Cheng Yujiao tidak menyangka perkataannya akan dibantah. Saat dia hendak melanjutkan berbicara, Gu Xiangnan menyela, berkata, "Baiklah, ayo cepat makan. Pemuda Terpelajar Jiang sedang sakit dan Pemuda Terpelajar Lu memasak sesuatu yang enak untuknya, itu bukan urusanmu."
Lu Xia tersenyum dan berkata, "Ya, aku membawa nasi dari rumah saat aku datang ke sini. Aku hanya membawa sedikit, dan enggan memakannya. Aku berencana menyimpannya untuk perayaan Tahun Baru."
"Sekarang Pemuda Terpelajar Jiang sedang sakit, aku memasak beras itu untuknya, berharap itu akan membuatnya pulih lebih cepat. Dari awal, kondisi tubuhnya memang lemah, dan aku sangat khawatir. Kami baru saja menikah, dan jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak tahu harus berbuat apa."
Mendengar hal ini, semua orang menghiburnya satu per satu.
Sebenarnya, para pemuda terpelajar lainnya tidak terlalu memikirkannya. Mereka semua memahami situasinya. Mereka juga menyimpan makanan secara sembunyi-sembunyi dan enggan untuk membaginya dengan orang-orang, kadang-kadang mereka juga memasak sesuatu secara pribadi, tapi mereka merahasiakan itu semua.
Tidak ada seorang pun yang secara terang-terangan mengakuinya.
Melihat semua orang memihak Lu Xia, wajah Cheng Yujiao berubah masam, tapi mengingat dia sudah menikah dan berakhir dengan seorang pria yang sakit-sakitan, dia merasa cukup puas dan tidak mau repot-repot berdebat dengannya.
Setelah makan, Lu Xia pergi memeriksa keadaan Jiang Junmo lagi dan melihatnya sudah tertidur. Jadi dia tidak tinggal di sana lebih lama lagi; lagipula, semua orang juga harus masuk kamar ini untuk tidur.
Tadi, Lu Xia sudah meminta Li Yi untuk menjaga Jiang Junmo, maka untuk sekarang dia kembali ke kamarnya.
Karena lelah, saat orang lain menanyakan keadaan Jiang Junmo, dia memberikan jawaban singkat dan berbaring untuk beristirahat.
Namun, sambil berbaring, dia memikirkan cerita asli dan penyebab kematian Jiang Junmo.
Tampaknya dia terjatuh ke dalam air karena alasan yang tidak diketahui, sehingga memperburuk kesehatannya. Bahkan flu ringan pun bisa berakibat fatal.
Dia tidak tahu apakah di dunia ini, kejatuhannya ke dalam air ada hubungannya dengan Shi Chunyan, tapi Lu Xia merasa kemungkinan besar itulah yang terjadi.
Jadi di cerita aslinya, dia secara tidak langsung menjadi biang keladi kematian Jiang Junmo.
Dengan mengingat hal ini, dia tidak bisa membiarkan Shi Chunyan lolos begitu saja.
Karena itu, dia harus memikirkan cara untuk membalas perbuatannya.
Keesokan harinya, setelah Lu Xia bangun, hal pertama yang dia lakukan adalah mengunjungi Jiang Junmo. Hari ini, kondisinya jauh lebih baik, tidak merasa pusing lagi, tapi tubuhnya masih lemah. Tampaknya air dingin telah mempengaruhi kesehatannya, dan dia perlu istirahat yang cukup. Syukurlah, dia tidak lagi demam.
Lu Xia memintanya untuk terus berbaring di atas kang, menyiapkan bubur untuknya, dan setelah dia selesai makan, dia mengambil beberapa barang dan pergi ke rumah Li Hongjun.
Kemarin, Li Hongjun sudah menyelamatkan nyawa Jiang Junmo, dan bahkan karena permasalahan ini, dia harus menunda kencan butanya. Karena rasa terima kasih dan kesopanan, Lu Xia harus berkunjung dan berterima kasih secara langsung padanya.
Kali ini, Lu Xia membawakan setengah kati gula merah dan sebungkus kue yang dibelinya sebelumnya.
Saat dia sampai di rumah Li Hongjun, dia melihat beberapa orang di sana.
Lu Xia merasa dia mungkin datang pada waktu yang tidak tepat, tapi karena dia sudah sampai di sini, dia hanya bisa menghadapinya secara langsung.
Ibu Li Hongjun adalah wanita yang ceria, dan semua orang memanggilnya Bibi Cuiyun.
Bibi Cuiyun tampak terkejut saat melihat Lu Xia, namun senyumannya semakin lebar, dan dia dengan hangat berkata, "Oh, Pemuda Terpelajar Lu ada di sini! Tamu yang langka. Masuklah!"
Lu Xia merasa agak bingung dengan sambutan hangat itu tapi dengan cepat menjelaskan, "Bibi, aku di sini untuk berterima kasih kepada Kamerad Li Hongjun karena sudah menyelamatkan Pemuda Terpelajar Jiang. Kudengar dia hampir melewatkan kencan butanya karena itu. Aku merasa sangat malu, jadi aku membawakan beberapa hadiah. Ku harap Bibi mau menerimanya."
Melihat hadiah yang dibawakan Lu Xia, senyuman Bibi Cuiyun semakin dalam, "Oh, kamu terlalu sopan. Siapa pun akan melakukan hal yang sama. Kebetulan saja anak ku ada di sana pada waktu yang tepat. Jangan khawatir; kencan butanya tidak terpengaruh. Ngomong-ngomong, kudengar kamu dan Pemuda Terpelajar Jiang sudah mendaftarkan pernikahanmu? Ya ampun, kalian berdua pasangan yang serasi, benar-benar cocok satu sama lain!"