POV JENI
Sejak hari itu rasanya aku terus terbayang wajahnya.
"Duh. Dia keren. Tampan. Sepertinya anak orang hebat deh!" Di dalam kamar. Mengingat penampilannya. Wajahnya. Rasanya aku jadi terlena sendiri. Aku masih ingat betul pakaian yang ia kenakan. Cara dia berjalan. Sepatunya. Ah, semua deh. Dia ga bisa keluar dari memoriku. Rasanya aku akan melompat lompat hanya dengan mengingat sosoknya.
Aku mengambil ponsel di permukaan kasur. Tak jauh dari posisi ku berguling guling di atas kasur. Mungkin tadi aku malah sudah beberapa kali menindih ponselku. Aku membuka grup chating yang isinya cuma kami bertiga. Aku, Danis dan Rena. Ya ampun ingat mereka jadi ingat pemuda itu. Aku memulai obrolan pertama. Biasanya aku bagian pendengar. Tapi kali ini untuk pertama kalinya aku ingin di dengar. Tepatnya di simak.
Aku : kalian. Sibuk tidak?
Chat dengan teman temanku ini tak butuh kesabaran karena semuanya kutu gadget. Nempel terus dengan gadget sama seperti anak remaja lainnya.