Aku tidak percaya pada kebetulan.
Hidup bukan soal nasib, tapi pilihan.
Dan aku sudah memilih.
---
Aku terbangun di samping Lisa, istriku. Sudah tujuh tahun kami menikah, dan setiap pagi, aku selalu menatap wajahnya yang tertidur dengan damai.
Tujuh tahun… dan aku selalu merasa beruntung memilikinya.
Tapi kebahagiaan itu sering kali terasa seperti ilusi.
Sebagai psikolog kriminal, pekerjaanku adalah membaca kebohongan. Aku bisa menangkap perubahan sekecil apa pun dalam bahasa tubuh seseorang, nada yang tidak seharusnya ada dalam suara mereka.
Hari ini aku menangani seorang pria yang membunuh istrinya sendiri. Motifnya? Perselingkuhan.
Ia mengakuinya tanpa perlawanan, tetapi saat bercerita, suaranya pecah.
"Aku mencintainya," katanya. "Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia mengkhianatiku."
Matanya kosong, tapi air mata menggenang di sudutnya.
Sejenak, dia hanya terdiam, sebelum akhirnya bergumam, "Setiap malam aku mengingatnya… setiap detik… itu menghantuiku."
Aku menatapnya dalam-dalam, lalu bertanya, "Apakah kau ingin melupakannya?"
Dia mendongak, ragu. "Ya… tentu saja… sakit sekali mengingat bahwa aku telah menghancurkan duniaku sendiri… Tapi aku juga tidak bisa menerimanya."
Aku mengangguk pelan. Aku mengerti.
Setelah interogasi selesai, aku menyerahkan pria itu kepada polisi yang bertanggung jawab. Sebelum pergi, aku menghampiri petugas itu dan menyelipkan sebuah jarum suntik kecil ke tangannya.
"Dia pantas untuk memakainya."
Pekerjaanku hari ini selesai. Aku hanya ingin pulang dan bersantai.
---
Saat sampai di rumah, Lisa tidak ada.
Belakangan ini, dia lebih sering pergi tanpa alasan yang jelas. Ponselnya sering tak terbalas. Dan setiap kali kutanya, jawaban-jawabannya terlalu rapi—seolah dipikirkan matang-matang sebelum keluar dari bibirnya.
Orang yang jujur tidak akan terlalu berhati-hati saat menjawab.
Jadi, aku memutuskan untuk mencari tahu.
Keesokan harinya, aku memasang spyware di ponselnya, menyadap panggilannya, dan menempatkan kamera kecil di ruang tamu. Aku tahu cepat atau lambat, aku akan menemukan sesuatu.
Dan malam ini, aku menemukannya.
Sebuah pesan masuk di ponsel Lisa.
Tanpa nama.
"Sama seperti biasa? 21.00 di tempat kita?"
Lisa membalas singkat.
"Iya. Aku merindukanmu."
Tanganku mengepal. Ini nyata.
Aku melacak pesan itu. Butuh waktu tiga jam untuk menemukan alamatnya.
Sebuah apartemen kecil di pusat kota.
Aku harus melihatnya sendiri.
---
Aku memarkir mobil jauh dari gedung.
Dari dalam, aku melihat Lisa masuk. Seorang pria membukakan pintu untuknya.
Aku mengenalnya.
Edwin.
Teman lamaku.
Sesuatu di dadaku terasa hampa.
Bukan kemarahan. Bukan kesedihan.
Tapi kehampaan.
Seolah seluruh dunia ini adalah lelucon besar… dan aku satu-satunya yang tidak menyadarinya.
Aku mengambil ponsel, menyalakan kamera, dan merekam. Setiap ciuman, setiap sentuhan, setiap kebohongan.
Mereka tidak tahu bahwa mereka sudah mati.
---
Aku menunggu. Lama. Terdiam.
Hingga akhirnya, mereka keluar dari apartemen.
Tanpa berpikir, aku menyalakan mobil dan melaju kencang ke arah mereka.
Tapi… aku berhenti.
Aku ingin Lisa merasa aman. Aku ingin dia percaya bahwa aku tidak tahu apa-apa.
Aku ingin dia tersenyum di hadapanku… sementara aku merencanakan sesuatu.
Jadi, saat aku pulang, aku mengajaknya makan malam.
Sama seperti biasa.
Tempat yang sama. Makanan yang sama.
Hanya satu hal yang berbeda.
---
Makan malam itu berjalan sempurna.
Kami tertawa, berbicara, menikmati anggur merah favoritnya.
Di tengah percakapan, aku menatap matanya.
"Lalu, bagaimana harimu?" tanyaku.
Lisa tersenyum. "Sibuk, seperti biasa."
Bohong.
Aku menyesap anggurku, lalu tersenyum kecil.
"Aku penasaran… Apa yang kau rasakan ketika berbohong padaku?"
Lisa terdiam. "Apa maksudmu?"
Aku mengeluarkan ponsel dan memutar rekaman dari apartemen.
Suara desahan. Bisikan mesra. Tawa.
Warna wajah Lisa langsung memucat.
Aku menyeringai.
"Apa rasanya, Lisa? Menjadi seorang pembohong?"
Dia tidak menjawab. Bibirnya bergetar.
Lalu, dengan suara hampir tak terdengar, dia bertanya, "Bagaimana… bagaimana kau tahu?"
Aku tertawa kecil. "Aku tahu segalanya, sayang."
Lalu aku mengeluarkan sesuatu dari sakuku.
Sebuah jarum suntik kecil.
---
Aku tidak ingin penderitaan.
Aku hanya ingin cinta dan kebahagiaan.
Tanpa rasa sakit. Tanpa kebencian.
Lisa menatap jarum itu, tubuhnya gemetar.
"Tolong…" bisiknya.
Aku memeluknya erat. Air mataku jatuh di bahunya.
"Aku sangat mencintaimu, dan menganggapmu sebagai duniaku," bisikku.
Lalu aku menyuntikkan cairan itu ke lehernya.
Dia tersentak. Tubuhnya melemah. Napasnya melambat.
Aku mengusap rambutnya perlahan, membiarkan tubuhnya jatuh ke pelukanku.
Dan saat matanya perlahan terpejam… aku tersenyum.
---
Keesokan paginya, aku terbangun dengan perasaan ringan.
Di sampingku, Lisa masih tertidur.
Aku mengelus pipinya, menyentuh bibirnya dengan lembut.
Tujuh tahun.
Dan selama itu, aku selalu merasa beruntung memilikinya.
Tapi ada satu hal yang Lisa tidak tahu.
Satu rahasia yang tidak akan pernah bisa dia terima.
Karena jika dia tahu…
Aku akan kehilangan segalanya.
Sama seperti kemarin.
Dan hari sebelumnya.
Dan hari sebelumnya lagi.
Aku menoleh ke meja.
Di sana, sebuah jarum suntik kecil tergeletak.
Aku memejamkan mata.
Hidup bukan soal nasib, tapi pilihan.
Dan aku sudah memilih.