Chereads / Cinta Serumit Rumus (Four love)... / Chapter 107 - Chapter 107

Chapter 107 - Chapter 107

๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”

Kirana tampak bosan berada diruang rawat nya,entah kenapa dokter memintanya untuk menetap dirumah sakit dua hari lagi,padahal ia sudah merasa baikan dan ingin segera pulang.

"Bosen banget gue...ngitungin kotak plafon Ruangan Mulu...Ini rumah sakit punya masalah hidup apasih sama gue!"dumel Kirana sambil berbaring menghadap pintu.

Ceklek!

Bola mata Kirana berubah datar saat melihat Revan kini berjalan santai kearahnya sambil membawa buket bunga mawar merah.

"Gimana keadaan loe?"Tanya Revan sambil meletakkan bunga yang ia bawa keatas nakas.

"Gak baik!,gue bosen disini!"seru Kirana dan berbalik badan membelakangi Revan.

Revan tersenyum getir dan beralih menatap buket boneka wisuda yang ada didekat buket yang ia bawa tadi.

Tanpa sepengetahuan kirana,Revan mengambil buket itu dan membuang nya ke tong sampah yang ada didekat ujung ruangan.

Tap...tap..tap..

Bukkkhhh...

"Loe ngapain?"

Deg...

Revan mematung dan segera berbalik badan menatap Kirana yang kini memandanginya penuh kebingungan.

"Owh itu...gue buang sampah tisu tadi.."Ucap Revan sambil menggaruk tengkuknya dengan gugup.

"Owh.."ucap Kirana acuh dan kembali berbalik badan membelakangi nya.

"Emmm.. gue keluar dulu ya,ada urusan bentar!"seru Revan kepada Kirana yang masih membelakangi nya.

"Iya..."Sahut Kirana sambil menghadap ketembok.

Revan segera keluar dari ruangan itu dengan perasaan gugup dan kesal,merutuki kebodohan nya barusan yang merasa bingung dengan pikiran dan isi hatinya.

Ia cemburu melihat barang pemberian afian masih berada didekat Kirana,tapi setelah mengikuti nalurinya untuk membuang benda itu,kini ia malah merasa bersalah dan egois pada gadis yang cintai itu.

***

Ceklek!

Tap...tap...tap...

"Udah siap sama urusannya?"tanya Kirana dan segera membalikkan badannya untuk melihat seseorang yang kini berdiri dibelakang nya.

Deg...

"Hai Ra,gimana keadaan kamu?"

"Melisa..."

Kirana terdiam memandangi Melisa yang kini berdiri dihadapannya sambil tersenyum hangat.

"Iya ini aku,seneng deh liat kamu baik baik aja..dan udah inget semuanya..."ucap Melisa dan langsung duduk dikursi yang ada didekat Kirana.

Kirana menyandarkan punggungnya kebantal,dan menatap canggung kearah Melisa.

"Jadi...kamu udah inget semuanya Ra?"tanya Melisa lagi dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Iya...Gue ,Udah inget semuanya.."Sahut Kirana agak Canggung.

Seketika memori nya berputar dan mengingat momen dimana ia dan Melisa berdebat tentang perasaan mereka dihari itu.

"Berarti kamu inget dong....tentang pembicaraan kita waktu itu...Tentang... Perasaan aku ke afian!"Seru Melisa dengan senyuman tipisnya .

Deg..

Kirana terdiam dan langsung merasa gugup,ia kaget mendengar ucapan Melisa barusan yang seperti menebak isi pikiran nya barusan.

***

Kirana duduk bersandar dibantal sambil meremas jari jarinya dengan cemas.

Sementara Melisa tertawa renyah sambil menatap aneh Kirana.

"Kenapa kamu jadi diem gini Ra???,biasanya juga bar bar..."ucap Melisa sambil bersidekap dada.

Kirana tersenyum getir dan mulai menatap berani kearah Melisa.

"Mel...gue minta maaf!"Seru Kirana sambil menetralkan kecanggungan nya.

"Untuk?"tanya Melisa sambil menaikkan sebelah alisnya keatas.

"Gue tau,Dulu gue egois dan gak pernah bisa mahamin perasaan loe sebagai sahabat gue,Dan gue bersyukur...Karena amnesia gue,loe bisa dekat sama afian kayak sekarang...Gue senang, setidaknya Afian mulai buka hati nya buat loe..."jelas Kirana sambil tersenyum tipis.

Melisa tertawa renyah dan mulai duduk dengan tegak sambil menatap Kirana dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Dari mana kamu tau kalau afian udah buka hati nya buat aku?"Tanya Melisa dengan nada dingin.

"Ya...gue liat,selama gue amnesia,afian mulai perhatian sama loe...Ya...afian pantes sih perduli sama orang yang bener bener tulus mencintai dia,dan loe juga Pantes buat dapatin cinta afian.."jelas Kirana lagi dengan senyuman getirnya.

Hahahaha

Melisa tertawa renyah dan segera beranjak berdiri dari duduknya.

Lalu ia berjalan kearah pintu ruangan dengan cepat,dan berhenti tepat didekat tong sampah yang ada diruangan itu.

Kirana mengernyit bingung dengan sikap Melisa yang terlihat aneh.

Melisa membuka tong sampah,dan mengambil sesuatu dari sana, kemudian mengangkat nya tinggi tinggi sehingga bisa dilihat jelas oleh Kirana.

"Kamu salah Ra...bahkan sampai sekarang pun afian masih mencintai kamu,Dan semua perduli dia ke aku itu cuma belas kasihan dia...Buktinya,bunga yang aku kasih buat acara wisuda nya,diBUANG!!!"Seru Melisa dan mencampakkan bunga itu kembali kedalam Tong sampah.

Kirana masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Melisa yang tiba tiba berkata seperti itu.

Melihat Kirana yang memasang wajah penuh kebingungan,Melisa kembali berjalan kearahnya dan duduk dikursi yang ada disebelah Kirana berbaring.

"Tapi..bukannya itu bunga dari Revan?"tanya Kirana sambil mengerutkan keningnya.

"Revan??,seriously???...ya ampun Ra,mana mungkin aku lupa sama barang pemberian aku...Lagian buat apa Revan ngasih bunga yang ada boneka wisudanya untuk orang sakit!"pekik Melisa yang semakin membuat Kirana kebingungan.

"Itu gak mungkin Mel,jelas jelas aku gak liat afian datang kesini--"

"Mungkin kamu udah terlalu lama gak peka sama kehadiran nya Ra,sampai sampai kamu gak menyadari kalau afian datang kesini..."ucap Melisa dengan nada dingin.

Deg...

"Apa mungkin saat gue ngerasa afian datang itu bukan mimpi,tapi itu beneran afian!,kenapa loe bohongin gue Van!!!"Batin Kirana.

Kirana meremas kain seprai kasurnya,dan mengingat tiap jawaban kebohongan yang Revan ucapkan.

"Owh itu,iya...Gapapa kali,gue tadi suka aja liatnya,terus gue bawain deh buat loe,mau bawa mawar utuh...ntar dikirain jengukin pacar lagi.."

"Makanya...jangan kebanyakan Minum obat,jadi halu kan dia nya kesini !"

Kirana benar benar tidak habis pikir,bahwa untuk kesekian kali nya Revan kembali membuatnya merasa kecewa.

Padahal semenjak amnesia Kirana mulai merasa tenang karena mulai akrab dan bersahabat dengan dirinya,tapi lagi lagi Revan membuat hati nya kecewa dan sedikit membenci nya kembali.

๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”