Nathan berjalan sambil melihat-lihat sekelilingnya. Dia sangat senang ketika melihat sesuatu yang baru pertama kali dilihatnya.
Akademi ini melebihi ekspektasinya. Sebelumnya Nathan mengira kalau akademi itu akan terlihat seperti bangunan-bangunan eropa pada abad pertengahan. Tapi yang dilihatnya adalah bangunan modern yang terlihat lebih baik dari bangunan modern di bumi.
Akademi awakener memiliki lahan yang cukup luas. Ukurannya bisa dibandingkan dengan sebuah kota kecil. Di sana ada banyak rumah dan apartemen yang memiliki gaya bangunan yang sama. Setiap bangunan di sana memiliki fungsinya tersendiri.
Banyaknya bangunan rumah di sana menandakan begitu banyaknya murid awakener yang ada. Rumah-rumah di sana dikhususkan untuk menjadi tempat tinggal bagi para murid.
Dan Nathan saat ini sedang menuju ketempat beristirahatnya. Dia terus melangkahkan kakinya untuk menuju rumah yang sudah disediakan untuknya.
Ketika dia terus melangkahkan kakinya sambil melihat-lihat sekitarnya, dia langsung menghentikan langkahnya ketika telinganya mendengar sesuatu.
"... Suara apa itu? Itu datang dari sana, ya"
Matanya tertuju kesebuah bangunan yang sangat besar. Itu sebuah bangunan yang terlihat seperti stadion sepakbola. Dari dalam sana, Nathan mampu mendengar sebuah suara yang membuatnya tertarik untuk melihatnya.
Penasaran yang dirasakannya, membuat dia langsung bergegas menuju arah suaranya. Setiap langkah yang diambilnya semakin lama semakin cepat. Dan ketika dia sudah agak dekat dengan bangunannya, Nathan langsung melompat.
Stepー
Lompatannya begitu tinggi dan dia meninggalkan jejak angin dengan lompatannya.
Setelah sampai di atas gedung itu, Nathan langsung mendekat ke pinggirannya. Untuk melihat siapa yang membuat suara yang didengarnya itu.
" ....Haaa!! ....Heeepp!! ...
Hyaaa!!!"
Di lapangan tempat latihan itu, seorang gadis muda sedang mengayunkan pedangnya.
Dia gadis cantik dengan kulit putih bersih dan rambut blonde yang diikat. Dengan memakai baju tank top hitam, kulitnya yang halus meneteskan setiap keringat ditubuhnya.
Ayunan demi ayunan dia melepaskannya dengan begitu indah. Menusuk, menebas dan serangan ganda yang berputar. Dia dengan leluasa mengayunkan pedangnya di tengah lapangan yang kosong.
Setiap dia mengayunkan pedangnya, rambutnya yang diikat menjadi terombang-ambing dan memperlihatkan sebuah simbol tiga pedang di tengkuk lehernya.
" Gaya berpedang yang familiar... Dan simbol yang dilehernya itu... Aku seperti pernah melihatnya.."
Nathan memperhatikannya di atas gedungnya. Meskipun jarak dirinya dan gadis itu lumayan jauh, tapi Nathan mampu melihat ke setiap celah dikulit gadis itu dengan jelas.
" Hmm...?"
Gadis itu menyadarinya, dia sadar kalau dirinya sedang diperhatikan. Tapi dia tak tau dimana letak orang yang memperhatikannya. Melihat sekelilingnya tidak ada siapa-siapa, dia terkejut ketika melihat ada bayangan seseorang tidak jauh dari bayangannya berada. Menyadari itu dia langsung melihat ke arah atas.
' siapa orang itu...?'
Matanya tak bisa melihat dengan jelas siapa yang memperhatikannya itu. Karena jaraknya terlalu jauh, gadis itu jadi tak bisa melihat wajah Nathan dengan jelas. Pandangannya juga terganggu karena sinar dari mataharinya.
" Tak peduli siapa dia. Karena dia telah berani mengintip ku, akan ku beri dia pelajaran!"
Gadis itu memgang pedangnya dengan erat dan dia memasang kuda-kudanya. Pedang yang sejajar dengan matanya yang menjadi tajam, dia mengambil nafas dalam-dalam.
" Sepertinya aku telah menggangunya... Sebaiknya aku cepat-cepat pergi dari sini... Hmm..?"
Nathan menyadarinya kalau dia telah ditemukan. Tentunya niatan Nathan sebelumnya hanya untuk melihat saja karena rasa penasarannya. Dia tak berniat untuk mengganggu seseorang yang sedang berlatih. Tapi, dilihat bagaimanapun dengan matanya, gadis yang diperhatikannya bersiap melancarkan serangan yang mengarah kepadanya.
" Terima ini dasar tukang ngintip!"
> Ebellin twin swords ー The eagle's claws
Bilah-bilah pedang keluar sekaligus ketika gadis itu mengayunkan pedangnya. Ketiga bilah pedang itu dengan cepat mengarah langsung kepada Nathan yang berada di atas gedung. Semakin jauh jarak yang ditempuhnya, semakin membesar pula bilahnya.
' meskipun serangan barusan sangat mematikan. Tapi aku telah mengurangi kekuatannya. Setidaknya dia tak akan mati. Luka berat yang akan dialaminya adalah kesalahannya karena telah mengintip ku berlatih.'
Dengan percaya diri, gadis itu sangat yakin kalau serangannya akan membuat suatu luka yang cukup parah bila terkena ke targetnya. Bagiamana tidak, dia selalu melakukan latihan yang cukup keras untuk memperkuat dirinya. Dia selalu melatih setiap skill dan kemampuan yang dimilikinya. Kepercayaan dirinya itu adalah bukti dari kerja kerasnya.
Melihat ada bilah-bilah yang mengarah kepadanya. Nathan sedikit terdiam. Dia sedikit terkejut karena serangan yang mengarah kepadanya adalah serangan yang sangat familiar baginya.
" Apa gadis itu berasal dari keluarga itu..?"
Meskipun bilah-bilah pedang itu sudah ada dihadapannya, Nathan terlihat sangat tenang. Dia hanya menebak-nebak asal-usul dari gadis itu.
Ketika ketiga bilah itu akan menyentuh dirinya, Nathan dengan santai menepis ketiga bilah itu sekaligus.
Bomm!
Ketiga bilah itu langsung berbelok alah dan mengarah ke sisi gedungnya. Meskipun ada sebuah ledakan yang terjadi, tapi bangunan yang dihantamnya terlihat baik-baik saja.
" Ha?!"
Melihat serangannya yang ditepis begitu saja, gadis itu hanya terkejut dan terdiam. Dia tak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Serangannya yang selalu dilatihnya setiap hari, bisa ditepis begitu mudah oleh Nathan.
" Apa gadis itu cucunya orang itu ya...? Hmm... Yah, terserahlah. Lebih baik aku cepat-cepat pergi ke rumah baru ku. Aku ingin makan makanan yang ku beli tadi."