Download Chereads APP
Chereads App StoreGoogle Play
Chereads

LIMA PILAR SUCI

🇮🇩MZ_za
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
44
Views
Synopsis
Cahaya merah dan langit yang kelam terbentang di hadapannya. Mayat-mayat berserakan, bahkan bertumpuk menjadi satu. Api menyebarkan hawa panas, melahap segala sesuatu, pohon, kuda, dan baju zirah tebal. Garu terbangun dengan napas tersengal. Ia terduduk di tempat tidurnya, mencengkeram selimut erat-erat. Matanya membelalak, sisa ketakutan masih terasa. Cahaya rembulan menembus jendela yang terbuka, menerangi wajahnya yang pucat. Ia menyentuh dadanya, mencoba menenangkan diri dengan mengatur napas yang terasa sesak. Mimpi itu begitu nyata, reruntuhan, api yang menari-nari di udara, seolah semua benar-benar terjadi. Garu mengusap wajahnya, lalu bangkit dan melangkah keluar rumah. Desa tampak damai, seakan dunia ini tak terganggu oleh mimpi-mimpi mengerikan yang terus menghantuinya. Ia berjalan di sepanjang jalan desa, membiarkan udara malam yang dingin menusuk kulitnya, berharap itu dapat menenangkan pikirannya.
VIEW MORE

Chapter 1 - BAB I AWAL DARI MIMPI

Cahaya merah dan langit yang kelam terbentang di hadapannya. Mayat-mayat berserakan, bahkan bertumpuk menjadi satu. Api menyebarkan hawa panas, melahap segala sesuatu, pohon, kuda, dan baju zirah tebal.

Garu terbangun dengan napas tersengal. Ia terduduk di tempat tidurnya, mencengkeram selimut erat-erat. Matanya membelalak, sisa ketakutan masih terasa. Cahaya rembulan menembus jendela yang terbuka, menerangi wajahnya yang pucat. Ia menyentuh dadanya, mencoba menenangkan diri dengan mengatur napas yang terasa sesak. Mimpi itu begitu nyata, reruntuhan, api yang menari-nari di udara, seolah semua benar-benar terjadi.

Garu mengusap wajahnya, lalu bangkit dan melangkah keluar rumah. Desa tampak damai, seakan dunia ini tak terganggu oleh mimpi-mimpi mengerikan yang terus menghantuinya. Ia berjalan di sepanjang jalan desa, membiarkan udara malam yang dingin menusuk kulitnya, berharap itu dapat menenangkan pikirannya.

Langkah kaki terdengar dari belakang, mendekatinya perlahan. Garu menoleh dan melihat seorang lelaki tua berdiri di sana dengan senyum khasnya.

"Kau sedang apa, Garu?" suara Pak Taman terdengar tenang. Ia adalah tetua desa.

Garu menelan ludah, lalu mengangguk. "Oh, Tetua. Aku bermimpi lagi... terasa lebih nyata dari sebelumnya. Seolah... aku ada di sana. Seakan-akan aku hidup dan mati berulang kali tanpa henti."

Pak Taman mengamati pemuda itu dengan saksama. "Mimpi itu bukan sekadar bunga tidur, Garu. Itu adalah panggilan."

Garu menatapnya bingung. "Panggilan? Dari siapa?"

Pak Taman menghela napas panjang sebelum menjawab. "Mungkin sudah saatnya kau mengetahui apa yang terjadi di masa lalu."

Dengan rasa ingin tahu, Garu bertanya, "Apa itu, Tetua?"

Pak Taman menatap langit malam, lalu mulai bercerita. "Dahulu, dunia ini hidup dalam kedamaian. Namun, kedamaian itu tak bertahan lama. Kekacauan melanda, di daratan, laut, bahkan langit. Kebencian membuat setiap makhluk berubah menjadi buas. Jauh di ujung dunia, bangkitlah kekuatan kegelapan. Dengan kuasanya, ia menghancurkan apa pun yang diinginkannya, membiarkan dunia diselimuti pembantaian."

Pak Taman berhenti sejenak, menatap Garu dengan serius.

Dengan mata penuh penasaran, Garu berkata, "Teruskan ceritanya, Tetua!"

Pak Taman terkekeh. "Sabarlah, anak muda. Aku akan menceritakannya. Tenang saja."

Ia melanjutkan, "Namun, itu bukanlah akhir. Cahaya kehidupan kembali tumbuh. Para kesatria dari berbagai ras bersatu. Mereka mengesampingkan perbedaan, berbagi tujuan yang sama, mengembalikan dunia ke dalam cahaya dan kebenaran."

"Apakah mereka berhasil, Tetua?" tanya Garu.

Pak Taman mengangguk. "Ya, mereka berhasil menumbangkan kegelapan. Dunia kembali damai hingga saat ini."

Garu mengernyit. "Lalu... apa hubungannya dengan mimpiku, Tetua?"

Dengan tatapan yang dalam Pak Taman menjawab. "Mimpimu adalah pertanda, Garu. Sesuatu akan datang. Bisa jadi itu baik, atau justru sebaliknya. Jangan pernah mengabaikan mimpimu."

Garu menggigit bibirnya, ragu. "Aku tidak yakin, Tetua. Aku takut, tapi di saat yang sama, aku juga penasaran."

Pak Taman menepuk pundaknya dengan lembut, seperti seorang ayah yang menenangkan anaknya. "Jika hatimu berkata ada sesuatu yang harus kau lakukan, maka dengarkanlah, Garu. Cari dan temukan jawabannya."

Garu kembali ke rumahnya. Ia berbaring, menatap langit-langit kamar, mencoba mencerna percakapannya dengan Pak Taman. Perlahan, matanya terpejam, dan ia pun tertidur.

Ketukan di pintu membangunkannya. Dengan langkah malas, Garu berjalan menuju pintu depan dan membukanya dengan gerutu. "Ya, ya... siapa yang datang sepagi ini?"

"Hahaha, kau masih seperti biasanya, Garu."

Garu terperanjat. Ia menatap lelaki tua di hadapannya, lalu melompat dan memeluknya erat.

"Tuan Golaf! Aku tidak menyangka kau akan datang hari ini!"

"Aku ada urusan dengan Pak Taman. Saat melewati rumahmu, aku memutuskan untuk singgah." Golaf duduk di kursi yang disiapkan Garu, sementara pemuda itu menyiapkan teh hangat dan roti isi daging.

Tuan Golaf adalah orang yang sangat dihormati oleh Garu. Ia adalah penyelamatnya, orang yang merawatnya sejak kecil. Meski bukan ayah kandungnya, Garu mencintainya dengan sepenuh hati. Golaf kini berusia 80 tahun, tetapi masih bugar. Ia sering diundang ke kerajaan untuk menceritakan kisah-kisahnya sebagai penulis ternama.

"Aku dengar dari Pak Taman, kau berjalan sendirian larut malam. Ada apa sebenarnya, Garu?" tanya Tuan Golaf sambil menyeruput tehnya.

Garu menghela napas panjang. "Sudah kuduga kau akan bertanya."

"Ceritakanlah, Garu. Aku ingin mendengar kisahmu."

Dengan senang hati, Garu menceritakan semua yang dialaminya. Tuan Golaf mendengarkan dengan seksama, lalu mengambil sesuatu dari sakunya, kain hitam yang terlipat rapi. Ia menyerahkannya kepada Garu.

"Bukalah, Garu. Sudah saatnya aku memberikan ini kepadamu."

Garu perlahan membuka kain itu. Di dalamnya terdapat sebuah belati dengan gagang kayu berukiran kuno. Aromanya khas, berasal dari pohon Marsaes, pohon tertua di Hutan Mistis.

Tubuh Garu gemetar. Ia mencoba mengembalikan belati itu kepada Tuan Golaf, tetapi pria tua itu menolak dengan lembut.

"Dengar, Garu. Dunia ini luas. Jika kau ingin memahami sejarahnya, kau harus mencarinya sendiri. Belati ini adalah kunci, kunci yang akan membawamu pada sebuah peti yang menyimpan rahasia dunia."

"Tuan... apa maksudnya?"

Tuan Golaf menatapnya dengan sorot mata tajam. "Belati ini milik ayahmu, Garu. Ia menitipkannya padaku saat kau masih bayi. Ia ingin aku menyerahkannya kepadamu saat waktunya tepat. Dan aku percaya, waktunya adalah sekarang."

Garu membelalak. "Ayahku...? Ini... ini sungguhan? Aku tidak mengerti..."

"Dengarkan aku, Garu. Aku tahu kau butuh waktu untuk menerima ini. Aku akan memberimu waktu tiga hari. Persiapkan dirimu, karena aku akan kembali menjemputmu."

Tuan Golaf berdiri dan berjalan keluar, menutup pintu di belakangnya. Sementara itu, Garu tetap duduk di kursinya, menatap belati di tangannya, dengan dada yang berdebar hebat.

Garu beranjak dari tempat duduk dan pergi ke ruang tulis pribadinya. Ia mencari-cari sesuatu di dalam lemari, dan dalam sekejap saja, ruangan yang awalnya rapi berubah menjadi berantakan bagaikan gudang. Bahkan, gudang di balai desa masih tampak lebih rapi dibandingkan dengan apa yang baru saja Garu lakukan.

Setelah mengacak-acak ruangan, Garu duduk di kursinya dan mulai menulis sebuah surat dengan serius, menggunakan alat tulis yang ditinggalkan Tuan Golaf untuknya.

"Kepada teman terbaikku, Muvarsa. Aku membutuhkan bantuan dan saranmu untuk masalah yang sedang kuhadapi. Jika kau tidak keberatan, aku mengundangmu untuk datang ke rumahku besok malam sebelum acara Hari Raya Panen di desa."

Surat itu akan ia berikan kepada Tuan Timus. Tuan Timus adalah seseorang yang biasa membantu warga desa mengantarkan barang ataupun surat, dengan bayaran yang tergantung pada jumlah dan bentuk barang yang dikirim. Untuk sebuah surat, cukup membayar empat koin perak.

"Ahh... kenapa semua ini begitu mengejutkan!"

Dengan wajah kesal, Garu mencengkeram rambutnya dan mulai menggerutu, seakan-akan semua ini tidak masuk akal. Ia pun bergegas pergi keluar untuk mencari Tuan Timus.

Di jalan, Garu berpapasan dengan sepasang suami istri dari keluarga Malvin, yaitu Tuan Judis Malvin dan Nyonya Medil Malvin. Dengan hangat, mereka menyapanya.

"Hei, Garu! Kau mau ke mana? Tergesa-gesa sekali."

"Oh, Tuan Judis dan Nyonya Medil, selamat pagi. Aku sedang mencari Tuan Timus untuk meminta bantuannya mengirimkan surat. Apakah kalian melihatnya?"

"Ah, Tuan Timus itu? Aku tidak melihatnya. Mungkin dia sedang berada di rumah. Kalau tidak ada di sana, kemungkinan besar dia sedang membantu warga desa lain menyiapkan acara panen."

"Baiklah, terima kasih banyak, Tuan Judis. Semoga harimu menyenangkan."

Sambil melambaikan tangan, Garu bergegas pergi, meninggalkan Tuan Judis beserta istrinya, yang masih memandanginya dengan perasaan heran.

Di depan rumah Tuan Timus, tidak ada siapa pun di sana. Rumah itu tampak sepi, tanpa tanda-tanda kehidupan. Garu duduk di teras rumah itu dan menunggu selama sepuluh menit. Namun, setelah cukup lama menanti, ia memutuskan untuk pergi ke lapangan desa, tempat warga sedang bekerja sama menyambut acara panen desa.

Sesampainya kelapangan desa. Garu menghela napas panjang saat melihat warga desa sibuk bekerjasama menyiapkan perayaan panen. Tercium bau manis buah-buahan segar bercampur dengan aroma kayu bakar memenuhi udara. Anak-anak berlarian kesana kemari, sementara para ibu menata hiasan di meja panjang yang telah disiapkan di tengah lapangan desa.

Namun, pikirannya tidak bisa lepas dari surat yang ingin dikirimkan. "Di mana sebenarnya Tuan Timus?" Ia berjalan menyusuri desa, bertanya kepada beberapa warga, tetapi tidak ada yang melihatnya sejak pagi.

Saat hampir menyerah, tiba-tiba seorang bocah kecil berlari ke arahnya dan menanyakan sedang apa ia datang kesini apakah butuh bantuan? Garu pun mejawab bahwa ia sedang mencari Tuan Timus.

Dengan semangat anak itupun menjawad. "Oh Garu! Aku tadi melihat Tuan Timus di tepi sungai! Dia sedang berbicara dengan seseorang yang mengenakan jubah hitam!"

Garu langsung waspada. "Jubah hitam?" Itu bukan pakaian yang biasa dikenakan warga desa. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera berlari menuju sungai.

Sesampainya di sana, ia melihat Tuan Timus berdiri di tepi air, berbicara dengan seseorang yang membelakanginya. Orang itu mengenakan jubah hitam panjang dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya, tubuhnya lebih tinggi daripada warga desa pada umumnya.

"Tuan Timus!" panggil Garu.

Tuan Timus menoleh dengan sedikit terkejut, tetapi sebelum ia sempat menjawab, sosok berjubah hitam itu melangkah mundur dan dalam sekejap menghilang di balik rerimbunan pepohonan.

"Siapa itu?" tanya Garu curiga.

Tuan Timus menghela napas panjang. "Aku sendiri tidak tahu namanya. Dia datang tiba-tiba dan menanyakan sesuatu yang aneh."

"Aneh? Maksudmu apa?"

"Dia bertanya tentang seorang pemuda dari desa ini yang selalu membawa belati," jawab Tuan Timus sambil menatap Garu dengan penuh arti.

Garu merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Apakah orang itu sedang mencarinya? Tapi untuk apa?

Garu mengepalkan tangannya, matanya menatap tajam ke arah rerimbunan tempat sosok berjubah hitam tadi menghilang. Perasaan tak enak menggelayuti hatinya.

"Apa lagi yang dia katakan, Tuan Timus?" tanyanya, suaranya lebih tegas.

Tuan Timus menghela napas, raut wajahnya menunjukkan kebingungan. "Dia hanya bertanya, apakah ada pemuda di desa ini yang membawa belati dengan ukiran khusus. Aku tidak menjawabnya, tapi dia seperti sudah tahu sesuatu."

Garu meraba pinggangnya, tempat belati pemberian Tuan Golaf terselip di balik jubahnya. Benda itu memang memiliki ukiran unik.

"Apa yang dia inginkan dariku?" gumamnya pelan.

Tuan Timus menepuk bahunya. "Hati-hati, Nak. Akhir-akhir ini, memang banyak orang-orang aneh yang berkeliaran."

Garu mengangguk. Ia menyerahkan suratnya kepada Tuan Timus. "Aku butuh bantuanmu untuk mengirim ini ke Muvarsa."

Tuan Timus mengambil surat itu dan menyelipkannya ke dalam kantong kulitnya. "Tentu, akan kusampaikan."

Garu menatap sungai yang tenang, tapi pikirannya berkecamuk. Siapa pria berjubah hitam itu? Mengapa ia mencari seseorang yang membawa belati seperti miliknya?

Tanpa membuang waktu, ia memutuskan untuk kembali ke rumah dan mencari tahu lebih banyak tentang belati tersebut. Jika seseorang memburunya karena senjata itu, ia harus memahami apa yang sebenarnya ia miliki.

Di rumahnya, Garu kembali membongkar seisi rumah untuk mencari apa pun yang bisa membantunya menemukan sesuatu yang berhubungan dengan belati itu. Tetapi, sekeras apa pun Garu berusaha mencari, ia tetap tidak mendapatkan apa pun. Garu hanya mengingat perkataan Tuan Golaf tentang belati yang dapat membuka sebuah peti, di mana di dalamnya terdapat cerita tentang sejarah dunia.

Garu kemudian meletakkan belati itu di atas meja kerjanya dan memperhatikan dengan teliti setiap detail yang ada pada belati tersebut.

"Belati ini… semakin diperhatikan, semakin tampak unik. Apa yang membuatmu begitu berharga? Kenapa ayah mewariskannya kepadaku, dan mengapa Tuan Golaf hanya mengatakan bahwa belati ini adalah sebuah kunci?"

Semakin ia berpikir, semakin sulit menemukan jawaban yang jelas. Namun, tak lama kemudian, Garu tersadar akan sesuatu.

"Kunci... kunci... kunci! Oh! Kunci!"

Di Desa Ertsa, tempat tinggal Garu, setiap pembuat kunci selalu menuliskan nama mereka di kunci yang dibuat, sebagai tanda bahwa merekalah pembuatnya.

Garu pun segera mencari nama si pembuat pada belati itu. Dengan sabar dan sangat teliti, ia mengamati setiap bagian belati. Benar saja, di bawah gagangnya, ia menemukan sebuah ukiran. Dengan penuh semangat, ia membacanya,

"MORVOY... KEYFUL... ERTSA."

Hanya dalam hitungan detik setelah Garu membacakan nama itu, belati tersebut mulai bergetar hebat. Cahaya keemasan terpancar dari bilahnya, menerangi seluruh ruangan.

Kilatan cahaya itu begitu menyilaukan hingga tubuh Garu terdorong ke belakang. Pandangannya berputar, tubuhnya melemas, lalu kesadarannya perlahan menghilang. Ia pun tergeletak di lantai, tak sadarkan diri, dengan wajah yang tampak pucat.

Garu terbangun sambil memegang erat kepalanya yang masih sakit. Ia terkejut ketika melihat sekelilingnya yang sangat berantakan. Bahkan, Garu tidak ingat apa yang terjadi pada malam sebelumnya, sehingga ia bisa terbangun di tempat ini dalam keadaan kacau. Segalanya berantakan, seperti setelah terjadi bentrokan hebat antara warga desa dan pasukan kerajaan.

Masalah pangan dua tahun lalu sempat memicu konflik di tempat ini, namun akhirnya diselesaikan oleh Tuan Golaf yang tiba sebelum bentrokan semakin parah.

"Belati... belatinya! Mana belatinya?" Garu tersadar dan seketika mengingat belati itu.

Belati itu masih berada di tempat yang sama seperti sebelumnya, tanpa bergeser sedikit pun.

"Tempat ini sudah tidak bisa disebut rumah."

Beberapa saat kemudian, potongan ingatan Garu mulai bermunculan. Kenangan tentang kejadian malam itu segera merasuk ke dalam kepalanya. Kepalanya mulai terasa semakin sakit, membuat Garu menggeram kesakitan. Keringat membanjiri tubuhnya, dan wajahnya kembali pucat.

"Aaaa! Sakit... Tolong!" teriak Garu merintih kesakitan.

Tubuh Garu bergetar hebat, rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi. Penglihatannya berbayang, seolah dunia di sekelilingnya berputar. Samar-samar, ia melihat kilasan kejadian yang terjadi semalam.

Terdengar suara yang menggema di dalam kepalanya. "Sudah saatnya, Garu!"

"Siapa... siapa itu?" gumamnya dalam hati.

Napasnya memburuk, dan perlahan ia mencoba bangkit dari lantai yang penuh debu. Tangannya meraih belati yang masih tergeletak di sampingnya. Dingin. Logamnya seolah menyimpan sesuatu, sebuah firasat buruk yang membuat bulu kuduknya meremang.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari luar rumahnya. Cepat dan teratur, seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu. Garu menahan napas. Detik berikutnya, pintu rumahnya bergetar keras, seperti seseorang tengah berusaha membukanya dengan paksa.

"Garu! Kau ada di dalam?!"

Suara itu... suara yang dikenalnya.

Dengan langkah tertatih, Garu berjalan ke arah pintu dan menariknya sedikit.

"Kau terluka, Garu," ujar Tuan Golaf, yang ternyata berdiri di depannya.

Garu menjawab, "Kau datang lebih awal, Tuan?" tanyanya dengan suara serak.

"Maafkan aku, Garu. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian." Wajah Tuan Golaf terlihat sangat khawatir.

Tuan Golaf pun membantu Garu berjalan dan mendudukannya di atas kursi. Jantung Garu mulai berdetak normal, tetapi kepalanya masih terlalu sakit untuk mengingat semua yang terjadi.

"Tenangkan dirimu dulu, Garu. Minumlah ini."

"Apa ini, Tuan?" tanya Garu.

"Ini adalah ramuan penyembuh yang diberikan oleh sahabat lamaku. Cobalah, ini dapat membantumu."

Dengan cepat, Garu langsung meminum ramuan itu sampai habis.

"Ahh... Ini sangat menyegarkan. Aku merasa lebih baik, Tuan."

Senyuman hangat terlihat di wajah Tuan Golaf. Melihat tingkah Garu, hatinya mulai tenang.

"Tuan, kenapa kau datang kemari lebih awal? Bukankah kau akan datang besok?" tanya Garu bingung.

Mendengar itu, wajah Tuan Golaf berubah menegang.

Dengan menarik napas panjang, akhirnya Tuan Golaf pun mengatakan alasannya kembali lebih awal.

"Kukira kau sudah mengetahuinya, tentang pengiriman suratmu."

Mendengar itu, Garu sangat terkejut. Bagaimana Tuan Golaf bisa mengetahui hal itu?

"Aku mendapatkan kabar ini dari Tetua desa. Sudah ditemukan mayat seorang pengantar surat bernama Timus. Di kantong celananya ditemukan surat milikmu, tetapi suratnya sudah dirobek-robek dan hancur. Yang tersisa hanya namamu di dalam surat." Tampak kesedihan di wajah Tuan Golaf.

"Apa lagi ini!" Garu merasakan tubuhnya terasa panas dingin, padahal ia baru saja bertemu Timus kemarin untuk mengantarkan surat.

Dengan emosi yang campur aduk, Garu kemudian menggenggam belati itu. Seluruh emosinya terserap dan tersalurkan keluar, memunculkan cahaya terang lurus ke atas, kemudian menghilang dalam sekejap.

Hal itu membuat Garu dan Tuan Golaf terkejut sekaligus kagum.

Hasil dari cahaya itu meninggalkan bekas yang sangat jelas di atap rumah, berupa jejak hangus seperti habis terbakar.

"Garu, kita harus segera mendiskusikan ini, malam nanti saat acara panen dimulai, bersama Tetua desa."

"Aku rasa memang harus begitu, Tuan," jawab Garu. Ia masih tercengang memandangi atap rumahnya yang hangus.

Dengan kejadian yang tiada henti dan ancaman yang mulai terasa di depan matanya, Garu menguatkan diri. Ia mulai yakin untuk ikut dengan Tuan Golaf berkelana, demi mencari dan menemukan jawaban atas setiap mimpi serta rahasia belati yang menjadi kunci sejarah dunia.