Chereads / Obsesi Sang Kakak / Chapter 1 - 001 -26

Obsesi Sang Kakak

cacacondadevita
  • --
    chs / week
  • --
    NOT RATINGS
  • 2.6k
    Views
Synopsis

Chapter 1 - 001 -26

Saat matahari sudah mulai menampakkan diri, Atalaric menghentikan kegiatannya melatih Archie, memikirkan jika gadis itu perlu pergi ke sekolah.

"Ah benar, kakak juga harus siap siap ke sekolah kan? Kemaren kakak juga tidak masuk ke sekolah, Kenapa?" tanya gadis itu ingin tahu, sambil mengusap keringat di dahinya.

"Hhmm... Aku tidak akan pergi sekolah lagi" jawab kakak laki lakinya acuh, sambil berjalan pergi menuju Mension.

"Kenapa? Apakah kakak di keluarkan oleh pihak sekolah, karena kakak ketahuan sering berkelahi?" tanya Archie polos, sambil terus mengikuti langkah Atalaric.

Mengingat bagaimana seringnya Atalaric, membuat murid laki-laki di sekolahnya bonyok bonyok.

"Tentu saja tidak, kamu tidak usah khawatir, belajar saja dengan baik, dan jangan biarkan siapapun menyakitimu lagi di sekolah, mengerti?" ucap pemuda itu kini berbalik memperlihatkan sedikit rasa pedulinya.

"Iya, tapi kenapa kakak keluar dari sekolah?" ucap gadis itu penasaran, sambil kembali mengikuti langkah Atalaric.

"Karena aku akan bekerja mulai sekarang" jawab nya masih terus berjalan maju, tidak menoleh sedikitpun.

"Bekerja? Apakah kakak berhenti sekolah karena sudah mendapatkan pekerjaan tetap?" tanya Archie terus menerus, memenuhi rasa penasarannya.

"Ya bisa di bilang seperti itu" jawab Atalaric sekedarnya.

"Tapi kak, kamu masih belum menjawab pertanyaan ku, kenapa kakak bisa masuk ke sekolah dan ke luar seenaknya? Bukankah itu memerlukan beberapa prosedur, yang cukup membuat pusing?" tanya Archie.

Karena mengingat apa yang di katakan oleh sahabatnya Dayana, jika ingin pindah ke sekolah mereka sekarang, Perlu melalui beberapa tahap prosedur yang cukup sulit. Juga Dengan biaya yang sangat mahal, karena sekolah mereka adalah sekolah elit dan sekolah terbaik di Jerman.

Apa lagi kakaknya Atalaric, bukan murid pindahan biasa, karena Archie tahu betul, jika selama ini, kakaknya Atalaric tidak pernah masuk ke sekolah formal.

Ya walaupun Archie tahu, jika kakaknya sangat pintar dan rajin belajar, di ruang belajarnya yang sudah bak pustaka raksasa itu.

Tak jarang, dia menghabiskan waktunya di sana hingga tengah malam, bergulat dengan ribuan buku-buku berbahasa asing.

"Hmm ... Ya, itu di bantu oleh beberapa orang teman" ucap Atalaric setelah beberapa detik memikirkan jawabannya.

"Hah? Aku tidak tahu jika Kakak memiliki seorang teman" ucap gadis itu mengerutkan dahi dan menatap kakaknya dengan tatapan yang menyelidik.

Karena dia belum pernah melihat dan mendengar jika kakaknya memilki seorang teman.

"Ya kira kira begitu lah" jawab Atalaric nampak sedikit menghindar.

Tapi gadis kecil di belakangnya itu malah mengangguk-anggukan kepada berulang.

Melihat Archie yang percaya begitu saja, dengan apa yang dia katakan, membuat Atalaric merasa sedikit kasihan.

"Mungkin mereka bisa dihitung sebagai teman" Batin Atalaric, menghentikan langkahnya.

Membayangkan beberapa orang bawahannya yang sangat setia dan kompeten dalam melaksanakan setiap tugas yang dia berikan.

Termasuk saat mengurus urusan administrasi dan prosedur kepindahan Atalaric ke sekolah Archie yang tiba tiba, bahkan bisa dilakukan oleh mereka hanya dalam waktu beberapa jam saja.

Tapi jika dilakukan sesuai dengan prosedur yang semestinya, mungkin memerlukan waktu satu minggu lebih, oleh wali murid, hingga seorang siswa pindahan bisa mulai belajar di sana.

Mendengar jawaban dari kakaknya, Archie segera kembali kedalam Mension untuk bersiap berangkat ke sekolah.

Dengan seragam yang telah terpasang rapi di tubuh indahnya, Archie menuruni tangga menuju meja makan.

Perutnya sudah terasa sangat lapar, mungkin karena kegiatannya pagi ini cukup menguras tenaga.

Tapi matanya terpaku melihat sosok Atalaric yang menggunakan jas yang begitu serasi dengan bentuk tubuhnya sambil menikmati sarapan di depannya.

"Apakah kakak akan pergi bekerja seperti ini?"

tanya Archie dengan heran melihat penampilan Atalaric pagi ini.

Dia mengira jika kakaknya akan pergi bekerja seperti biasa, dengan baju lusuh kesayangan nya.

"Ya, apakah terlihat buruk?" tanya Atalaric sambil terus memasukkan sepotong roti kedalam mulutnya.

"Bukan begitu maksud ku ...

Archie kembali terdiam melihat sikap Atalaric yang masih cuek seperti biasanya.

"Kakak, jangan coba-coba membodohi ku, apakah kakak akan bekerja di perusahaan tuan Damian?" tanya Archie dengan serius.

"Sepertinya kamu sudah tahu" jawab Atalaric sangat santai menanggapi setiap perkataan adik perempuannya itu, sambil tetap terus melanjutkan sarapannya dengan tenang.

"Bagaimana tidak, dua hari yang lalu kakak tiba tiba di panggil untuk datang ke perusahaan tuan Damian saat pulang sekolah. Lalu keesokkan harinya, kakak tidak lagi datang ke sekolah seperti biasa.

Dan hari ini kakak mengatakan tidak akan masuk sekolah lagi, siapa yang tidak bisa menghubungkan beberapa kejadian yang sudah sangat jelas seperti ini." ucap Archie tegas, dan terdengar sangat cerdas di telinga Atalaric.

"Ternyata sekarang kamu sudah cukup cerdas, tidak sia sia selama ini aku melatih mu untuk mencoba menganalisa setiap situasi sebelum berpendapat" ucapnya sengaja memuji Archie untuk mengubah topik pembicaraan.

"Kakak bahkan ini sudah sangat jelas dan tidak memerlukan analisa apapun" ucap Archie tidak terpengaruh.

"hmmmm" Atalaric hanya bergumam sambil mengangguk anggukan kepalanya dan terus makan dengan lahap.

Archie yang melihat kakaknya hanya mengangguk anggukan kepala, mulai duduk di kursinya dan ikut sarapan. Tampa bertanya lebih banyak lagi, karena memang perutnya sudah sangat lapar dan minta di isi dengan segera.

Mereka berdua melanjutkan menikmati sarapan mereka dengan tenang hingga selesai, dan berjalan beriringan keluar dari Mension.

Saat di depan pintu Archie lagi-lagi dikejutkan pagi ini.

"Kakak, mobil siapa ini? Apakah ada seseorang yang datang?" Tanya Archie sambil melihat kiri dan kanan mencari keberadaan seseorang.

"Bukan, mulai sekarang aku akan memakai mobil ini mengantar mu pergi ke sekolah, dan tentu saja juga untuk pergi ke kantor!" jelas Atalaric singkat.

"Hah? Benarkah? Jadi aku tidak perlu lagi berjalan kaki dan berlarian mengejar bus ke sekolah?" Ucap Archie sangat senang melihat mobil hitam mengkilap di depannya.

"Tapi kak, bagaimana kamu bisa mendapatkan ini?" ucapnya lagi mendapatkan kewarasannya. Dan memandang kakaknya curiga.

"Ini hadiah, seperti kata mu, bukankah aku sekarang telah terkenal?" ucap Atalaric.

"Ah benar sekali, kenapa aku melupakan ini, jika kakak sekarang sudah terkenal dan di tawari bekerja oleh tuan Damian, kakak sangat hebat." ucap Archie dengan tulus memuji Atalaric dengan mata yang berbinar binar.

Melihat Archie memujinya dengan wajah seperti itu, Atalaric tidak bisa menjelaskan seperti apa perasaanya saat ini, yang jelas apapun yang di lakukannya saat ini adalah untuk melindungi Archie, tidak ada yang lain. Dan pujian dari gadis itu berhasil membuat nya merasa berguna, dan sudah berhasil melakukan suatu hal yang benar.

Walaupun banyak pujian dari pihak luar, tapi itu malah membuat Atalaric merasa muak akan pujian mereka, sangat berbeda jika Archie yang memberikan pujian itu..

"Ah, satu lagi, kedepanya jika bertemu tuan Damian, ingat untuk memanggil dia ayah" ucap Atalaric sambil memencet hidung adiknya itu dengan gemas.