Chereads / Verlangen / Chapter 3 - #1 Hidup Di Dunia Yang Berbeda 2

Chapter 3 - #1 Hidup Di Dunia Yang Berbeda 2

Baru beberapa detik berlalu sejak Grim memejamkan matanya, tiba tiba Grim dapat mendengar suara seorang wanita. Suara yang lembut dan juga dapat menenangkan seseorang yang sedang diselimuti oleh amarah, meski bukan sebuah nyanyian namun suara itu sendiri terdengar bagaikan sebuah lagu tidur.

Pada awalnya Grim Hical merasa kalau suara itu hanyalah sebuah ilusi dan dia tetap menutup matanya, bagaimanapun suara itu terlalu merdu untuk dapat didengar oleh seorang pendosa miliknya. Setelah beberapa saat kemudian dia kembali dapat mendengar suara wanita itu dan menanyakan hal yang sama.

Pada akhirnya Grim tidak memiliki pilihan selain melihat kearah suara itu berasal, Grim secara perlahan mulai membuka matanya dan langsung duduk. Grim sedikit terkejut dengan apa yang dia lihat, seorang perempuan dengan tubuh seperti anak remaja berusia 14 tahun melihat kearahnya.

Perempuan itu melihat dirinya dengan sebuah senyuman kecil, meski tubuh perempuan itu terlihat seperti anak remaja namun entah kenapa Grim merasan sebuah kharisma yang kuat dari perempuan itu.

Sebuah kharisma yang menunjukkan kalau dia adalah sebuah Keberadaan yang tidak memiliki tandingan, sebuah kharisma yang belum pernah Grim rasakan semasa dia masih hidup dulu.

Tidak hanya itu perempuan itu juga memiliki daya tarik yang cukup besar, bukan daya tarik sebagai lawan jenis melainkan sebuah daya tarik yang membuat Grim merasa sangat tenang ketika berada didekatnya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, apa kau berniat tidur disini?"

Perempuan itu bertanya dengan sangat lembut, bagaimanapun dia tidak terlihat seperti marah kepada Grim melainkan dia terlihat seperti seorang ibu yang memberikan sebuah perhatian kepada anaknya.

"Itu memang yang ingin kulakukan, apa mungkin tidak boleh?"

"Bukannya tidak boleh hanya saja ini bukanlah tempat yang bagus untuk mahluk hidup seperti dirimu."

"Kurasa ini adalah tempat yang bagus untuk diriku, dan ngomong ngomong dimana aku berada saat ini?"

"Ini adalah rumah ku."

"Rumah?"

Grim Hical sedikit binggung dengan apa yang perempuan itu katakan, tidak peduli bagaimana dia melihatnya Grim Hical sama sekali tidak dapat melihat sebuah rumah disekitar sini. Tidak peduli sejauh apa Mata memandang dia hanya dapat asap yang terlihat seperti awan sedang berkumpul.

"Kenapa? Apa menurutmu ini adalah tempat yang buruk untuk dapat disebut sebagai rumah?"

"Tidak, ini adalah tempat yang bagus."

Grim memang tidak dapat melihat rumah disekitar sini dan dia juga tidak mengerti mengapa perempuan itu menyebut kalau tempat ini adalah rumahnya. Namun meski begitu pandangan Grim mengenai tempat ini masihlah sama, baginya ini adalah sebuah tempat yang cukup bagus.

Sebuah tempat yang tenang dan sepi, sebuah tempat dimana dia tidak akan lagi dapat melihat mayat yang berserakan atau darah yang terus mengalir. Ini adalah sebuah tempat yang sangat cocok untuk seorang yang tidak sempurna seperti dirinya.

"ini baru pertama kalinya ada yang mengatakan kalau ini adalah tempat yang bagus."

"Apa berarti ada yang pernah datang kesini sebelumnya?"

Dari perkataan perempuan itu Grim jadi menyadari kalau dia bukanlah yang pertama kalinya datang ketempat ini, dan dari semua orang yang telah datang ketempat ini dirinya adalah yang pertama kali mengatakan kalau rumah perempuan itu bagus.

"Memang ada yang datang kesini beberapa kali, hanya saja lupakan hal itu. Yang lebih penting saat ini adalah dirimu."

Perempuan itu lalu berjalan menuju kearah Grim yang masih terduduk itu, perempuan itu lalu mengulurkan tangan kanannya dan memegang pipi Grim Hical.

"Betapa malangnya dirimu, sudah terlahir dengan tidak sempurna bahkan kau mati dengan cara yang begitu mengenaskan."

Mata perempuan itu terlihat berkaca-kaca, dari mata itu terlihat dengan jelas kalau dia sedang mengasihani Grim. Seperti seseorang yang menyayangi anaknya, perempuan itu lalu mengelus elus pipi Grim.

Dimata perempuan itu cara mati Grim Hical adalah sesuatu yang sangat buruk, meski dia ingin membantu Grim, tetapi dia tidak dapat melakukannya. Meski begitu Bagi perempuan itu setidaknya saat ini dia dapat memanjakan Grim.

Grim tidak tau mengapa perempuan itu mengasihi dirinya, namun dia tidak memiliki alasan untuk menolak elusan dari perempuan itu. Lagi pula Grim merasakan sebuah kenyamanan dari elusan itu, perasaan itu jauh lebih baik dari pada rasa nyaman yang dia rasakan saat hidup dulu.

Meski begitu Grim tidak ingin dirinya terus terhanyut oleh rasa nyaman itu, masih ada beberapa hal Grim ingin ketahui.

"Apa yang anda maksud tidak sempurna?"

Meski Grim ingin mengetahui identitas perempuan itu, saat ini yang lebih penting adalah alasan mengapa perempuan itu mengatakan kalau dirinya terlahir dengan tidak sempurna.

Dalam pikiran Grim Hical dia bertanya tanya, bukankah manusia memang tidak sempurna? Lalu mengapa perempuan itu mengatakan kalau dirinya terlahir tidak sempurna, lagi pula tidak ada manusia yang terlahir dengan sempurna.

"Apa kau merasa sedih?" Tanya perempuan itu dengan halus

Grim hanya diam, itu adalah sebuah pertanyaan yang simpel namun entah kenapa Grim merasa kalau dirinya sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan itu.

"Kau tidak pernah merasakannya bukan?"

Perempuan itu hanya tersenyum, bahkan tanpa Grim menjawabnya perempuan itu telah mengetahui jawabannya. Perempuan itu juga sedikit mengerti mengapa Grim tidak ingin menjawab pertanyaan itu, sejak dulu dirinya tidak pernah merasa sedih sedikitpun.

Karena hal itu Grim biasanya orang orang pada takut kepadanya dan menjauhinya, meski begitu Grim sama sekali tidak peduli dengan cara orang memperlakukan dirinya.

Dia sama sekali tidak peduli meski dirinya tidak pernah merasa sedih sedikitpun, hanya saja terkadang Grim ingin mengetahui bagaimana rasa sedih itu. Grim ingin mengetahui apa arti dari sebuah kesedihan, dia telah menanyakan kepada beberapa orang arti dari sebuah kesedihan namun semua orang itu tidak menjawab apa yang dia tanyakan.

Pada akhirnya tidak ada yang menjawab apa yang Grim tanyakan hingga akhirnya perang dunia pertama pecah, melihat perang yang sedang terjadi itu, Grim merasa ini adalah sebuah kesempatan untuk dirinya.

Jika tidak ada yang ingin memberitahunya arti dari kesedihan maka dia akan mencari taunya sendiri, dengan pemikiran seperti itu Grim mengambil posisi jendral tertinggi. Posisi itu memiliki tanggung jawab memegang ratusan ribu bahkan jutaan nyawa Manusia.

Dengan jumlah nyawa sebanyak itu Grim berharap kalau dirinya dapat mengerti arti dari sebuah kesedihan. Namun pada akhirnya apa yang dia lakukan itu sama sekali tidak berguna, meski ada lebih dari 1 juta nyawa manusia yang mati karena dirinya Grim tetap saja tidak mengerti arti dari sebuah kesedihan.

Pada akhirnya Grim menyerah untuk mencari tau arti dari sebuah kesedihan, pada saat itu sebuah kesempatan yang lain muncul untuk dirinya. Setelah kekalahan kerajaannya dalam perperangan pihak sekutu menginginkan nyawa dirinya, Grim tanpa ragu menyetujui permintaan itu.