Secepat kilat, Elyana membersihkan diri di dalam kamar mandi. Ia segera memakai pakaiannya karena waktu sudah sangat siang. Wajah cantiknya dirias sedikit agar tidak terlihat pucat. Rambut panjangnya diikat ke atas agar lebih singset.
Setelah penampilannya dirasa cukup baik, Elyana segera membawa tas kecilnya, memasukkan alat make up ke dalamnya, lalu berjalan menuju pintu keluar.
Di meja makan, Elyana menyantap sarapannya dengan lahap tanpa memperdulikan tatapan aneh dari para pelayan. Rasa laparnya karena seharian kemarin tidak memakan apapun, membuat ia menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja 'tak bersisa.
Ketika Elyana selesai meneguk air putih di dalam gelas, dan baru akan menyeka mulutnya, terdengar suara seseorang dari belakang tubuhnya, membuat gerakkan tangan Elyana terhenti, "Apa sudah kenyang?"
Elyana terkejut mendengarnya. Ia segera menoleh ke belakang, melihat David dan Edwin berjalan menghampirinya.
"Ka-kau ... sudah datang! Bu-bukannya mau menjemputku nanti jam satu siang?" tanyanya dengan gugup. Juga lupa, ini sudah jam berapa. "Mengapa menjemputku sekarang?"
Terlihat David semakin mendekat, mendaratkan bokongnya di kuris seberang Elyana.
"Kenapa? Apa aku menjemputmu terlalu pagi, ya?" sindirnya. "Kau baru menghabiskan sarapan pagimu jam dua belas lewat tiga puluh menit. Apa kau baru bangun tidur?"
"Hehe, iya! Itu karena ... karena tempat tidurmu begitu nyaman. Kualitas tidurku jadi semakin baik, hingga lupa untuk bangun," canda Elyana untuk menutupi rasa malunya.
Bagaimana tidurnya tidak nyaman? Dari kemarin siang, dirinya terus berdiri di acara pernikahan—menyambut para tamu yang hadir—tanpa istirahat. Di malam hari, belum sempat mandi, dan makan, Elyana segera pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Arani. Dilanjut dengan perjalanan dari rumah sakit menuju rumah David. Itu semua membuat tubuhnya sangat lelah.
Yang paling penting adalah tempat tidur David sangatlah empuk. Berbeda dengan tempat tidur yang biasanya Elyana gunakan di rumah keluarga Danu, begitu sempit dan juga keras. Membuat seluruh tubuhnya terasa sakit setiap kali bangun dari tidurnya.
Namanya juga tempat tidur untuk pelayan, wajar saja jika demikian.
"Tidurmu begitu nyenyak, berbeda denganku. Tubuhku terasa pegal karena tidur di so—" sebelum kata "Sofa" selesai diucapkan, terdengar Elyana berteriak, "Oh, ya, kau terlalu bersemangat semalam, hingga seluruh tubuhmu sakit, kan? Ayo, aku akan mengantarmu pergi ke tempat massage."
Ucapannya membuat semua orang salah paham. Tidak terkecuali dengan David. Pria itu mengangkat kedua aslinya, menatap Elyana dengan tajam.
'Siapa yang bersemangat semalam? Menyentuh tubuhmu pun, aku tidak!'
Elyana hanya tidak ingin semua orang tahu, bahwa mereka tidur terpisah. Ia segera menarik David agar keluar dari dalam rumah, tidak nyaman menerima tatapan salah paham dari semua orang.
Di luar, Elyana segera melepaskan genggaman tangannya. Ia menebalkan muka, berjalan ke samping mobil pria itu, lalu membuka pintu mobil, ternyata masih dikunci. Ia pun mendunggu David untuknmembuka kunci pintu.
Di dalam mobil, sebelum mereka berangkat, David bertanya pada Elyana, "Semalam, katamu, aku terlalu bersemangat, bersemangat dalam hal apa?"
Walau sebenarnya David mengerti dengan ucapannya, tapi saat ini ia ingin mendengar penjelasan langsung dari mulut Elyana langsung. Alasan apa yang akan diucapkan oleh wanita itu.
Terdengar Elyana menjawab, "Semalam, kau menggendongku. Bukankah itu karena terlalu bersemangat?"
"Menggendongmu?"
Hanya dari pinggir jalan ke dalam mobil. Apa itu yang dinamakan bersemangat hingga seluruh tubuh David sakit?
"Itu sama sekali tidak membuat tubuhku sakit. Nanti malam, aku akan mencoba menggendongmu lagi. Punggungku sakit lagi atau tidak, bagaimana?" godanya pada Elyana.
Itu membuat Elyana salah tingkah.
"Tidak mau! Nanti malam, biar aku yang tidur di sofa, dan kau yang tidur di tempat tidur," jawab Elyana mencoba mengalihkan pembicaraan.
David hanya tersenyum, tidak lagi menggodanya. Ia segera mengendarai mobilnya menuju kediaman keluarga Danu.
Di dalam mobil yang terasa hening, David melirik sekilas gadis yang ada di sampingnya. Terlihat Elyana kepanasan dan terus mengipasi wajahnya dengan tangan. Padahal, suhu mobil sudah cukup dingin, tapi, wajah putih itu nampak rona merah dengan keringat di dahinya.
"Kau kenapa? Apa tidak enak badan?" tanya David tiba-tiba.
"Eh, tidak! Aku hanya ... sedikit kepanasan," jawab Elyana sedikit gugup. Ia menghentikan gerakan tangannya, memalingkan muka untuk menghindari tatapan pria di sampingnya.
"O, iya! Aku belum membuat perhitungan denganmu." David membuka pembicaraannya kembali.
"Mengapa bulan lalu, kau pergi begitu saja tanpa pamit, hah? Apa seperti itu caramu berterimakasih pada orang yang telah merawatmu?"
Ucapannya sungguh membuat Elyana semakin gugup.
"Waktu itu, aku ... aku di-dijemput oleh orang dari keluarga Danu. Ehh, maksudku, aku dijemput oleh orang suruhan ayahku! Ya, seperti itu!"
'Aish, sial! Aku harus selalu ingat dengan sandiwara ini. Bahwa aku, Elyana ... adalah putri tunggal dari Alex Danu!' gumamnya dengan tidak karuan.
"Yang menjemputmu itu adalah orang suruhan ayahmu? Bukan orang suruhan kakekmu?" tanya David dengan nada mengintrogasi. Itu membuat Elyana menoleh ke samping, dan membulatkan mata untuk menatapnya.
"Haha, apa kau bercanda?" Elyana tertawa dengan berat. "Ya jelas itu orang suruhan ayahku, lah! Aku pergi tanpa pamit karena aku sudah dijemput. Bukan karena tidak tahu terima kasih."
'Mana mungkin orang suruhan kakekku datang ke tempatmu!'
"Bukannya, waktu itu kau bilang, yang selalu mencarimu adalah orang suruhan kakekmu?"
David masih ingat ketika di malam itu, Elyana terbangun, dan ketakutan melihat dirinya ada di dalam kamar. Wanita itu mengira, David adalah orang suruhan kakeknya.
"I-itu ... aku yang salah. Maksudku, orang suruhan ayah, bukan kakek!" kilah Elyana, terus berbohong.
"Lalu kemarin di acara pernikahan ... mengapa tidak menyapaku saat kau menjadi pengantin wanitanya? Jika aku tahu pengantin wanitanya adalah kau, aku ..."
'... tidak akan meninggalkanmu!' ucapan itu hanya bisa ia lanjutkan di dalam hati.
Elyana menunggu jawaban David selanjutnya. "Jika tahu itu adalah aku, apa yang selanjutnya akan kau lakukan?"
"Sudahlah, lupakan saja!" potong David, tidak ingin melanjutkan pembicaraan itu. "Sekarang, kita sudah menikah. Ada masalah sebelumnya, kita lupakan."
"Walau kita tidak saling mengenal sebelumnya, tapi, kita masih punya banyak waktu untuk saling memahami satu sama lain. Aku tidak berniat untuk menikah kedua kalinya. Jadi, kau harus bisa beradaptasi dengan lingkunganku, mulai sekarang.
"Hah?" Elyana membuka mulutnya lebar, menatap David dengan bingung.
'Tidak berniat untuk menikah kedua kalinya? Apa maksudnya?'
Elyana hanya terjebak di dalam pernikahan ini, bukan benar-benar ingin menikah dengan pria yang tidak dikenal. Ia menjadi pengantin pengganti—kemarin, karena tidak tega melihat permohonan Alex padanya. Cepat atau lambat, ia akan meminta bercerai dari David.
"Sebenarnya, aku ... belum siap untuk menikah dengan siapapun! Ini hanya ... perjodohan yang dilakukan oleh orang tua kita, bukan karena kita saling suka," jawab Elyana dengan pelan. Ia menarik pandangannya, menatap lurus ke depan, tidak lagi melihat David
Itu kata-kata yang mewakili perasaannya saat ini. Elyana pun akan mengatakan hal yang sama pada Dimitri—pria yang akan dijodohkan dengannya jika sampai mereka jadi menikah. Tapi sekarang, yang menikah dengan Elyana adalah David. Jadi, ia mengatakan hal itu padanya.
"Ada pepatah yang mengatakan 'Kita bisa karena terbiasa.'. Jadi, kita akan saling menyukai jika kita sering bersama," ucap David.
Elyana tidak menjawab lagi. Hanya diam sambil melihat jalan yang sudah mengarah ke kediaman rumah keluarga Danu.
Ketika mereka sudah hampir sampai, Elyana segera membuka tas kecilnya, mengeluarkan sebuah pensil alis berwarna hitam, lalu membuat tahi lalat di pipinya—seperti biasa. Setelah selesai, ia menutup tasnya kembali. Sudah siap untuk masuk ke rumah keluarga Danu.
Ketika mobil benar-benar sudah berhenti di depan rumah itu, David segera membuka sabuk pengaman miliknya, bersiap untuk segera turun. Tapi, sebelum menginjakkan kakinya di tanah, David melihat Elyana sekilas. Nampak ada yang aneh di wajah gadis itu.
David mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil. Ia duduk kembali, memiringkan tubuhnya untuk melihat ke arah Elyana.
Ketika Elyana bersiap turun, tiba-tiba David memegang tangannya. Menahan wanita itu agar tidak pergi.
"Ada apa?" tanya Elyana dengan heran.
Tiba-tiba David memegang wajah mungil Elyana dengan kedua tangan. Wajanya mendekat pada wajah Elyana, semakin dekat, hingga gadis itu memiringkan tubuhnya ke belakang untuk menghindar.
Ketika wajah mereka sudah semakin dekat, dan hawa panas dari napas keduanya bisa mereka rasakan, tiba-tiba Elyana memejamkan mata dengan erat. Menahan napas beberapa detik, sambil merasakan jantungnya yang hampir keluar melalui tenggorokannya. Bersiap menerima sesuatu dari pria itu.
Beberapa detik berlalu, tidak ada sesuatu yang terjadi. Elyana membuka matanya perlahan. Terlihat David menatapnya dengan tajam. Detik kemudian, David membasahi jari telunjuknya dengan air liurnya sendiri, lalu menggosok pipi Elyana dengan jarinya.
"Aaaaaah! Apa yang kau lakukan?" teriak Elyana dengan kaget. Merasa jijik dengan apa yang dilakukan oleh pria itu.
'Argh, sial! Dia meludahi wajahku. Uuaaaa, sangat menjijikan!'
Elyana bergidik ngeri merasakan David terus menggosok pipinya.
"Sudah hentikan! Lepaskan aku." Elyana sudah tidak tahan lagi. Ia memberontak, berusaha melepaskan diri dari pria itu.
"Diamlah, sedikit lagi!" ucap David, masih dengan memegang wajah Elyana.
"Nah, sudah bersih!" ucap pria itu lagi setelah selesai membersihkan noda di wajah wanita itu.
"Hah?"
'David melakukan hal ini hanya untuk menghilangkan tahi lalat yang aku buat? Aku kira, David akan menciumku. Ternyata ....'
Elyana sangat kesal, juga merasa malu memikirkan tentang hal itu. Ia segera turun dari dalam mobil tanpa memperdulikan pria itu lagi.
Tapi, sebelum ia benar-benar pergi, terlihat Alex dan istrinya sudah berdiri di halaman rumah—menunggu kedatangan mereka berdua. Lebih tepatnya, mereka menunggu kedatangan David ke rumah ini.
Nosy berdiri dengan melipat kedua tangan di depan, menatap Elyana dari ujung kaki hingga ujung kepala. Merasa marah juga kesal melihat kemesraan Elyana—sang pelayan—di dalam mobil bersama dengan pria kaya dan tampan seperti David, yang seharusnya menjadi menantunya.
"Selamat siang Bu, Pak!" sapa Elyana ketika melihat Alex dan Nosy menyambut kedatangan mereka. Ia membungkukkan badan, memberi hormat pada keduanya. Diikuti David yang ada di sampingnya.
"Pak, Bu! Maaf sedikit terlambat, di jalan agak macet!" tambah David.
"Oh, tidak apa-apa! Ayo, cepat masuk!" sahut Alex, seraya memimpin berjalan di depan menuju ke dalam rumah.
Nosy mengerutkan kening mendengar kata "Bu dan Pak" dari mulut pelayannya ini. Seharusnya, Elyana memanggil mereka dengan sebutan, Mama dan Papa, bukan malah Ibu dan Bapak!
"O, iya, Eli! Kau memakai make up apa, sekarang? Tahi lalatmu tertutup sempurna, nyaris 'tak terlihat. Apa suamimu membelikan alas bedak yang sangat mahal untuk menutupi tahi lalatmu? Sungguh hebat," ejek Nosy pada Elyana. Ia berjalan mengikuti langkah suaminya dengan mata yang terus memperhatikan pelayannya ini.
Nosy jelas tidak suka melihat gadis kampung ini menjadi cantik dan bisa mendapatkan suami kaya seperti David. Ini sungguh keputusan yang salah, menjadikan Elyana sebagai pengantin pengganti.