Chereads / JEANRESHA / Chapter 1 - Prolog

JEANRESHA

🇮🇩Risma_Devana
  • --
    chs / week
  • --
    NOT RATINGS
  • 3.3k
    Views
Synopsis

Chapter 1 - Prolog

Seorang gadis cantik duduk di depan meja rias dengan dandanan cantik dan anggun. Tersenyum tipis melihat bagaimana wajah cantik yang di kagumi oleh banyak orang itu benar-benar sangat menakjubkan baginya.

"Bagaimana bisa ada gadis secantik ini?" tanyanya entah pada siapa.

Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu terbuka dan menutup kembali.

"Kamu sudah selesai, Resha?" tanya seorang wanita cantik paruh baya yang baru saja masuk ruangan VIP itu.

Resha menoleh ke sumber suara. "Ya, sudah." jawabnya singkat.

"Pemotretan akan di lakukan 15 menit lagi, kamu bisa bersiap dulu atau kita bisa langsung ke lokasi," tutur wanita cantik yang mengajak Resha berbicara sejak awal.

Tidak ada tanggapan dari Resha. Gadis cantik itu justru tampak memutar kedua bola matanya dengan malas.

"Resha..?" panggil wanita itu karena tidak mendapat sahutan dari modelnya.

"Bagaimana dengan berkas-berkas ku untuk masuk sekolah reguler? Apakah sudah siap semuanya?"

Si cantik itu bukannya menjawab, namun justru bertanya perihal topik berbeda. Sehingga hal ini langsung membuat wanita yang lebih tua darinya itu mendengus tak suka.

"Apa keputusan mu untuk masuk sekolah reguler sudah bulat? Kenapa kamu tidak mau melanjutkan homeschooling mu saja? Tinggal 2 tahun lagi, Re--"

"Hargai apa yang aku inginkan, Nyonya!" potong Resha dengan cepat.

Gadis cantik itu berdiri dari duduknya dan merapikan dress cantik yang ia kenakan. Berjalan perlahan mendekati wanita yang ia panggil 'nyonya' itu.

"Sudah hampir 7 tahun aku selalu menuruti apa yang anda inginkan. Tidak bisakah sekali saja aku menentukan apa yang aku inginkan juga?" lanjut Resha sembari menatap lawan bicaranya itu dengan tajam.

"Tapi, bagaimana dengan pekerjaan mu nantinya? Aku takut kamu akan sibuk dengan sekolah mu dan pekerjaan mu nanti akan berantakan,"

"Itu bukan urusan ku. Bukankah itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab mu sebagai manajer?" sinis Resha.

Wanita itu tampak mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. "O-oke, aku akan segera mengurus semuanya," finalnya kemudian.

Resha tersenyum miring mendengar itu. "Lakukan secepatnya, aku ingin hari Senin depan aku sudah mengenakan seragam sekolah dengan cantik!" tegasnya.

Setelah mengatakan itu pada manajernya, Resha segera beranjak untuk pergi ke tempat pemotretannya karena sebentar lagi pasti jadwal pemotretannya akan segera di mulai. Sementara yang di tinggalkan itu tampak menggerutu kesal.

"Aku tidak mau mendengar alasan lupa atau ada masalah ya, Nyonya Widia Indira!" tegas Resha sekali lagi sebelum benar-benar keluar dari ruangan VIP nya.

Wanita yang bernama Widia Indira dan kerap di sapa Manajer Windi itu semakin mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

"Gadis sombong itu benar-benar menguji kesabaran ku!" geramnya.

*

**

Sementara di sisi lain, seorang pemuda baru saja pulang ke rumahnya. Memasuki rumah mewah bernuansa putih itu dengan raut wajah yang ditekuk entah apa sebabnya.

"Sudah ke berapa kalinya papa harus pergi ke ruangan guru mu itu dalam satu bulan ini?!"

Pertanyaan dari seorang pria paruh baya itu menghentikan langkah kaki si pemuda. "Kenapa?" tanyanya santai.

"Apa kamu tidak bosan melihat papa terus marah-marah padamu setiap hari? Kapan kamu bisa menjadi anak yang baik dan penurut seperti sepupu mu?!" teriak pria paruh baya itu pada putra semata wayangnya.

"Jean lelah. Jean ingin istirahat saja, kalau papa ingin marah pada Jean, lebih baik besok saja!" sahut pemuda bernama Jean itu dengan tenang.

Tanpa menunggu tanggapan dari papanya, Jean langsung berjalan lagi menuju kamarnya. Dia tidak perduli dengan kemarahan sang papa yang sekarang menggema di seluruh ruangan rumah mewah miliknya.

"Sampai kapan aku harus terus berusaha menjadi orang lain? Bahkan untuk menjadi diri sendiri saja sangat susah," ucap Jean sembari merebahkan tubuhnya di atas kasur.