Dalam hidup ini, kita sering terbuai oleh untaian kata manis yang penuh janji, seolah-olah kenyataan bisa dibentuk hanya dengan ucapan. Konon, hidup penuh keindahan. Tapi benarkah demikian? Ataukah itu hanya ilusi yang diciptakan agar manusia tetap bertahan dalam dunia yang penuh penderitaan?
Bagi sebagian orang, mungkin hidup memang seindah yang digambarkan—sesuatu yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Namun, tidak semua orang seberuntung itu. Ada yang justru terjebak dalam kegelapan, seperti seorang pria muda yang telah bertahun-tahun hidup sebatang kara, dihantui mimpi buruk tanpa akhir dan tak pernah sekalipun melihat sisi indah dunia ini. Baginya, hidup hanyalah sebuah perjalanan tanpa tujuan, tanpa harapan, dan tanpa makna.
Dunia yang ia kenal bukanlah tempat penuh cahaya seperti yang dikatakan orang-orang. Dunia ini adalah neraka yang terus menyiksanya, menghancurkan harapan bahkan sebelum sempat tumbuh. Setiap hari terasa seperti perang tanpa akhir, di mana ia harus bertahan dengan sisa-sisa kekuatan yang hampir habis. Kata-kata bijak seperti "habis gelap terbitlah terang" atau "habis hujan muncullah pelangi" hanyalah ilusi kosong. Bagaimana mungkin ia bisa mempercayainya setelah semua tragedi yang menimpanya? Ketika dunia seakan berkonspirasi untuk merenggut kebahagiaannya, bahkan sebelum ia sempat menggenggamnya? Ketika dunia yang ia kenal telah menjelma menjadi siksaan neraka yang tak berkesudahan baginya?
Kadang, ia bertanya-tanya. Apakah itu adil untuknya?
Mengapa hanya dirinya saja yang mengalami semua kutukan itu. Apakah itu adalah hukuman yang pantas atas dosa - dosa yang tak pernah ia sadari? Ataukah keberadaannya di dunia ini hanyalah kutukan yang membawa kesengsaraan bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya? Setiap langkah yang ia ambil selalu terasa salah, setiap keputusan selalu berujung pada penyesalan. Ia tak tahu apakah ini semua kebetulan, atau memang semua takdir kejam dalam hidupnya sudah dituliskan sejak awal kehidupannya.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuinya, menciptakan labirin tanpa jalan keluar. Ia mencoba mencari jawaban, tetapi yang ia temukan hanyalah kehampaan. Setiap malam, ia menatap langit yang gelap tanpa bintang, bertanya kepada semesta apakah ada harapan bagi dirinya. Namun, keheningan malam hanya menjawab dengan sunyi, membuatnya semakin terjerat dalam jurang keputusasaan.
Masa lalu telah merenggut segala yang ia miliki—keluarganya, kebahagiaannya, bahkan kepercayaannya pada kehidupan. Satu per satu orang-orang yang pernah ia cintai pergi meninggalkannya, membuatnya bertanya-tanya apakah ia memang ditakdirkan untuk sendiri selamanya. Ia bahkan mulai meragukan eksistensinya sendiri, merasa bahwa dirinya hanyalah bayangan tanpa tujuan, tanpa arti.
Tidak ada tempat untuk mengadu, tidak ada bahu untuk bersandar. Ia tahu, mengeluh hanya akan menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang pria. Tapi seberapa kuat pun ia mencoba menahan semuanya, ada saat di mana hatinya begitu lelah, jiwanya begitu hancur, dan pikirannya begitu kacau hingga ia bertanya-tanya apakah hidup ini memang layak untuk dijalani.
Namun jauh di lubuk hatinya, ada seberkas harapan yang sangat ia genggam erat—harapan bahwa suatu hari nanti, ia bisa lepas dari jerat kutukan ini. Harapan bahwa ia bisa menemukan sesuatu yang mampu mengisi kekosongan dalam dirinya. Sebuah alasan untuk tetap hidup. Sebuah cahaya di tengah kegelapan yang selama ini menyelimutinya.
Dan cahaya harapan itu adalah cinta.
Cahaya itu pernah hadir sesaat, dalam sosok seseorang yang begitu berarti baginya. Namun, takdir kejam kembali merenggutnya sebelum ia sempat menggenggamnya lebih erat. Kini, ia hanya bisa bertanya-tanya—apakah cinta itu akan kembali padanya? Ataukah ia memang ditakdirkan untuk hidup tanpa cahaya selamanya?
Cinta yang tulus, suci, dan murni. Namun, cinta tersebut juga merupakan cinta yang berlumuran dosa yang harus ia tanggung seumur hidupnya.
Cinta yang bisa menjadi juru penyelamat, atau justru kehancuran yang lebih dalam. Ia tak tahu mana yang akan terjadi. Ia hanya tahu bahwa hatinya telah memilih, meskipun pikirannya terus berteriak untuk menjauh.
Akankah ia sanggup menghadapi kutukan tiada akhir ini dan menanggung dosa terberat dalam hidupnya? Ataukah justru cinta suci itulah yang akan menyelamatkannya dari takdir kelam ini?