"Aku berhasil masuk akademi Sirius. Atau, lebih tepatnya terpilih menjadi peserta tes penerimaan". Aku tidak bisa senang dulu karena aku hanya lolos pendaftaran untuk menjadi peserta tes masuk Akademi Sirius. Akademi paling bergengsi di seluruh ibukota, sangat sulit bahkan hanya untuk lolos menjadi peserta tes saja.
" Yo, apa yang kamu lakukan disini, jangan berdiri ditengah jalan". Itu adalah Vellia, dia terlihat sama cantiknya dengan hari hari sebelumnya
"A.. Ah Velli, aku sedang melamun hanya itu saja". Velli lalu menggembungkan pipinya dan menyipitkan matanya dengan ekspresi curiga. Imut banget.
" Kamu tau, seseorang akan dirasuki oleh iblis saat dia melamun. Jadi jangan terlalu sering melamun". Cerita itu adalah cerita rakyat yang kadang dipercayai oleh banyak orang.
"Aku tidak akan dirasuki oleh iblis, jadi tenang saja- ahh ><". Velli mencubit kedua pipiku dan menariknya seperti menarik kue mochi.
" Humm.. Baiklah ". Akhirnya dia melepaskannya.
" Itu tadi sakit". Meskipun aku mengeluh begitu, Velli hanya memberikan senyuman seperti smirk.
"Ayo, nanti kita terlambat kalau tidak buru buru". VVelli berjalan duluan dan kemudian aku juga ikut berjalan di belakang nya.
Nampak perbedaan kedua dari kedua pakaian yang dikenakan oleh kami. Velli adalah anak dari Walikota yang merupakan anak bangsawan tinggi, sementara aku hanya orang biasa dengan rumah sederhana. Jadi terlihat bagaimana pakaian yang Velli kenakan pasti sangat mahal dan bagus.
Kami berjalan di jalanan kota yang ramai dengan aktivitas penduduk, dan orang orang memandangi Velli seperti memandangi bidadari. Wajar saja karena dia adalah gadis yang sangat cantik meskipun bukan bangsawan sekalipun.
Aku harus terus mengawasi anak ini karena dia kadang tidak bisa melawan ketika ingin " dipermainkan" oleh om om mesum. Apa mereka tidak tahu kalau mereka sedang berurusan dengan anak bangsawan?.
Yah kejadian itu terjadi saat kami SMP. Saat aku dan Velli pulang pada sore hari, ada sekelompok om om yang menghadang kami. Singkat cerita mereka ingin Velli bermain dengan mereka namun untungnya aku bisa membawa Velli kabur dengan sihir ku.
Itu adalah kejadian yang untungnya tidak membuat Velli trauma, karena tidak terjadi apapun pada Velli. Dia gadis yang berharga dan aku akan menjaga nya, dia bisa menerima kebiasaan ku yang suka bicara sendiri padahal aku sedang berbicara dengan Gabriel. Oh tentu saja dia tidak bisa melihat nya.
"Ars kun, lihat itu". Velli menunjuk kios yang menjual permen lolipop. Nampaknya Velli ingin membeli nya, jadi diriku yang peka tidak seperti kalian ini membelikan Velli lolipop seharga 3 florin. Velli terlihat senang dengan hadiah yang aku berikan.
" Terimakasih Ars Kun, aku menyayangimu ". Sebagai sahabat tentu saja, aku tidak berani melangkah lebih jauh dan menjalin hubungan romansa dengan anak bangsawan. Meskipun aku sudah pernah bertemu dengan ayah nya yang tidak terlihat seperti orang yang menakutkan tapi tetap saja aku tidak akan berani.
Mata uang yang digunakan di Kerajaan Aspirant adalah Florin. Uang disini berbentuk kertas yang dimana itu adalah hal yang sangat langka dalam dunia Isekai yang sering aku baca dalam novel maupun anime pada kehidupan ku yang sebelumnya.
Kami menaiki trem untuk tumpangan menuju Akademi Sirius, jaraknya tidak terlalu jauh hanya sekitar dua kilometer dari rumah ku dan empat ratus meter dari kediaman Velli. Tapi entah mengapa dan bagaimana, Velli sering sekali menginap dirumah ku bahkan sudah seperti anak sendiri bagi Ibuku. Ayahnya juga mengizinkan anaknya itu tinggal dirumah ku.
Seriusan, apa yang salah dengan orang orang ini.
~
Oke.. Sekarang ini aku dan Velli sudah sampai di halte trem yang ada di depan Akademi Sirius. Kami turun dari trem dan langsung disuguhkan dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Bangunan yang tinggi serta area sekolah yang sangat luas. Bahkan aku bisa mengerti dan paham bahwa pagar sekolah ini dibuat dengan besi berkualitas tinggi yang dilengkapi dengan perisai anti sihir.
Akademi bergengsi memang ada di level yang berbeda.. Hah, aku jadi ragu dan bertanya-tanya bagaimana bisa aku lolos untuk tes penerimaan.
Banyak anak anak lainnya yang juga hadir disana untuk mengikuti Tes Penerimaan, mereka semua memakai seragam yang berbeda-beda. Yah itu juga karena ini masih belum sepenuhnya diterima sih jadi anak anak disini menggunakan seragam SMP mereka, tidak terkecuali diriku dan Velli. Tujuannya adalah agar menunjukkan mereka dari SMP mana dan bisa saja membawa nama baik SMP mereka masing-masing.
"Ini hebat sekali, Velli.". kata ku dengan senang
" Benar, oh iya.. Kita akan bersama terus, jadi jangan sampai tidak diterima atau aku tidak akan memaafkan mu". Velli berjalan duluan sambil sesekali menoleh ke arah ku.
Aku tidak bisa menyangkal bahwa Velli adalah seorang dengan kemampuan sihir yang hebat, dia bahkan mampu mengerti sihir yang aku ajarkan dengan sangat cepat. Mungkin karena faktor keturunan bangsawan, dimana kebanyakan bangsawan sudah dipastikan memiliki kadar dan kemampuan sihir melebihi orang biasa.
Berjalan di tamannya saja sudah membuatku terdiam akan keindahan pohon pohon yang ditanam di pinggir jalan dan bunga bunga yang ditata sedemikian rupa sehingga menghasilkan taman yang sangat indah. Mungkin aku tidak terlalu paham tentang tata bangunan namun aku bisa pastikan bahwa siapapun yang melihat ini juga akan terpesona.
Aku dan Velli berjalan menyusuri jalan hingga kamin berdua tiba di pintu masuk bangunan utama. Disana sudah ada senior senior dari OSIS, terlihat dari logo yang ada di lengan kanan mereka dan juga beberapa guru yang turut menyambut kehadiran murid murid baru.
Lalu tak lama setelah itu, aku dikejutkan dengan Velli yang tiba tiba dipeluk oleh seseorang. Rambutnya sama dengan warna rambut Velli yang putih.
"Vellia adikku. Kamu berhasil masuk kesini". Dia tampak senang dengan.. Tunggu, adik?
" K.. Kakak, jangan memelukku didepan umum seperti ini. Aku malu". Velli tidak bisa menyembunyikan wajah merah nya itu.
Kakak dari Velli, namanya adalah Marian Aster Fredericka. Dia memikirkan ciri fisik yang hampir sama dengan Velli, rambut putih dengan mata yang berwarna lavender seperti Amethyst. Namun kakaknya itu memiliki rambut yang sepanjang bahu, sedangkan Velli memiliki rambut sepanjang pinggang atau bahkan lebih.
"Kakak.. Ini adalah". Velli belum menyelesaikan kalimatnya dan dia disela
"Ah, jadi kamu". Marian memegang kedua tangan ku. " aku mendengar semuanya dari adikku, maaf karena adikku selalu merepotkan mu".
"Tidak.. Tidak masalah kok, lagipula kami juga berteman sejak lama". Itulah yang aku katakan.
Menurut ku, Marian ini adalah orang yang memiliki sifat sebelas duabelas dengan adiknya. Namun Marian lebih ceria dibanding Velli yang terkesan lebih tenang dan anggun.
" Hmmm.. Apakah kamu keturunan bangsawan". Sambil Marian melihat ke arah ku.
"Aku? Ah tidak, aku keturunan rakyat biasa". Aku tidak mungkin keturunan bangsawan karena aku jelas jelas lahir di keluarga yang sederhana.
" Hmm, mungkin aku salah menerka saja karena aku merasa dirimu adalah bangsawan entah kenapa". Apa yang orang ini pikirkan? Apakah aku anak dari bangsawan kabur atau keluarga kerajaan yang hilang? Seperti plot cerita novel remaja.
"Kakak, jangan membuat Ars-kun kerepotan". Vellia berusaha menjauhkan kakaknya dariku.
" Aha, maaf maaf. Kalau begitu semoga tes masuk kalian berjalan lancar, aku menunggu kalian berdua saat sudah masuk nanti". Senyuman Marian mengantar kepergian kami saat kami beranjak pergi dari sana.
"Kakakmu orang yang ramah ya". Kataku.
" Dia adalah orang yang sangat ramah kepada siapapun, namun meski begitu dia bukanlah orang yang boleh diremehkan. Dia selalu memenangkan turnamen sebanyak lima kali berturut-turut ". Menurut pengakuan Vellia, Marian adalah orang yang hebat sekaligus orang yang penuh kasih sayang.
" Memenangkan turnamen lima kali, mungkin dia memang bukanlah orang yang boleh dibuat marah".
Kami berjalan berdua sambil mengobrol dan sesekali bercanda tentang sesuatu, dan tidak sadar bahwa kami sudah sampai di ruangan depan. Ruangan itu adalah aula yang cukup besar dengan banyak sekali murid baru yang juga ada disini. Menurutku mereka semua terlihat penuh ambisi dan semangat untuk masuk ke akademi bergengsi seperti ini.
Yah aku tidak bisa menyalahkan mereka sih, karena aku juga percaya diri untuk dapat diterima disini. Karena ada sesosok bernama Vellia yang menunggu ku dibalik gerbang, kenapa aku bilang seperti itu padahal Vellia juga ikut tes masuk? Jawabannya simpel. Dia adalah anak dari Walikota atau yang biasa disebut Duke, maka sudah pasti dia akan diterima disini. Anak pejabat.
Kami mengantri di meja pendaftaran, tempat senior kami yang mencatat identitas kami serta kemampuan apa yang kami kuasai. Aku agak bingung harus menuliskan apa, karena yah.. Kamu tau.. Aku bisa menguasai semua elemen dan yang pasti itu bukanlah hal bagus untuk ditunjukkan.
Yah pada akhirnya aku mengisi identitas diri dengan elemen yang dikuasai adalah Besi, Api, dan Es. Rata rata murid disini dapat menguasai tiga sampai empat elemen yang dimana itu adalah basic bagi seorang siswa SMA atau kurang lebih begitu.
Namun ada juga sihir yang tidak berbasis elemen apapun. Sihir semacam ini dinamai dengan Sihir Umum. Contohnya saja sihir penyembuhan, sihir pendeteksi, sihir tanpa elemen dan sebagainya. Sihir semacam ini tidak diberikan stereotip berapa minimal untuk dikuasai, jadi kita bisa menguasai sihir umum sebanyak dan sesedikit mungkin. Maka dari itulah sihir umum seringkali lebih populer dibanding dengan Sihir elemen.
Setelah ini kami menuju ke tempat tes dimulai, Vellia daritadi senyum senyum sendiri sambil bergumam dengan senang. Dia daritadi nempel terus denganku bahkan saat aku mengisi identitas diri pun, dia tetap menunggu di samping ku dan tidak kemana mana. Apakah ank ini tidak bisa bergaul atau terlalu malu? Yah disamping itu juga dia daritadi dipandangi dan diliatin oleh banyak murid laki laki dan perempuan. Wajar saja karena Vellia adalah anak Duke.
Ah jangan sampai salah karena ibukota memiliki dua penguasa, yaitu Duke sebagai tingkat pertama untuk mengelola kota dan Raja sebagai kepala negara. Mengapa memiliki dua pemimpin? Dikarenakan Raja kadang terlalu sibuk untuk mengurus sebuah negara hingga ia tidak ada waktu mempedulikan kota, maka dari itu Duke ada sebagai "pengganti" Raja dalam mengelola dan menguasai kota. Tentu saja Duke tetap patuh sepenuhnya terhadap rajanya.
~
Ruang tunggu ini cukup luas dan banyak sekali kursi yang disediakan. Banyak dari peserta yang sedang menunggu nomor antrian menyempatkan diri untuk membeli makanan atau minuman karena disini juga ada Stan untuk menjual berbagai makanan dan minuman. Nomorku adalah 82 sedangkan Vellia adalah 69. Cukup jauh perbedaannya padahal kita mendaftarkan diri dalam rentan waktu yang tidak lama.
Untuk menunggu antrian tes yang saat ini masih di angka 18, aku duduk di sebuah kursi dan bisa kalian tebak juga bahwa Vellia juga ikut duduk disamping ku. Seriusan ini anak nempel banget dengan ku. Namun aku juga tidak akan terganggu dengannya karena keseharian kami juga seperti ini hanya berduaan.
"Velli, apa tes pertama yang akan kita hadapi habis ini".
"ah, itu adalah tes keterampilan sihir. Simpelnya kamu nanti akan disuruh untuk mengeluarkan sihir dan meluncurkankannya ke target. Kerusakan target akan dihitung sebagai nilai". Anak Duke memang hebat, dia bahkan mengetahui detail tes dari Akademi ini.
" jadi aku hanya perlu menghancurkan targetnya ya". Kataku dengan pelan.
"Ah tapi jangan dihancurkan juga, karena kebanyakan anak hanya menggoresnya juga. Uhmm cobalah menahan diri". Velli mengatakan itu dengan ekspresi yang agak khawatir karena akan jadi keributan jika aku berlebihan. Yah karena dia tau seberapa besar kekuatan sihir ku dan dia seringkali jadi tumbal latihan denganku. Entah sudah berapa kali dia hampir mati karena sihir ku.. Ehe..
Ini sudah cukup lama kami menunggu disini, rasanya ini berlangsung selamanya. Ngomong ngomong nomor antrian sudah mencapai angka 36. Mungkin tes nya sulit dan butuh beberapa rangkaian untuk diselesaikan, maka dari itu memakan waktu yang tidak sedikit. Tapi jika antriannya sampai ratusan maka sampai kapan ini berlangsung, yakali menginap di sini.
"velli, jika pendaftar mencapai ratusan atau bahkan ribuan. Masa kita harus menginap?". Velli hanya tertawa mendengar ocehan ku.
" Tentu saja tidak, disini akan dibagi ke dalam beberapa sesi, kita kebetulan mendapatkan sesi pertama. Dan sesi kedua akan dimulai besok".
Oh, jadi seperti itu sambil aku mengangguk dengan Velli yang meyakinkan.
~
Aku melihat jam, dan sekarang ini sudah menunjukkan pukul 12.44 dan tepat disaat ini maka aku dipanggil untuk menjalani tes. Velli sudah dipanggil tadi dan sesuai dugaan dia dinyatakan lolos tes pertama.
Kini giliran ku, aku berdiri dan Vellia mengatakan. "Semoga berhasil, semangat sayangku". Dengan senyuman lebar dan sangat manis. Meskipun itu hanya bercanda tapi muka ku yang merah bisa diartikan bahwa Aku bisa bisa mati terkena diabetes. (Iri gw)
Aku membuka pintu menuju ruang tes dimana di ruangan itu terdapat tiga guru dan ada sekitar sepuluh target yang bisa dipilih.
" peserta nomer 82, silahkan menempati posisi anda". Kata guru laki laki berbadan tinggi yang terlihat cukup tua dengan memakai kacamata. Meskipun begitu aku bisa tau kalau dia adalah praktisi sihir yang sngat ahli jika dilihat dari hawa yang ia pancarkan ke area sekitar.
Guru disamping nya adalah wanita yang berusia sekitar 34 tahunan berambut coklat panjang dan mengenakan baju formal sambil memegang kertas dan pulpen untuk menilai. Sedangkan satunya berada di sebelah posisi ku untuk mengawasi diriku dari dekat. Dia adalah laki laki yang cukup muda dengan rambut pirang dengan model jambul keatas. Kurasa dia cukup narsis
"Anda bisa mulai". Kata guru laki laki berjambul di sebelah ku.
Aku mengangguk dan mulai merentangkan tangan kanan ku ke depan. Dan kemudian api bermunculan dari tangan ku dan mereka semua mengenai target karena sihir api itu akan mengikuti target kemanapun dia pergi.
Guru guru disana yang awalnya biasa saja seketika terkejut dan bahkan guru tua tadi juga ikut menganga.
" T.. Tanpa mantra dan rapalan ganda". Guru disebelah ku berbicara seperti itu. Apa maksudnya rapalan ganda? Guru itu melanjutkan. "Baiklah lakukan lagi, kali ini gunakan elemen berbeda".
Aku mengangguk dan mencoba menggunakan elemen besi. Duri duri besi sekecil peluru mulai tercipta di depan ku dan mereka mengarah ke target masing-masing. Lalu aku meluncurkan peluru besi itu dan tepat mengenai target di kepalanya.
Setelah itu aku mendengar guru yang tua tadi bergumam dengan guru wanita disebelahnya. " anak ini terlalu berharga untuk dilepas". Dan pada saat itulah aku diberikan sebuah kartu berwarna hijau.
"Selamat, dirimu lolos tes".
Aku lolos tes, ini bagus. Velli tidak akan kecewa dengan ku.
Keluar dari ruangan sambil membawa kartu hijau, Velli langsung memelukku dan itu membuat orang orang disana memandangi kami. Meskipun aku malu namun Velli tampaknya tidak mempedulikan hal itu. Anak pejabat memang lain
" kamu berhasil, aku tau kamu pasti bisa". Velli tersenyum cerah kepadaku sambil masih memeluk badanku.
"Y.. Yah, aku berhasil dan sesuai katamu aku tidak menghancurkan target nya".
" baguslah" Velli meneruskan. "Sekarang kita bisa bersama lagi ehe".
Yah.. Begitulah
Bersambung