Download Chereads APP
Chereads App StoreGoogle Play
Chereads

P-Paket Tanpa Pengirim

đŸ‡źđŸ‡©NurNur
--
chs / week
--
NOT RATINGS
1.9k
Views
Synopsis
Sebuah paket tanpa pengirim yang telah memakan korban dan membuat masyarakat resah. Tim khusus kembali dibentuk namun dengan tambahan satu anggota baru. Bisakah mereka memecahkan kasus sebelum batas waktu yang diberikan? (Masih satu series dengan Serial Killer)
VIEW MORE

Chapter 1 - [»°×] Monster 01

"Sebuah paket tanpa pengirim kembali berulah. Kali ini nyaris memakan korban anak berusia 6 dan 7 tahun. Sosialisasi agar tidak menerima dan membuka paket mencurigakan tanpa nama pengirim pun semakin gencar dilakukan."

"Meski selama ini pengiriman tidak pernah dilakukan dengan melibatkan jasa pengiriman secara langsung, para pekerja dibidang itu diminta tetap waspada dan memastikan lebih dulu keamanan barang yang diterimanya dari pengirim ..."

Seorang pembaca berita sedang menyampaikan pembaharuan informasi terbaru. Tapi belum lagi informasi disampaikan secara menyeluruh, si pemegang remot memindah saluran. Berkali-kali. Lagi. Sampai ia menemukan sesuatu yang ingin ditontonnya. Saluran no.27 yang bercerita mengenai segala hal yang bersangkutan dengan dunia hewan.

Meski informasi yang disampaikan merupakan berita terbaru, si pemegang remot tidak peduli dan tidak tertarik sama sekali mendengar kelanjutannya. Pemberitaan yang selama beberapa hari ini menghebohkan kotanya, yang menjadi bahan pembicaraan di mana-mana, menjadi teror yang menebar kecemasan, tetap sama sekali tidak menggugah minatnya.

Sifat acuhnya benar-benar sudah berada di level akut. Tidak bisa tertolong lagi.

Hari masih pagi. Di jam-jam seperti ini seharusnya anak seusianya berada di sekolah, bersiap mengikuti pelajaran. Tapi yang dilakukannya hanya bersantai di depan televisi, dan dengan malas menjangkau menggunakan kakinya stoples berisi penuh snack dengan perasa jagung bakar.

Sebenarnya ia bangun lebih pagi dari hari-hari sebelumnya. Mandi pagi seperti biasa, bertingkah sibuk dalam kamar. Begitu mendengar ibunya ke luar rumah untuk bekerja, ia keluar dari kamarnya, menutup kembali jendela dan gorden yang sudah dibuka Ibu sebelumnya, dan berbaring malas di sofa ruang tamu dengan hanya mengandalkan penerangan dari cahaya televisi. Tidak ada hal lain yang dilakukannya, tidak juga merasa kurang sehat, atau sedang bersembunyi bak seorang narapidana yang baru kabur dari penjara. Yang dilakukannya hanya bersantai, bermalas-malasan. Sesuatu yang diangganya lebih penting dan lebih menyenangkan dibanding pergi ke sekolah.

"El, buka pintunya!" Suara gedor pintu dan panggilan dari seseorang di balik pintu terdengar bersamaan.

Mengenali pemilik suara di balik pintu, anak yang dipanggil dengan nama El seketika melompat berdiri dari sofa. Bergegas membuka pintu.

"Kakak datang! Tumben pagi-pagi," serunya girang, kemudian bergelayut manja di lengan seorang wanita yang berumur terpaut cukup jauh dengannya untuk dipanggil dengan sebutan kakak. Sang kakak tersenyum, kemudian dengan cepat tangannya bergerak menarik telinga El. Cukup kuat. El hanya bisa meringis menahan sakit.

"Kamu bolos lagi ?!"

"Enggak bolos. Perutku sakit. Tamu bulanan Kak, sakit sekali," kilah El membela diri.

"Minggu lalu waktu bolos kamu juga bilang begitu. Sekarang tamu bulanan datang setiap minggu ya, setiap hari selasa ?!"

"Enggak. Itu ... berarti yang minggu lalu bohong, yang hari ini benar."

"Masih mau bohong?" sang kakak menambah kuat jewerannya. El semakin keras memekik. Kali ini bukan hanya telinganya yang merah, bahkan wajahnya juga ikut memerah kesakitan.

"Iya, iya maaf."

"Jadi, kenapa tamu bulananmu mendadak pindah jam tayang tiap minggu, tiap hari selasa ?" Sang kakak melepaskan jewerannya dan meminta penjelasan. Menanyakan alasan El membolos. Barangkali masuk akal sehingga bisa ia maklumi. Atau barangkali ada masalah yang tidak bisa El selesaikan sendiri.

"Sebenarnya aku flu, Kak. Pusing." El mulai dengan kebohongan yang lain. Ia bahkan berpura-pura batuk.

"Masih bohong?!" Sang kakak yang mulai geram mengayunkan tangannya dengan cepat. Namun kali ini El bisa bergerak lebih gesit. Melindungi telinganya dan menjaga jarak. Mundur menjauh.

"Iya, iya enggak. Ampun." El tidak berencana memberontak. "Kakak, 'kan tahu aku benci bahasa inggis. Harus mengahapal kosa kata, belajar cara ngomong yang benar, latihan. Itu ribet. Negara kita sudah dijajah produk-produk impor, masak mau dijajah bahasa impor juga."

"Sekarang pintar ya buat alasan. Cepat siap-siap dan pergi sekolah!!"

"Tapi Kak, aku sudah terlambat."

"Kakak antar, jadi cepat! Kalau masih banyak alasan juga, kamu kutenggelamkan di sungai Amazon, mau?!" ancam sang Kakak yang mulai habis kesabaran. Ia memasang ekspresi semenakutkan mungkin. Ekpresi yang akan membuat El berpikir dua kali untuk membuka mulutnya, untuk mencari-cari alasan.

El sengaja berlama-lama di kamar, mengulur-ulur waktu. Membuat kakaknya lagi-lagi berteriak mengancam, menggedor-gedor pintu kamarnya.

Setelah bersiap-siap selama 20 menit, El keluar dari kamar dengan seragam putih biru lengkap dengan ransel yang menempel di punggungnya. Taburan bedak disapukan tipis ke wajahnya, rambut diikat karet gelang tinggi. Poninya yang panjang, dibiarkan jatuh dan diselipkan di belakang daun telinga. Bibirnya yang merah alami tanpa pemulas sengaja dimonyong-monyongkan untuk memperlihatkan moodnya yang sedang buruk. Tetap tidak ingin pergi ke sekolah dengan alasan apa pun.

Bagi sang Kakak, sekolah bukan mengenai mood, tapi rutinitas yang memang harus dilalui para pelajar. Jadi, tidak ada toleransi. Tidak akan ia biarkan El mengemukakan alasan konyol untuk membolos.

"Benar enggak mau diantar ngomong ke gurumu?"

"Aduh, kak. Aku bukan anak TK lagi."

"Pokoknya awas, ya, kalau sampai bolos!" Sang kakak yang masih belum yakin mengacungkan tinjunya sebagai ancaman.

"Siap, bos. Enggak berani lagi." El bergidik, seolah benar-benar takut. Tapi siapa yang tidak tahu sifatnya yang keras kepala dan sesukanya. El adalah tipe yang tidak bisa diatur. Dan satu-satunya pedal rem adalah sang Kakak.

"El!" panggil sang kakak sebelum El memasuki gerbang sekolah yang sudah ditutup. "Selamat ulang tahun. Sore nanti Kakak traktir. Ajak teman-temanmu, ya."

"Teman?" El menggulang. "Ah, enggak perlu. Mereka mana suka ritual perayaan klasik begitu. Paling juga mereka nodong makan siang gratis di kantin. Waktu pulang sekolah sepakat buat rencana masukkin aku ke kolam rawa di belakang sekolah. Seperti waktu orentasi."

"Ya sudah. kita aja kalau begitu."

Setelah kesepakatan dibuat, keduanya berpisah. Senyum El merekah lebar. Ia melenggang dengan langkah ringan menuju gerbang sekolah.

Ada banyak hal yang El tidak sukai dan lebih banyak lagi hal-hal yang bisa merusak moodnya. Satu-satunya hal baik yang bisa memperbaiki suasana hatinya dengan cepat adalah sang Kakak.

Bagi El kakaknya bukan sekadar Kakak. Sekali lagi umur mereka terpaut cukup jauh sehingga jelas mereka tidak diikat oleh darah yang sama. Meski tidak memiliki ikatan yang berasal dari darah yang sama, El tetap menyukai sang Kakak. Sangat suka, melebihi apa dan siapa pun. Suka yang tidak seperti cinta yang harus menikah dan hidup bersama ...

Ah, mungkin hidup bersama dalam satu rumah dan bisa tetap dekat adalah sesuatu yang El sukai. Yang jelas itu bukan seperti perasaan yang intim. Yang seperti apa besar gejolaknya dan seberapa dalam, hanya El yang tahu batasnya.

Begitu gerbang dibuka dan poin keterlambatan diterima, El digiring oleh satpam penjaga sekolah untuk menghadap guru piket.

Di ruang guru El dihadapkan pada seorang guru pria berkacamata yang memiliki tatapan sayu dan suara lembut. Ceramah rohani yang didengar El, membuatnya menguap berkali-kali. Mendadak kembali rindu pada kasur yang baru ditinggalkan. Juga pada guling yang selalu setia dalam pelukan saat malam.

Setelah menghabiskan waktu bermenit-menit lamanya, El akhirnya mendapat persetujuan untuk masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran yang sudah hampir pada tahap akhir. Yang murid-muridnya tengah menghening cipta. Sibuk memikirkan jawaban dari soal latihan yang diberikan.

El sebenarnya anak yang jenius. Untuk beberapa pelajaran nilai-nilainya paling menonjol. Seperti mata pelajaran hitungan, teori, kesenian, dan olahraga. Meski bahasa inggrisnya buruk dan berantakan, nilainya tidak berada diurutan paling bontot. Anehnya, ia selalu bisa lulus dengan nilai ulangan yang mentok pada standar kelulusan yang sudah ditetapkan. Memang tidak patut dibanggakan, tapi itu keberuntungannya.

"El, tugas kelompok Biologi kapan bisa kita dikerjakan?" Anisa, teman sebangku El bertanya dengan nada berbisik.

"Tugas kelompok?" El balik bertanya. Ia yang sebelumnya hanya bertopang dagu sembari memainkan pulpen hitam ditangannya, menatap lawan bicaranya.

"Tugas dari Bu Mis minggu lalu."

"Oh. Aku bisa kerjain sendiri," katanya menanggapi.

El kembali memalingkan wajahnya dengan acuh tak acuh. Kembali memainkan pulpen hitam di tangannya. Bedanya kini El tidak lagi menatap ujung papan putih yang ada depan, tidak membiarkan angan-angannya melambung jauh. Ia mulai serius, memikirkan jawaban dari soal-soal latihan yang belum satupun ia temukan jawabannya.

"Kenapa?"

"Kenapa? Karena aku benci orang yang enggak aku suka bertingkah sok akrab." El menjawab dingin tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.

"15 menit lagi! Yang sudah selesai bisa kumpulkan bukunya di depan." Guru bahasa inggris mengingatkan. Suaranya keras dan serak.

Anisa masih terbengong. Ini bukan pertama kalinya El bersikap dingin dan sinis padanya, dan sikap El memang selalu seperti itu. Juga bukan hanya terhadap dirinya. Teman-teman yang lain juga. Anisa tidak pernah mengerti apa salahnya atau kenapa El bersikap seperti itu. Tanpa sebab. El tidak menyukai semua orang tanpa alasan yang jelas.

Sifat El yang tidak bersahabat, membuatnya tidak disukai. Tapi, meski tidak disukai dan tidak memiliki seorang teman, ia tetap tidak merasa terganggu. Sebaliknya, ia justru menyukai ketenangannya.

Dengan Kakak kelas pun ia pernah terlibat masalah ketika di belakang sekolah. Saat itu jam istirahat. Adu fisik. Berkelahi yang benar-benar membuat keduanya dipenuhi memar. El memiliki fisik yang kuat dan kemampuan membalas yang tak tertandingi dengan tubuh rampingnya. Kelebihannya itu membuatnya ke luar sebagai pemenang.

Setelah hari itu dan berita menyebar ke seluruh sekolah, tidak ada lagi anak perempuan yang berani mencoba beradu fisik dengannya. Membiarkan saja sikap sinis dan dinginnya yang menyebalkan.

...