Raka duduk di sudut kamarnya, diterangi cahaya redup dari lampu meja yang hampir putus. Di tangannya, sebuah komik tebal berjudul *Saga Kerta* terbuka lebar, halaman-halaman penuh dengan ilustrasi dramatis: pedang yang bersinar, kastil yang runtuh, dan wajah-wajah pahlawan dengan ekspresi epik. Dia sudah membaca hingga volume keenam, dan malam ini adalah klimaks yang ditunggu-tunggu—pertempuran besar antara pasukan Cahaya dan kegelapan yang dipimpin oleh Kaisar Bayang. Jari-jarinya bergetar saat ia membalik halaman terakhir, di mana tulisan kecil di pojok menandakan akhir bab: "Dan darah pertama menetes, menandai awal kehancuran."
"Wow, ini keren banget," gumamnya, matanya melebar. Raka, anak kelas dua SMA yang hobi mengoleksi komik, selalu bermimpi menjadi bagian dari dunia seperti ini. Dia bukan tipe yang populer di sekolah—terlalu pendiam, terlalu suka tenggelam dalam imajinasi. Tapi di dalam pikirannya, dia adalah pahlawan, bukan penutup cerita yang tak pernah diperhatikan.
Tiba-tiba, angin dingin menyelinap masuk meski jendela tertutup rapat. Halaman komik di tangannya bergetar, lalu berputar sendiri seolah hidup. Raka terkejut, mencoba menutup buku, tapi halaman-halaman itu malah menyala, memancarkan cahaya putih menyilaukan. "Apa-apaan ini?!" jeritnya, tubuhnya terseret ke dalam buku seolah ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Dunia di sekitarnya memudar, dan suara halaman yang berderit menggantikan dentuman jantungnya.
Saat kesadarannya kembali, Raka mendapati dirinya berdiri di tengah ladang yang luas, bau rumput basah menyengat hidungnya. Dia mengenakan baju besi yang berat, pedang panjang tergantung di pinggang, dan helm tua yang sedikit longgar menutupi wajahnya. Di kejauhan, suara gemuruh perang bergema—terompet perang, teriakan, dan dentingan logam. "Ini... ini kan dunia *Saga Kerta*!" katanya, mata membelalak. Jantungnya berdegup kencang. Apakah ini mimpi? Atau—entah bagaimana—dia benar-benar masuk ke komik favoritnya?
Raka melangkah maju, mencoba mencerna situasi. Dia ingat detail cerita: bab pertama volume ketujuh dimulai dengan pertempuran besar, dan pahlawan utama, Ardan, akan muncul untuk menyelamatkan hari. "Kalau aku ada di sini, aku pasti jadi salah satu prajurit di pasukan Cahaya," pikirnya, penuh semangat. Bayangan dirinya sebagai pahlawan mulai terbayang—mungkin dia akan bertemu Ardan dan jadi sahabatnya!
Tapi optimisme itu sirna saat seseorang berlari menghampirinya. Seorang prajurit perempuan berambut pendek, mengenakan armor ringan, menghentikan langkahnya di depan Raka. "Karva! Apa yang kamu lakukan di sini? Perang sudah dimulai, ayo ke barisan!" serunya dengan nada mendesak.
"Karva?" Raka bingung. Nama itu asing baginya. Dia membuka mulut untuk bertanya, tapi gadis itu sudah menarik tangannya, menyeretnya ke arah barisan prajurit yang berbaris rapi. Di depan mereka, pasukan kegelapan—tentara bertopeng hitam dengan mata merah menyala—maju dengan langkah mengguncang tanah. Raka merasa dadanya sesak. Dia bukan Ardan. Dia bukan siapa-siapa. Tapi siapa Karva?
Sesaat kemudian, komandan pasukan Cahaya, seorang pria tinggi dengan janggut lebat bernama General Tarko, mengangkat pedangnya. "Untuk kemenangan! Untuk cahaya!" teriaknya, dan ribuan prajurit berteriak serentak, termasuk Raka yang ikut terbawa arus. Pedang di tangannya terasa asing, berat, dan dia hampir terjatuh saat mulai berlari bersama yang lain. Pikirannya berputar. "Aku harus bertahan sampai Ardan muncul. Dia pasti akan menyelamatkanku!"
Pertempuran pecah dengan brutal. Raka, meski tak terlatih, berusaha mengayunkan pedangnya secara acak, menghindari serangan musuh dengan insting murni. Darah dan debu beterbangan, dan dia berhasil bertahan beberapa menit—sesuatu yang mengejutkannya sendiri. Tapi saat dia menoleh, gadis tadi yang menyeretnya terkena panah di bahu dan roboh. "Karva, tolong!" rintihnya, meraih tangan Raka.
Raka panik, berlutut di sampingnya. "Aku bukan Karva! Namaku Raka!" katanya, tapi gadis itu hanya menatapnya dengan mata kosong sebelum kehilangan kesadaran. Di saat itulah, dia menyadari sesuatu yang mengerikan: dia tidak hanya masuk ke dunia *Saga Kerta*, tapi dia menggantikan seseorang. Dan dari ingatannya akan komik itu, Karva bukan pahlawan. Karva adalah prajurit kecil yang mati di halaman kedua, hanya sebagai pembuka cerita.
"Tidak, ini tidak bisa terjadi!" pikirnya, tubuhnya gemetar. Dia harus kabur. Tapi sebelum dia bisa bergerak, bayangan besar muncul di depannya—seorang jenderal kegelapan dengan kapak raksasa. "Karva, akhir ceritamu telah tiba," gumamnya dengan suara dalam, mata merahnya menyala. Raka membeku, pedangnya jatuh dari tangan. Ini akhir. Dia akan mati seperti yang ditulis.
Tapi tiba-tiba, tanah di bawahnya bergetar hebat. Cahaya terang menyelinap dari langit, dan suara familiar terdengar—suara Ardan, pahlawan utama, yang akhirnya muncul dengan pedang suci di tangan. "Aku datang, saudara-saudara!" teriaknya, dan pasukan Cahaya bersorak. Raka lega, berpikir dia selamat. Ardan akan membunuh jenderal itu dan menyelamatkannya.
Namun, plot twist yang tak terduga terjadi. Alih-alih menyerang jenderal kegelapan, Ardan mengarahkan pedangnya ke arah Raka. "Karva, pengkhianat, kau akan mati di tanganku!" serunya dengan amarah membara. Raka terdiam, tak mengerti. Pengkhianat? Dia baru saja masuk ke dunia ini! Cahaya pedang Ardan semakin dekat, dan dunia tampak berhenti sejenak. Ternyata, dalam dunia ini, Karva bukan sekadar korban acak—dia ditakdirkan sebagai pengkhianat yang harus dibunuh oleh pahlawan sendiri.
Raka terduduk, pikirannya kacau. "Tunggu, Ardan! Aku bukan pengkhianat! Aku bukan Karva, namaku Raka!" teriaknya, tapi suaranya tenggelam di tengah gemuruh pertempuran. Ardan, dengan mata penuh dendam, melangkah maju. "Jangan bohong, Karva. Aku tahu siapa kau sebenarnya," katanya dingin. Raka merasa dunia berputar. Bagaimana bisa pahlawan yang dia kagumi tiba-tiba menjadi musuhnya?
Di tengah kepanikan, Raka meraba-raba tanah dan menemukan sesuatu—sebuah liontin kecil yang terselip di saku baju besinya. Liontin itu memancarkan cahaya samar, dan saat disentuh, suara aneh bergema di kepalanya: "Pilih jalurmu, atau mati seperti yang ditulis." Dia tak punya waktu untuk berpikir. Jenderal kegelapan di belakangnya mulai mengayunkan kapak, sementara Ardan di depan siap menusuk. Dengan insting, Raka menggenggam liontin itu erat-erat dan menutup mata.
Cahaya menyilaukan meledak, dan ketika Raka membuka mata, dia tak lagi di ladang perang. Dia berdiri di ruangan kosong dengan dinding hitam, dikelilingi oleh gulungan-gulungan kertas yang mengambang. Di tengah ruangan, seorang figur berjubah muncul, wajahnya tersembunyi di balik tudung. "Selamat datang, Raka," kata figur itu dengan suara rendah. "Kau telah memasuki ruang di luar panel. Di sini, kau bisa mengubah cerita—tapi hati-hati, setiap pilihan punya harga."
Raka ternganga. "Mengubah cerita? Maksudmu aku bisa hidup?" tanyanya, harapan mulai menyelinap. Figur itu mengangguk perlahan. "Ya, tapi kau harus tahu kebenaran. Karva bukan hanya pengkhianat. Dia adalah kunci untuk menghentikan Kaisar Bayang—dan kau sekarang menggantikannya. Namun, ada yang tak kau sadari: Ardan bukan pahlawan sejati. Dia diprogram untuk membunuhmu karena kau mengancam alur cerita yang sudah ditulis."
Raka mundur selangkah, kepalanya pusing. "Program? Ditulis? Apa maksudmu?" Figur itu mengangkat tangan, dan gulungan kertas di sekitar mereka berputar, menunjukkan gambar-gambar dari *Saga Kerta*—tapi ada tulisan aneh di sela-sela: kode, angka, dan simbol yang tak dia mengerti. "Dunia ini bukan kebetulan, Raka. Ini ciptaan manusia, dan kau terjebak di dalamnya. Pilihanmu akan menentukan apakah kau selamat, atau menjadi bagian dari halaman yang terbakar."
Sebelum Raka bisa menjawab, lantai di bawahnya retak, dan suara Ardan kembali terdengar dari kejauhan, "Karva, aku tahu kau bersembunyi!" Ruangan itu mulai runtuh, dan figur berjubah menghilang, meninggalkan Raka dengan liontin di tangan. Dia merasa tubuhnya ditarik kembali ke pertempuran, tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda—dia merasakan kekuatan aneh mengalir dari liontin itu. Dengan sekuat tenaga, dia mengayunkan tangannya, dan cahaya kecil melesat, mendorong Ardan mundur.
Ardan terhuyung, tatapannya berubah dari marah menjadi bingung. "Apa ini? Kau... kau bukan Karva biasa," katanya, mundur selangkah. Raka berdiri, napasnya tersengal, tapi ada keyakinan baru di dadanya. Mungkin dia bisa bertahan. Mungkin dia bisa mengubah takdir. Tapi saat dia melangkah maju, tanah di bawahnya runtuh lagi, dan kali ini, dia jatuh ke dalam kegelapan yang tak berujung.
Saat kesadarannya kembali, Raka terbangun di ladang yang sama, tapi kali ini sepi. Pasukan hilang, debu telah mereda, dan hanya ada satu sosok di depannya—Kaisar Bayang sendiri, berdiri dengan senyum tipis. "Selamat datang, Karva. Atau... Raka?" katanya, suaranya penuh misteri. Raka membeku. Bagaimana Kaisar tahu namanya? Dan mengapa dia terlihat seperti menunggunya?