Dengan wajah ketakutan, Revan menatap wajah Erina yang tersenyum lebar. Tangannya terus mengepal, menggenggam sebuah batu besar di samping tubuhnya. Rasa takut yang besar di dalam hari akan sebuah kematian, telah membuat lubang besar di dalam hatinya juga.
Beberapa kali Revan menelan ludah, kepalanya tidak henti-hentinya menggeleng. Tatapan mata kosong selalu diperlihatkan, berusaha membujuk Erina agar menghentikan niatnya dalam membunuh dirinya. Apakah hanya dengan kejadian yang kecil saja, dapat menyebabkan kematian pada Revan saat ini.
"Ini tidak mungkin," batin Revan mengucurkan keringat deras. "Bagaimana mungkin Erina bisa membunuhku dengan mudah seperti ini. Bukankah selama ini kita selalu bersama dalam su—" Revan tiba-tiba saja menghentikan ucapan yang ada di dalam hatinya.