Hari ini adalah keesokan harinya setelah kejadian kemarin, intinya aku berhasil lolos tes keterampilan dan saat ini adalah hari dimana aku menjalani Tes tanding. Velli juga sama kok, dia tidak menggunakan Privilege milik ayahnya untuk melewati tes tanding. Hal ini bagus sih karena dia nggk akan dipandang sebagai anak bangsawan sombong, meskipun sulit sekali melihat dia sebagai anak bangsawan karena nggk ada anggun anggunnya. Setidaknya hanya dengan ku sih dia nggk anggun.
Apapun itu, aku kali ini sudah menginjakkan kaki ku di area akademi, tepat saat Velli seperti biasa menyusul ku dengan ekspresi yang tersenyum cerah seperti biasanya.
"Selamat pagi ". Aku membalas. " Selamat pagi juga, hari ini suasana hatimu sedang baik seperti nya. Ada sesuatu yang menjadi alasannya?".
Velli hanya menggeleng dan mengatakan. "Hari ini aku senang seperti biasanya karena aku akan melihat bagaimana kamu membuat orang orang terkejut". Dia hanya ingin membuat ku terjebak dalam masalah. " Tolong jangan berfikir yang tidak tidak, aku hanya akan memenangkan tes tanding ini dengan normal dan tanpa menimbulkan kehebohan ". Begitulah balasanku.
" hee, itu curang. Aku ingin melihat kekuatan penuh mu". Anak ini tidak mengenal kata menyerah jika menginginkan sesuatu.
"Tidak ya tidak, lagipula kenapa aku harus memamerkannya ke orang orang. Yang ada aku malah akan terjebak dalam urusan urusan berat. Kamu tau kan jika ada orang yang mencolok maka orang itu akan mulai terseret menjadi rebutan bangsawan untuk menaikkan pamor?". Kataku
"Tapi bukankah itu bagus". Velli membalasnya dengan tersenyum dan tidak merasa bersalah. " Seseorang akan digaji besar dan mungkin saja diangkat menjadi ksatria jika dia bekerja untuk bangsawan".
"Aku tidak tertarik dengan hal hal itu kamu tau, lagipula mengapa aku harus menjadi ksatria untuk bangsawan jika aku sudah menjadi ksatria mu". Aku berjalan duluan.
Wajah Velli seketika memerah setelah aku mengatakan itu kepadanya, dia mendengar itu seperti rayuan untuknya. " D.. Duh.. Ngomong apa sih". Dan dia menyusul ku tak lama kemudian setelah menenangkan dirinya sendiri.
Kami berdua mengobrol sambil berjalan menuju ke bangunan utama, Velli memulai pembicaraan dengan. "Ars, menurutmu apakah kamu menyukai seorang perempuan". Pertanyaan macam apa ini.
" Hmm.. Tidak juga, aku dari kecil tidak pernah berteman dengan perempuan selain dirimu. Yah aku juga sangat sulit sih membedakan apakah yang aku alami adalah rasa suka atau rasa persahabatan". Kemudian Velli dengan terkejut menjawab ku. "J.. Jadi artinya, kamu... ". Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, aku sudah menyela nya. " Tidak, aku tidak melihatmu seperti itu tenang saja". Aku bisa melihat mata nya seperti kecewa karena dia salah paham.
"Hari ini langit nya cerah sekali, tidak ada awan sekalipun". Kata Velli sambil memandang ke arah langit. Begitupun diriku yang juga ikut memandang langit yang tidak berawan sama sekali. " Benar, langitnya tidak ada awannya". Dan sekilas aku melihat sebuah burung yang terbang dengan cepat, mungkin hanya burung elang saja pikirku.
Tak sadar, kami sudah masuk ke gedung utama. Disana kami melihat banyak sekali siswa yang lolos ujian kemarin dan saat ini sedang menunggu pengumuman dimulainya tes tanding, serta pembagian kartu nomor peserta.
"Ars kun, apa kamu nggk deg-degan? Kita akan melawan orang sungguhan dan bukan lagi boneka kayu". Velli mengatakan itu dengan ekspresi yang cerah. " Sejujurnya aku tidak pernah melawan orang asli sih selain kamu jadi bisa dibilang aku cukup deg-degan ". Balas ku.
" Aku akan memenangkan ini, dan berkat pengajaran mu selama ini maka aku tidak akan kalah". Kira kira begitu semangatnya dia untuk menjalani tes tanding. Entah anak ini memang percaya diri bahwa dia akan menang atau dia punya potensi menjadi maniak perang yang suka dengan pertarungan. Namun jika dilihat lagi memang dia hampir mustahil untuk dikalahkan oleh peserta peserta disini, aku melatihnya dari kecil sehingga dia bisa menguasai semua elemen dasar dan delapan elemen lanjutan dengan teknik sihir yang juga ia kuasai baik dari tingkat rendah hingga beberapa tingkat tinggi. Jadi aku cukup tenang saja karena melihatnya saja sudah cukup untuk yakin. Semoga.
"Ars kun, sebelah sini. Loket pendaftaran". Ah ternyata sudah dibuka ya, dengan begitu aku melangkah menuju loket pendaftaran untuk mengambil nomer peserta. Setelah petugas memberikannya padaku, rupanya aku mendapatkan nomer 15. Hmmmm jauh lebih awal daripada yang kemarin, dan sepertinya Velli mendapatkan nomer urut 14.
" Ars kun akan bertanding setelah diriku ternyata". Seperti nya begitu, aku akan bertanding setelah Velli selesai. Ngomong ngomong setiap peserta akan bertanding dengan nomer urut yang sama, jadi aku juga akan melawan peserta nomer 15 pada saat tes tanding.
Velli seperti biasanya selalu ceria dan penuh senyuman, kecantikannya itu selalu diperhatikan oleh murid murid sekitar, baik laki laki maupun perempuan. Dia anak yang anggun bila di depan orang lain dan dia sangat manis. Velli pernah menerima beberapa lamaran pernikahan dimasa lalu oleh beberapa bangsawan namun semua itu ditolak oleh nya karena katanya dia ingin menempuh pendidikan hingga lulus ke jenjang yang lebih tinggi. Namun alasan sebenarnya dia hanya tidak ingin berpisah dari ku dahulu, karena kami sudah seperti kakak dan adik.
~
Tes tanding ternyata cukup lama juga ya, para murid dan peserta akan duduk menonton di tempat duduk arena sembari menunggu giliran mereka tiba. Aturan dari tes tanding ini adalah bagi siapapun yang kalah maka ia hanya memiliki dua opsi, yang pertama adalah dia akan dikeluarkan alias tidak diterima atau bagi mereka yang kalah namun memiliki potensi akan dipertimbangkan kembali untuk diterima di akademi.
Sederhana namun banyak yang menggantungkan nasib nya pada tes masuk ini karena menurut sebagian besar orang, jika bisa masuk dan lulus dari akademi sihir Sirius maka ada jaminan bahwa masa depannya akan cerah. Meskipun aku tidak percaya hal seperti itu terjadi sih, karena masa depan seseorang ditentukan dari usaha orang itu sendiri. Namun aku juga tidak bisa meremehkan sekolah ini karena menghasilkan Ksatria dan penyihir hebat dalam setiap generasinya.
Ngomong ngomong aku duduk di sini tengah menonton pertandingan yang saat ini masih berada di nomer 4, setiap pertandingan bisa terasa lama karena mereka yang bertanding menunjukkan seluruh kemampuan mereka hingga pada saat mereka tidak bisa lagi bertarung. Cukup bersemangat sekali ya..
Velli tidak ada disini karena dia sedang membeli sesuatu, aku tidak yakin dia ingin membeli apa tapi aku biarkan saja.
Sudut pandang pertandingan
Kali ini adalah nomer 6, ada dua orang yang sedang bertanding saat ini. Di bagian kanan adalah laki laki berbadan tinggi dengan rambut hijau dan memiliki wajah yang cukup lumayan, melihat dari bajunya sepertinya dia bangsawan. Laki laki hijau itu bernama Arval Origa, anak pertama dari keluarga bangsawan Origa yang cukup dihormati di kota ini.
Sedangkan di bagian kiri adalah laki laki yang sepertinya dia terlahir dari keluarga yang biasa saja, dengan kata lain rakyat jelata sama seperti Ars. Dia memiliki perawakan dengan rambut coklat muda dan tubuh yang biasa saja bagi seorang laki laki pada umumnya. Namanya adalah Cotte Elms
"Jadi lawanku adalah seorang jelata? Aku akan mengakhiri nya dengan cepat". Arval dengan sombongnya menarik pedangnya dan mengacungkan nya kepada Cotte.
Cotte tidak berkata apapun, melainkan dia hanya memasang muka serius karena dia sedang menghadapi seorang bangsawan. Cotte bersiap untuk bertahan dengan memasang kuda kuda yang sesuai dengan posisi bertahan.
" Aku akan maju duluan". Arval berlari ke arah Cotte dan itu direspon dengan Cotte yang menggunakan sihir tanah untuk memperkuat perlindungan pada tangannya. Serangan pedang dari Arval dapat ditangkis dengan mudah namun Arval masih belum mengeluarkan semuanya.
Arval menebas lagi namun Cotte berhasil menahannya kali ini. "Sihir tanah tingkat pertama [Spiderock]". Golem laba laba yang terbuat dari tanah dimunculkan oleh Cotte ke arena, hal ini membuat Arval sedikit terkejut namun dia juga akan mengeluarkan kemampuannya.
" Sihir angin tipe atribut [Surrounding by Wind]". Pedang Arval bersinar hijau dan memancarkan energi angin yang meniup area sekitar dengan kekuatan yang cukup kuat.
Laba laba tanah milik Cotte maju dengan cepat bertujuan untuk menyerang Arval, namun dengan sihir angin pada pedangnya, Arval berhasil memotong salah satu kaki laba laba itu. Laba laba golem tidak tinggal diam, terbukti dari bagaimana laba laba itu menyemburkan lumpur dari perut nya yang mirip seperti laba laba menyemprotkan jaring. Arval sedikit terkena lumpur itu dan menyadari bahwa lumpur yang disemburkan barusan adalah lumpur yang lengket.
Arval harus sebisa mungkin tidak terkena lumpur itu karena akan sangat menyulitkan jika terjebak di dalamnya. Arval berfikir sejenak sambil terus menghindari serangan lumpur yang terus menerus dikeluarkan, hingga pada akhirnya Arval punya ide. "Sihir angin tingkat menengah [Lance Tornado]". Sebuah tornado yang tinggi muncul di arena dan melibas habis laba laba itu. Cotte terlempar karena dihempaskan oleh tornado itu hingga keluar arena. Ini gawat bagi Cotte karena dia akan didiskualifikasi jika ia tidak segera masuk kembali ke arena.
" Sihir tanah tingkat pertama [Stomper]". Sambil terengah-engah dan berusaha masuk kembali ke arena, Cotte mengeluarkan sihir tanah lainnya yang kali ini memunculkan gudukan tanah yang keras dan menuju ke arah Arval dengan kecepatan tinggi. Namun itu sia sia, tanah tanah itu hancur begitu menyentuh tornado milik Arval. "Hahaha.. Lihatlah perbedaan kekuatan kita!". Arval tertawa karena melihat musuhnya tidak berdaya di hadapannya.
" sudah saatnya aku mengakhiri ini". Arval mengubah tornado kedalam bentuk keduanya, yaitu menjadi berbentuk seperti sebuah tombak yang bisa dipegang dengan tangan. Tornado itu mengecil namun pusaran nya masih bisa dirasakan kekuatan nya. Arval tidak membuang banyak waktu lagi dan langsung menerjang Cotte yang hanya bisa bertahan dengan mengeluarkan dinding tanah.
Dinding tanah dihancurkan dengan mudahnya dan Cotte terlempar keluar arena, kali ini dia tidak kuat berdiri lagi untuk bertarung. Dia didiskualifikasi, Arval memenangkan pertandingan ini.
Sudut pandang Ars
Aku memutuskan untuk mencari Velli karena dia tak kunjung kembali, kemana anak itu. Aku melalui lorong, taman, dan bahkan sampai ke gerbang depan demi mencari nya. Namun sepertinya keberuntungan memihak ku hari ini.
Saat aku melewati sebuah pohon yang ada seekor anjing sedang menggonggong sambil menggaruk garuk batang pohon, aku mendengar sesuatu dari atas. Awalnya aku tidak terlalu peduli, namun suara itu terdengar lagi. Seperti.. Seperti jeritan seorang wanita, aku pun melihat ke atas dan menemukan bahwa Velli sedang disana karena takut dengan anjing yang menggonggong dibawahnya.
"V.. Velli, bagaimana bisa kau ada di atas sana". Aku melihatnya dengan bingung.
" Ars kun! Tolong aku! Mereka ingin menggigitku!". Dari nadanya saja aku bisa menyimpulkan bahwa dia sedang ketakutan yang teramat sangat.
Maka dari itu aku mengusir anjing nya dengan menggunakan sihir api untuk sekedar menakut-nakuti. Ternyata itu berhasil, anjing itu lari ketakutan setelah merasakan panas dari sihir api ku. "Sudah aman, kamu bisa turun sekarang". Awalnya Velli merasa lega karena ancaman utama nya udah hilang, namun dia kembali takut saat akan turun ke bawah.
" A.. Ars.. Kun..". Ekspresi nya sama seperti tadi, apakah dia takut ketinggian? Mungkin dia tadi reflek memanjat pohon karena ketakutan dikejar anjing, dan sekarang dia tidak bisa turun karena takut. Aku juga baru pertama kalinya melihat nya naik pohon selama hidupku.
"Apa kamu takut ketinggian?". Tanya ku.
" T.. Tidak.. A.. Aku hanya perlu mengumpulkan keberanian". Itu sama saja takut ketinggian kan?
Aku berjalan mendekati pohon dan membuka lebar kedua tangan ku. "Lompatlah, aku akan menangkap mu". Awalnya Velli masih terlihat takut, namun kemudian dia mengumpulkan keberanian dan melompat sambil menutup mata karena takut. Sesuai rencana, aku berhasil menangkap nya dan menggendong nya seperti seorang putri.
Velli membuka matanya dan melihat diriku sedang menggendong nya. Seketika itu juga wajahnya memerah dan tidak bisa berkata apa apa, seakan ada uap yang berhembus dari kepalanya. " T.. Terimakasih ". Katanya sambil wajahnya masih memerah.
Sebelum dia pingsan karena malu, maka aku menurunkan dia. " Kamu perasaan tadi beli sesuatu, memangnya beli apa?". Ekspresinya berubah menjadi datar setelah dia ingat bahwa dia lupa membelinya. "Aku.. Lupa beli barangnya". Aku mengangkat satu alis dan kemudian berbalik, seolah tidak mendengar apapun. " intinya ayo kembali, pertandingan kita akan segera dimulai". Velli mengangguk dan berjalan mengikuti ku.
~
Tak terasa, kami sudah menyaksikan pertandingan dengan nomer urut 13. Yang artinya bahwa sebentar lagi Velli akan bertanding, aku berharap dia menang tapi aku juga tidak yakin dia akan kalah.
"Aku akan bersiap siap dulu, sampai nanti ya". Velli berdiri dan pergi menuju ke tangga, tempat dia kemudian turun untuk bersiap di pintu masuk arena. Aku melipat tangan ku dengan ekspresi yang serius karena aku ingin melihat bagaimana anak ini menguasai apa yang aku telah ajarkan selama beberapa tahun kebelakang.
Semenjak kecil, atau lebih tepatnya semenjak kita berdua bertemu, kami menghabiskan waktu bersama berdua melakukan hal hal seperti berburu serangga, memasuki hutan untuk bersenang-senang dan berlatih sihir bersama. Meskipun dia tidak bisa menguasai penggunaan sihir tanpa mantra namun dia bisa menguasai sihir yang aku ajarkan dengan cukup baik hingga aku sendiri terkesan. Intinya dia memenuhi ekspektasi ku pada saat itu, atau bahkan ia melebihi nya sekarang.
Sudut pandang Velli
" huh.. ". Velli menghela nafasnya, dia berusaha menenangkan dirinya lantaran ia sedikit gugup karena bertarung dihadapan orang banyak, terutama ia dilihat oleh Ars yang menurutnya tidak boleh dikecewakan. Velli mengepalkan kedua tangannya di depan dada dengan tekad untuk mengeluarkan yang terbaik. " Aku pasti bisa".
Tak berselang lama, dia dipanggil oleh salah seorang anggota komite karena sudah saatnya bagi dia untuk maju. Velli mengangguk dan berdiri lalu berjalan keluar, langkahnya masih bisa dilihat bahwa dia memiliki rasa gugup yang menempel meskipun dia sudah bertekad barusan. Namun apapun itu, Velli berjalan ke arena.
Dia disambut dengan tepuk tangan penonton dan sorak-sorai. Dia melihat sekitar sebelum maju ke arena untuk melihat Ars yang dimana Velli mendapati Ars juga melihatnya. Velli tersenyum dan langkah kakinya diteruskan untuk naik ke arena.
Di depannya saat ini, adalah seorang laki laki berambut hitam pendek yang jika dilihat dari pakaiannya merupakan anak orang kaya, mengapa bukan bangsawan? Karena biasanya bangsawan mengenakan sebuah lencana yang merepresentasikan lambang atau insignia keluarga.
"Namaku adalah Mateus, senang bertarung dengan anda". Anak itu mengenalkan dirinya yang bernama Mateus. " Nama ku adalah Vellia, mohon kerjasamanya ". Baik Mateus dan Velli sama sama bersiap untuk bertarung, dan disaat terompet dibunyikan maka keduanya segera melesat dan beradu lengan yang masing masing sudah dilapisi sihir. Velli kemudian melompat ke belakang dengan cepat dan mengeluarkan sihir air " Sihir Air tingkat pertama [Streamline]". Air yang bertekanan tinggi dan meliuk seperti ular pun muncul dan mengarah ke arah Mateus berdiri, namun untungnya Mateus berhasil menghindarinya.
Tak sampai disana, Velli mengeluarkan sihir kedua yang masih berupa sihir air. "sihir air tingkat pertama [Surging Tide]. Gelombang air muncul dari lingkaran sihir yang tercipta di lantai, Velli tau bahwa Mateus bisa menghindarinya lagi maka dari itu dia melakukan teknik yang diajarkan oleh Ars. " Element Channeling [Electric]". Sihir petir digabungkan dengan gelombang atau ombak air yang mengamuk, menghasilkan sebuah ombak yang membawa listrik bertegangan tinggi. Penonton pun bersorak karena Velli bisa melakukan Element Channeling. Element Channeling adalah teknik sihir dimana seseorang memasukkan elemen sihir lainnya ke dalam sihir yang sudah ada. Hanya berlaku untuk sihir elemen.
Mateus sedikit tidak menyangka dan alhasil, dia sedikit terkena kilatan listrik yang menyambar keluar dari ombak itu. Setelah ombak nya selesai, Mateus menempatkan kakinya di tanah lagi dan kini dia sedang ingin mengeluarkan sihir. "Sihir Racun tingkat pertama [Haze]". Mateus mengeluarkan sihir elemen lanjutan, yaitu elemen yang tingkatannya lebih tinggi dari elemen dasar seperti api, tanah, air, udara, dan listrik. Namun Velli tau ini hanya tersenyum dan mengeluarkan sihir angin untuk menghilangkan kabut beracun milik Mateus, terkadang common sense itu penting.
Mateus sedikit kaget namun tidak ada waktu untuk itu. Dia segera berlari ke arah Velli untuk menerjang nya namun tidak berhasil, Velli terus-terusan menghindarinya dengan mudah seakan Velli sudah terlatih untuk pertarungan fisik. Mateus kesal dan mulai kehilangan fokus nya, ini adalah kesempatan bagi Velli karena sesaat setelah itu, Velli bergerak ke arah belakang Mateus dan menendang pantatnya dengan kekuatan tinggi hingga terlempar ke luar arena. Mateus yang kesakitan tidak bisa berdiri selama lima detik dan dinyatakan kalah oleh juri.
Velli memenangkan pertandingan, dan ini membuat Velli senang. Velli langsung melambaikan tangannya ke arah diriku yang dimana membuat ku cukup malu. Semua orang mengenal sosok Velli, karena dia adalah anak dari Duke yang terkenal akan kecantikan dan keterampilan nya dalam menggunakan sihir.
Selanjutnya adalah giliran Ars, apakah yang akan dilakukan untuk memenangkan pertandingan ini?
Bersambung