"Jaka." Bu Nisa menyapa Gw ketika berpapasan di lorong kelas pada waktu jam pulang.
"Besok bantuin saya yah." tambahnya Bu Nisa
"Bantuin apa, Bu?"
"Persiapan US/M BN. Ribet banget ini. Banyak yang harus dikerjain."
"Emang kenapa enggak minta bantuan TU aja, bu?"
"Pak Hendra mah pelit orangnya. Gak bakal mau bantu. Kalo Bu Sinta, kasian. Banyak kerjaan dia."
"Loh, emang beda ya kerjaannya?"
"Sama, tapi Pak Hendra selalu nyuruh Bu Sinta yang ngerjain pekerjaannya."
Sejenak Gw berpikir. Mungkin ini saat yang tepat untuk memanfaatkan video waktu Gw memergoki Pak Hendra dan Bu Sinta.
"Yaudah bu, serahin sama saya. Nanti saya bujuk mereka." kata Gw meyakinkan.
"Hahaha. Mana bakal bisa kamu, Jak. Enggak bakal mau. Emang gimana cara kamu bujuknya?"
"Mohon-mohon aja buat dibantuin."
"Gabakal bisa." kata Bu Nisa meremehkan.
"Ngasih duit?"
"Tetep aja. Kecuali kamu kasih dua juta baru dia mau." katanya masih meremehkan.
"Yaudah, kalo saya bisa ibu mau kasih apa?"
"Hmm. Ini tantangan?" tanya Bu Nisa.
"Iya. Biar saya semangat mohon-mohon nya. Hahaha." kata Gw berbohong ke Bu Nisa. Padahal caranya mah tinggal nyuruh aja. Video ada di tangan. Hahahaha.
"Yaudah, kalo bisa saya traktir makan."
"Kan kemarin udah janji juga mau traktir makan. Yang lain dong bu."
"Hmmm. Masa nonton?"
"Yaudah kalo ibu maksa mah. Hahahaha."
"Ehhh," Bu Nisa tampak kaget.
"Kamu mau nonton sama ibu?" tanya Bu Nisa.
"Ya mau-mau aja. Kenapa enggak. Hehehe."
"Yaudah deh, belum tentu juga Pak Hendra mau kan. Hahaha."
"Yehh, jangan salah." kata Gw sambil menepuk-nepuk dada.
__–__
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." jawab mereka.
"Ehh, ada Jaka." kata Pak Hendra. Sedangkan Bu Sinta hanya menunduk malu melakukan pekerjaannya.
"Pak, besok tolong urusin persiapan USMBN ya. Sampe kelar." kata Gw.
"Siap. Gampang." kata Pak Hendra. Tapi pada saat itu juga Gw melihat ke arah Bu Sinta. Dia terlihat mengerutkan alisnya. Gw ingat kata Bu Nisa kalo semua pekerjaan Pak Hendra dikerjakan sama Bu Sinta, jadi …
"Tapi Bapak yang kerjain sendiri ya, Bu Sinta enggak usah." kata Gw.
"Hahh?? Kok gitu?" protes Pak Hendra.
"Iya lah, suka-suka saya. Kan saya yang punya video."
Disaat itu, Bu Sinta terlihat tersenyum kepada Gw. Gw enggak tau maksudnya, tapi Gw yakin itu tanda terima kasih dari dia untuk Gw. Hingga suatu ketika
*Zzttt zzttt
Tanda chat masuk dari hp gw. Bu Sinta mengirim pesan ke Gw.
Bu Sinta :
"Jaka."
"Terimakasih banyak."
"Hampir aja saya pingsan karena mikir kalo saya bakal tambah kerjaan. Tapi ternyata kamu ngerti."
"Terimakasih banyak, Jak."
Jaka :
"Iya bu, sama-sama."
"Tenang aja selama masih ada saya. Hehehehe."
"Saya yakin kalo ibu adalah korban. Jadi ibu kalo butuh apa-apa ngomong aja ke saya."
"Tapi bu, maaf sebelumnya."
Bu Sinta :
"Maaf untuk apa?"
Jaka :
"Saya nontonin terus video yang itu. Karena saya bisa ngeliat ibu lagi bugil. Hehehe."
Bu Sinta :
"Ya mau gimana lagi. Gapapa jak. Kamu kan cowok, wajar demen yang begitu. Lagian juga saya yang salah. Kenapa mau dipaksa sama Pak Hendra."
Jaka :
"Oke deh buu. Saya lanjutin nonton yaa."
Bu Sinta :
"Lah, kamu lagi nontonin video aku bugil tadi?"
Jaka :
"Iyaaa. Hehehe."
Bu Sinta :
"Dasar."
"Wkwkwk."
__–__
"Gimana, enak gak?"
"Biasa aja bu."
"Yeeehh. Tendang nih."
"Hahaha. Bercanda."
Hari ini, Bu Nisa mentraktir Gw makan makanan favorit dia di mall yang lumayan dekat dengan rumah Gw. Dekat sama rumah dia juga sih. Mumpung hari minggu, karena sekolah kami tetap masuk di hari sabtu. Wajar, sekolah swasta. Tetapi di hari sabtu kegiatan belajarnya hanya beberapa jam saja. Karena dari pagi hingga jam 9, sekolah mengadakan kegiatan senam bersama.
"Akhirnya ibu bisa traktir kamu makan yah. Hutang ibu udah lunas deh." kata Bu Nisa.
"Yehh, kata siapa. Belum. Masih ada utang nonton."
"Yaudah deh, hayuk."
Setelah kami makan, kami lanjut untuk menggugurkan hutang Bu Nisa yaitu mentraktir Gw menonton. Kalian pasti tau kan kenapa Gw bisa hutang nonton?? Ya, bantuin Bu Nisa mempersiapkan USMBN. Dan kalian tau kan gimana caranya Gw bisa menyelesaikan itu semua?? Ya, nyuruh Pak Hendra. Dan tau kan kalian kenapa Gw bisa nyuruh-nyuruh Pak Hendra seenaknya?? Ya, video ena-ena nya sama Bu Sinta.
"Ibu yakin mau nonton film ini?"
"Hmm. Enggak sih, tapi coba dulu deh."
"Yaudah deh, saya mah ikutin bos nya aja. Hahaha."
"Iya, wajib itu nurut sama bos, hahahaha. Tuh bangku kita."
Kamipun menonton film itu. Film yang buruk bisa dibilang, hanya bagus di poster aja. Gw enggak terlalu menikmati film itu, tetapi Gw memperhatikan Bu Nisa yang sedari tadi melirik-lirik Gw.
"Makasih ya bu traktirannya." kata Gw mengawali pembicaraan di tengah film yang sangat membosankan itu.
"Saya yang makasih, Jak. Gara-gara kamu saya jadi enggak banyak kerjaan di kelas 6. Tapi malah suami saya yang nambahin kerjaan."
"Yah ibu. Gapapa, semoga aja suami ibu di dalam sana nemuin hidayah terus jadi berubah."
"Aamiin Ya Allah. Tapi kenapa enggak kamu aja yang jadi suami saya."
"Ehh, bu."
Gila, Bu Nisa ngomong kayak gitu sama Gw di dalem bioskop yang sepi dan film yang boring. Gw enggak tau mau ngapain sampe
"Jak."
"Iya bu."
Dengan perlahan wajah Bu Nisa mendekat ke wajah Gw. Gw bingung Bu Nisa mau ngapain. Mungkin Bu Nisa mau bisikin sesuatu ke Gw. Lalu dengan PD nya gw mengarahkan telinga Gw mendekat ke Bu Nisa. Dan dengan sigap dia raih tangan Gw dengan tangan kanannya lalu dia menempelkan bibirnya ke pipi Gw.
*Cuppps
Dia menc!um pipi Gw.
"Makasih banyak, Jak." kata Bu Nisa sambil tersenyum. Senyum yang sangat tulus yang pernah Gw lihat.
Gw deg degan, bingung harus ngapain. Bu Nisa baru saja menc!um Gw.
*Cups cuppssss
Bu Nisa menc!um Gw lagi. Gila, Gw enggak nyangka hal itu.
"Kamu kok baik banget sih, Jak. Aku enggak nyangka dengan kehadiran kamu masalah aku terbantu. Aku enggak kepikiran, bagaimana nanti kalau kamu enggak ada. Aku yang lagi sibuk di kelas 6, ditambah suami aku bikin masalah kayak gini." ucapnya.
Gw enggak tau harus membalas apa. Yang bisa Gw lakukan cuma tersenyum ke Bu Nisa.
"Kamu pernah c!uman gak, Jak?"
"Bel,, belum,, belumm bu."
"Mau coba gak?"
Gw pun mengangguk tanda setuju.
Lalu Bu Nisa kembali mendekatkan wajahnya ke Gw. Dan Gw sambut dengan bibir Gw. Tertutup.
Bu Nisa mengarahkan Gw cara French Kiss. Dia buka bibirnya dan menyapu bibir bagian luar Gw. Kaget, Gw jilat juga bibir luar Bu Nisa. Setelah lidah kami bersentuhan, Bu Nisa memajukan wajahnya lagi dan menempelkannya bibirnya ke bibir Gw sambil memainkan lidahnya di dalam mulut Gw.
*Slurrpss slurrpsss
Gw kaget ternyata c!uman itu seenak ini. Bu Nisa bahkan menyedot lidah Gw dan memaju mundurkan kepalanya. Gilaa, enak banget rasanya.
"Mmmphhhh,"
*slrppsss slrpps
"Mhhh"
*plup
Bu Nisa melepaskan c!umannya
"Kamu suka gak?"
"Iyaa, bu"
*Splurrpss slurppss
Bu Nisa melanjutkan c!umannya ke Gw.
Bibir dan lidah gw dimainkan layaknya dot anak bayi. Suara nafasnya menggebu-gebu, bahkan hingga Gw bisa menc!um aroma nafasnya yang menggairahkan itu. Hingga permainan lidahnya diselesaikan dengan Bu Nisa menjilat ujung hidung Gw.
"Enak gak?"
"Iyaa, bu. Enak banget. Baru pernah ngerasain c!uman kayak gini saya."
"Mau yang lebih enak gak, Jak?"
"Apa bu?"
Bu Nisa membuka dua kancing atas bajunya.
"Kamu boleh pegang susu saya."
"Hahh??"
Gw kaget enggak kebayang. Baru aja abis dapet rejeki nomplok di kissing mamah muda, sekarang dapet lagi rejeki bisa megang toketnya.
"Bener bu, boleh?"
Bersambung…