Malam di Hutan Hitam selalu sunyi dan kelam, seakan-akan cahaya enggan menyentuh tanah yang ditumbuhi akar-akar liar. Namun, di salah satu sudut hutan yang paling terpencil, terdapat sebuah gubuk reyot yang diterangi oleh cahaya redup dari lentera tua. Di dalamnya, lelaki berjubah compang-camping yang telah menyelamatkan bayi Raviel tengah duduk bersila, mengamati anak itu dengan mata tajam.
Bayi itu tidak seperti bayi lainnya. Ia jarang menangis, seolah sadar bahwa tangisannya hanya akan mengundang bahaya. Matanya, meskipun belum terbuka sempurna, tampak gelap dan dalam, memancarkan sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang bayi—sebuah kekuatan yang masih tersembunyi.
"Hmm… kau bukan bayi biasa," gumam lelaki tua itu.
Tangannya yang penuh keriput bergerak ke udara, menggambar simbol-simbol yang bercahaya samar. Dalam sekejap, lingkaran sihir berwarna kebiruan muncul di atas Raviel. Lelaki tua itu mengerutkan kening.
"Seperti yang kuduga… energi kegelapan dalam dirimu masih murni."
Biasanya, seorang bayi yang memiliki elemen akan menunjukkan tanda-tanda sejak lahir. Namun, energi kegelapan berbeda. Ia tidak bisa dikendalikan dengan cara biasa. Dan itu berarti, bayi ini bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar kutukan.
Lelaki tua itu tersenyum tipis. "Kalau begitu, kau akan tinggal bersamaku. Aku akan mengajarimu tentang dunia ini, Raviel."
Malam itu, tanpa ada yang menyadari, seorang anak yang seharusnya dimusnahkan telah mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan belajar.
---
Tahun-tahun berlalu.
Raviel kini bukan lagi bayi yang tak berdaya. Ia telah tumbuh menjadi anak laki-laki berusia tujuh tahun dengan rambut hitam pekat yang jatuh berantakan di bahunya. Kulitnya pucat, hampir seperti seseorang yang jarang tersentuh cahaya matahari, dan matanya selalu tampak mengamati segala sesuatu dengan ketajaman yang tidak biasa.
Ia tidak seperti anak-anak lain. Sejak kecil, ia sudah terbiasa hidup sendiri di hutan bersama lelaki tua yang ia panggil Tuan.
"Tuan, aku sudah selesai."
Suara Raviel yang masih terdengar muda namun tenang menggema di dalam gubuk. Ia berdiri di depan lelaki tua itu, menunjukkan setumpuk kayu yang telah ia potong dengan pisau kecil.
Lelaki tua itu mengangguk puas. "Bagus. Tapi kau butuh lebih dari sekadar kekuatan untuk bertahan hidup."
Ia bangkit, lalu berjalan ke arah sebuah batu besar yang terletak di dekat gubuk. Batu itu sudah dipenuhi goresan-goresan tajam akibat latihan yang telah mereka lakukan selama ini.
"Raviel," panggilnya.
Anak laki-laki itu langsung berdiri tegak. "Ya, Tuan?"
Lelaki tua itu mengangkat satu jarinya, lalu dalam sekejap, angin kencang berputar di sekitar mereka. Seolah-olah kekuatan tak terlihat sedang bangkit dari tanah.
"Dunia ini tidak pernah ramah kepada mereka yang lemah. Kau harus menjadi kuat jika ingin bertahan."
Raviel mengangguk. Ia tidak pernah mempertanyakan hal itu. Sejak kecil, ia sudah tahu bahwa dunia ini menolaknya. Namun, ia tidak akan membiarkan dunia menghancurkannya.
Lelaki tua itu melemparkan sebuah batu kecil ke udara. "Hancurkan."
Tanpa ragu, Raviel mengangkat tangannya. Ia memfokuskan pikirannya, merasakan energi gelap yang mengalir dalam dirinya. Batu kecil itu masih melayang di udara ketika tiba-tiba, dari telapak tangan Raviel, bayangan hitam tipis muncul dan menghantam batu itu.
Crack!
Batu itu pecah berkeping-keping sebelum jatuh ke tanah.
Lelaki tua itu tersenyum tipis. "Kau semakin baik."
Raviel hanya menatap pecahan batu itu. Ia tahu bahwa kekuatannya terus bertumbuh. Tapi ia juga tahu bahwa ini baru permulaan.
Di suatu tempat di luar hutan ini, dunia masih membencinya. Tapi suatu hari nanti, dunia tidak akan bisa lagi mengabaikannya.
Suatu hari nanti, ia akan menunjukkan bahwa kegelapan bukanlah kelemahan.
Melainkan kekuatan.