Choi Yuna adalah gadis berusia tujuh belas tahun yang berbeda.
Dia bukan sosok yang memiliki banyak teman, juga bukan sosok berpengaruh di
sekolahnya, dia juga bukan sosok yang tampak periang dan banyak bicara.
"selamat pagi sunbae~"
"sunbae, terimalah bekal ini, hari ini aku dan oppa memasak semur telur puyuh,
aku harap sunbae menyukainya"
"selamat belajar sunbae "
Hanya kehadiran sosok Wonwoo yang dapat mengubahnya seratus delapan
puluh derajat.
Jeon Wonwoo , kakak kelas satu tingkat Yuna, sekaligus teman se-permainan
Seungcheol , kakaknya.
Pria satu ini terkenal sebagai kakak kelas yang berprestasi sekaligus pemain
basket yang memiliki sifat dingin yang sudah mendarah daging.
"enyah!"
Itulah yang selalu Wonwoo katakan saat Yuna berada di sekitarnya.
bukan dia membenci gadis itu, hanya saja, dia merasa sangat tidak bebas dan
sesak, padahal, Yuna tidak pernah melakukan apapun yang terkesan mengekang,
malahan, Yuna selalu dengan sukarela menjadi alarm yang mengingatkan
Wonwoo tentang banyak hal, seperti tidur contohnya.
Tapi mereka memang tidak sedekat itu.
hanya Yuna yang selalu berperan ketika disekitar Wonwoo.
●●●
"sampai kapan kau akan seperti ini?, huft...,
kenapa juga kau harus menyukai si datar, padahal jelas-jelas masih banyak pria
keren diluar sana" kata Jung Eunha, satu-satunya teman dan teman dekat Yuna
sejak bangku sekolah menengah pertama.
"kau bicara apa, hem?" tanya Yuna, kemudian merangkul Eunha menuju
kedalam kelas mereka.
●●●
Eunha dan Yuna sedang duduk tenang bersama beberapa siswa.
mereka sedang menonton pertandingan basket yang diadakan sekolah.
"Kyah... Wonwoo oppa sangat tampan"
"SEMANGAT OPPA, FIGHTING!!"
"aku malas berada di sini, telinga ku sakit karena mereka" keluh Eunha.
"aku juga nggak mau disini, tapi aku sedang menunggu pertandingan berakhir,
aku harus memberikan minuman pada sunbae" kata Yuna.
"toh, kau juga tadi yang menyetujui ajakan ku, kau bilang mau mencuci mata
dengan melihat pemandangan pria tampan dengan keringat," lanjut Yuna sinis.
"itu mah beda cerita, kupikir kita akan duduk di bangku depan, kau malah
memilih duduk di bangku belakang, kan jadinya nggak terlalu kelihatan, gimana
aku mau puas cuci mata?" kesal Eunha.
Yuna hanya tersenyum.
dia juga kesal harus berada di sini, tapi apa boleh buat, dia tidak ingin mereka
juga mengatakan banyak hal tentang Eunha.
●●●
Setelah pertandingan selesai dan lapangan mulai sedikit sepi, Eunha dan Yuna
turun menuju ke lapangan, awalnya Yuna sudah menawarkan pada Eunha untuk
pergi dahulu, tapi gadis itu menolak, katanya dia ingin cuci mata di saat-saat
terakhir.
"sunbae" panggil Yuna pada Wonwoo.
Wonwoo dan gadis itu menoleh.
dia menatap tidak suka pada Yuna.
"ini sunbae, aku bawakan air minum" kata Yuna ramah.
"bagaimana kalau punya ku saja oppa?, aku tadi sempat membelikan cola dingin
untuk oppa, kan pas sekali kalau panas-panas minum minuman dingin,
bagaimana?" tanya gadis itu sambil mengulurkan sebotol cola pada Wonwoo.
Yuna sih tidak merasa bermasalah dengan itu.
lagi pula, semua orang punya hak untuk memberikan perhatian kepada
Wonwoo.
tapi bukan berarti Yuna hanya akan diam saja.
"minum minuman dingin setelah olahraga itu ti__"
Yuna hanya bisa melongo saat Wonwoo langsung menerima cola dingin
pemberian gadis itu tanpa memperdulikan ucapannya.
Ya, Yuna hanya bisa menghela nafas gemas.
andai saja ia bisa melakukan sesuatu pada Wonwoo, sudah pasti Yuna akan
melakukannya.
Menyebalkan.
"Terimakasih" kata Wonwoo pada gadis itu, kemudian ia berlalu pergi begitu
saja tanpa memperdulikan Yuna.
"Pft..., hahahahaha...wlek.." ejek gadis itu sambil menjulurkan lidahnya.
Yuna hanya menatapnya tidak perduli, dia tahu, gadis ini adalah salah satu fans
Wonwoo sejak pertama kali ia melihat Wonwoo bermain basket.
Dia adik tingkatnya.
"kekanak kanakan" guman Yuna dan Eunha yang entah sejak kapan sudah berada
di sebelah Yuna.
"ayo kembali ke kelas," ajak Eunha, kemudian ia merangkul lengan Yuna.
Baru saja beberapa langkah Eunha dan Yuna pergi meninggalkan gadis tadi.
Gadis itu memekik kesakitan.
Yuna dan Eunha yang terkejut langsung menoleh kebelakang dan menemukan
gadis itu yang terduduk di lantai sambil memegangi pergelangan kakinya.
"Kenapa dia" kata Eunha kesal.
Yuna menatap dia.
di antara segerombolan gadis lain yang menjauhi mereka.
"dia lagi" kata Yuna malas, kemudian ia mendekat ke arah adik kelasnya yang
beberapa saat lalu mengejeknya tadi.
"apa kau bisa berdiri?" tanya Yuna dengan wajah datar, dia hanya berdiri dan
menatap gadis itu yang masih merintih kesakitan.
"ya anggap saja tidak" kata Yuna tidak perduli, kemudian ia memapah gadis itu
menuju bangku penonton yang paling dekat dengan lapangan.
Mereka tidak sadar, ada sepasang mata yang terus mengawasi mereka.
"aku nggak sudi kau obati" kata gadis itu sinis.
"aku juga nggak berniat melakukannya" kata Yuna sambil menghela napas.
Yuna hanya menunjukan wajah datar.
Dia tidak terlalu perduli, kemudian ia mengedarkan pandangannya ke seluruh
lapangan.
"MING!" panggil Yuna saat melihat temannya yang adalah anggota PMR sedang
lewat setelah membereskan beberapa peralatan kesehatan yang tadi terpakai.
Lelaki itu menghampiri mereka.
"Kenapa?" tanyanya.
"Tolong obati dia ya, kakinya keseleo" kata Yuna.
"oh, oke" jawabnya tanpa banyak bertanya.
Yuna tersenyum kemudian juga dibalas senyuman oleh lelaki itu.
Setelah Yuna dan Eunha pergi, lelaki itu berjongkok didepan gadis yang tadi.
"gimana kamu bisa keseleo?" tanyanya go the point.
"tadi tiba-tiba aja gengnya JeongYeon sunbae dorong dorong, eh jatuh deh"
kata gadis itu kesal sambil kembali mengingat kejadian tadi.
"mungkin kamu berbuat sesuatu yang nggak mereka suka, atau...
kamu fansnya Wonwoo hyung ya?"
gadis itu membulatkan mata terkejut, kemudian ia mengangguk sebagai
jawaban.
"lebih baik nggak usah terlalu terlihat dekat dengan Wonwoo hyung, apalagi
saat ada JeongYeon sunbae, kamu pasti tahu, dia akan sudah mengincar
Wonwoo sunbae sejak lama, dan apalagi posisi kalian berbeda"
gadis itu hanya merengut tidak setuju.
"cha sudah selesai, coba gerakan kaki mu, apa masih sakit" kata lelaki yang
dipanggil Ming tadi.
Gadis itu menggerakan pergelangan kakinya dengan sembarang arah.
"sudah tidak sakit, Terimakasih" katanya datar.
"iya, sama-sama" jawab si Ming sambil tersenyum hangat.
Senyum yang membuat gadis itu teralihkan beberapa saat.
"oh ya, siapa nama mu?" tanya Si Ming lagi.
"C-chengXiao" jawabnya gugup.
"ah.., aku MingHao, mari aku antar ke kelas mu, kaki mu perlu istirahat" katanya
sambil mengulurkan tangannya.
Cheng Xiao dengan ragu-ragu menerima uluran tangan Ming Hao yang adalah
kakak kelasnya, tapi setelahnya ia menyadari sesuatu.
Sepertunya, Ia lebih tertarik pada Ming Hao dari pada Wonwoo.
●●●
Wonwoo yang tengah memainkan game di ponselnya mendesah kesal ketika
beberapa notifikasi chat mengganggu konsentrasinya.
Tentu saja itu dari Yuna.
Benar saja, saat Wonwoo membukanya itu benar dari Yuna.
Ya, Wonwoo membacanya.
Yuna: 'selamat malam sunbae' 23.47
'cepatlah tidur sunbae, jangan begadang'
'dan jangan tidur di sofa, atau__'
Ya, Wonwoo tidak perduli kelanjutan isi pesan itu.
Dia lebih memilih melanjutkan gamenya.
Dan terbukti,
apa yang ditakutkan Yuna benar terjadi.
˙
˙
˙
Semalam Wonwoo ketiduran di sofa, sehingga seluruh badannya terasa pegal.
Ia juga merasa sangat mengantuk, dan ia rasa, ia sedang tidak enak badan.
Tiba-tiba saja, sejuntai rentengan koyo menutupi pandangannya.
Pelakunya Yuna lagi.
"ini, pakailah sunbae" kata Yuna.
Wonwoo tidak menggubris dan memilih memalingkan wajahnya.
"mau pakai sendiri atau ku pakaikan?" tanya Yuna berhasil menyita atensi
Wonwoo, pria itu menatap tidak suka pada Yuna.
Bukan dia membenci Yuna.
hanya saja, dia sangat risih ketika semua orang memperhatikannya yang sedang
berinteraksi dengan Yuna.
Wonwoo tidak nyaman.
Pria itu berdiri dan hendak pergi, tapi Yuna menahan tangan Wonwoo
kemudian dengan cepat ia mendaratkan telapak tangannya di kening Wonwoo.
"sunbae demam" kata Yuna sambil mengukur suhu keningnya sendiri.
Wonwoo berdecih sebal, ia kembali terkejut saat Yuna menarik tangannya
menuju Uks, Yuna berhenti di depan Uks.
"masuk dan istirahatlah sunbae, aku tahu sunbae tidak akan tenang kalau aku
menjaga Sunbae, dan aku juga sibuk, jadi sunbae istirahatlah dengan tenang,
jangan lupa pakai koyo nya, oh ya.., obat demam ada di laci nakas kedua di
sebelah lemari, air minumnya ada di dekat tempat pengawas, aku pergi dulu
sunbae"
Wonwoo hanya menatap kepergian Yuna.
setelahnya ia masuk dan melakukan perawatan pada dirinya sendiri.
Sesuai yang dikatakan Yuna, obat dan air minum berada di tempat yang tadi
disebutkan, hal ini membuat Wonwoo yang hampir saja terlelap kembali
terjaga.
Dia memikirkan sesuatu.
Bagaimana Yuna bisa tahu tempat benda benda itu?,
padahal ia yakin Yuna tidak pernah sekalipun memasuki Uks, gadis itu juga
bukan anggota Pmr.
'apa...
Yuna memang benar anak aneh?'