Gadis manis berambut panjang sepunggung, lengkap memakai seragam putih-abu perlahan mendorong kursi tempatnya duduk.
Pergerakan putri sulungnya menarik atensi wanita berusia 30 tahun di seberang meja.
"Habisin sarapannya," tegur Hani.
"Sarapannya sambung di kantin sekarang aku ada piket," balas Aisha.
Hani ganti menatap setengah nasi goreng di piring putrinya.
"Mau bekal sandwich? Di perjalanan, kamu bisa memakannya buat mengganjal perut, Mama khawatir perut kamu yang ada terlupakan gara-gara jadwal piket dan enggak sempat lanjut sarapan," tawar Hani sepasang bola matanya menyiratkan kecemasan.
"Mama berlebihan. Nanti aku kunjungi kantin tenang aja," tolak Aisha.
"Kalau kamu sampai sakit berarti selama ini kamu bohongin Mama," ucap Hani.
Hava Aisha diam sejenak mendengar perkataan mamanya lalu mengangguk.
"Kava enggak kelihatan, dia belum bangun?" tanya Aisha celingak-celinguk mencari sang adik.
"Kava masuknya jam delapan," jawab Hani.
"Ya udah, aku pamit."
*
Hanif mengembang senyum melihat kemunculan putrinya dari dalam rumah.
"Hari ini jadwal piket, Pa," lapor Aisha.
"Peralatan belajar tidak ada yang ketinggal? Semuanya sudah di cek ulang?"
"Udah semua," angguk Aisha.
"Kalau sudah siap tunggu di mobil," perintah Hanif.
Aisha baru saja mengangguk namun belum sempat masuk ke dalam mobil di pekarangan rumah minimalisnya, sebuah motor sport warna merah tiba-tiba berhenti laju di depan garasi.
"Siapa?" Hanif melayangkan tanya.
Aisha mengeratkan pegangan pada tali ransel saat mengenali siapa cowok sepagi ini datang tak diundang.
Seorang cowok berseragam sama sepertinya, melambai tangan dari tempatnya menunggangi motor.
"Pagi, Om!" sapa Raka Aglar Atmaja.
"Pagi, Kak!" balas Hanif diiringi senyuman.
"Kabar keluarga Om gimana?" tanya Raka tanpa melepas helm merah di kepalanya.
Tak sopan memang di hadapan orang tua, cowok kelihatan matanya saja itu selalu bersikap semaunya. Aisha menggumam pelan memaki kelakuan Raka.
"Alhamdulillah sehat. Keluarga kamu gimana? Perasaan sudah lama tidak pernah main ke sini, orang tua kamu masih belum pada pulang?" sahut Hanif.
Ini lagi punya papa sepertinya tidak masalah meladeni anak muda kurang berakhlak di jaman modern. Aisha merasa kesal sendiri jadinya.
"Belum Om, kerjaan mereka lagi numpuk di luar negeri. Semalam aku udah telpon mereka, alhamdulillahnya, kabar mereka baik-baik," jelas Raka.
"Senang dengarnya mereka sehat wal'afiat," senyum Hanif makin merekah.
"Tante mana Om? Enggak kelihatan, apa sedang masak?" sambung Raka melongokkan kepala.
"Iya, lagi masak. Kamu sudah sarapan? Kalau belum sana masuk, sarapan dulu di rumah Om," titah Hanif.
"Udah Om. Makasih tawarannya," tolak Raka halus.
Hanif manggut-manggut. "Maaf akhir-akhir ini kami belum bisa main ke rumah kamu, Om akan usahakan kalau urusan kantor tidak sesibuk biasanya, kami pasti ke rumah kamu," lanjut Hanif merasa tak enak.
"Iya, Om, enggak apa-apa," ucap Raka memaklumi.
"Mau pergi sekolah?" timpal Aisha memasang ekspresi kesal tak tersalurkan.
"Jelas dong, menurut kamu, aku ke sini mau nagih iuran listrik?" canda Raka.
"Enggak lucu," jutek Aisha.
"Ya emang, aku, kan, bukan anggota sirkus."
Wajah Aisha berangsur datar, menatap cowok di seberangnya sedang terkekeh sendirian. Dasar tidak jelas.
"Kak, Om titip Aisha ke kamu. Tolong perhatiin dia, tegur kalau pergaulannya enggak baik," pinta Hanif sengaja menambah beban hidup anak orang lain.
"Oke, Om!" semangat Raka mengemban tanggung jawab.
"Pa, aku berangkat," pamit Aisha mencium lembut punggung tangan papanya.
"Jangan nakal, belajar benar," pesan Hanif.
"Iya, Pa."
Aisha menghampiri Raka dengan mulut terkunci, menerima helm full face ketika Raka menyerahkannya.
Raka menoleh ke belakang menunggu Aisha menaiki motor sport merahnya.
"Drama," bisik Aisha dibalik helm.
Tersindir, Raka menyungging senyum di balik helmnya juga.
"Penting Lo luluh," balas Raka sama berbisik.
"Coba taklukkan aku kalau bisa," tantang Aisha.
"Siapa takut," balas Raka.
Karakter dua remaja itu saling bertolak belakang sehingga menciptakan perdebatan-perdebatan kecil di setiap momennya.
*
Hari ini adalah Kamis, teman-teman sejadwal piket Aisha pasti sudah menunggunya atau justru sebaliknya? Mereka piket duluan.
"Cepetan dikit bisa? Aku piket," protes Aisha sebab motor ditumpanginya merayap lamban.
"Kak! Denger enggak sih, aku minta lajunya cepatin dikit!" sambung Aisha menepuk-nepuk ransel Raka yang kebetulan menghadap padanya.
"Bawel. Lo mau ngatur-ngatur gue? Ini motor siapa? Punya Lo atau gue? Enggak ada hak buat Lo nyuruh gue. Gue bukan ojek Lo," ujar Raka.
"Kalau gini ceritanya siapa suruh jemput aku? Mending tadi aku naik mobil papa nyesel aku satu motor sama kodok!" gerutu Aisha.
"Enggak usah ge'er! Gue lakuin ini bukan sengaja jemput Lo, tapi pengen aja bonceng gebetan," setelahnya Raka tergelak oleh ucapannya.
"Enggak ada gebetan! Kita cuma sahabat, ngerti!" peringat Aisha dalam hati amit-amit memiliki pacar modelan makhluk seperti ini.
"Sahabat tapi cinta. Gue suka lo, dan Lo harus feedback perasaan gue," ungkap Raka di sisa tawanya.
"Perasaan mulu yang di bahas, bosan!" muak Aisha.
"Gue yang ngomong, lo yang jengkel. Lucu," kekeh Raka.
"Makanya stop nembak!" kesal Aisha.
"Mulut gue hak gue. Lo udah jadi milik gue berani dekat-dekat cowok lain, mereka bakal gue sikat!"
Perkataan seenak jidat Raka membuat Aisha memutar mata, jengah. Jika ada hak lantas di mana letak keadilan menolak? Raka memang tidak adil, inginnya menang sendiri.
*
Raka dan Aisha menelusuri lantai dasar banyak pasang mata siswa-siswi mengikuti langkah pendek kedua murid SMA Taruna tersebut.
Paras tampan menjadi keberuntungan bagi Raka. Selain diakui oleh para perempuan, di jadikan bahan kejaran pula. Tanpa di cari, mereka akan datang sendirinya berlomba-lomba mendekati kemudian mengungkapkan perasaan.
Jika seantreo siswi mengagumi bahkan sampai menginginkan Raka tuk di jadikan pacar, beda terbalik dengan Aisha, di matanya, cowok aneh sok cool di sampingnya hanya makhluk menyebalkan suka mengganggu.