Chereads / Meurtre / Chapter 9 - Kenapa Malah Aku?

Chapter 9 - Kenapa Malah Aku?

Dua tempat sudah kusambangi, kukira akan dibawa ke mana aku tadi? Untungnya setelah mereka menculikku, aku segera di kembalikan pulang. Ya, meski mereka menurunkanku di dekat Hotel Sahid dan menyuruhku lekas pergi, tapi sudahlah. Ini lebih baik dari pada tak pulang sama sekali, bukan? Sepertinya sudah sekitar sepuluh menit aku turun dari sedan itu dan berpisah dengan mereka.

Rasanya agak aneh, mengitari stasiun ini tanpa perkakas kotak hitam yang biasa kubawa. Aku kembali ke sini tentu bukan untuk mencari barang bekas atau pun mencari pelanggan, hanya saja, mungkin lebih aman pulang lewat rel seperti biasa dari pada bertemu dengan kerumunan yang sempat mengejarku. Selama aku pergi, kira-kira apa yang sudah terjadi di jalan raya sana? Tentu aku ingat saat orang serba hitam itu yang menembak kepala pria berkemeja putih yang mengejarku. Ah, sudahlah, lagi pula pria itu memang sudah tewas di tempat, toh bukan aku yang membunuhnya tapi orang itu. Jika ada yang mau disalahkan, salahkan orang berkemeja hitam itu saja, bukan aku. Tapi mengenai hal-hal yang sempat dibicarakan kedua orang tadi, apa benar pelanggan terakhirku memang sedang terlibat hal yang berbahaya? Tapi hal macam apa itu?.

"Ndra? Mau ke mana?"

Buyar sudah lamunanku mendengarnya, kucoba menoleh ke asal suara, tentu sosok berseragam putih itu sudah tak asing lagi bagiku. Dari beberapa orang yang lalu-lalang di hadapanku, hanya sosok ini yang melempar senyum padaku.

"Mau pulang, Pak," balasku singkat pada Satpam Stasiun ini.

"Memangnya kamu dari mana?" tanyanya yang masih tersenyum.

"Ya, habis cari koran bekas, Pak, di dekat-dekat sini doang," jawabku seadanya.

"Oh, memangnya dapat banyak? Setahu bapak sih sekitar sini jarang, Ndra," sahutnya kembali.

Berlalu langkahku tanpa membalasnya, sekilas jam dinding itu pun terasa melirikku. Pukul 12.40 WIB Siang, yang benar saja? Jadi aku sudah bersama mereka selama dua jam?. Segera kupercepat langkahku mendekati peron stasiun. Mungkin ini yang dinamakan rasa waswas, perbincangan terakhir mereka memang membuatku sedikit cemas, ingin rasanya diriku cepat-cepat pulang dan melupakan kejar-kejaran tadi pagi.

Lagi pula siapa sebenarnya dua orang dalam mobil tadi? Aku tak mengenal dan tak mengetahui ada hubungan apa mereka dengan bapak itu?. Tapi setidaknya dari pertemuanku, aku menyadari ada sesuatu yang sedang mereka cari, atau mungkin sesuatu yang sedang diperebutkan ya? Entahlah, satu-satunya yang ku ketahui adalah nama pelanggan terakhirku di sore itu, Bagus Subrata. Tapi siapa orang ini? Aku juga tak mengenal dan tak tahu apa-apa tentang dia, yang kutahu dia hanya bapak-bapak ramah yang mengenakan jam tangan emas.

Garis polisi yang sempat dipasang di jalur enam kini sudah tak terlihat lagi, kenapa? Apa sudah selesai? Tunggu dulu, dari tadi aku juga tak melihat kereta yang sempat diperiksa oleh polisi itu, ke mana perginya? Apa pembunuhnya sudah tertangkap ya? Ah, apakah memang secepat itu? Sudahlah, bukan urusanku, yang penting saat ini harus pulang dulu. Ya, seperti ini, teruslah berjalan ke utara dan jangan sampai terlibat lagi dengan hal-hal yang berbahaya. Mungkin aku akan tidur sejenak dan kembali mencari barang bekas nanti sore, atau mungkin tidak usah ya? Sudahlah, putuskan nanti saja.

Semakin menjauh dari stasiun, tak ada siapa pun di sini saat kucoba menengok ke belakang, tentu saja! Ini seperti hari-hari biasa yang kulalui sendiri untuk pulang. Membosankan, rasanya aku ingin kembali bersekolah, atau ini hanya pikiranku yang mulai lelah dengan peristiwa beruntun yang kualami? Belum lagi tadi pagi aku hanya dapat pelanggan satu orang, malas sekali mengingatnya.

SRRAAKKK...SRAAKKK...

"Hei!"

Seruku terkejut kala sebuah tangan menyibak rimbun semak dari tepian tak begitu jauh tempatku berdiri. Tentu aku bisa melihatnya dengan jelas, seringainya yang tajam dan wajah sangar itu, tunggu! Itu orang berjaket merah yang mengejarku tadi pagi! Bisa kurasakan mataku melebar dengan sendirinya.

"Em on, Lei Ho'ma?"

Apa yang sedang dia bicarakan ini? Aku sama sekali tak mengerti!. Seringainya tambah melebar seraya menampakkan sosoknya yang semakin jelas sekarang, meski ia berganti pakaian tapi tak salah lagi, ini memang dia!. Kini berhadapan diriku dengan sosok garangnya di antara rel, sial, ini waktunya memutar langkah sekarang.

BRUUKKK!

"Ah! Apa lagi ini?" pekikku serasa terpental.

Baru saja kuputar posisi dan mulai berlari, terasa sesuatu yang besar tengah berada di belakangku. Sejak kapan? Saat kubuka mata seraya menyaksikan apa yang baru saja kutabrak? Sesuatu yang kutakutkan benar-benar terjadi. Mereka masih mengejarku! Orang-orang ini adalah kerumunan tadi pagi, empat orang sedang mengepungku dari belakang. Kulihat yang berbadan agak gendut itu maju dengan senyum anehnya, tidak! Jauhkan tanganmu, kenapa orang-orang ini malah mengincarku? Sebisa mungkin kucoba menangkis tangannya seraya berdiri.

"Mo Man Thai,"

Ucapnya sembari mengambil pistol dari balik celananya, empat orang lainnya pun melakukan hal yang sama, bisa kulihat ke mana arah bidikan pistolnya. Tanpa basa-basi lagi, ketiga orang dewasa itu tiba-tiba menyeretku bersamaan layaknya sebuah benda, sakit rasanya saat salah satu tangan itu menjambak rambutku dengan kencang. Jika bukan karena bidikan pistol itu aku pasti sudah lari ke seberang rel.

Masih kudengar mereka berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti, yang ku pahami hanya tawa-tawa kegirangan mereka yang masih bergelak, kegirangan bagaikan menemukan apa yang mereka cari. Mulai keluar dari celah di antara semak ini membuatku tersadar, mobil pick up itu agaknya memang disiapkan untuk membawaku, bisa kurasakan seemakin erat pula cengkeraman di kedua tanganku.

"Lepaskan! Kalian mau membawaku ke mana?

Bentakku masih mencoba meloloskan diri, serasa diriku tak dihiraukan, mereka masih asyik mengobrol tanpa menggubrisku. Kurasakan ujung pistol mulai menempel di kepala belakangku, orang ini mendorongku masuk dalam mobil tersebut. Apa aku akan mati sekarang? Ini buruk! Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Lagi-lagi harus masuk dalam mobil.

Cklak!

Pintu ditutup dengan dua orang di kanan kiriku yang menggenggam pistolnya masing-masing, mulai dinyalakan. Kulempar pandanganku ke samping, bisa kulihat tiga orang lainnya berlalu meninggalkanku bersama dua orang asing ini.

"Sebenarnya aku mau di bawa ke mana?" tanyaku bersamaan dengan pick up yang perlahan mulai melaju.

"Um' ganyew," ucap rekannya pada teman di sampingnya yang sempat melirikku.

Balasan yang sama sekali tak kuharapkan karena memang aku tak mengerti. Sebenarnya siapa orang-orang yang berbicara aneh ini? Semacam geng?. Kulihat salah satu dari mereka tampak gelisah mengawasi jalan raya, entah apa yang di pikirkan orang ini? Yang pasti, mobil ini semakin mengarah ke utara meninggalkan Stasiun Gubeng, akan ke mana mereka membawaku sekarang? Tak cukupkah tadi pagi kita kejar-kejaran? Sial, meski mereka lengah tetap saja mereka bersenjata, akan berbahaya jika aku kabur tanpa rencana. Untuk sementara mungkin tak ada pilihan lain, diam agaknya lebih baik.

Semakin cepat saja pick up ini melaju, tak terhitung berapa kendaraan yang sudah tersalip?. Tunggu, bukankah jalan ini mengarah ke Pasar Gembong Tebasan? Ah, apa yang kupikirkan? Sekarang bukan saatnya untuk itu. Sejenak kupandangi ramai lalu lalang di hadapanku sembari memikirkan rencana kabur, di depan sana sudah perempatan, kira-kira mobil ini akan lurus atau belok?.

CIIIITTTT!

Tepat lampu merah, roda ini tak lagi melaju karena Si Pengemudi mengerem mobilnya, pasti mereka akan mengambil jalan lurus tanpa berbelok setelah ini. Terasa semakin jauh saja aku dari rumah, kenapa malah begini? Kenapa malah aku yang mengalami ini?.

WWWRRRRR!

Bisa kulihat ada mobil lagi yang baru sampai tepat di seberangku, sedan hitam itu tampaknya tak sabar ingin segera berlalu dari sana. Pengemudinya pasti orang yang tak tahu tata krama, bagaimana mungkin ia menggeber knalpotnya berulang kali saat lampu masih merah?. Tanpa sadar aku menghela nafas pelan saat menyaksikan aksinya, sedan hitam ini...

Eh? Sedan hitam? Sekali lagi kupandangi lekat-lekat mobil itu untuk memastikan, dari posisi kami yang berhadap-hadapan ini memang tak salah lagi jika, itu sedan yang kunaiki pagi tadi! Kenapa aku tak menyadarinya?.

Tik!

WWWWRRRR!

Baru saja aku hendak berteriak padanya, dia sudah melesat menembus perempatan ini tepat saat lampu hijau menyala. Seharusnya aku lebih cepat menyadarinya, akan ke mana sedan itu pergi? Apa aku memang tak bisa selamat dari orang-orang ini?. Bisa kurasakan pick up ini yang mulai bergerak maju, pandanganku masih enggan berpaling dari kaca belakang, tentu bisa kusaksikan sedan hitam itu yang tampak semakin mengecil. Semakin jauh meninggalkanku; bagaimana sekarang? Masih bertanya-tanya diriku yang tak tahu akan bagaimana lagi setelah ini? Kedua orang ini pun sekilas melirikku dengan tajam kala aku masih memandangi kaca belakang.