Download Chereads APP
Chereads App StoreGoogle Play
Chereads

Kematian The Rev

Tunangan Iblis

Kisah seorang pria yang membawa maut dan gadis yang menyangkalnya. ---- Di gunung berhantu di kerajaan itu, mereka bilang ada seorang penyihir yang tinggal. Dia terlahir sebagai putri. Tapi bahkan sebelum dia dilahirkan, pendeta telah menyatakan dia terkutuk dan menuntut kematian dia. Mereka meracuni ibunya untuk membunuh bayi sebelum dia lahir, tapi bayi itu terlahir dari ibu yang sudah mati—seorang anak yang terkutuk. Berulang kali, mereka mencoba untuk membunuh bayi itu tapi dia secara ajaib selamat dari setiap percobaan. Setelah menyerah, mereka meninggalkannya di gunung berhantu untuk mati tapi dia tetap bertahan hidup di tanah tandus itu—Seorang penyihir ‘Kenapa dia tidak mati?’ Bertahun-tahun kemudian, orang-orang akhirnya muak dengan penyihir itu dan memutuskan untuk membakar gunung itu. Tapi Setan datang untuk menolongnya dan membawanya pergi dari tempat yang terbakar itu, karena mati bukanlah takdirnya bahkan saat itu. Draven Amaris. Naga Hitam, yang memerintah atas makhluk supranatural, Setan yang tidak ada yang ingin melintasi jalannya. Dia membenci manusia tetapi gadis manusia tertentu ini akan menariknya ke arahnya kapan saja dia dalam bahaya. ‘Apakah dia benar-benar manusia?’ Dia membawa manusia itu bersamanya dan menamai gadis misterius yang tangguh ini “Bara”, potongan arang yang menyala dalam api yang sedang padam. Sebuah jiwa tercemar dengan balas dendam dan kegelapan neraka, akan bangkit dari abu dan memenuhi rasa dendamnya. ------ Inilah buku kedua dari seri Setan dan Penyihir. Buku 1 - Anak Penyihir dan Putra Setan. Buku 3 - Tunangan Setan. Semua buku saling terhubung satu sama lain tapi Anda bisa membacanya sebagai kisah mandiri.
Mynovel20 · 35K Views

The Saintess, The Villainess, and The Enchantress

In the heart of a vast and fertile land, nestled amidst rolling hills and lush meadows, stood the grand mansion of the De Lolce family. This stately home belonged to Duke Castel and Duchess Aerwyna, a couple whose reputation preceded them throughout the entire nation of Philippeldephia. Duke Castel was celebrated far and wide as the most brilliant scientist in the country, his mind teeming with discoveries that pushed the boundaries of what was possible. In contrast, Duchess Aerwyna was renowned for her culinary prowess, her dishes and baked goods the very definition of perfection, sought after by the elite of the land. Three years into their blissful marriage, their joy knew no bounds when Aerwyna gave birth to triplets. Yet, their happiness was cruelly snatched away when the babies, too weak to survive, passed away shortly after entering the world. The grief was unbearable, and neither Castel nor Aerwyna could reconcile with the tragedy that had befallen them. The halls of their mansion, once filled with dreams of a bright future, were now heavy with sorrow. But Duke Castel, a man driven by the relentless pursuit of knowledge, refused to accept fate’s verdict. One fateful night, he conceived a daring experiment—one that could defy the natural order and bring their children back from the brink of death. In the dim glow of his laboratory, surrounded by beakers and vials of mysterious substances, he worked tirelessly, driven by a desperate hope. Finally, the moment arrived. Castel was on the verge of success, his hands trembling with a mix of fear and anticipation. But in a single, fateful moment, as he reached for the final component, his hand accidentally knocked over a set of strange chemicals. The colorful liquids spilled across the lab table, seeping into the lifeless bodies of the three infants. In an instant, something extraordinary began to happen. The triplets, instead of merely returning to life, started to change. Their small forms absorbed the spilled concoction, and they became something... different. The experiment had gone awry, and the results were beyond anything Castel could have predicted. From that night onward, the De Lolce mansion became the stage for a series of unexpected events, as the once-ordinary lives of Castel and Aerwyna took a turn toward the extraordinary—all because of a single, accidental spill that altered the course of their family’s destiny. Note: This is more like a long script rather than a novel type.
ShananeShanane · 60.9K Views

The last law

The Last Law (Hanya ada satu hukum: Bertahan atau mati.) Dunia telah berubah menjadi ladang kematian. Setelah perang nuklir meledakkan peradaban, yang tersisa hanyalah gurun radioaktif, reruntuhan kota yang sunyi, dan manusia-manusia yang saling menerkam demi setetes air. Tidak ada lagi negara, hukum, atau belas kasihan—yang ada hanyalah kekuatan dan kelicikan. Di tengah dunia yang hancur, Raine hanya punya satu tujuan: bertahan hidup. Tidak ada ambisi besar, tidak ada dendam atau misi penyelamatan—hanya dirinya, pisau di pinggang, dan insting yang selalu berbisik bahwa satu kesalahan bisa berarti kematian. Kelompok tirani menguasai sumber daya yang tersisa, menjadikan air lebih berharga daripada nyawa. Mereka adalah kelompok berdarah dingin, dan Raine jelas harus berhati hati agar terhindar dari kematian,tapi bayangan mereka selalu mengintai, siap merebut apapun yang bisa dipakai untuk bertahan hidup. Setiap hari adalah perjudian antara melawan, bersembunyi, atau melarikan diri. Namun, di dunia yang telah mati ini, sesuatu masih bergerak. Desas-desus beredar—tentang tempat yang belum tersentuh kehancuran, tentang sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini. Raine tidak peduli. Dia tidak ingin terlibat. Tapi saat hidupnya yang selama ini bersembunyi terguncang oleh peristiwa yang tak terduga, dia dihadapkan pada pilihan: tetap bertahan di bayang-bayang atau melangkah menuju sesuatu yang bisa mengubah segalanya. Di dunia tanpa hukum, berapa harga yang harus dibayar untuk tetap hidup?
LALU_GAMING · 135 Views
Related Topics
More