik. Mereka merasa seperti tokoh-tokoh dalam game RPG mereka, bersemangat untuk menjelajahi dunia baru ini.

"Keren, kan? Kayak dunia Aetheria, tapi teknologi-nya lebih maju!" kata Ruca dengan gembira, menunjuk ke sebuah perangkat yang mengeluarkan cahaya berwarna-warni.

"Mungkin ini versi dunia lain yang lebih maju," kata Vito sambil mengamati desain ruangan.

Namun, saat mereka berjalan keluar ruangan, mereka melihat penjaga kerajaan yang mengenakan baju besi mengkilap dan membawa senjata aneh. Penjaga itu menatap mereka dengan tatapan serius.

"Kalian adalah para pahlawan yang telah dipanggil," katanya. "Kalian berasal dari dunia lain, tetapi sekarang kalian berada di Ouroboros."

***

"Ouroboros," ulang penjaga itu, suaranya bergema di lorong yang sunyi. "Kalian berada di kerajaan Ouroboros, para pahlawan yang dipanggil."

Vito dan Ruca saling berpandangan, wajah mereka dipenuhi dengan kebingungan. Ouroboros? Itu bukan nama yang mereka kenal dari game mereka. "Aetheria" memang memiliki kerajaan-kerajaan, tetapi tidak ada yang bernama Ouroboros.

"Tapi... bagaimana kita bisa sampai di sini?" tanya Ruca, suaranya sedikit gemetar.

Penjaga itu menunduk, menatap mereka dengan tatapan serius. Sorot matanya, yang berwarna biru tua seperti langit malam, tampak tajam dan penuh kewaspadaan. Rambutnya yang berwarna putih keperakan disisir rapi, dan jenggotnya yang pendek dan terawat menambah kesan wibawa pada wajahnya. Wajahnya penuh dengan garis-garis halus yang menandakan pengalaman panjang, namun ia tampak kuat dan energik.

"Kalian dipanggil oleh kekuatan magis yang tak terlihat. Kalian adalah orang-orang terpilih, anak-anak, yang ditakdirkan untuk melindungi kerajaan ini."

"Memproteksi kerajaan?" Vito bertanya, suaranya terdengar lemah. "Dari apa?"

Penjaga itu mengangguk. "Dari Shadowlings, para makhluk kegelapan yang mengancam perdamaian kerajaan kita."

"Shadowlings?" Ruca mengerutkan kening. "Itu terdengar seperti nama monster dalam game."

"Ini bukan permainan, anak-anak," kata penjaga itu dengan tegas. "Kalian berada di dunia nyata sekarang. Dan dunia ini membutuhkan bantuan kalian."

"Tapi... kami bukan pahlawan," kata Vito, suaranya terdengar lemah. "Kami hanya anak-anak biasa yang suka bermain game."

"Di dalam diri kalian ada kekuatan yang terpendam, anak-anak," kata penjaga itu, "Kekuatan yang bisa menyelamatkan kerajaan ini dari kehancuran." Ia menunjuk ke dada Vito dan Ruca dengan jari telunjuknya. "Kekuatan itu ada di dalam kalian. Kalian hanya perlu belajar untuk melepaskannya."

Vito dan Ruca saling berpandangan, merasa takjub dan takut sekaligus. Mereka mencoba mengingat kejadian yang baru saja terjadi, tetapi pikiran mereka dipenuhi dengan kebingungan.

"Bagaimana kita bisa... menggunakan kekuatan itu?" tanya Ruca, suaranya masih gemetar. "Kami tidak pernah memiliki kekuatan seperti itu."

Penjaga itu tersenyum tipis. "Kalian akan belajar. Kalian akan dilatih oleh para penjaga kerajaan."

"Latihan?" Vito bertanya, "Untuk apa?"

"Untuk menghadapi Shadowlings," jawab penjaga itu. "Untuk melindungi kerajaan ini."

Vito dan Ruca mengikuti penjaga itu melalui lorong yang megah. Dinding-dindingnya dihiasi dengan ukiran yang rumit, dan cahaya aneh berkelap-kelip dari sela-sela langit-langit.

"Ini... ini sungguh menakjubkan," kata Ruca, terkesima oleh pemandangan itu. "Tapi, aku masih tidak percaya kita berada di dunia lain."

"Kita harus percaya, Ruca," kata Vito, suaranya terdengar lebih tenang. "Ini adalah kenyataan sekarang."

Mereka terus berjalan, memasuki ruangan yang luas dan penuh cahaya. Di tengah ruangan, terdapat sebuah singgasana yang terbuat dari emas dan permata. Di atas singgasana, duduk seorang raja yang berwibawa, mengenakan jubah kerajaan yang berkilauan.

"Ini adalah Raja Aureus," kata penjaga itu, "Raja kerajaan Ouroboros."

Vito dan Ruca menunduk hormat kepada Raja Aureus. Raja itu menatap mereka dengan tatapan tajam. "Kalian adalah para pahlawan yang dipanggil," kata Raja Aureus, suaranya bergema di seluruh ruangan. "Selamat datang di kerajaan Ouroboros."

"Kami... kami merasa terhormat, Yang Mulia," kata Vito, suaranya masih gemetar.

"Kalian telah datang pada saat yang tepat," kata Raja Aureus. "Ancaman Shadowlings semakin besar. Kalian adalah harapan terakhir kerajaan kita."

"Kami akan melakukan yang terbaik, Yang Mulia," kata Ruca, merasa gugup. "Kami akan berjuang untuk melindungi kerajaan ini."

"Kalian akan dilatih oleh para penjaga kerajaan," kata Raja Aureus. "Mereka akan mengajarkan kalian cara menggunakan kekuatan magis yang ada di dalam diri kalian."

Vito: "Kekuatan magis? Apa maksudnya? Apakah kita benar-benar akan menjadi penyihir? Seperti di game "Aetheria"? Ini gila... tapi, aku merasa sedikit bersemangat."

Ruca: "Wow! Ini keren! Aku akan belajar sihir! Aku bisa membayangkan diriku terbang dengan jubah berwarna-warni, memancarkan sinar energi, dan mengalahkan musuh dengan jurus-jurus ajaib."

Vito dan Ruca saling berpandangan, merasa sedikit lega. Mereka akan belajar untuk menggunakan kekuatan magis! Mereka akan menjadi pahlawan! Mimpi mereka menjadi kenyataan.

"Bagaimana dengan dunia kita?" tanya Vito, "Apakah kita bisa kembali ke dunia kita?"

Raja Aureus tersenyum tipis. "Itu terserah kalian. Kalian bebas untuk kembali kapan saja. Tetapi, jika kalian memilih untuk membantu kami, kerajaan ini akan selamanya menjadi rumah bagi kalian."

Vito: "Apa maksudnya? Apakah kita harus memilih? Apakah kita harus meninggalkan dunia kita? Aku tidak ingin meninggalkan orang tuaku... keluargaku... tapi, menjelajahi dunia lain, menguasai kekuatan magis... itu sangat menggoda."

Ruca: "Wah, kita bisa tinggal di dunia ini selamanya? Keren! Bayangkan, petualangan yang tak berujung, monster yang harus dikalahkan, dan sihir yang luar biasa. Aku tidak ingin kembali ke dunia kita. Di sini, aku bisa menjadi pahlawan sejati."

Vito dan Ruca saling berpandangan, merasa sedikit takut dan ragu. Mereka merasakan beban tanggung jawab yang berat di pundak mereka. Mereka harus memilih antara dunia lama mereka dan dunia baru ini.

"Kami... kami akan memikirkannya, Yang Mulia," kata Vito, suaranya masih gemetar.

Raja Aureus mengangguk. "Baiklah. Kalian memiliki waktu untuk memutuskan. Penjaga kerajaan akan membawa kalian ke tempat pelatihan."

Penjaga itu menuntun Vito dan Ruca keluar dari ruangan Raja Aureus. Mereka berjalan melalui lorong-lorong yang megah, menelusuri koridor yang dihiasi dengan patung-patung prajurit dan lambang-lambang kerajaan.

"Ini kerajaan yang menakjubkan," kata Ruca, terkesima oleh pemandangan itu.

"Ya, sungguh menakjubkan," kata Vito, "Tapi, aku masih merasa bingung. Bagaimana kita bisa tiba-tiba berada di sini? Apa yang akan terjadi selanjutnya?"

"Jangan khawatir," kata penjaga itu, "Kalian akan belajar segalanya. Kalian akan menjadi pahlawan yang luar biasa."

Vito: "Apakah dia benar? Apakah kita benar-benar bisa menjadi pahlawan? Aku merasa tidak percaya diri. Aku hanya anak laki-laki biasa. Bagaimana aku bisa menyelamatkan dunia ini?"

Ruca: "Aku juga tidak percaya diri. Tapi, aku ingin menjadi pahlawan. Aku ingin melakukan hal-hal luar biasa. Aku ingin menyelamatkan dunia ini."

Penjaga itu membawa mereka ke sebuah ruangan yang luas dan terang. Di ruangan itu, terdapat beberapa orang yang mengenakan baju perang yang berkilauan.

"Ini adalah para penjaga kerajaan," kata penjaga itu. "Mereka akan melatih kalian."

Para penjaga itu menatap Vito dan Ruca dengan tatapan tajam.

"Kami akan mengajarkan kalian cara menggunakan kekuatan magis yang terpendam di dalam diri kalian," kata salah seorang penjaga, "Kalian akan belajar untuk mengendalikan kekuatan itu, menguasai seni pertempuran, dan menjadi pahlawan yang tangguh."

Vito dan Ruca merasakan sedikit ketakutan. Mereka tidak tahu apa yang menanti mereka. Tapi, mereka juga merasakan sedikit kegembiraan.

"Kita akan melakukan yang terbaik," kata Vito, suaranya masih gemetar, "Kita akan menjadi pahlawan yang hebat."

"Ya, kita akan menjadi pahlawan yang hebat," kata Ruca, "Kita akan menyelamatkan dunia ini!"

Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tetapi, satu hal yang mereka yakini: petualangan mereka baru saja dimulai.