Umar terus memaksaku untuk mau makan, sementara aku terus menolak berulang kali. Aku tidak akan mau makan jika dia belum bisa memaafkanku dan kembali berbaikan seperti dulu, karena hanya itu yang kuinginkan sekarang.
Biarkan saja dia menyebutku egois, karena pada dasarnya setiap manusia punya rasa egois dengan porsinya masing-masing. Begitu juga denganku yang masih bisa merasakan egois. Suka atau tidak, dia harus menerima sifat ini apa adanya diriku.
Umar pun langsung terdiam, dia menaruh mangkuk bubur yang sejak tadi dia pegang di atas nakas. "Kamu ingin tahu apa alasanku belum memaagkanmu?" tanya Umar pula, membuatku melirik ke arahnya.
"Apa?" tanyaku ingin tahu.