Aarav menggigit ujung bibir hingga berdarah. Jantungnya berdetak semakin kencang diikuti keringat dingin mengucur semakin deras. Tidak pernah terpikirkan oleh Aarav hingga saat ini, jika mengatakan sebuah kebenaran akan sangat sulit dilakukan.
"Rivan ... dia telah ... Rivan telah tenang di alam sana," ucap Aarav menundukkan kepala. Meskipun terasa berat dan menyesakkan, Revan harus mengetahui kenyataan tersebut dari mulut Aarav sendiri. "Maafkan aku, Revan. Maafkan aku! Aku sungguh meminta maaf kepadamu!"
Tangis haru pecah ketika Aarav mengatakan permintaan maaf. Revan telah menyuruhnya agar tetap berada di sisi Rivan, sementara dia akan menghadapi Vamor seorang diri. Namun, Aarav justru melanggar janji tersebut dan datang untuk menyelamatkan Revan.