Chereads / The Hundred Realms / Chapter 23 - Terjebak di Gudang Maut

Chapter 23 - Terjebak di Gudang Maut

Samsul terbangun perlahan dari pingsannya, kepalanya terasa berat dan pandangannya masih samar. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi sesuatu terasa aneh. Begitu matanya mulai menyesuaikan dengan lingkungan sekitar, dia menyadari bahwa dirinya sedang digantung terbalik.

"Aku ada di mana ini...?" gumamnya lemah, masih berusaha memahami situasi.

Sekelilingnya dipenuhi dengan tumpukan daging yang terlihat menjijikkan, baunya begitu menyengat, perpaduan antara darah yang mengering dan bau busuk yang menyusup ke hidungnya. Cahaya redup dari lampu tua yang berkedip-kedip hanya membuat suasana semakin mengerikan. Dengan napas yang masih tersengal, Samsul berusaha mencari cara untuk melepaskan diri.

"Ah, sial... Bagaimana caranya aku melepaskan ikatan ini?" pikirnya sambil mencoba meraih tali yang mengikat kakinya.

Saat dia melihat sekeliling dengan lebih teliti, matanya menangkap sesuatu yang bisa menjadi harapannya untuk kabur, sebuah pisau dapur yang tergeletak tak jauh dari tempatnya tergantung. Namun, posisinya cukup sulit dijangkau.

Dengan usaha keras, Samsul mulai mengayunkan tubuhnya ke depan dan ke belakang, berusaha mendekati pisau tersebut. Setiap ayunan membuat darah di kepalanya semakin terkumpul, menyebabkan rasa pusing yang menusuk. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Setelah beberapa kali percobaan yang hampir membuatnya kehilangan keseimbangan, akhirnya jarinya berhasil menyentuh gagang pisau itu. Dengan sekuat tenaga, dia menggenggamnya dan mulai memotong tali yang menahannya.

Memotong tali dalam posisi terbalik bukanlah hal yang mudah. Pisau itu cukup tumpul, dan tali yang digunakan pun sangat tebal. Samsul harus mengerahkan seluruh tenaganya, meskipun tangannya mulai terasa kram. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, akhirnya tali itu terputus.

Brak!

Tubuh Samsul terjatuh ke lantai dengan keras, membuatnya meringis kesakitan. Dia berusaha bangkit sambil mengatur napas. Kini, dia harus mencari jalan keluar dari tempat mengerikan ini sebelum hal yang lebih buruk terjadi.

Dia mulai berjalan dengan hati-hati, mengamati setiap sudut ruangan. Tempat ini tampak seperti gudang penyimpanan daging berkapasitas besar sekaligus tempat pemotongan. Tumpukan daging menggantung di mana-mana, beberapa di antaranya tampak mencurigakan. Apakah itu daging hewan? Ataukah daging manusia? Samsul tidak ingin mengetahuinya.

Setelah beberapa menit berkeliling, dia akhirnya menemukan sebuah pintu yang tampak seperti jalan keluar. Tapi sebelum dia bisa mendekatinya, suara derit pintu terbuka membuatnya langsung bersembunyi di balik tumpukan daging.

Seorang pria masuk ke dalam ruangan, membawa gergaji mesin di tangan kanan dan pisau daging besar yang tergantung di pinggangnya. Pakaiannya berlumuran darah, dan ekspresinya kosong seperti seseorang yang sudah kehilangan akal sehat.

Samsul menahan napas, mencoba untuk tidak membuat suara sedikit pun. Matanya menatap sosok mengerikan itu dengan penuh ketakutan. Pria itu berjalan ke meja pemotongan, meletakkan sesuatu yang terlihat seperti daging besar, lalu mulai memotongnya dengan santai.

"Sial... Pintu keluar ada di belakangnya. Bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini?" gumam Samsul dalam hati.

Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu, sebuah kunci yang tergantung di sisi meja. Itu kemungkinan besar adalah kunci pintu keluar. Samsul tahu bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari sini adalah dengan mengambil kunci tersebut, tapi bagaimana caranya tanpa ketahuan?

Dia mulai berjalan perlahan, memastikan setiap langkahnya tidak mengeluarkan suara. Saat pria itu sibuk memindahkan potongan daging ke dalam mesin pendingin, Samsul dengan cepat melesat ke arah meja dan meraih kunci itu.

Namun, tepat saat jarinya menyentuh kunci.

BZZZTTTT!!!

Suara gergaji mesin menyala dengan keras, menggema di seluruh ruangan. Samsul membelalakkan mata, jantungnya berdegup kencang. Dia menoleh dan melihat pria itu berdiri dengan senyum menyeramkan di wajahnya.

"Jadi kau akhirnya keluar juga, ya?" ucap pria itu dengan suara dalam dan dingin.

Tanpa pikir panjang, Samsul langsung berlari menuju pintu keluar. Tangan gemetar mencoba memasukkan kunci ke dalam lubang kunci, tapi rasa panik membuatnya kesulitan.

WUUUNG!!!

Gergaji mesin itu melaju cepat ke arahnya! Samsul merunduk tepat waktu, menghindari tebasan yang nyaris mengenai kepalanya.

Sambil tetap berusaha membuka pintu, Samsul mendengar suara benda melayang. Dia reflek menoleh dan melihat kapak kecil dilempar ke arahnya! Dia menghindar dengan melompat ke samping, membuat kapak itu menancap di dinding tepat di tempatnya berdiri tadi.

Akhirnya, pintu terbuka! Tanpa membuang waktu, Samsul langsung berlari keluar.

Yang dia lihat di depannya adalah hutan yang gelap dan sunyi. Udara malam yang dingin menerpa wajahnya, tapi dia tidak punya waktu untuk berpikir. Satu-satunya hal yang penting sekarang adalah lari sejauh mungkin dari tempat itu!

Dari belakang, suara gergaji mesin masih terdengar, menandakan bahwa pria mengerikan itu belum menyerah. Samsul berlari tanpa arah, berusaha menjauh dari kejaran sang psikopat.

Samsul terus berlari sekuat tenaga, berusaha menjauh dari tempat mengerikan itu. Nafasnya tersengal, keringat membasahi wajah dan tubuhnya yang sudah penuh luka. Setiap langkah terasa berat, tetapi dia tidak bisa berhenti. Satu-satunya hal yang ada dalam pikirannya adalah kabur, menjauh, dan selamat.

Saat pandangannya menangkap sedikit harapan, sebuah celah di antara pepohonan, dia merasa lega. Namun, kelegaan itu berubah menjadi keterkejutan saat dia menyadari bahwa dirinya ternyata berada di atas sebuah bukit yang cukup curam.

Tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Dia tidak bisa diam di sini terlalu lama. Dengan cepat, Samsul mulai menuruni bukit itu. Jalannya tidak mudah, tanah yang licin dan berbatu membuatnya beberapa kali hampir terjatuh. Beberapa ranting pohon menggores lengannya, dan sesekali kakinya terpeleset. Tetapi dia terus memaksa dirinya untuk melangkah lebih cepat.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, akhirnya dia berhasil mencapai dasar bukit. Napasnya terengah-engah, tubuhnya terasa lemah, dan kakinya hampir tidak bisa berdiri tegak. Namun, meskipun tubuhnya kelelahan, pikirannya masih dipenuhi ketakutan. Dia menoleh ke belakang, memastikan apakah pria psikopat itu masih mengejarnya.

Namun, yang tidak diketahui oleh Samsul adalah bahwa pria itu tidak pernah mengejarnya sampai ke bawah.

Dari atas bukit, sosok mengerikan itu hanya berdiri diam, menatap Samsul dengan tatapan kosong. Dia mengamati pemuda yang kini hampir tumbang karena kelelahan. Tetapi bukannya mengejar, pria itu hanya berbalik dan kembali ke gudang daging seolah tidak ada yang terjadi.

Samsul tidak menyadari hal itu. Baginya, pria itu masih bisa muncul kapan saja. Dia menghela napas berat, mencoba menenangkan pikirannya. Setidaknya untuk saat ini, dia masih selamat. Namun, masalahnya belum selesai.

Perlengkapannya hilang entah ke mana.

Dia tidak tahu apakah pria psikopat itu yang mengambilnya atau seseorang yang lain. Tetapi tanpa perlengkapannya, dia merasa semakin rentan. Kini, satu-satunya pilihan adalah kembali ke basecamp dan memastikan bahwa teman-temannya selamat.

Meski tubuhnya terasa lemah dan penuh luka, Samsul tetap melanjutkan perjalanannya. Dia terus berjalan melalui jalanan yang gelap dan sunyi, dengan setiap langkahnya penuh kewaspadaan. Malam semakin larut, tetapi kota itu tetap sama sepi dan menakutkan.

Namun, satu hal yang membuatnya sedikit heran adalah keberadaan Sonovore.

Monster-monster itu tetap beraktivitas seperti biasa, tidak menunjukkan tanda-tanda menjadi lebih agresif di malam hari. Samsul sempat berpikir bahwa mereka akan menjadi lebih kuat atau lebih berbahaya dalam kegelapan. Jika itu benar-benar terjadi, maka peluangnya untuk selamat akan semakin kecil.

"Hah... Kupikir jika malam-malam monster itu bakalan jadi lebih kuat," gumam Samsul sambil berjalan perlahan. "Tapi kalau mereka benar-benar lebih kuat, kemungkinan besar aku sudah mati sekarang. Yah, untung saja mereka tetap seperti biasa."

Meski begitu, dia tetap waspada. Tidak ada jaminan bahwa Sonovore tidak akan berubah sewaktu-waktu.

Saat semakin dekat ke basecamp, pikirannya mulai dipenuhi kekhawatiran lain apakah anak-anak yang dia selamatkan berhasil sampai dengan selamat?

"Semoga saja pria itu hanya mengincarku... Jadi anak-anak yang ku selamatkan bisa sampai di basecamp dengan aman," gumam Samsul dengan napas berat, menahan rasa sakit di tubuhnya.

Setelah perjalanan yang terasa panjang, akhirnya dia tiba di basecamp. Dari kejauhan, dia melihat beberapa orang sedang berdiri di luar. Ada Isma, Agus, serta tiga wanita yang sebelumnya ia selamatkan.

Mereka tampak gelisah, wajah mereka dipenuhi kecemasan. Mereka seperti sedang menunggu seseorang dan Samsul tahu bahwa mereka pasti menunggunya.

Saat Samsul mendekat, kelelahan yang selama ini dia tahan mulai mencapai batasnya. Seluruh tubuhnya terasa berat, luka-lukanya semakin nyeri, dan kepalanya mulai berputar. Langkahnya menjadi semakin lemah, hingga akhirnya..

BRUK!

Tubuh Samsul terjatuh ke tanah. Pandangannya menjadi gelap.

Samsul terbangun dengan kepala yang masih terasa berat. Saat membuka matanya, dia menyadari bahwa dirinya sudah berada di dalam basecamp.

Dia sedang berbaring di atas kasur yang sederhana, tubuhnya terasa lebih nyaman meskipun masih ada rasa sakit di sana-sini. Saat dia mencoba menggerakkan tubuhnya, dia merasakan sesuatu yang membebat kepala dan tubuhnya, perban.

"Kau sudah bangun?"

Samsul menoleh ke arah suara itu. Isma berdiri di dekatnya, menatapnya dengan ekspresi sedikit lega namun masih menyimpan kekhawatiran.

Samsul menyentuh kepalanya dan merasakan perban yang membalut luka-lukanya. "Siapa yang memasang perban ini?" tanyanya.

"Itu aku," jawab Isma dengan nada lembut. "Aku melihatmu pingsan dari kejauhan, dan tubuh serta kepalamu terluka cukup parah."

Samsul terdiam sejenak, merasakan betapa perihnya luka-luka di tubuhnya. Dia kemudian mengalihkan pandangan ke arah Isma, yang kini menatapnya serius.

"Aku mendengar dari ketiga anak muda itu bahwa kau sempat ditangkap oleh seseorang yang tidak dikenal," lanjut Isma. "Siapa dia?"

Samsul tidak langsung menjawab. Dia sendiri tidak tahu pasti siapa orang itu. Namun, ada kemungkinan besar bahwa dia adalah salah satu bawahan Pak Tua, orang yang selama ini menjadi ancaman bagi mereka.

Daripada menjawab pertanyaan itu, Samsul malah mengalihkan pembicaraan. "Saat aku tidak ada, apakah ada sesuatu yang terjadi? Apakah Pak Tua atau bawahannya datang ke sini?"

Isma menatapnya sejenak, lalu menghela napas. "Selama kau tidak ada, tidak ada tanda-tanda bahwa Pak Tua atau bawahannya datang kemari."

Mendengar hal itu, Samsul sedikit merasa lega. Setidaknya untuk saat ini, tempat ini masih aman.

Namun, dia tahu bahwa keadaan tidak akan bertahan lama.

Hanya masalah waktu sebelum Pak Tua atau orang-orangnya menemukan mereka. Dan jika itu terjadi, maka mereka semua akan berada dalam bahaya.

Samsul harus memikirkan langkah selanjutnya. Mereka butuh basecamp baru.

Tapi pertanyaannya sekarang adalah... Di mana?

To be continued...