Chereads / Ascension: The Rift / Chapter 2 - Bab 2: Pintu Menuju Dunia Baru

Chapter 2 - Bab 2: Pintu Menuju Dunia Baru

Arkan berdiri membeku di tempatnya, matanya terpaku pada sosok pria tinggi yang memperkenalkan diri sebagai Darius. Udara di sekitarnya terasa berat, bukan hanya karena kehadiran Abyss Beast, tetapi juga akibat kata-kata yang baru saja ia dengar.

"Sistem Ascension?" gumam Arkan, suaranya nyaris tak terdengar.

Darius mengangguk pelan. "Benar. Dan kau, Arkan Satria, telah dipilih oleh sistem ini untuk menjadi Ascendant. Kau sekarang memiliki tanggung jawab untuk melindungi dunia ini dari kehancuran."

Sebelum Arkan sempat mencerna sepenuhnya, Abyss Beast mengeluarkan raungan yang mengguncang bumi. Makhluk itu mulai bergerak maju, langkah-langkahnya menghancurkan aspal dan menggetarkan bangunan di sekitarnya.

"Bertahanlah," ujar Darius singkat. Dalam sekejap, ia melangkah maju dengan kecepatan yang hampir tak terlihat, menebaskan pedangnya yang bersinar tajam ke arah Abyss Beast. Tebasan itu menciptakan gelombang energi yang menghantam makhluk raksasa itu, membuatnya mundur beberapa langkah sambil mengeluarkan raungan kesakitan.

Arkan menyaksikan semuanya dengan rahang ternganga. Serangan Darius begitu cepat dan mematikan, seperti adegan dalam film yang tidak pernah ia bayangkan terjadi di dunia nyata.

"Dengar, Arkan," Darius berkata tanpa menoleh. "Aku akan mengurus makhluk ini. Kau harus pergi ke lokasi aman untuk sementara waktu."

Namun, Arkan tidak bergerak. Ada sesuatu di dalam dirinya yang mendorongnya untuk tetap tinggal. Tangan kanannya masih bersinar biru, dan meskipun ia tidak tahu bagaimana cara mengendalikannya, ia merasa bahwa kekuatan itu bisa berguna.

"Aku bisa membantu!" serunya, suaranya bercampur dengan keraguan dan keberanian.

Darius menoleh sekilas, alisnya sedikit terangkat. "Kau belum siap. Kekuatanmu baru saja terbangun, dan tanpa pelatihan, kau hanya akan menjadi beban."

"Tapi—"

"Arkan!" Sebuah suara memotong ucapannya. Fadil berlari dari arah kerumunan, wajahnya pucat dan penuh kepanikan. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau ingin mati?!"

Fadil menarik tangan Arkan, mencoba membawanya menjauh, tetapi Arkan tidak bergerak. Tatapannya tetap terfokus pada Abyss Beast yang kini bangkit kembali, tubuhnya memancarkan aura yang lebih menakutkan daripada sebelumnya.

"Aku... aku tidak bisa lari," ucap Arkan pelan. "Entah kenapa, aku merasa harus tetap di sini."

Darius mendesah berat, seolah-olah mempertimbangkan sesuatu. "Baiklah," katanya akhirnya. "Jika kau bersikeras, maka dengarkan perintahku. Fokuskan energimu ke tangan kananmu. Bayangkan sinar itu kembali keluar, tapi kali ini arahkan dengan lebih tepat."

Arkan mengangguk meskipun tidak sepenuhnya yakin. Ia menutup matanya, mencoba merasakan energi yang mengalir di dalam tubuhnya. Ada sensasi hangat yang mengalir dari dadanya ke telapak tangannya, semakin lama semakin kuat.

"Jangan ragu," kata Darius tegas. "Percaya pada instingmu."

Tepat ketika Abyss Beast menyerang, Arkan membuka matanya. Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat tangannya dan melepaskan sinar biru terang ke arah makhluk itu. Sinar itu menghantam bagian tubuh Abyss Beast, menciptakan ledakan besar yang membuat makhluk itu terhuyung.

"Bagus," ujar Darius sambil tersenyum tipis. "Kau punya potensi. Tapi ini baru permulaan."

Sebelum Arkan sempat membalas, Darius kembali melompat ke arah Abyss Beast untuk memberikan serangan terakhir. Dalam hitungan detik, makhluk raksasa itu runtuh ke tanah, tubuhnya menghilang menjadi serpihan cahaya yang terserap kembali ke dalam Rift.

Keheningan menyelimuti suasana. Kerumunan yang tersisa mulai bersorak, tetapi Arkan tetap berdiri di tempat, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

"Sudah selesai," kata Darius sambil menyarungkan pedangnya. Ia berjalan mendekati Arkan, menatapnya dengan serius. "Sekarang, ikutlah denganku. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan."

"Ke mana?" tanya Arkan, meskipun ia tahu jawabannya akan mengubah segalanya.

"Ke markas Ascendant," jawab Darius. "Kau perlu dilatih, karena apa yang kau lihat malam ini hanyalah permulaan dari ancaman yang jauh lebih besar."

Arkan menatap tangan kanannya yang kini tidak lagi bersinar. Meski takut dan bingung, ia tahu tidak ada jalan kembali. Kehidupan biasa yang selama ini ia kenal telah berakhir.

Tanpa mengatakan sepatah kata, ia mengikuti langkah Darius, meninggalkan Fadil yang masih terpaku di tempatnya.

Langkah Arkan mungkin berat, tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa hidupnya memiliki tujuan. Dan meskipun jalannya masih panjang, ia siap menghadapi apa pun yang akan datang.