Chapter 3 - Bab 3

"Ini kamar Anda, nona Alia."

Setelah pertemuan dengan kedua calon mertuanya, Mora memerintahkan pelayan untuk mengantarkan Alia menuju ke kamarnya yang akan digunakan.

Apa yang diduga Alia benar semuanya. Kamar itu begitu luas, jendela berteralis namun bersih dan bisa masuk udara serta cahaya, dan ranjang luas nan empuk ada juga disana.

'Mana lemarinya? Terus aku mau-... Loh iya! Tasku!'

Alia baru teringat dengan tasnya yang ia tinggal di ruangan tadi saat berbicara dengan Baskara dan Mora.

"M-Maaf, mbak. Itu... Tas saya tadi... Ketinggalan..." cicit Alia.

"Oh iya. Nyonya besar bilang, Nona tidak perlu bawa tas itu ke dalam kamar. Karena Nyonya tahu kalau itu isinya hanya beberapa baju lusuh, begitu katanya. Lalu untuk baju-baju sudah disediakan di dalam lemari ini." ucap pelayan itu sembari menunjuk ke cermin besar.

"Heh? Lah kok? T-Tapi di dalam tas itu ada..."

SREEEGGG

Pelayan itu tidak menggubris perkataan Alia, ia malah menggeser cermin besar itu dan ternyata... Memang benar di dalamnya ada banyak koleksi pakaian yang harganya begitu fantastis.

"A-Apa lagi ini Ya Allah..."

"Oh lupa pula. Dan yang ini..."

SREEEGGG

Cermin besar sebelahnya juga digeser dan apa di dalamnya? Koleksi sepatu serta tas mewah ada di dalam sana. Melihat barang-barang mewah itu, seketika membuat dada Alia sesak.

"Aku... Aku diculik mafia atau apa? Kenapa barang-barang mewah seperti ini... Ada di hadapanku?" lirih Alia, ia juga menyentuh dadanya.

"Nona. Kami hanya mengambil dua lembar baju lusuh yang ada di dalam tas Nona tadi. Tapi kalau foto dan kotak musik, ini saya pegang. Silahkan."

Pelayan itu menyerahkan kedua benda itu kepada Alia, dan wanita muda itu langsung mengambilnya dan memeluknya erat. Kedua benda itu adalah... Peninggalan terakhir dari kedua orang tuanya selain pakaian yang ia kenakan sekarang.

"Terima kasih... Terima kasih karena tidak membuangnya. Terima kasih banyak..." berkali-kali, Alia membungkukkan badannya mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu.

"J-Jangan begini Nona! Aduh, Anda jangan membungkuk seperti ini. Ayo berdiri."

Dengan panik, pelayan wanita itu meminta Alia untuk berdiri dan tidak membungkuk kepadanya. Menurutnya, itu sama dengan akan cari mati kepada Nyonya besar dan juga sang Tuan muda yang entah kemana.

"Ah, maafkan saya. Saya malah... Mendrama seperti ini hehehe. Karena, hanya foto keluarga serta kotak musik ini peninggalan dari mendiang orang tua saya. Baju yang saya kenakan ini pula... Baju terakhir yang paling saya lindungi, karena ini buatan mama saya."

"Nona..." gantian pula, pelayan itu yang menangis. Ia kali ini meminta maaf.

"Huweeee Nona... Saya yang minta maaf... Hiks... Maafkan saya..."

"Eh? Lah kok? Berdiri, jangan begini... Saya mohon-..."

"Tidaakkk... Justru... Hiks... Justru saya sudah membakar... Hiks... Baju Nona yang di tas itu... Tasnya pun hiks... Saya bakar juga... Maafkan saya..."

"Aduh, sudahlah jangan dipikirkan. Saya tidak marah kok. Cup cup cup, sudah ya... Tidak apa-apa, lagipula itu bukan baju dari ibu saya kok..."

"Eh?" akhirnya, pelayan wanita itu mulai tenang. Ia menatap Alia lurus, bingung dengan maksud akan perkataannya.

"Sebenarnya... Itu hanya baju untuk bekerja saja. Sengaja sih saya bawa... Karena yaahh saya hanya punya baju itu saja untuk dipakai." jawab Alia dengan tenang.

"Baju itu? Dua setel baju itu... cuma dua setel itu saja yang Nona punya? Dua itu?!" ucap pelayan itu kaget.

"Iya."

"Haaaaa? Bagaimana bisa.... hidup macam apa yang Nona jalani selama ini?! Allahuakbar, dua setel itu mah buat sehari! Sebentar, tadi Nona bilang bekerja. Kan Nona..."

"Aisshh, itu... Cuma bekerja ringan saja hahaha. Tidak besar benar kok. Jangan khawatir." Alia meminta pelayan itu untuk tidak terlalu memikirkan apalagi membicarakannya. karena ini adalah ranah pribadinya dan ia... Masih tidak ingin membicarakannya kepada orang lain, termasuk calon suaminya.

"B-Baiklah kalau begitu. Ah iya, karena saya sudah menunjukkan kamar sementara Nona, silahkan beristirahat dengan nyaman ya. Saya akan memanggil Nona nanti sore untuk makan malam bersama Tuan dan Nyonya. Semua baju, sepatu, tas, dan make up di meja rias itu bisa Nona pakai. Kalau begitu, saya tinggal dulu ya." pelayan itu mempersilahkan Alia untuk istirahat dan menikmati waktunya, dan sebelum ia keluar dari kamar itu Alia keburu memanggilnya lagi.

"A-Anu... Sebentar dulu."

"Ya, Nona?"

"Namamu siapa?"

"Nama saya Siti Aisyah, panggil saya Aisyah, Nona Alia." pelayan itu memperkenalkan dirinya sebagai Aisyah.

"Aisyah ya..."

"Kalau begitu, saya tinggal ya Nona. Selamat istirahat."

Aisyah keluar dari kamar itu, meninggalkan Alia untuk beristirahat.

"Aisyah ya... Entah kenapa aku melihatnya kayak gemas saja hehehe. Seperti anak kecil, apalagi waktu menangis wajahnya memerah..." gumam Alia.

"Sekarang... Aku harus ngapain? Hmmm biasanya jam sebegini aku bekerja atau yaaahh mendengar Omelan rohani kepala pelayan. Sekarang? Aihhh malah kebawa kesini. Pengen bersih-bersih, pasti auto dipelototin Nyonya-... Ah maksudku, Bunda. Ngapain ya enaknya sekarang?"

BRUKKK

"Ahhhh tau sudah. Mending rebahan saja di ranjang ini. Btw, empuk banget Ya Allah... Haaahh beda banget sama kasur kecil di kamar lamaku. Sudah tipis, keras pula. Huhuhu, sepertinya sakit pinggangku juga mulai membaik..."

Entah saking lelahnya atau memang sudah mengantuk, Alia langsung tidur begitu saja tepat di atas ranjang itu. Di sampingnya, ada dua benda berharganya yang sangat ia jaga sampai sekarang. Foto dirinya beserta kedua orang tuanya, juga sebuah kotak musik.

Bagi Alia yang baru berapa jam menapakkan kakinya di mansion besar ini, ini sudah lebih dari cukup. padahal, ia sempat berpikir jika nanti menikah dengan calon suaminya, pasti hidupnya biasa saja tapi berkecukupan. Namun bukannya tidak bersyukur, ia akan sangat bersyukur jika hidup di kehidupan yang serba berkecukupan.

Tapi tidak menyangka kalau ia akan hidup di atasnya alias semuanya lebih atau sangat dari cukup. Makanya, sedari tadi ia mengelus dada karena kaget dengan semua kemewahan yang terpampang di depan mata.

***

"Begitu rupanya..."

Di ruangan lain, Ilham berbicara dengan pria muda yang duduk di kursi kerja sembari membaca selembar tulisan dalam kertas.

Ilham melaporkan sesuatu kepada pria itu, entah melaporkan apa kepadanya. Sampai wajah pria itu mengeras.

"Perlukah saya selidiki hal ini Tuan Bagaskara? Karena saya tadi sedikit mencurigai beberapa pelayan wanita yang nampak sinis kepada Nona Alia." tawar Ilham.

"Hm, sebelum itu-..."

TOK

TOK

TOK

Belum saja pria bernama Bagaskara itu berbicara, pembicaraannya dipotong oleh suara ketukan pintu. Bagaskara mempersilahkan siapa yang datang dan ternyata...

"Tuan Bagaskara." dia adalah Aisyah.

"Bagaimana dengannya? Apakah dia nyaman di kamar barunya? Atau dia merasa kurang nyaman di depan orang tuaku?" tanya Bagaskara langsung to the point.

Aisyah tidak langsung menjawab pertanyaan Bagaskara. Ia menggigit bibir bawahnya tapi kedua matanya berkaca-kaca.

"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Bagaskara sekali lagi, tapi kali ini penuh penekanan.

"Aisyah. Tolong jawab, ada apa sebenarnya?" bahkan Ilham juga meminta Aisyah untuk menjawab, dan ia meminta kepada wanita berhijab itu dengan lembut.

DUG

"Aisyah!"

"TOLONG BUAT NONA AISYAH BAHAGIA SELAMANYA TUAN! NONA ALIA SUDAH SANGAT MENDERITA. BAHKAN... HIKS... NONA KESINI HANYA MEMBAWA DUA SETEL BAJU DAN ITUPUN SUDAH LUSUH SOBEK DIMANA-MANA! SAYA MOHON TUAN... SAYA MOHON BUAT NONA BAHAGIA HUWEEEEE..."

Sungguh di luar prediksi. Tiba-tiba, Aisyah membungkuk meminta kepada Bagaskara untuk membuat hidup Alia bahagia selamanya.

"Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi pada Alia tadi? Ceritakan kepadaku." titah Bagaskara. Ia jadi ikut khawatir dengan keadaan Alia.

Aisyah langsung menceritakan dari awal saat membimbing Alia menuju kamarnya. Dan di pertengahan cerita itu pula, Bagaskara langsung mengerti kenapa Aisyah sampai menangis memintanya membahagiakan Alia.

"Tuan. Mungkin ini ada hubungannya." ucap Ilham singkat.

"Hm, benar. Ilham, selidiki apa yang terjadi di rumah itu. Cari petunjuk sekecil apapun itu. Jika memang benar Alia disiksa oleh keluarga itu, berarti memang benar mereka menyiksa Alia selama ini." Bagaskara memerintahkan sekretarisnya untuk menyelidiki hal ini lebih lanjut, dan Ilham menyanggupinya.

"Baik Tuan."

"Dan kamu Aisyah. Kuserahkan Alia dalam penjagaan mu. Awasi Alia sementara di mansion ini, sampai aku memboyongnya ke rumahku sendiri nanti. Jaga dia."

"Siap Tuan."

Sekretaris dan pelayan itu berpamitan dan keluar ruangan Bagaskara. Setelah mereka berdua pergi, barulah Bagaskara bangkit dari kursinya dan menatap pigura foto dirinya beserta seorang gadis kecil yang terletak di rak buku. Gadis itu berada di atas pundak sang pria sembari tersenyum lebar, dengan pria itu yang juga tersenyum kecil namun raut wajahnya memancarkan kebahagiaan.

"Gadis kecil... Alia... Gadis kecilku... Selama ini, selama kita berpisah ini... kamu menderita kan? Iya kan?"

Tangannya mengambil pigura itu, mengelusnya dengan sayang lalu menciumnya dengan sensual, tepat pada foto gadis itu.

"Jangan khawatir, gadis kecil sayangku. Setelah ini... Kita akan menikah. Dan kita akan hidup bersama, selamanya. Seperti yang kamu mau, sewaktu kamu menangis meraung..."

"Aahhh gara-gara ayah dan bunda yang mengusirku tadi... Aku ngga sempat melihatmu seperti apa, gadis kecil. Apa kamu tumbuh menjadi dara muda yang cantik? Iya kan? Aahh sungguh tak terbayangkan bila aku melihat wajahmu sebentar lagi..."

Tawa menggema di ruangan itu. Bagaskara tertawa, membayangkan gadis kecil yang ada dalam foto itu tumbuh menjadi dara muda yang cantik dan manis. Seperti yang dibayangkannya.

"Alia... Aliaku sayang... Sepertinya aku sudah jatuh cinta kepadamu ya, gadis kecil."

~Bersambung~