Chereads / Antara Aku & Kakak / Chapter 14 - episode 14

Chapter 14 - episode 14

Keesokkan paginya, udara di pagi hari begitu sejuk dan terasa dingin. Embun membasahi dedaunan terlihat segar. Aku terbangun lebih awal dari biasanya, sehingga ku lakukan untuk berolah raga di pagi hari, sekiranya jam 4 kurang.

Terdengar ada suara lantunan Al Qur'an di kamar sebelah. Sepertinya bukan hanya Aku saja yang bangun di pagi petang seperti ini.

Aku memutuskan untuk mendekatkan diri dan menguping lantunan merdu itu. Tajwid yang ia bacakan sangat indah. Bahkan Aku pun masih belajar untuk mempelajari tajwid tersebut.

Ternyata suara yang begitu mengagumkan dari kamar santri pria, aku pun mulai bingung untuk melihat siapakah yang membaca di pagi petang seperti ini.

Tidak baik pula jika Aku terus ada di perbatasan santri akhwat dan santri ikhwan. Bagaimanapun juga tidak pantas Aku menguping seperti ini.

Seketika lantunan Al Qur'an itu terhenti, tandanya si pembaca telah menyelesaikan ngajinya. Aku pun kembali ke tempat tadi melanjutkan aktivitasku di pagi hari.

Sembari bersholawat Aku pun tidak lupa untuk berdzikir pagi. Lantunan ku membuat menyejukkan hati tersendiri, seolah-olah rasa ini penuh kedamaian yang abadi.

Ash-bahnaa wa ash-bahal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzal yaum wa khoiro maa ba'dahu, wa a'udzu bika min syarri maa fii hadzal yaum wa syarri maa ba'dahu. Robbi a'udzu bika minal kasali wa su-il kibar. Robbi a'udzu bika min 'adzabin fin naari wa 'adzabin fil qobri.

Artinya:

"Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di alam kubur." 

Meminta pada Allah kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya, juga agar terhindar dari kejelekan di hari ini dan kejelekan sesudahnya.

Di dalamnya berisi pula permintaan agar terhindar dari rasa malas padahal mampu untuk beramal, juga agar terhindar dari kejelekan di masa tua.

Di dalamnya juga berisi permintaan agar terselamatkan dari siksa kubur dan siksa neraka yang merupakan siksa terberat di hari kiamat kelak.

***

Jeg-brugh!

Seketika ada seseorang menutup pintu dari arah toilet pria, sontak Aku merasa kaget karena suara itu dengan cara tiba-tiba.

Astaghfirullah! Latah ku pun tiba-tiba Aku ucapkan dalam hati. Rasa yang berdebar ini membuatku serasa jantungan. Tidak maksudku karena takut hantu. Namun, Aku hanya kaget saja karena suara itu begitu terdengar keras.

Kebetulan kamar asramaku dekat dengan perbatasan santri ikhwan, maka tak heran kan kalau Willy dan Ara suka sekali memandangi arah yang sudah pasti.

"Sedang apa?" Tanya sosok paruh baya di belakangku.

"Si..siapa kamu?" Tanyaku bergetar ketakutan.

"Coba balikkan saja badanmu, kamu akan tau siapa Aku" Katanya sedikit menenangkan dan membuatku ingin sekali membalik badankannya langsung.

Namun, rasa yang begitu bercampur aduk, bahkan Aku sama sekali tidak memahaminya. Siapakah sosok pria yang membelakangiku.

Dengan enggan Aku membalikkan badan, akhirnya benar saja itu dia. Indra yang selama ini di kagumi banyak santri dan para temannya kini ada di hadapanku.

Di temani udara sejuk di pagi hari langit sedikit kebiru hitaman ini, mendukung kami yang sudah lama tidak jumpa dan pertemuan kami yang kedua.

Tidak di sangka awal pertemuan ada di rumahnya dan kedua ada di Pondok yang sama. Entah bagaimana Allah merencanakan ini semua Aku masih belum mengerti.

Tap. Tap!

Sekejap terdengar suara orang berjalan ke arah Aku dan Mas Indra, buyar semua suasana yang berhenti seketika itu. Aku mulai panik dan sangat panik ini langsung berlari terbirit-birit meninggalkan Mas Indra sendirian di sana.

Area disini di larang untuk pacaran, aku berlari bukan merasa bahwa Aku ketemuan dengannya. Aku hanya takut pertemuan yang tidak di sengaja itu menimbulkan fitnah yang begitu pedih di rasa. Maka dari itu Aku meninggalkan Mas Indra sendirian.

Dengan rasa tergesa-gesa Aku berlari tanpa melihat ke belakang, aku terus berlari menuju ke kamar. Setelah sampai di depan pintu Aku berusaha masuk ke dalam namun seperti ada yang menahannya.

Dubrak!

"Ah, sakit" Teriakku terjatuh ke lantai.

Ternyata saat Aku berusaha masuk Ara juga mau keluar kamar untuk mengambil air wudhu.

"Yah! Mery kau tak apa-apa kan? maafin aku tadi enggak liat" Katanya merasa bersalah.

"Enggak ra, aku yang salah. Tadi aku keburu" Kataku sambil berusaha berdiri.

Ara pun membantuku berdiri, sembari membawa gayung berwarna putih yang berisi dengan sikat gigi, sabun, samphoo dan handuk di pundaknya. Ku kira ia cuma mengambil air wudhu.

"Tumben ra kamu mau mandi jam segini?" Kataku bingung.

"Iyah, untuk beberapa hari kedepan Aku tidak disini Mer." Bilangnya sembari sedih seketika.

"Kamu kenapa?" Tanyaku lagi.

Ara hanya tersenyum dan balik lagi ke suasana yang entah membuatnya ingin pulang, ia pun beranjak masuk ke kamar mandi.

Apakah Ara akan menikah? pikirku.

Tidak mungkin, dia bilang denganku bahwa sendirinya baru saja bertunangan, dan acara nikahnya bukan bulan ini lebih tepatnya. Tapi kenapa Ara sedih seperti itu?

Rasanya aneh jika Ara pulang secara mendadak. Aku harus bertanya pada teman sekamarku.

"Willy, Putri" Teriakku masuk ke kamar.

Mereka ternyata sudah siap untuk sholat subuh, rapih dengan mukenanya. Mereka terlihat wajahnya murung dan merasa sedih. Banyak hal yang tidak Aku pahami. Sejak hari itu, semuanya terasa aneh.

"Will, apakah kamu sudah tau Ara, .. " Kataku terpotong.

"Iya kami tau, itu semua gara-gara anak Tunas Bangsa itu." Ujar Willy kesal.

"Tadi Ustadzah datang kemari dan berbicara banyak dengan Ara, Mer. Kau kemana saja?" Lanjut Lela mengernyitkan alis.

Bingung, rasanya sungguh bingung. Ada apa sebenarnya. Mereka begitu tertutup Aku sampai tidak paham dengan mereka. Seakan-akan semua masalah yang menimpa Ara dan Willy itu selalu bersangkutan dengan anak Tunas Bangsa.

Memang di antara Aku, Willy, Putri, Lela dan Ara yang paling lama disini adalah Willy dan Ara, bahkan pingsannya Lela pun ia masih menutupinya. Tidak mau membuka mulut soal sakitnya itu. Hanya Willy, Ara dan Putri lah yang tau soal problem yang sering terjadi saat ini.