Chereads / Shadowborne: The Cursed Prodigy / Chapter 4 - Warisan Kegelapan

Chapter 4 - Warisan Kegelapan

Cahaya ungu dari kristal yang berpendar di altar batu menciptakan bayangan-bayangan yang menari di dinding gua. Energi yang terpancar darinya begitu pekat hingga udara di sekitar terasa berat, seolah-olah kegelapan itu sendiri sedang mengawasi.

Raviel berdiri diam, napasnya teratur meskipun tubuhnya bersimbah keringat. Matanya tetap fokus pada sosok besar yang muncul dari lantai gua—Penjaga Terakhir.

Makhluk itu lebih besar daripada yang lain. Tubuhnya diselimuti kabut hitam yang terus bergerak, seakan-akan kegelapan adalah bagian dari dirinya. Sepasang mata merah menyala dalam kehampaan wajahnya, menatap Raviel tanpa ekspresi.

Tanpa aba-aba, Penjaga Terakhir bergerak.

Whoosh!

Makhluk itu melesat seperti bayangan, jauh lebih cepat dari apa pun yang pernah Raviel hadapi. Dalam sepersekian detik, cakar tajamnya sudah hampir mengenai lehernya.

Refleks Raviel bekerja. Ia melompat ke belakang, hampir kehilangan keseimbangan saat kakinya menyentuh tanah yang licin. Tapi ia tidak punya waktu untuk mengatur posisi. Penjaga Terakhir menyerang lagi, kali ini dengan ayunan tangan besar yang menghempaskan udara di sekelilingnya.

Raviel memfokuskan energinya ke kaki dan melompat ke samping, menghindari serangan itu. Tapi serangan makhluk itu tidak berhenti. Ia menyapu tangannya ke tanah, menciptakan gelombang bayangan yang meluncur cepat ke arah Raviel.

Boom!

Ledakan terjadi ketika energi kegelapan bertabrakan dengan dinding gua, membuat batuan besar runtuh. Raviel nyaris tertimpa, tapi ia berhasil berguling ke depan, melesat menuju altar.

Aku harus mendapatkan kristal itu!

Pikirannya berteriak, tapi tubuhnya menegang ketika merasakan sesuatu muncul dari belakang.

Instingnya menyuruhnya menunduk, dan tepat saat itu, cakar hitam dari Penjaga Terakhir melintas hanya beberapa inci di atas kepalanya.

Hampir saja...

Raviel tidak bisa terus bertahan seperti ini. Ia harus menyerang balik.

Ia menekan tangannya ke tanah dan dalam sekejap, bayangan di bawahnya mulai bergerak. Ia memanfaatkan kekuatan yang telah ia latih selama bertahun-tahun.

"Bayangan Terikat."

Bayangan di tanah naik seperti tali hitam yang melesat, melilit tubuh Penjaga Terakhir. Makhluk itu meronta, menggeram dengan suara serak yang memenuhi gua.

Raviel tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan cepat, ia berlari menuju altar.

Semakin dekat ia dengan kristal itu, semakin kuat energinya menariknya. Seakan-akan kristal itu mengenalinya—mengakui keberadaannya.

Tangannya terulur, siap untuk mengambilnya—

GRRRRAAAHHH!

Teriakan dahsyat bergema di dalam gua. Dalam sekejap, Penjaga Terakhir meledakkan bayangan yang menahannya. Energi hitam menyebar liar, menghantam tubuh Raviel dan melemparkannya ke belakang.

Bugh!

Tubuhnya menghantam tanah dengan keras, rasa sakit menjalar di tulangnya. Namun, ia tidak punya waktu untuk merasakannya lebih lama.

Penjaga Terakhir melesat ke arahnya, siap memberikan serangan mematikan.

Tapi kali ini, Raviel tidak akan menghindar.

Dengan mata penuh tekad, ia menekan tangannya ke tanah, dan seketika bayangan di sekitarnya berkumpul, membentuk perisai hitam yang melindunginya.

"Bayangan Perisai."

CLANG!

Serangan Penjaga Terakhir menghantam perisai itu, menciptakan riak energi yang mengguncang gua. Tapi Raviel tidak mundur.

Dalam waktu yang sama, ia merentangkan tangannya dan mengarahkan telapak tangannya ke Penjaga Terakhir.

"Bayangan Menelan."

Gelombang energi hitam menyebar dari tubuhnya, merambat seperti akar yang mencengkeram, menyelimuti tubuh makhluk itu.

Penjaga Terakhir meraung, tubuhnya bergetar ketika energi Raviel menyatu dengannya. Cahaya merah di matanya mulai redup, dan kabut hitam yang menyelimutinya berputar liar.

Untuk pertama kalinya, Raviel melihat ekspresi di mata makhluk itu—bukan kemarahan, bukan kebencian, melainkan… penerimaan.

Seakan-akan Penjaga Terakhir menyadari sesuatu.

Kemudian, tubuhnya mulai larut dalam kegelapan, menghilang menjadi bayangan yang terserap ke dalam tanah.

Gua menjadi sunyi.

Raviel tetap diam, napasnya terengah-engah. Matanya menatap ke arah altar, di mana kristal itu masih bersinar dengan cahaya yang menggoda.

Tanpa ragu, ia melangkah maju dan meraih kristal itu.

Begitu jari-jarinya menyentuh permukaannya, ledakan energi mengalir ke dalam tubuhnya.

BRRRZZZZTTT!

Dunia seakan bergetar. Cahaya hitam melesat dari kristal, menyelimuti tubuhnya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari ujung kepala hingga kaki.

Gambar-gambar aneh muncul di pikirannya—kenangan yang bukan miliknya.

Ia melihat seseorang… seseorang yang memiliki mata sepertinya.

Seorang pria dengan rambut hitam pekat berdiri di depan gerbang besar yang menjulang tinggi. Di belakangnya, ribuan orang berlutut, bersumpah setia kepadanya.

Kemudian, pemandangan itu berubah.

Pria itu bertarung melawan sosok berjubah putih yang memegang pedang bercahaya.

Lalu… darah.

Darah di mana-mana.

Pria itu jatuh, tubuhnya ditelan oleh bayangan yang tak berbentuk.

Siapa dia…?

Pikiran Raviel berputar, tapi sebelum ia bisa memahami lebih jauh, semuanya menghilang.

Cahaya kristal meredup, kembali menjadi batu hitam kecil yang kini ada di tangannya.

Ketika Raviel membuka matanya, ia merasakan sesuatu berubah dalam dirinya.

Kekuatan yang mengalir dalam tubuhnya… lebih pekat, lebih kuat, lebih—

Berbahaya.

Ia mengepalkan tangannya, menatap kristal itu dalam diam.

Ia tidak tahu siapa pria yang ia lihat dalam visi itu, tapi satu hal pasti—ia baru saja mewarisi sesuatu yang lebih besar dari yang ia bayangkan.

Dan sekarang, ia harus mencari tahu…

Siapa dirinya sebenarnya?