Chereads / Bangkit Menjadi Kaiju Hunter / Chapter 6 - Chapter 1.2 - Malam Tak Berujung

Chapter 6 - Chapter 1.2 - Malam Tak Berujung

Aku berjalan terseok-seok sambil memegang perut kiri yang begitu sakit. Bukan karena mendapatkan penyakit asam lambung, melainkan hasil tendangan anak mami itu yang begitu menyakitkan.

Sesekali merintih kesakitan, lalu menghentikan langkah kaki, aku menengadah melihat langit yang sudah gelap.

Degupan jantung menjadi tidak karuan. Di zaman yang dimana manusia hidup berdampingan dengan monster yang bernama Kaijuu, saat malam akan menjadi sangat menyulitkan bagi manusia.

Terutama pada saat berada di luar. Tidak pernah merasa tenang ketika berjalan di taman, maupun pekarangan rumah sekaligus.

Aku membuang napas dengan kasar dan menggerutu yang entah apa aku ucapkan.

"Kali ini pasti dimarahi olehnya."

Seseorang yang sedang ku bicarakan ini adalah pria sarkas dengan tatapan sinisnya setiap saat jika aku berada di rumah sakit.

Dan tujuanku saat ini ialah tempat dimana manusia berobat– rumah sakit.

Aku menundukkan pandangan. Menatap ujung kemeja yang sangat kumal. Bekas sepatu ada di kemejaku, aku tidak tahu seperti apa reaksi ibu kali ini.

Ku coba untuk kembali melangkah, tidak lupa untuk menarik nafas dengan baik, tapi yang kudapati lagi-lagi denyutan yang luar biasa pada ulu hatiku.

Aku geram. Marah pada mereka, tapi tak bisa kulampiaskan karena terlalu lemah.

Seandainya aku memiliki kekuatan … tapi tidak ingin dikatakan sebagai monster.

"Ha! Bicara apa aku ini?"

Akhirnya pun aku menertawakan diri sendiri pada ketidakberdayaan.

Kembali ku langkahkan kaki sambil terseok-seok dan tidak peduli dengan beberapa pasang mata orang yang tergesa-gesa berjalan menuju jalan pulang.

Berharap bahwa aku sampai ke rumah sakit tempat saudaraku berada, aku terhenti dengan napas tersengal.

Sebelah tanganku yang penuh dengan luka goresan memegang tembok yang ada di samping, lalu aku membuang napas dengan kasar.

Tujuanku satu.

Membuat dia kerepotan, dibanding ibu yang di rumah.

Aku mengangkat tanganku. Memperlihatkan telapak kiri yang terluka. Ku kepalkan dengan erat, tidak terasa lagi sakitnya.

"Tidak mungkin aku pulang dengan keadaan seperti ini," gumamku.

Pakaian yang kotor saja sudah cukup membuat ibu khawatir, apalagi melihat penampilanku yang babak belur.

Terus melangkah membuat kakiku terasa kebas. Bahkan, ini seperti sedang berjalan di atas awan.

Aku tidak peduli. Langit telah sangat gelap dan sebentar lagi bunyi sirine pergantian jam akan terdengar. Sedangkan aku masih berada di luar dengan langkah kaki yang kecil.

Sempat rasanya aku ingin berhenti, atau meminta pertolongan pada orang lain, tapi tak ada yang memperlihatkan wajah ingin menolong mereka.

Orang-orang yang berlalu lalang memilih untuk membuang muka, lalu berjalan cepat agar bisa terlepas dari sekitaranku.

Mobil-mobil yang lewat melesat dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan aku yang sesekali terduduk untuk mengatur napas agar tetap membaik.

Gedung yang menjulang tinggi membuat napasku tersengal. Degupan jantung tidak karuan dan bahkan ada rasa cemas yang tidak dapat diungkapkan seperti apa rasanya. Terlalu takut– bagaimana jika zona merah tiba dan monster datang untuk memakanku?

Haruto sialan, aku tidak akan memaafkan dia jika aku mati.

Tanah yang saat ini aku pijaki terasa tidak asing bagiku.

Aku menengadah. Menatap tempat yang saat ini aku pijaki.

Syukurlah.

Mungkin ini kekuatan orang yang telah tersakiti.

Tulisan kapital yang berwarna merah terpajang di atas pintu kaca yang besar. Bertuliskan IGD dan terlihat alat-alat yang tidak ku ketahui namanya meskipun telah dijelaskan oleh saudaraku itu.

Perasaan lega muncul di dalam hatiku. Meskipun aku mendengus, kupaksakan kaki untuk melangkah mendekati lantai keramik.

Namun, tubuhku terlalu banyak mengeluarkan darah, hingga aku sempoyongan dan berhasil mencium lantai rumah sakit dengan wajah datar.

Teriakan orang-orang yang ada di dalam ruang IGD terdengar jelas di pendengaranku. Lalu, langkah kaki segera mendekatiku.

Kepalaku begitu pusing setelah jatuh; bukan karena jatuhnya, tapi mau taruh dimana wajah ini?

Secara perlahan, pandanganku menjadi kabur, lalu sekarang telah menghitam.

Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, karena suara orang-orang di rumah sakit sudah tidak terdengar lagi olehku.

[]

"Shinzou! Shinzou!"

Anak kecil itu membuka matanya. Melihat ke sekitar dan bunga dandelion berada di mana-mana.

Manik matanya seolah berbinar melihat tempat yang indah dan terang. Sangat berbeda dengan kehidupannya saat ini.

Tunggu! Tunggu!

Anak kecil yang bernama Shinku?!

Aku menggerakkan tangan, menatap tangan mungil yang sedang aku gerakkan.

Aku mengedarkan pandangan dan lagi-lagi mendapati ladang dandelion yang tak berpenghujung dengan langit biru yang cerah.

Ku ketahui bahwa ini hanyalah mimpi, tapi ini begitu aneh karena bertolak belakang dengan kehidupanku yang suram.

Yah, kalau mati, setidaknya aku bisa tenang di sini.

Namun … hei! Tidak kusangka ada wahana di alam bawah sadar ini.

Seperti keinginan otakku, kakiku melangkah mendekati wahana tersebut. Namun, semakin dekat, wahana yang ternyata siluet tersebut terlihat semakin jelas.

Langkah kakiku kian melambat. Dengan tubuh mungil ini, aku melihat roller coaster yang tinggi menjulang dan berliku-liku.

Ludah kucoba untuk ditelan. Tidak terasa sama sekali, bahkan yang seharusnya ada degupan jantung juga tidak kurasakan.

Kucoba untuk mendekat. Rasa penasaran akan melihat wahana roller coaster semakin tinggi, namun–

GROAA!!!

Aku terperanjat kaget melihat roller coaster yang tinggi menjulang itu tiba-tiba berubah menjadi dinosaurus– uh .. T-Rex?

Apa-apaan mimpi ini!?

Respon tubuhku bergerak berbalik dan berlari menjauhi hewan purba yang buas tersebut.

"Apa-apaan ini!? Mimpi apa ini!?"

Oh, aku bisa berbicara di mimpi ini.

Dengan linangan air mata, aku berlari secara dramatis.

Persetan dengan itu semua! Mimpi random macam apa ini!?

Aku terus berlari menjauh dari kejaran hewan purba itu. Sesekali merinding mendengar suara geraman dari hewan tersebut, aku merutuk pada otakku sendiri.

Hingga, ketika aku berlari dengan mata tertutup, entah mengapa aku berhenti lalu membuka mataku. Secara perlahan aku menengadah ketika melihat bayangan besar menutupi cahaya.

Aku melihat ke atas, dan mataku membulat.

Monster ada di depanku dengan mulut besar yang seperti akan robek.

"A–"

[]

Mataku terbelalak kaget dan keringat bercucur deras membanjiri wajahku. Degupan jantung tidak karuan hingga membuat napasku tidak teratur, aku melihat langit-langit yang berwarna putih.

'Mimpi apaan itu tadi!?'

Tidak habis pikir dengan mimpi barusan. Terasa begitu aneh, bahkan cukup mengerikan.

Tanganku bergerak menutup kepala. Mengusap kepala yang tiba-tiba sakit karena terbangun secara mendadak.

"Mungkin ini yang mereka sebut sebagai trauma," gumamku.

Kujauhkan tanganku dari wajah karena mencium aroma karbol begitu kentara. Aku menatap sekitar. Mengedarkan pandangan, lalu mendapati alat-alat yang cukup membuatku paham sedang berada diriku ini; ditambah lagi dengan benda yang ditancap di punggung tanganku dan mengalir suatu cairan dari selang tersebut.

Aku bangun dari tidurku. Terdengar suara ranjang tempat tidur berderit dan aku menunduk melihat apa yang ada di bawah.

"Shinzou Hirokazu!"

Deg!

Suara pria yang kukenal terdengar begitu tegas dan tajam.

Hampir saja membuatku jatuh dari ranjang rumah sakit yang keras ini, aku memegang pinggirannya dengan erat.

"Y– Ya!?"

Aku menegakkan tubuh, tapi kudapati rasa sakit yang luar biasa dari ulu hatiku.

"Tidak bisakah kau tidak sakit sehari saja, bodoh!?"

Dan sekarang, saatnya menerima caci makian dari orang sarkas ini.