LIMA PILAR SUCI
Cahaya merah dan langit yang kelam terbentang di hadapannya. Mayat-mayat berserakan, bahkan bertumpuk menjadi satu. Api menyebarkan hawa panas, melahap segala sesuatu, pohon, kuda, dan baju zirah tebal.
Garu terbangun dengan napas tersengal. Ia terduduk di tempat tidurnya, mencengkeram selimut erat-erat. Matanya membelalak, sisa ketakutan masih terasa. Cahaya rembulan menembus jendela yang terbuka, menerangi wajahnya yang pucat. Ia menyentuh dadanya, mencoba menenangkan diri dengan mengatur napas yang terasa sesak. Mimpi itu begitu nyata, reruntuhan, api yang menari-nari di udara, seolah semua benar-benar terjadi.
Garu mengusap wajahnya, lalu bangkit dan melangkah keluar rumah. Desa tampak damai, seakan dunia ini tak terganggu oleh mimpi-mimpi mengerikan yang terus menghantuinya. Ia berjalan di sepanjang jalan desa, membiarkan udara malam yang dingin menusuk kulitnya, berharap itu dapat menenangkan pikirannya.