Anisa memandangi wajah Justin dengan tatapan kerinduan. Albasia mencembik di sampingnya, tangan sibuk memeriksa teliti bagian-bagian yang terluka.
"Lukanya cukup dalam. Kemungkinan hidup tergantung tekad. Anisa, kami tidak ingin kamu sendirian di tempat ini jadi tidak ada salahnya beri dia untuk kamu"
Tangan mengetik sesuatu di ponsel. Albasia mengeryitkan keningnya tidak senang, "Kamu belajar bahasa isyarat mulai besok. Masalah dia mau kamu apakan, kamu urus. Koefisien minta pilihan ini harus kamu pakai sebaiknya, jangan menganggu ibu" ujarnya setelah membaca kata-kata di layar ponsel Anisa yang bertanya tentang nasib Justin dan Riu.
Anisa mengganguk senang, ia mengetik lagi di layar ponselnya, Albasia mengelengkan kepalanya, "Riu adalah nyonya besar yang sesungguhnya. Dia ibu kita. Kamu hidup karena dia jadi jangan bertemu atau mencari masalah dengannya. Itu semua demi kebaikanmu" ujarnya lagi, nadanya tidak senang.