Download Chereads APP
Chereads App StoreGoogle Play
Chereads

A Journey Of Daffodil

Sylverinne
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
87
Views

Table of contents

VIEW MORE

Chapter 1 - 1 Gadis di Pelabuhan

Langit biru membentang mengiringi kapal-kapal yang datang beriringan, Klason - klakson kapal meraung di ufuk, menggetarkan langit, membelah cakrawala, seakan samudra turut bergetar.

Dari jauh sana seorang gadis berumur 15 tahun terlihat berdiri disebuah pelabuhan meluaskan atensinya ke arah lautan, menyadari bahwa banyak kapal asing berdatangan.

"Ah, Kenapa orang-orang itu terus berdatangan." Dialog dirinya dalam sunyi, gadis itu terduduk, tangannya mengepal, bukan karena takut, tapi jengah. Jengah pada tanya yang tak perlu, pada dunia yang mengira diamnya berarti setuju.

Kini kapal-kapal itu sungguh berlabuh, di pelabuhan Batavia yang berdebu. Angin membawa bisik asing dari lautan, mengiringi jejak mereka yang turun perlahan.

Orang-orang berambut emas, bermata langit, melangkah di atas tanah yang asing. Debur ombak menggumamkan tanya, apakah mereka datang sebagai tamu, atau tak ingin kembali ke samudra?

Gadis itu menatap dari kejauhan, matanya menyusuri dermaga yang riuh. Di antara debur ombak dan desir angin yang membawa aroma asing, ia melihat beberapa orang menyambut para pendatang berambut emas itu. Wajah-wajah mereka penuh hormat, seakan menyongsong kehadiran raja.

Apakah mereka ini orang-orang penting? Langkah mereka tegap, pakaian mereka berkilau di bawah mentari senja gaun-gaun yang menjuntai anggun, tuxedo yang terjahit rapi. Seakan lautan sendiri yang membisikkan sambutan, menyambut mereka bukan sekadar tamu, melainkan pemilik baru tanah ini.

"Ada seorang remaja laki-laki juga di sana, Apa dia seumuran denganku?"

bisik gadis itu, matanya menangkap sosok laki laki remaja di antara barisan orang dewasa. Seorang remaja laki-laki berdiri di samping mereka, wajahnya

penuh rasa ingin tahu, namun langkahnya tegap seperti mereka yang lebih tua. Hatinya bergetar, mereka bukan sekadar singgah, mereka membawa seluruh hidupnya ke sini.

Sepertinya, mereka benar-benar akan menetap lama, menanam jejak di tanah yang selama ini bukan milik mereka.

Anak laki-laki itu menangkap tatapan asing yang tak lepas darinya. Matanya menyipit, lalu dengan cepat berbisik kepada ayahnya.

"Ayah, sepertinya ada gadis inlander yang memperhatikan kita sejak kedatangan kita," ucapnya sembari mengangkat telunjuk, menunjuk ke arah seorang gadis di kejauhan.

Gadis itu membeku. Napasnya tercekat. Jari telunjuk yang teracung itu terasa seperti pedang yang siap menebas takdirnya.

"Ya tuhan, dia menyadari sedari tadi aku memperhatikannya." Panik melanda, dadanya berdebar tak karuan. Ia buru-buru mengalihkan

pandangan, berpura-pura sibuk dengan apa pun selain tatapan yang kini terasa seperti ancaman.

Jari-jemarinya menggenggam erat kain di tangannya, berusaha meredam ketakutan yang tiba-tiba mencengkeram. Apakah ini akhir baginya? Apakah hari ini hidupnya akan berubah selamanya?

Sang ayah mengikuti arah telunjuk putranya, matanya tajam menelusuri kerumunan hingga akhirnya menangkap sosok yang dimaksud. Seorang gadis pribumi yang tampak panik, mencoba mengalihkan pandangannya dengan sia-sia.

Dengan suara berat dan penuh wibawa, ia memberi perintah kepada seseorang didekatnya.

"Bawa gadis itu kemari."

Perintah itu singkat, namun tajam bak mata pisau. Tanpa ragu, orang-orang disekelilingnya bergerak, menyibak kerumunan menuju gadis yang kini membeku di tempatnya. Jantungnya seakan mencelos ke perut, napasnya tersangkut di

tenggorokan.

Gadis itu berpikir bahwa itu adalah akhir dari hidupnya. Langkah-langkah mendekatinya, seakan menggiringnya ke takdir yang tak bisa ia hindari. Pribumi yang menerima titah itu menghela napas panjang, menatap gadis yang kini menjadi pusat perhatian. Dalam hatinya, ia sudah bisa menebak bagaimana akhir dari ini semua.

"Kamu membuat masalah, Nak." Batinnya lirih,

namun tak ada yang bisa ia lakukan selain menjalankan perintah.

Dengan langkah mantap, ia mendekati gadis itu, yang masih berdiri kaku dengan wajah pucat. Tanpa banyak kata, ia memberi isyarat agar gadis itu mengikutinya.

"Paman, apakah aku akan mati hari ini?" suara

gadis itu bergetar, matanya dipenuhi ketakutan yang sulit ia sembunyikan.

Pria itu terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara datar, "Entahlah, kau berdoa saja supaya bisa tetap hidup sampai ajal menjemput di hari

tua."

Jawaban itu bukannya menenangkan, justru membuat kepanikan gadis itu semakin membuncah. Langkahnya terasa berat, seakan setiap pijakan mendekatkannya pada jurang yang tak terlihat. Dunia terasa lebih sunyi, hanya ada suara napasnya yang tersengal dan detak jantung yang berpacu tanpa kendali.

Kini, gadis itu berdiri di hadapan para pendatang, tubuhnya tegak namun kepalanya tertunduk, seakan berusaha menyembunyikan wajahnya dari takdir yang

telah mengintainya sejak tadi. Napasnya tersengal, jari-jarinya menggenggam erat kain di sampingnya, seolah berharap bisa menghilang begitu saja.

"Angkat wajahmu."

Suara berat itu menusuk keheningan, perintah dari pria yang berdiri gagah dihadapan para bawahannya. Perlahan, gadis itu mengangkat wajahnya, menatap

sekumpulan orang asing yang kini mengelilinginya. Dan di antara mereka, sepasang mata biru menangkap perhatiannya.

Tatapan itu lekat, dingin, namun penuh rasa ingin tahu. Seorang remaja laki-laki dengan hidung mancung dan rambut secerah mentari berdiri tegap,

menatapnya tanpa ragu.

"Ah, pandangan kita bertemu," batin gadis itu, jantungnya berdegup tak menentu. Tatapan mata biru itu menyelami matanya yang coklat pekat, seakan

menakar siapa dirinya.

"Siapa namamu, gadis kecil?" suara berat pria tua itu mengembalikan kesadarannya. Gadis itu tertegun. Lelaki berusia sekitar empat puluh lima tahun itu menatapnya penuh arti. Apakah setelah ini ia akan menjadi tawanan mereka?

Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia menjawab, "Nama saya Rara Kirana Kartadipoetri,

Tuan."

Seketika, keheningan menyelimuti mereka. Pria tua itu terdiam sejenak, seakan sedang mengingat sesuatu. Nama belakang itu—Kartadipoetri—tidak asing

baginya.

"Apakah ayahmu bekerja di

sini?" tanyanya lagi, nada suaranya sedikit berubah.

Rara menggelang pelan. "Ah tidak, ayah saya seorang wedana di District Jatinegara. Tapi sedang memiliki

beberapa urusan disini, Ayah meminta saya untuk ikut menemaninya."

Mendengar jawaban itu, remaja laki-laki yang sejak tadi memperhatikannya menaikkan satu alis, ekspresinya berubah sedikit sinis.

"Rupanya kau bukan hanya seorang inlander rendahan, gadis kecil," ucapnya dengan nada meremehkan.

Seolah tamparan tak kasat mata menghantam dadanya, Rara menggigit bibir, menahan air mata yang nyaris tumpah. Hinaan itu menusuknya lebih dalam daripada yang ia kira.

Namun sebelum kata-kata lain yang lebih tajam keluar dari bibir putranya, sang ayah segera menahan tangannya, menghentikan remaja itu sebelum lidahnya melukai lebih jauh. Keheningan kembali menyelimuti mereka, dan Rara hanya bisa berdiri di tempatnya, menggenggam kehormatannya yang hampir terkoyak.

Pria itu melangkah maju dengan wibawa yang tak terbantahkan, suaranya tenang namun penuh ketegasan.

"Saya Antonie Willem van der Zee. Ini istri saya, Cathrina Van Der Zee, dan ini putra semata wayang saya, Peter Elias van der Zee. Orang-orang di belakang saya adalah para pekerja saya."

Kata-kata itu mengalir begitu ramah, seolah ingin menegaskan bahwa kehadiran mereka bukanlah ancaman. Cathrina hanya tersenyum tipis, nyaris tak bersuara, sementara Peter mendengus kecil, tak berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya.

Di dalam hatinya, Rara mendesah. "Ah, rupanya nama laki-laki menyebalkan itu Peter. Pendatang angkuh," batinnya, diam-diam mengukuhkan ketidaksukaannya terhadap remaja itu.

Namun, senyum Antonie kembali mencairkan suasana. Matanya menyipit sedikit saat ia berbicara, memperlihatkan garis-garis usia di wajahnya yang mulai menua.

"Maafkan perkataan putra saya ini, Nak. Kami datang untuk urusan pekerjaan. Lalu, di mana ayahmu sekarang?"

Rara sedikit terdiam sebelum menjawab. "Aku tidak bisa menemukannya, tapi ayah bilang untuk menunggunya di sekitar sini sampai ia kembali," ucapnya dengan nada ramah, membalas senyum yang Antonie berikan.

Pria itu mengangguk pelan, seolah memahami. "Baiklah, berhati-hatilah, Nak. Kami pergi dulu."

Senyumnya mengiringi kata-kata itu, sebelum akhirnya ia berbalik, melangkah pergi bersama istri, putra, dan orang-orangnya. Rara hanya bisa menatap

punggung mereka yang semakin menjauh, meninggalkannya sendiri dalam deburan angin yang membawa bisikan takdir yang belum terungkap.

***

Aku berdiri di sini, diam, hanya bisa menatap mereka pergi. Kereta kuda itu melaju perlahan, meninggalkan bayangan panjang di tanah yang mulai gelap. Aku tahu seharusnya aku tak peduli, tapi ada sesuatu yang mengganjal di dadaku.

Tuan Anthonie… dia terlihat begitu ramah tadi. Senyumnya hangat, suaranya lembut, seolah tak ada sekat di antara kami. Tapi aku tahu lebih baik dari itu. Aku tahu keramahan mereka seperti ombak di tepi pantai datang, menyentuh, lalu menghilang tanpa bekas.

Lalu ada anaknya… Ah, anak itu. Tatapannya menusuk, benar benar meremehkan keberadaanku. Seolah aku ini hanya angin lalu, tak berarti. Aku sudah sering melihat tatapan seperti itu. Tatapan yang mengingatkan aku bahwa aku hanya seorang pribumi di mata mereka.

Aku mendesah, menatap tanah yang kupijak.

"Ironis sekali." Gumamku. Orang-orang seperti

mereka, dengan wajah rupawan dan tutur kata manis, justru yang menjadi sebab tanah ini terjajah. Mereka datang, membawa janji, lalu merenggut segalanya.

Ah, menyebalkan. yang datang atas nama VOC seperti mereka tidak bisa dipercaya, aku

membencinya.