Chereads / Until the End Of Time (Our Love) / Chapter 2 - Pemilihan Calon Pengantin

Chapter 2 - Pemilihan Calon Pengantin

Ketika angin musim semi pertama bertiup di atas Lembah Lunyu, adalah hari peringatan kematian Nyonya Chen Qianqian, istri sah dari Pemimpin klan sebelumnya.

Ibu kandung dari tuan muda ke empat, Gu Hongli.

Demi menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya, Gu Hongli selalu menyempatkan waktu datang ke makam setiap sebulan sekali untuk berdoa tidak lupa sebuket bunga Anyelir ikut serta dibawa selain sekeranjang buah Persik. Bunga Anyelir merupakan bunga kesukaan mendiang ibunya. Meski hanya bisa memandangi papan batu nisan yang bertuliskan nama ibunya, itu sudah cukup membuat hatinya senang, sekaligus melepas rindu karena merasa bertemu dengan ibunya lalu menceritakan segalanya tanpa ada satupun yang ditutupi.

Andai waktu bisa di putar kembali, ia pasti tidak akan membiarkan ibunya meminum sup ginseng beracun itu, dan mungkin saja ibunya saat ini masih berada disisinya sekarang.

Tapi seberapa pun banyak berharap pada Dewa.

Nasib malang tidak bisa di cegah.

Ibunya harus tewas di racun oleh pelayan yang merupakan mata-mata dari sekte Yue Luo.

Entah memiliki dendam apa sekte Yue Luo terhadap keluarga Gu di masa lalu karena setelah kejadian itu banyak kemalangan terjadi di dalam kediaman Gu.

Rasa dendam tentu saja ada dihatinya, ingin membalas perbuatan mereka karena telah membunuh ibunya. Namun ia sadar kekuatannya belum mampu melawan sekte Yue Luo tapi selama apapun waktu yang dibutuhkan ia pasti akan membalas perbuatan mereka.

Hal itu pulalah yang mendasari dirinya belajar tentang racun, mendalami serta mempelajari tentang obat-obatan, berbagai jenis binatang beracun. Dimulai dari membaca buku tentang pengobatan sampai melakukan diskusi dan belajar banyak hal dari para tabib, hingga dirinya mendapatkan julukan sebagai tabib jenius.

Setelah kematian ibunya, ia merasa sendirian tidak memiliki siapapun di sisinya sebab ayahnya lebih menyangi selirnya dan anak-anaknya dibandingkan ia, sampai Gu Fengyi yang merupakan kakak berbeda ibu, datang menjemputnya dari pavilliun Awan lalu membawanya ke paviliun Angin untuk tinggal bersama. 

Sampai detik ini, ia masih mengingat jelas kata-kata pertama yang diucapkan oleh kakaknya sebelum membawanya pergi.

"Jangan menangis sebab kau tidak sendirian, masih ada Gege yang akan menjaga dan menemani sampai kapanpun," tangan besar miliknya dengan lembut mengusap air mata dipipinya sambil tersenyum hangat.

Sejak itulah dalam hati ia berjanji akan selalu mengikuti Gege-nya, menjadikannya orang paling berarti dalam hidupnya setelah mendiang ibunya.

"Fengyi Gege,"

.

.

.

.

.

Tanpa sepengetahuan siapapun kadang kala putra bungsu keluarga Gu selalu pergi ke paviliun Awan yang terbengkalai seorang diri. Ia pergi ke pavilliun tersebut untuk merawat pohon Persik yang tumbuh subur di halaman.

Pohon Persik tersebut ditanam oleh mendiang ibunya saat pertama kali datang ke kediaman Gu, dan diam-diam selama bertahun-tahun ini ia terus merawatnya dengan penuh kasih sayang karena pohon Persik itu memiliki banyak kenangannya bersama sang ibu.

Siapa sangka kalau sosoknya yang terkenal dingin, kejam, bermulut tajam dan Brother Complex ternyata diam-diam memiliki sisi lembut yang tidak diketahui siapapun termasuk Gu Fengyi.

Seluruh penghuni kediaman Gu mengenalnya sebagai Gu Hongli sekaligus menjulukinya sebagai Brother Complex tingkat akut selain tabib jenius, hal itu karena ia terus pergi mengekor pada Gu Fengyi.

Brother complex sering diartikan sebagai kecintaan berlebih pada saudara laki-laki yang memicu hasrat untuk mengikuti jejak saudara laki-lakinya dalam segala hal.

Saking menyukai kakak laki-lakinya, setiap hari ia selalu pergi mengikuti kemanapun Gu Fengyi pergi layaknya se ekor anak ayam yang terus mengekor pada induknya. Dimana ada Gu Fengyi didekatnya pasti aka nada Gu Hongli menemani.

Diantara ke empat kakak-kakaknya, Gu Hongli hanya dekat dengan Gu Fengying meski berbeda ibu tapi rasa sayang yang dimilikinya begitu besar dan dalam. Apapun yang dikatakan juga perintahkan oleh Gu Fengyi akan selalu di dengarkan oleh Gu Hongli tanpa pernah sekalipun membantah, termasuk menerima perjodohan pernikahan yang diatur untuknya oleh para tetua dan Pemimpin klan meski dalam hatinya sama sekali tidak mau menikah.

Gu Hongli selamanya hanya ingin selalu berada disisi kakaknya.

Setiap calon pengantin yang datang adalah para nona muda terbaik, yang dipilih secara ketat dan teliti oleh para tetua maupun pemimpin klan. Mereka dinilai dari segi wajah, penampilan, latar belakang keluarga, kemampuan atau keterampilan, serta kecakapan dalam berbicara maupun sikap.

Bisa dibilang mereka yang datang ke kediaman Gu, adalah para nona muda yang dinilai pantas menjadi pendamping Gu Hongli.

Meski para nona itu berawajah cantik dan menawan.

Namun wanita cantik menurut pendapat pribadi Gu Hongli begitu menakutkan.

Semakin cantik wajah seseorang maka akan semakin berbahaya, apalagi setelah melihat sendiri apa yang menimpa kakak laki-lakinya, Gu Fengyi membuatnya berpendapat kalau wanita cantik itu penuh tipu daya sekaligus licik.

Kakaknya yang terkenal lugas, penuh kewaspadaan, dan berhati dingin saja bisa di bodohi.

Menandakan kalau wanita cantik itu sangat berbahaya dan patut di waspadai siapapun itu.

Bukan tidak tertarik pada lawan jenis atau tidak menyukai wanita cantik tapi Gu Hongli memiliki pandangannya sendiri terhadap seorang wanita. Menurut pendapatnya pribadi di dunia ini sangat banyak wanita cantik, pintar, menawan, anggun, memiliki kemampuan seni bela diri, dan dari keluarga terpandang namun belum ada satupun diantara mereka mampu menggerakkan hatinya, membuatnya tertarik sekaligus penasaran.

Dirinya sangat yakin para nona muda itu ingin bersamanya karena statusnya sebagai tuan muda keluarga Gu serta parasnya. Belum ada gadis yang melihatnya sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai tuan muda ke empat melainkan hanya Gu Hongli, si maniak racun.

Julukan dirinya sebagai tabib jenius terlalu bagus untuk disandang karena pada dasarnya, ia begitu menyukai racun melebih apapun. Setiap ada racun mematikan yang baru di dunia persilatan, ia selalu merasa tertantang untuk meneliti dan membuat penawarnya.

Jika bukan karena permintaan dari Kakak laki-lakinya, Gu Hongli tentu tidak mau menerima begitu saja perjodohan kali ini.

Sejak shubuh para pelayan sudah sibuk bekerja baik itu di bagian dapur maupun pelayan dari bagian lainnya, mereka fokus bekerja di aula utama demi menyambut tamu agung yang akan datang hari ini.

Semua para nona muda datang tepat waktu ke kediaman Gu tanpa adanya hambatan.

Mereka semua di antar oleh para pelayan ke aula utama sebab disana para tetua, pemimpin klan sudah menunggu serta disanalah tempat pertemuan pertama mereka dengan Gu Hongli.

Hampir satu jam para calon pengantin tiba di aula utama namun tokoh utama dalam pertemuan kali ini tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.

Wajah para tetua nampak memerah menahan amarah yang kapan saja bisa meledak hebat.

Kumpulan para orang tua itu berdiri gelisah di aula utama bersama ke dua Tuan muda Gu dan Nona pertama di dampingi suaminya, Zhao Ming. Mereka semua menunggu dengan perasaan cemas sambil berharap mendapat kabar dari para pengawal tentang keberadaan Gu Hongli.

Seluruh pengawal kediaman Gu dibuat sibuk sekaligus panik gara-gara Gu Hongli tiba-tiba saja menghilang, keberadaannya sama sekali tidak diketahui bahkan semua sudut kediaman Gu sudah dicari tapi ia tidak ada dimanapun.

Padahal malam sebelum kedatangan calon pengantin, Pelayan sudah bekerja keras membersihkan seluruh aula, menyulap ruangan besar nan megah ini menjadi lebih hidup demi menyambut para nona muda yang datang dari jauh. Para pelayan merasa usaha dan kerja keras mereka dalam mendekor aula sia-sia sebab sepertinya acara penyambutan gagal karena bintang utama dalam acara ini tidak hadir.

Seluruh calon pengantin hadir berkumpul di tengah-tengah aula menunggu untuk saling bertemu dan bertukar salam dengannya tapi dia malah menghilang bahkan Gu Fengyi tidak mengetahui dimana keberadaan adiknya tersebut padahal biasanya selalu menempel dan mengikuti seperti anak ayam kemanapun Gu Fengyi pergi.

"Adik Hongli!!" teriak Gu Fengyi memanggil.

Teriakkan dari Gu Fengyi membuat semua orang reflek menoleh ke arah pintu masuk aula.

Tatapan para nona muda terlihat sama yaitu terpana sekaligus penuh kekaguman.

Seorang pemuda dengan gagah berjalan masuk ke aula utama.

Tubuhnya tinggi tegap, rambutnya hitam legam seperti malam tergerai indah hingga sepinggang, alisnya hitam panjang, mata berbinar, hidung tinggi lurus, kulit seputih salju, bibirnya tipis dan berwarna merah seperti cherry, pakain sutra berwarna hitam dengan motif burung phoenix yang disulam menggunakan benang emas. Ketika berjalan, mata seluruh nona muda mengarah padanya dengan tatapan penuh kekaguman mendalam.

Sosoknya begitu menawan namun berbahaya karena sorot matanya begitu dingin, tidak terpancar kehangatan.

Pemuda itu melangkah di antara para calon pengantin, tatapan matanya fokus ke depan tidak sedikitpun melirik, sikapnya menunjukkan dengan jelas kalau tidak ada satupun dari para calon pengantin yang menarik hatinya.

"Salam Tetua, Pemimpin klan," Gu Hongli memberikan salam sekaligus hormat.

"Ini adalah hari penting, bagaimana bisa kau pergi menghilang begitu saja," suara tetua Hou terdengar keras, menggema ke seluruh aula.

Mengetahui adik laki-lakinya dalam masalah, Gu Fengyi maju membantu, "Tetua Hou mohon simpan amarahmu, karena bagaimanapun kita harus menghargai para nona muda yang sudah menunggu dan tidak berdebat di hadapan mereka,"

"Kau benar, Gu Fengyi," desah tetua Hou yang merasa bersalah karena sudah berteriak tadi.

Gu Hongli berdiri di tengah-tengah para calon pengantin, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman, "Salam para nona muda sekalian,perkenalkan aku Gu Hongli senang bertemu kalian semua,"

"Salam tuan muda Gu Hongli," sapa mereka bersamaan.

Dalam pertemuan kali ini selain bertemu dan berkenalan dengan Gu Hongli.

Para nona muda pun diminta untuk menunjukkan kehebatannya masing-masing, hal itu dilakukan demi menarik perhatian Gu Hongli.

Harus Gu Hongli akui semua para nona muda memiliki paras cantik bak Dewi, ditambah bakat yang dimiliki pun begitu luar biasa dalam bidang seni. Namun hal itu tidak cukup membuatnya tertarik atau sekedar melirik ke arah mereka.

Gu Hongli malah asik melamun, memikirkan percakapan dua gadis pelayan di bawah pohon Persik yang entah mengapa mengusik hati. 

Pemikiran gadis pelayan yang bernama Sang Sang itu begitu luas dan dalam, sama seperti mendiang ibunya dimana selalu berkata padanya untuk selalu menjadi anak yang baik, tidak boleh bertengkar dengan para saudaranya memperebutkan posisi gelar Pemimpin klan meski ia terlahir dari istri sah. Karena ibunya berkata ambisi besar hanya akan membawa penderitaan.

  Bersambung