Chereads / Ascension: The Rift / Chapter 4 - Bab 4: Arena Tanpa Batas

Chapter 4 - Bab 4: Arena Tanpa Batas

Pintu besar itu terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah lorong panjang yang diterangi oleh cahaya oranye berkilau. Udara di dalamnya terasa berbeda—berat, seperti menyimpan sesuatu yang sangat kuat. Arkan melangkah masuk dengan napas tertahan, sementara di belakangnya Darius dan Liora berdiri mengawasi.

"Jangan berpikir terlalu keras," kata Darius. "Ikuti nalurimu. Ujian ini dirancang untuk membangkitkan potensi sejatimu."

Arkan hanya mengangguk kecil. Pikirannya terlalu sibuk untuk memproses semua informasi itu. Ia melangkah semakin dalam hingga akhirnya tiba di ujung lorong. Di sana, sebuah ruangan besar terbuka di hadapannya.

Ruangan itu adalah arena luas tanpa batas yang tampak seperti berada di dimensi lain. Langitnya berwarna abu-abu gelap, dengan kilatan petir biru yang sesekali menyambar. Lantai arenanya adalah permukaan batu hitam yang berkilauan, penuh dengan simbol-simbol bercahaya yang terus berubah.

"Arkan Satria," suara lembut namun tegas menggema di udara, membuat Arkan tertegun. Ia menoleh ke sekeliling, mencoba mencari sumber suara, tetapi tidak ada siapa pun di sana.

"Aku adalah Sistem Ascension," lanjut suara itu. "Hari ini, kau akan menjalani ujian untuk membuktikan layak tidaknya kau menjadi seorang Ascendant."

"Apa... apa yang harus aku lakukan?" tanya Arkan dengan suara gemetar.

"Sederhana," jawab suara itu. "Bertahan hidup."

Belum sempat Arkan bertanya lebih jauh, lantai di depannya mulai retak. Dari celah itu, sosok-sosok mulai muncul—makhluk-makhluk yang bentuknya seperti bayangan gelap dengan mata merah menyala. Mereka bergerak dengan lincah, mengeluarkan suara mengerikan seperti tawa yang terdistorsi.

Arkan mundur beberapa langkah, tubuhnya menegang. "Aku harus melawan mereka?"

"Benar," kata sistem. "Gunakan kekuatan yang telah diberikan padamu. Pelajari batas kemampuanmu, dan temukan caramu bertahan."

Makhluk pertama melesat ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Naluri Arkan langsung mengambil alih. Ia mengangkat tangan kanannya, dan seperti sebelumnya, cahaya biru keluar dari telapak tangannya, membentuk semacam pelindung yang memblokir serangan makhluk itu.

"Aku melakukannya..." gumamnya, terkejut pada dirinya sendiri.

Namun, tidak ada waktu untuk bersantai. Dua makhluk lain menyerangnya dari sisi yang berbeda. Arkan memutar tubuhnya, mengarahkan telapak tangannya ke makhluk-makhluk itu. Sinar biru melesat, menghantam mereka hingga hancur menjadi serpihan bayangan.

"Fokus," suara sistem mengingatkannya. "Musuh akan semakin kuat seiring waktu. Jangan lengah."

Dan benar saja, makhluk-makhluk yang muncul berikutnya lebih besar dan lebih cepat. Mereka memiliki bentuk yang lebih jelas, seperti binatang buas dengan cakar tajam dan tubuh besar. Serangan mereka semakin sulit dihindari.

Arkan merasakan napasnya mulai berat. Tubuhnya terasa panas, tetapi entah kenapa, ia merasa ada kekuatan lain yang bangkit di dalam dirinya setiap kali ia berada di ujung kelelahan.

Saat salah satu makhluk besar itu melompat ke arahnya, Arkan secara refleks mengangkat kedua tangannya. Kali ini, bukan hanya sinar biru yang keluar, tetapi semacam ledakan energi yang menghancurkan makhluk itu dalam sekali serangan.

"Apa itu tadi?" tanya Arkan, terengah-engah.

"Kekuatanmu berkembang," jawab sistem. "Tapi ujian ini belum selesai."

Lantai arena mulai berubah lagi. Kali ini, medan yang muncul lebih menantang—seperti padang pasir dengan badai angin kencang. Dari balik badai itu, muncul makhluk baru, lebih besar dan lebih menakutkan dari sebelumnya. Tubuhnya berlapis armor hitam berkilauan, dan kedua matanya bersinar merah seperti api.

"Elite Abyss Hound," suara sistem memperkenalkan makhluk itu. "Ini adalah ujian terakhirmu."

Arkan merasa jantungnya berdegup kencang. Makhluk itu berjalan perlahan ke arahnya, aura gelapnya begitu kuat hingga membuat tubuhnya terasa berat.

"Bagaimana aku melawannya?" tanya Arkan dengan panik.

"Percaya pada kekuatanmu," jawab sistem.

Makhluk itu melompat, mengayunkan cakarnya dengan kekuatan besar. Arkan melompat ke samping, menghindar dengan susah payah. Ia menembakkan sinar biru dari tangannya, tetapi serangan itu hanya memantul dari armor makhluk itu.

"Tidak mungkin..." gumamnya.

Makhluk itu menyerang lagi, dan kali ini Arkan tidak sempat menghindar. Cakar tajamnya hampir menyentuh tubuhnya ketika tiba-tiba sebuah perisai energi muncul, melindunginya.

Perisai itu muncul dari tubuh Arkan sendiri. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Energi dalam dirinya semakin kuat, seperti lautan yang tak terbatas.

"Aku bisa melakukan ini," katanya pada dirinya sendiri.

Arkan mengarahkan kedua tangannya ke makhluk itu. Kali ini, ia tidak hanya mengandalkan insting. Ia memusatkan pikirannya, membayangkan seluruh energi di dalam tubuhnya bersatu.

Cahaya biru mulai membentuk pola-pola di udara, membentuk semacam tombak energi yang besar. Dengan sekuat tenaga, Arkan melemparkan tombak itu ke arah makhluk tersebut.

Tombak itu menembus armor makhluk itu dengan mudah, dan dalam sekejap, makhluk itu meledak menjadi serpihan cahaya.

Arena kembali sunyi.

"Selamat," suara sistem menggema. "Kau telah menyelesaikan ujian ini. Mulai sekarang, kau adalah seorang Ascendant."

Arkan terjatuh ke lututnya, terengah-engah tetapi dengan perasaan lega. Ia tidak percaya ia berhasil melalui semua itu.

Pintu di ujung arena terbuka, memperlihatkan Darius dan Liora yang sedang menunggu.

"Kau melakukannya," kata Darius dengan senyuman bangga. "Selamat datang di dunia baru, Arkan."

Liora mengangguk pelan. "Kekuatanmu... menjanjikan. Tapi ingat, ini baru permulaan."

Arkan berdiri dengan susah payah, menatap mereka berdua. Ia tahu bahwa perjalanan ini baru saja dimulai, dan tantangan yang lebih besar sudah menunggunya di depan.