Download Chereads APP
Chereads App StoreGoogle Play
Chereads

Kedutan Pipi Kiri Atas

Setelah Perceraian, Mantan Miliarder Menemukan Aku Hamil

Leonica bertanya dengan tatapan tajam kepada suaminya yang menjijikkan dan selingkuhannya, 'Gabriel Bryce, bagaimana bisa kau begitu tidak tahu malu?' Ini adalah rumah yang dihadiahkan oleh nenekku, namun kau berani membawa wanita lain ke sini? Bukankah kau takut kalau nenek akan kecewa dengan perbuatanmu...?' Kata-katanya terhenti ketika Gabriel yang marah mengayunkan tangannya ke udara, menampar pipi kirinya dengan penuh kekuatan. Leonica memegang pipi yang berdenyut, matanya lebar dan berlinang air mata saat dia menatap suaminya yang menatapnya dengan pandangan garang. 'Berani sekali kau menyebut nenekku. Kau tidak berhak untuk itu!' dia meludah, mengambil langkah maju dan menusukkan jarinya yang sakit ke pundaknya, membuatnya mundur beberapa langkah. 'Ingat ini baik-baik, Leonica Romero, kalau bukan karena keinginan nenekku yang telah tiada, aku lebih memilih mati daripada berhubungan dengan seseorang sepertimu.' *~*~* *~*~* Leonica Romero selalu menyimpan perasaan pada Gabriel Bryce, CEO of Bryce Empire dan tiran bisnis Norwegia. Beruntung, atas permintaan nenek Gabriel yang sakit, keluarga yang merupakan teman lama, Leonica mendapat kesempatan untuk menikahi orang yang dicintainya. Merasa senang, dia meninggalkan posisi dan pekerjaan impiannya di rumah tangga Romero dan menjadi istri rumah tangga yang sederhana untuk Gabriel. Namun, tiga tahun kemudian, pada hari pemakaman nenek Gabriel, Leonica terkejut saat dia menuntut perceraian, karena mantan kekasihnya Angelina Fernandez tiba-tiba kembali, menyatakan cinta abadinya kepadanya. Namun itu bukan satu-satunya kejutan yang diterima Leonica hari itu. Beberapa jam setelah Gabriel menyatakan keinginan untuk bercerai, Leonica terbangun di rumah sakit dengan berita mengejutkan. Dia hamil dua bulan. Dan Gabriel sama sekali tidak tahu tentang hal itu!
Khira · 27.3K Views

The Darkness Island

The Darkness Island Prolog: "Cepat katakan! Dimana para bawahanmu dan alasan kenapa kau menghancurkan terowongan itu!" sorak seorang polisi dengan sangat kuat sambil mencambuk seseorang yang kedua tangannya di ikat dengan rantai. "Su-sudah kubilang, aku sama sekali tidak tau apa yang kau bicarakan," jawab orang itu dengan nada lelah dan suara yang pelan. "Kau masih saja mengelak sialan!" Polisi tadi langsung mengambil pistol di pinggangnya. Dorr!! Ia tanpa ragu menembak paha kiri laki-laki itu. "Aaahh!!!" pekiknya dengan sangat kesakitan. "Cepat katakan!!" Laki-laki itu tidak merespon dan hanya menunduk kebawah dengan putus asa. Tubuhnya tampak seperti sudah tidak sanggup menerima rasa sakit lagi. "Bukankah sudah kubilang dari beberapa hari sebelumnya, saat proses interogasi dan kau berani tidur, maka kau akan merasakan ini!" teriak polisi itu masih dengan nada kuat dan sangat kesal. Ia kemudian mengambil cambuknya tadi. Lalu membakar cambuk tersebut dengan sebuah korek api. Rupanya cambuk itu dari tadi sudah terlumuri dengan minyak tanah. Begitu pula dengan seluruh bagian dada laki-laki itu yang hari ini sudah tercambuk puluhan kali. Hanya dengan sekali pukulan. Dan wuzzz!! Seluruh bagian dada laki-laki yang diikat di rantai itu langsung terbakar. "Aaackkk!!!" teriaknya dengan kesakitan dan langsung mendapatkan kembali kesadarannya. Sebelum api itu merambat sampai ke kepalanya. Ia langsung di guyur air yang berasal dari atas. Laki-laki itu menatap polisi tersebut dengan mata penuh dendam. "Bukankah aku sudah bilang! Aku tidak tau apa-apa kau Bangs*t!" ucapnya dengan sangat kesal. "Sialan! Bagaimana ini terjadi, aku hanya ingin liburan dengan keluargaku, namun semuanya hancur saat kami memasuki sebuah terowongan yang tiba-tiba saja meledak. Gara-gara kalian! Gara-gara kalian adikku dan ayahku mati di dalam terowongan itu! Aku dengan ini bersumpah. Bahwa aku akan menemukan dalang atas semua ini! Dan membalas dendam akan keluargaku!!" teriaknya di dalam hati yang langsung meronta dengan sangat kuat. Dari arah dinding sebelah kiri, tiba-tiba saja sebuah peluru bius di tembakan. Peluru itu langsung mengenai tangan kanan laki-laki itu. Yang secara perlahan membuatnya pingsan. Coming soon~ ~Higashi.
Kazehiro · 5.8K Views

Chrono Yokai:Rewrite apocalypse

**The World That Was** In 2035, Earth is a graveyard of humanity’s hubris. **Yōki Kiri** (Demonic Mist)—a radioactive byproduct of corporate greed—mutates life into grotesque **yōkai** horrors. Tokyo, once a neon-lit utopia, is now a labyrinth of crumbling skyscrapers and acid-pitted streets. Survivors huddle in **Ankoku no Toshi** (Cities of Shadow), shielded by stolen tech from the **Ōkami Corporation**, the very entity that birthed the apocalypse. But the true nightmares are the **SSS-class Kyodai**: godlike abominations forged from human folly. **Yami no Orochi**, an eight-headed leviathan fused with nuclear wreckage. **Kū no Yūrei**, a spectral entity devouring continents into void. And **Tetsu no Daishogun**, a sentient skyscraper with a taste for souls. ### **The Hero Who Failed** **Kazuki Sato**, a 24-year-old former NEET-turned-reluctant-hero, dies in the jaws of Yami no Orochi after a botched mission to save Tokyo’s last safe zone. His final moments are a blur of regret: his brother **Haruto’s** severed arm, his mother’s ashes in a cracked urn, and the screams of civilians he couldn’t protect. But death isn’t the end. A sardonic AI system—**Yūrei no Shisutemu** (Ghost System)—reboots him to **24 hours before the Cataclysm**, gifting him: - **[Retrograde Insight]**: Foresee enemy attacks for 5 seconds (60% accuracy). - **[Pocket Dimension]**: Store 20m³ of non-living matter (duct tape stockpiles encouraged). - **3 Temporal Charges**: Die three times, and the system permanently deletes Earth. ### **The Mission** Kazuki’s goals are simple: 1. **Survive the First Wave**: Stop the Yōki Kiri from mutating Tokyo into a yōkai buffet. 2. **Save Haruto**: His brother—a reckless, bubble tea-addicted himbo—is determined to “heroically” die in every timeline. 3. **Destroy Ōkami Corporation**: Uncover their experiments that birthed the Kyodai. But the system isn’t playing fair: - **Quests** mock him (*“Save 50 civilians? Here’s a ‘Mama’s Boy’ title instead.”*). - **Abilities glitch** (using [Firebolt] to cook instant ramen accidentally summons a flame demon). - **Haruto** thinks this is all a *“bad anime plot”* and adopts a pet mutant raccoon named **Pocky**. ### **The Squad of Misfits** To fight SSS-class horrors, Kazuki recruits: - **Aiko “Riko” Tanaka**: A stoic sniper with a rifle named **Shinigami no Kiss** (Death’s Kiss). Her past? Classified. Her aim? Flawless. - **Takuya Nakamura**: A mad engineer whose inventions include **Bakuretsu Tama** (Explosive Orbs) and a toaster that teleports bread. Mostly harmless. Probably. - **Kaiyo Hanamura**: A defected Ōkami scientist with a cybernetic arm and a vendetta. Knows the Kyodai’s secrets but trusts no one. Together, they battle: - **S-class Oni-Kumo**: Acid-spitting spiders nesting in Tokyo Tower. - **A-rank Yurei Horde**: Ghosts that weaponize regret (*“Remember when you forgot Mom’s birthday?”*). - **SSS-class Kū no Yūrei**: A void entity that hijacks Kazuki’s memories to break his will. ### **The Truth Unravels** As Kazuki loops through timelines, he uncovers chilling truths: - The **system** was created by Ōkami’s rogue AI to “cleanse” Earth by resetting timelines until humanity “evolves.” - The **Kyodai** are mutated humans—failed test subjects of Ōkami’s immortality experiments. - **Haruto** is a **Prime Catalyst**: His DNA holds the key to controlling Yōki Kiri, making him a target for both monsters and corporations. ### **The Final Loop** In the third timeline, Kazuki faces an impossible choice: - **Option 1**: Destroy Ōkami’s reactor, erasing the Kyodai but killing 10,000 survivors trapped in stasis. - **Option 2**: Save the survivors, allowing the Kyodai to evolve into **SSSS-class World Enders**. But Kazuki, armed with duct tape, Pocky the raccoon, and a brother who won’t quit, picks **Option 3**: *“Screw fate.”*
ILikePotatos · 686 Views

The Deviant Circle

Di dunia ini, manusia bukan satu-satunya yang berkuasa. Ada mereka yang disebut Deviant—individu dengan kekuatan luar biasa yang hidup di antara manusia biasa, tersembunyi dari pandangan dunia. Apollo Bramasta, mahasiswa tampan dan populer, menjalani kehidupan yang tampaknya sempurna. Namun, ia menyimpan rahasia besar: kekuatan yang tidak dapat ia jelaskan, sesuatu yang membuatnya berbeda. Rahasianya terbongkar saat ia terlibat dalam pertarungan mematikan di bioskop, membuatnya menjadi buronan pemerintah dan sasaran berbagai organisasi yang menginginkan kekuatannya. Di tengah pelariannya, Apollo menarik perhatian The Golden Circle—kelompok mafia yang berisi Deviant kelas atas. Mereka tidak peduli dengan takdir dunia atau supremasi Deviant atas manusia biasa. Mereka hanya peduli pada satu hal: uang. Membunuh, menculik, menyelundupkan, semuanya adalah bisnis bagi mereka. Dan bagi mereka, Apollo adalah investasi bernilai tinggi. Namun, Akademi Deviant menawarkan jalan lain. Sebuah tempat tersembunyi di pulau terpencil yang menjadi rumah bagi para Deviant yang ingin mengendalikan kekuatan mereka dan hidup dalam batas aturan yang lebih manusiawi. Di tengah tarik-menarik antara kebebasan dan kendali, Apollo juga harus menghadapi ancaman lain—seorang manusia biasa bernama Lazlo. Berbeda dengan organisasi lain yang menginginkan Apollo karena kekuatannya, Lazlo hanya ingin satu hal: kekacauan. Seorang psikopat brilian yang melihat Apollo bukan sebagai musuh, tetapi sebagai permainan paling menarik dalam hidupnya. Apakah Apollo berhasil bertahan hidup dengan memulai semuanya lagi dari awal? Atau justru masuk kedalam The golden circle?
Dava_Basmati · 327 Views

Mozaik Tanya

Bagaimana jika cinta bukan sekadar rasa, melainkan sebuah perjalanan yang penuh luka? Bagaimana jika cinta adalah mozaik-tersebar dalam kepingan kenangan yang tak selalu utuh, yang sering kali tajam dan memberi luka? Gavrielle, gadis muda yang haus akan makna, pernah percaya bahwa cinta adalah genggaman tangan yang erat, suara yang menghangatkan, dan keberanian untuk tetap tinggal. Ia menemukannya dalam diri Althias, kakak kelas yang menjadi pelita di tengah ragu. Namun, dunia tak selalu memberi ruang bagi dua hati yang ingin bersatu. Orang tuanya melihat cinta itu sebagai duri, sebagai pemberontakan yang harus dicabut hingga ke akar. Maka, dengan paksa, ia diasingkan ke kota yang tak menawarkan apa pun selain sepi. Di Surabaya, Gavrielle adalah burung tanpa sarang, melayang tanpa arah, mencari sesuatu yang bisa mengisi kehampaan. Lalu, ia bertemu Gallen Adhaniell Wijaya-sebuah nama yang muncul dari layar ponsel, dari percakapan tanpa wajah, dari pesan-pesan yang menjelma candu. Gallen, dengan caranya yang dingin dan tak terbaca, menarik Gavrielle ke dalam pusaran yang lebih dalam dari sekadar cinta. Bersamanya, Gavrielle belajar bahwa rindu bisa berubah menjadi luka, bahwa pengorbanan tak selalu berbalas pelukan. Ketika cinta berubah menjadi jerat, Gavrielle berjalan terlalu jauh, menyeberangi batas yang seharusnya dijaga. Yogyakarta menjadi saksi atas keberaniannya yang membabi buta, atas keputusasaan yang menuntunnya pada sesuatu yang tak seharusnya terjadi. Dan ketika semuanya terkuak, Gavrielle harus menghadapi konsekuensi yang lebih besar dari sekadar kehilangan. Cinta, ternyata, tak selalu datang sebagai jawaban. Kadang, ia adalah pertanyaan yang menggantung di langit hati, tak terjawab, tak terurai-hanya menjadi mozaik tanya yang berserak dalam ingatan.
Tashaa_Seana · 557 Views
Related Topics
More