Cahayaku telah kembali
Terbingkai dalam senyum seri Menari-nari bersama hamparan embun pagi
HAI SOBAT... perkenankan aku memperkenalkan diri, namaku Sadidah. Umurku 12 tahun. Aku duduk di Bangku kelas 6 SD favorit yang terletak di Kota Transit bernama Tarakan. Tarakan adalah sebuah pulau kecil yang berada di ujung Kalimantan Timur. Aku anak pertama dari 2 bersaudara. Adikku bernama Sakinah. Gini adik kecilku yang telah berumur 6 tahun sedang mengenyam ilmu di kelas 1 SD yang sama denganku. Meskipun kami saudara sekandung, namun warna kulit kami agak berbeda. Warna kulitku yang putih bersinar laksana pancaran sinar mentari di pagi hari, sedang adikku berkulit coklat laksana matahari yang hampir tenggelam di setiap senja.
Ayah bekerja di salah satu perusahaan terkemuka yang terletak di Tarakan Utara sebagai manajer. Sedangkan ibuku hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, yang kesehariannya berkecimpung dengan kesibukan rumah yang tak pernah ada ujungnya. Ohya, perkenalkan, ayahku bernama Indra dan ibuku bernama Uswatun.
Keluarga kami adalah keluarga yang hidup sederhana dan berkecukupan. Meskipun di Kota Tarakan ini harga barang-barang serba mahal laksana kota besar, namun penghasilan ayah telah mampu memenuhi kebutuhan kami sekeluarga. Kebutuhan sekolahku, sekolah adikku, kebutuhan keluarga dan aneka macam kebutuhan lain tercukupi dengan seimbang hingga dapat dikatakan telah sempurna, walaupun kesempurnaan itu hanya milik Allah Azza wajalla semata.
Inilah keluargaku. Sebuah keluarga yang terbingkai dalam benang kasih sayang dan rajutan cinta. Keluarga yang telah berubah dari masa suram menuju cahaya aneka warna, tawa senyum dan luapan keriangan. Sungguh, lima tahun ini, aku telah menemukan kebahagiaan yang telah lama kudambakan. Kebahagiaan yang bermula berkat kesabaran ibu dalam mempertahankan rumah tangga meski dulu ayahku tak seperti ayahku yang sekarang ini.
Dulu, sebelum delapan tahun lalu, sebelum lentera cahaya aneka warna keceriaan muncul di rumahku ini, ayah adalah seorang pria hidung belang yang tak pernah cukup dengan balutan cinta yang diberikan ibu. Ayah seorang lelaki yang hanya mampir sekejap di depan mata, lantas pergi tanpa meninggalkan senyum dan sapa. Ayah adalah bapak yang gila kenikmatan hina yang diraibnya dalam sekejab mata, dan kembali pulang dengan limpahan amarah.
Ah, aku malu dengan kisah masa lalu ayahku. Kala itu, aku masih kecil dan masih belum duduk di bangku SD. Meski kebutuhan keluarga tercukupi, namun ibu sangat tertekan dengan penderitaan batin yang diharapkan terhapus oleh rintikkan perubahan. Dengan bermodalkan kesetiaan cinta, ibu demikian sabar menghadapi badai yang gini telah berganti sepoinya angin sejuk, yang kemanapun angin itu pergi selalu menambah suasana bertambah indah.
Pintu hidayah telah terbuka di hati ayah. Perubahan sikap yang senantiasa ibu impikan dalam segenap munajat do'a akhirnya terlampir di pelupuk mata. Ayahku telah berubah. Kasih sayang yang telah terbuang sekian tahun, telah ditebus ayah dengan limpahan rahmat kasih sayang yang tak mungkin kuungkapkan dengan ribuan mutiara kata. kini, ayahku adalah sosok terindah, yang selalu mengirimkan cinta dan kasih sayangnya, dengan anugrah perhatian yang tiada terkira.
Setiap pekan, ayah selalu meluangkan waktunya untuk berkumpul bersama keluarga, menikmati pagi yang berbaur dengan sinar mentari. Terkadang ayah mengajar kami ke Pantai Amal. Terkadang kami bersantai ria di Taman Oval, menggelar tikar, menyantap juz alpokat sampai siang mendera. Bahkan, enam bulan sekali, ayah mengajak kami menikmati panorama alam di Pulau Derawan. Karena pada waktu itu, sekolah sedang libur panjang setelah menempuh ulangan semester.
Pulau Derawan memang cantik. Ketika kami berlibur di Pulau Derawan, kami selaksa berada di antara kenikmatan dunia yang berbaur bersama panorama pantai yang sejuk, sapuan angin yang sepoi, hamparan pasir yang selembut sutra, berhias pohon kepala yang tegar memapas awan. Aku, adikku, ayah dan ibu menghabiskan masa libur penuh dengan suka-cita. Seakan tak ada lagi goresan duka yang dulu pernah menyayat jiwa.
Namun, sebagai kepala rumah tangga, meskipun dalam lingkaran masa liburan, ayah tak pernah melupakan kewajibannya dalam membimbingku mengaji, mengajariku pelajaran sekolah dan aneka macam tumpukan pelajaran yang berdampingan dengan masa-masa liburan. Tak ayal, jika predikat ranking satu masih setia menemani kesungguhan dan kegigihanku dalam belajar. Aku kagum dengan ayah.
Satu malam menjelang pukul sembilan, ayah pernah menceritakan satu kisah kepadaku. Sebuah kisah yang serat dengan hikmah dan pelajaran yang begitu mendalam. Kisah itu, masih melekat tajam di memoriku ini. Karena sang pemeran dalam kisah itu, tiada lain adalah ayahku sendiri. Ayah menceritakan, ketika dulu tak dapat membaca Al- Qur'an, meskipun ayah telah menikah dan memiliki anak cantik laksana bidadari yang turun dari langit. Bidadari itulah aku. Dengan kesabaran, kesungguhan dan keistiqamahan akhirnya, jerih payah yang telah direnggut dengan kesabarannya itu, dalam waktu 2 minggu, ayah telah mampu membaca Al-Qur'an. Sebenarnya, kisahnya sangat panjang, namun hanya ini yang mampu kugoreskan, bahwa motivasi kuat yang diiringi dengan kesungguhan adalah modal tuk mencapai kesuksesan.
Setiap pagi ayah yang mengantarkanku dan adikku ke sekolah. Kami berangkat dari rumah tepat pukul tujuh, ketika sengatan embun yang melukis wajah daun tersenyum kepadaku. Setelah ayah mengecup keningnya ibu dan lantunan salam cinta, lantas ibu membalasnya dengan deburan salam dan lambaian tangan perpisahan. Meskipun siang nanti, kami kan berjumpa kembali. Menjelang pukul dua belas, sebelum kumandang adzan dhuhur meneguhkan iman di hati, ayah telah menantikanku di depan pintu gerbang sekolah.
Betapa, gembiranya ayah dapat menyapaku dan adikku lagi. Kurasakan, seakan kami telah berpisah ribuan tahun, hingga ayah tak sabar hati, ingin membelai rambutku dan mengecup keningku. Aku bagai kuncup mawar yang selalu mekar karena ditimang-timang oleh belaian para kumbang Dalam perjalanan pulang sekolah, tak lupa ayah mampir di masjid jika adzan dhuhur telah berkumandang duluan. Tak jarang pula, terkadang ayah membawakan mukena shalatku, agar aku dapat ikut serta shalat di masjid.
Ketika aku menuai salah, ayah mencoba memberikan pengertian, laksana raja istana yang merangkul para mentrinya. Belaian lembut tutur katanya yang merasuk di sukma, laksana bukan aku yang salah. Ayah menuntunku tuk menemukan kebenaran dalam setiap langkah dan sikap agar aku selalu berkata jujur, berbuat yang terbaik selagi bisa dan membantu orang lain selagi mampu.
Satu hari, aku malas-malasan belajar. Kuremehkan Mate-matika yang kuanggap aku telah faham semuanya. Malam menjelang esok hari ulangan harian di kelas, aku benar-benar tertipu dengan acara televisi. Biasanya, aku mendapatkan nilai paling tinggi diantara sahabat-sahabatku, namun, hari itu, aku sungguh kaget, aku mendapatkan nilai 5,0.
Selama kelas enam, aku belum pernah mendapatkan nilai sekecil itu. Dan ternyata, aku telah lupa, tidak mencatat dua lembar pelajaran yang diajarkan guru. Karena ketika cacatan guru diberikan kepada muridnya, aku terpaksa tidak masuk sekolah karena terserang demam. Tapi, ketika ayah mengetahuiku mendapatkan nilai yang sungguh amat memalukan ini, ayah berkata,
"Nilai Mate-matika kamu lebih baik dari nilai Mate- matika ayah di sekolah dulu, tapi akan lebih baik lagi jika nilainya 10, atau paliiiiiiiiiing kecil 9, kamu pasti bisa, putri cantik ayah kan paling pinter di kelas," demikian ucapan ayah tanpa menyalahkan aku sedikitpun.
Aku yakin, ayah pasti kecewa, namun yang kusimak dari mimik wajah ayah, justru bukan kekecewaan. Begitulah ayah, yang selalu tersenyum dan sabar dalam membimbingku. Ayah, engkaulah kesatriaku, engkaulah lembaran kisahku, engkaulah permata dunia, yang kini hanya milikku semata. Tanpamu, keluarga ini akan selamanya suram, laksana malam yang tak pernah berjabat dengan rembulan.
Aduhai... limpahan berkah yang tiada terkira, menyelimuti rumah kami. Kebahagiaan, keceriaan, senda gurau, guratan tawa, jeritan dan kebersamaan yang telah kudapatkan sempurna. Tak ada lagi perlu kuimpikan di rumahku ini. Tak ada lagi yang perlu kupertanyakan baik kepada hatiku ataupun kepada siapapun yang menyaksikan rumahku, bagai surga yang telah Allah karuniakan di dunia kecilku ini. Kasih sayang ayah dan ibu tak pernah mampu kutebus dengan harga kesungguhanku. Anugrah perhatian mereka tak secuilpun terlupakan.
Sobat... inilah secuil kisah yang kulukiskan dalam benang rindu dan keriangan yang menghiasi kehidupanku. Kisah yang melukis diary harianku. Kisah yang mengukir hatiku tuk mengenang semuanya dalam lentera senyum yang tak pernah kudapatkan dari siapapun di dunia ini.