Perjalanan kembali ke kota terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Setiap langkah yang Samsul ambil di atas aspal yang retak terdengar jelas di telinganya, menciptakan kesan seolah-olah kota ini benar-benar telah ditinggalkan oleh kehidupan. Bangunan-bangunan di sekitarnya masih berdiri kokoh, meski sebagian sudah hancur atau terbakar.
Namun, Samsul tidak bisa sepenuhnya merasa tenang. Ada sesuatu yang berbeda kali ini. Sesuatu yang membuatnya lebih waspada dari biasanya.
Saat ia semakin dekat dengan toko tua tempat ia sebelumnya menemukan sedikit persediaan makanan, tiba-tiba langkahnya terhenti. Di depannya, berdiri tiga orang.
Salah satunya adalah seorang pria tua yang pernah ia temui sebelumnya. Namun, kali ini, pria tua itu tidak sendirian. Dua orang lainnya berdiri di sisinya, masing-masing memegang senjata tajam satu membawa kapak besar, sementara yang lain menggenggam celurit dengan erat.
Samsul langsung meningkatkan kewaspadaannya. Tangannya refleks meraba pinggang, merasakan dinginnya pistol yang terselip di sarungnya. Ia menatap mereka dengan serius, jari-jarinya bersiap menarik pelatuk jika keadaan memaksanya bertindak.
Keheningan mencekam menyelimuti mereka selama beberapa detik.
Tiba-tiba, salah satu pria yang berada di samping si pria tua melangkah maju dengan gerakan cepat, mencoba menyerang Samsul.
Tanpa ragu, Samsul langsung mengangkat pistolnya dan menembak.
DOR!
Tembakan itu mengenai pundak penyerangnya. Pria itu langsung mengerang kesakitan dan terjatuh ke tanah, mencengkeram bahunya yang berdarah.
Rekan lainnya, yang membawa celurit, tampak hendak menyerang Samsul juga, tetapi tiba-tiba pria tua itu mengangkat tangan, menghentikan rekannya.
"Diamlah…" ujar pria tua itu dengan suara rendah. "Jika dia ketakutan atau stres, rasanya pasti tidak enak… Jadi tunggu waktu yang tepat."
Nada bicaranya terdengar ambigu, hampir seperti ancaman terselubung. Kata-katanya membuat bulu kuduk Samsul berdiri.
Pria tua itu menatap Samsul dengan sorot mata tajam, lalu memberi isyarat kepada kedua rekannya untuk mundur.
Mereka bertiga mulai berjalan menjauh, tapi tatapan mereka tetap terpaku pada Samsul, seolah mereka mengukir sosoknya dalam ingatan mereka.
Samsul tidak menurunkan pistolnya sedikit pun. Ia tetap mengarahkan senjatanya ke arah mereka, memastikan mereka benar-benar pergi sebelum akhirnya menurunkan pistolnya.
Setelah beberapa menit berlalu dan memastikan tidak ada ancaman lebih lanjut, Samsul mulai memperhatikan sesuatu yang aneh.
Biasanya, di sekitar kota ini selalu ada Sonovore makhluk mengerikan yang mengandalkan suara untuk berburu. Setidaknya, pasti ada satu atau tiga ekor yang berkeliaran di area seperti ini.
Namun, sekarang… tidak ada satu pun yang terlihat.
Samsul menyipitkan mata, mencoba memahami situasi. "Kemana mereka pergi?" gumamnya dalam hati.
Tapi ia tidak bisa terlalu lama memikirkan itu. Misinya belum selesai.
Persediaan Makanan dan Pencarian Anak-anak yang Hilang
Tanpa membuang waktu, Samsul segera menuju toko kelontong tua yang ia tuju sejak awal. Ia berjalan cepat dan membuka pintunya dengan hati-hati.
Rak-rak di dalam toko itu sudah hampir kosong, hanya tersisa sedikit barang yang masih bisa diambil. Ia segera mengumpulkan apa yang ia bisa:
3 kaleng sarden
2 kg beras
Beberapa makanan instan yang masih bisa dimakan
Beberapa botol air minum
Meskipun jumlahnya tidak banyak, tapi tetap lebih baik daripada tidak ada sama sekali.
Setelah memastikan ia sudah mengambil semua yang bisa dibawa, Samsul memikirkan langkah selanjutnya.
"Sekarang tinggal mencari anak-anak lainnya…" gumamnya sambil menatap jalanan kosong di luar.
Dari total anak-anak yang hilang, sejauh ini ia baru menemukan Agus. Itu berarti masih ada 9 anak lagi yang harus ia temukan.
Ia mencoba mengingat area mana saja yang sudah ia telusuri. "Kemarin aku sudah memeriksa bagian sebelah sana… meskipun tidak seratus persen, setidaknya aku sudah mendapatkan gambaran area itu."
Ia menoleh ke arah kanan. "Sekarang, aku akan mencoba menjelajahi daerah sana."
Dengan tekad yang bulat, Samsul melanjutkan perjalanannya ke arah yang ia tunjuk.
Saat ia semakin jauh masuk ke dalam kota, ia menemukan sesuatu yang berbeda dari area sebelumnya.
Di hadapannya, terbentang sebuah kompleks perumahan yang tampak lebih tertata rapi dibandingkan bagian kota yang lain. Rumah-rumah di sini masih berdiri dengan cukup utuh, tidak terlalu rusak seperti bangunan di pusat kota. Namun, meskipun terlihat lebih terjaga, suasana di tempat ini justru terasa lebih sunyi…
Samsul memperhatikan sekeliling. Ada beberapa mobil yang rusak dan terbengkalai di pinggir jalan, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan.
"Tempat ini pasti memiliki Sonovore juga…" pikirnya. "Aku harus lebih berhati-hati."
Dengan langkah perlahan, Samsul mulai mendekati salah satu rumah. Ia memilih rumah yang terlihat paling stabil dan memiliki kemungkinan tempat persembunyian yang baik.
Ia memegang gagang pintu dan perlahan mendorongnya.
KREEK…
Suara engsel pintu yang berderit terdengar jelas di keheningan malam.
Samsul masuk dengan hati-hati, memastikan bahwa ia tidak membuat suara berlebihan yang bisa menarik perhatian sesuatu… atau seseorang.
Namun, sebelum ia bisa melangkah lebih jauh ke dalam rumah…
TAP! TAP! TAP!
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki berlari di lantai atas.
Samsul langsung berhenti di tempat.
Tangannya refleks menggenggam pistolnya lebih erat.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Apakah itu seseorang yang masih hidup?
Atau sesuatu yang lain? Pikirannya berputar cepat, mencoba memahami situasi.
"Siapa itu? Apakah mereka manusia yang selamat atau monster yang harus aku hadapi?" gumamnya dalam hati, matanya tajam menatap ke atas, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Dengan langkah pelan dan penuh kehati-hatian, Samsul menaiki tangga, pistol dengan silencer di genggamannya sudah siap digunakan jika diperlukan. Setiap anak tangga yang dia injak terasa berat, seakan memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di lantai atas. Ketika akhirnya sampai, pemandangan yang ia lihat membuat bulu kuduknya meremang.
Di hadapannya, ada sekelompok makhluk mengerikan. Hewan-hewan yang seharusnya menjadi ternak atau peliharaan telah berubah menjadi monster sonovore. Sapi, ayam, anjing liar, dan beberapa hewan lainnya berdiri diam, tubuh mereka membengkak dengan daging yang menggumpal di kepala mereka seperti topeng menjijikkan. Jumlah mereka ada sepuluh ekor, dan semua terlihat diam seperti patung di tengah kegelapan ruangan.
"Sial... Hewan pun bisa berubah menjadi monster? Kenapa mereka hanya berdiam diri di lantai dua?" Samsul bergumam dalam hati, merasa semakin waspada.
Dia tidak bisa menyerang secara sembarangan. Jika dia membuat keributan, kemungkinan besar monster-monster ini akan menyerangnya sekaligus. Samsul berpikir cepat, lalu memutuskan untuk mundur perlahan. Dia menuruni tangga dengan gerakan yang hati-hati, memastikan tidak ada suara yang bisa menarik perhatian para makhluk itu. Begitu sampai di bawah, dia segera mencari sesuatu di dapur botol, kain, dan minyak.
"Aku bisa membuat bom molotov dan membakar mereka sekaligus," pikirnya sambil menuangkan minyak ke dalam botol dan memasukkan kain ke dalamnya.
Namun, sebelum dia benar-benar melanjutkan rencananya, sesuatu melintas di benaknya.
"Tunggu… bagaimana kalau ada manusia yang masih hidup di atas sana? Jika aku membakar tempat ini, mereka juga akan mati... Aku harus memastikan dulu sebelum bertindak," pikirnya sambil menggenggam botol molotovnya erat.
Samsul kembali menaiki tangga, kali ini dengan pistol di tangan. Dia mengarahkan larasnya ke salah satu monster hewan itu, lalu menarik pelatuknya.
Tssst...
Suara tembakan dari pistol bersilencer terdengar samar, hampir tidak berisik, tetapi cukup untuk memicu reaksi. Salah satu monster tersentak, lalu mengarah ke Samsul dengan gerakan aneh dan kaku. Samsul tidak ragu, dia terus menembak, menghabisi mereka satu per satu. Monster-monster itu memang merespons suara, tetapi tidak dengan keganasan yang dia bayangkan.
"Mungkin karena pistolku menggunakan silencer, mereka mengira suara itu hanya benda jatuh," gumam Samsul setelah menembak monster terakhir.
Begitu pertempuran berakhir, Samsul berjalan melewati bangkai-bangkai monster itu. Salah satu bangkai ayam menarik perhatiannya. Gumpalan daging yang menutupi kepalanya perlahan terlepas.
"Jika gumpalan itu sudah hilang... apakah hewan ini bisa dimakan?" pikirnya ragu.
Namun, dia segera membuang pikiran itu. Memakan sesuatu yang sudah terinfeksi adalah ide buruk. Dia mendorong ayam itu ke samping dan kembali ke misinya: mencari manusia yang masih bertahan hidup.
Samsul berjalan menyusuri lorong lantai dua, lalu berbicara dengan suara sedikit keras, "Apakah ada orang di sini?"
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang terasa semakin menyesakkan.
Samsul mulai membuka pintu satu per satu. Beberapa ruangan kosong, hanya berisi sisa-sisa kehidupan yang kini telah sirna. Ketika dia membuka pintu terakhir, sebuah bayangan bergerak cepat.
Braak!
Sebuah kayu melayang ke arahnya, hampir saja mengenai kepalanya jika dia tidak menghindar tepat waktu. Tiga sosok berdiri di dalam ruangan, ketiganya adalah anak-anak muda dan semuanya perempuan.
Mata Samsul menyipit, lalu dia menghela napas lega. "Hei! Kemana saja kalian?" katanya dengan suara setengah lega, setengah kesal.
Anak-anak muda itu menatap Samsul dengan penuh ketakutan sebelum akhirnya menyadari siapa dia. Mereka langsung menangis lega. Salah satu dari mereka terisak, "Kami pikir sudah tidak ada orang lagi... Kami benar-benar takut..."
Samsul hanya mengangguk dan memberi mereka waktu untuk menenangkan diri. Setelah beberapa saat, dia berkata, "Ayo, kita pergi dari sini. Aku akan membawa kalian ke tempat yang lebih aman."
Perjalanan kembali ke basecamp dimulai. Samsul dan ketiga anak muda itu berjalan perlahan, melewati kota yang kembali dipenuhi oleh sonovore. Mereka harus ekstra hati-hati, karena bahaya bisa datang dari mana saja.
Langit mulai berubah warna, menandakan senja telah tiba. Setelah perjalanan yang melelahkan dan menegangkan, akhirnya mereka hampir sampai di basecamp.
Samsul menoleh ke arah mereka dan tersenyum tipis, mencoba memberikan sedikit kehangatan di tengah suasana mencekam. "Sedikit lagi kita sampai. Hanya perlu berjalan lurus dan kita akan aman," katanya dengan nada lebih ramah.
Namun, sebelum mereka bisa melangkah lebih jauh..
Buk!
Sebuah benda keras menghantam kepala Samsul dari belakang. Pandangannya langsung berputar, tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan segalanya menjadi gelap.
Samsul pingsan di tempat.
Anak-anak muda itu terkejut, menjerit kecil. Namun, mereka sendiri tidak bisa melihat siapa yang telah menyerang Samsul.
Siapa yang telah memukulnya?
Apakah ini ulah seseorang dari kelompok pak tua?
Atau mungkin... sesuatu yang lebih mengerikan sedang mengintai mereka?
To be continued...