Chereads / The Lyminael: Tyra and Noah / Chapter 27 - Rekaman CCTV Apartemen

Chapter 27 - Rekaman CCTV Apartemen

Tyra membuka pintu mobil depan Eric usai membuat pria itu menunggu setengah jam lebih. Eric sih sudah terbiasa, pun salahnya mendadak ingin menjemput. Maklum, Eric masih saja khawatir usai Tyra kembali dari rumah sakit tanpa diopname.

"Apa Kau sudah sarapan pagi ini?" tanya Eric sembari fokus ke jalan raya. Tyra menggeleng cengengesan, "Belum, hehe. Salahmu mendadak sekali, Aku padahal ingin berangkat sendiri tadi."

Eric hanya bisa geleng-geleng kepala, kemudian mengubah arah laju mobil ke kanan, yang Tyra ketahui tujuannya adalah restoran cepat saji, drive thru, "Mulai sekarang Aku akan mengantar dan menjemputmu, jangan mengeyel," peringatnya.

"Kau kira Aku menyewamu sebagai supir pribadi? Tidak perlu repot-repot, Ric."

"Jangan keras kepala, Aku tahu Kau menghilang usai rombongan jurnalis dan paparazzi mengejarmu di pelataran apartemen. Apa Aku salah?"

Tyra tak menjawab. Bukan takut, Ia malah kembali dengan si pria berambut ikal sebahu; Noah, Noah Clodio. Dimana dia sekarang? Batinnya bertanya.

"Hey? Kenapa Kau melamun?" tegur Eric, membuat Tyra terperangah sedikit. "Kau ingin makan apa pagi-pagi seperti ini? Nasi? Roti?"

Tyra tampak berpikir, "Cintamu saja bagaimana?"

Eric berdecak sebal, sekaligus salah tingkah, "Aku memberikannya cuma-cuma untukmu setiap hari, tidak perlu membeli ..." ujarnya menurunkan kaca jendela mobil, "Selamat pagi, Kami ingin membeli dua porsi sarapan dengan nasi dan kopi ... lalu pie ..."

Tyra tersenyum-senyum di tempatnya melihat tingkah Eric seperti itu. Lucu, bisa saja mengalihkan rasa malunya dengan keren.

"Mengapa Kau tersenyum begitu?"

"Tidak boleh?"

Eric menggeleng, "Tolong tanggung jawab jika glukosa darahku meningkat karenamu," ujarnya, terdengar ketus, membuat Tyra malah memeluk lengannya bergelayutan, "Kita harus seperti ini setiap hari."

Eric tersenyum simpul, mencium sekilas pipi kekasih manjanya itu, "Aku harap Kau selalu bahagia dan baik-baik saja. Jangan seperti kemarin, dan hadapi saja masalahmu lain kali, karena Aku pasti membantumu," ujarnya perhatian. Tyra hanya mengangguk-ngangguk, sedikit menyesal meski Ia pun tak 'sengaja' menghilang satu bulan.

****

"Oh, dia kembali? Kukira Ia telah sepenuhnya resign setelah satu bulan tak kelihatan ..."

"Tidak mungkin, koneksinya langsung pada Direktur Utama, Kau kira mudah?"

"Orang yang berkuasa memang terkadang tidak punya malu ..."

"Dira si model baru bahkan sampai dikeluarkan untuk kenyamanannya, luar biasa sekali dia ..."

Kalimat-kalimat menusuk bernada perundungan tersembunyi seperti itu didengar jelas oleh Tyra dibalik pintu pantry. Ah, salahnya juga berani keluar ruangan untuk sekedar membuat kopi, padahal Eric sudah berpesan padanya untuk diam saja di ruangan karena pembicaraan seperti itu pasti muncul dan menyerangnya.

Tyra lantas mempercepat aktivitasnya dibalik mesin kopi, hingga seseorang membuka pintu, "Elleanor? Sejak kapan Kau kembali?"

Rupanya Varischa, gadis itu dengan akrab memeluk Tyra singkat khas teman wanita, "Aku khawatir padamu, karena hari itu ... seharusnya Aku bisa ... menemanimu bertemu dua orang itu ..."

Tyra tersenyum simpul, "Terimakasih, Varischa. Tidak masalah, sangat baik karena Kau tak terlibat. Aku membuat kekacauan besar disini."

"Sudahlah, Elleanor. Sebaiknya Kita kembali bekerja untuk project selanjutnya."

"Ah ya, Eric mengatakan Kau mengambil alih pekerjaanku selama Aku tidak ada. Benarkah? Wah, Aku sangat berterimakasih padamu, Varischa," ujar Tyra heboh, lalu membuatkan satu lagi kopi, "Ngomong-ngomong Kau suka minum apa? Latte? Americano? Biar kubuatkan ..."

"Oh? Biar Aku saja ..."

"Sudahlah, anggap Aku berterimakasih dengan sederhana."

Varischa hanya tersenyum, "Baiklah, buatkan saja americano."

"Baiklah. Tapi sungguh Aku tidak enak denganmu, Kau pasti bekerja sangat keras karena Aku, bukan?" sesal Tyra.

Varischa duduk di kursi dekat meja disana, "Tidak juga, mungkin Aku juga harus berterimakasih karena berkesempatan menangani proyek besar saat Aku masih berstatus karyawan baru disini. Banyak hal yang juga kupelajari dari perencanaanmu yang sangat matang dan detil."

"Syukurlah kalau begitu ..." Tyra membawakan americano panas dan latte untuk mereka, "Silakan diminum."

"Terimakasih. Hm, tapi bolehkah Aku bertanya?"

"Tentu saja."

Varischa menyesap minumannya terlebih dahulu, "Saat Kau hilang, Aku diminta Eric dan Pak Alsy untuk memeriksa rekaman CCTV di sekitar unit dan komplek apartemenmu, dan ... Aku menemukan Kau bersama seorang pria di taman ..."

Tyra melirik Varischa cepat, meski tak mengatakan apapun.

"Lalu ... Kau berlari dengannya ke satu arah, dan ... Kau menghilang setelahnya."

"Me-menghilang? Menghilang yang ..."

"Benar-benar menghilang. Ada CCTV taman disana, yang menyorot ke arah kalian pergi. Hal yang membuatku heran adalah ..." Varischa mengerutkan dahinya, membuat Tyra was-was. "Aku benar-benar melihat kalian ada dalam rekaman CCTV itu disana, tapi ... dalam hitungan detik Kau dan pria itu menghilang begitu saja, benar-benar menghilang layaknya video itu telah disunting seseorang," lanjutnya.

Tyra memejamkan matanya sejenak, rupanya ada yang melihat.

"Apa yang terjadi? Aku yakin tidak salah periksa ..."

"Apa hasil pemeriksaan CCTV itu Kau beritahukan pada Eric atau Pak Alsy?"

Varischa menggeleng, "Tidak, Aku tidak berani menambah kepanikan mereka saat itu. Mereka sangat khawatir, terutama Eric. Mungkin Kau tahu, Ia tak pernah absen barang sehari untuk datang memeriksa apartemenmu meski Kau tak ada."

Tyra menghela nafasnya lega, "Ya, bagus, memang sebaiknya seperti itu," ujarnya, menyesap lattenya kemudian.

"Kau tidak ingin ... menceritakannya padaku?" tanya Varischa, sejatinya sudah hampir mati penasaran sejak hari pemeriksaan itu.

Tyra tampak berpikir, Ia sendiri tak bisa menganggap apa yang dialaminya bersama pria itu adalah hal masuk akal, "Aku ..."

"Tidak yakin dengan apa yang terjadi, semua itu ... diluar nalar," jawab Tyra seadanya, ganti Varischa yang berpikir, "Kau tahu? Aku melakukan riset internet kenapa seseorang bisa menghilang, dan ... seperti yang Kau katakan, itu tak masuk akal."

Tyra meneguk salivanya sendiri, "A-apa yang Kau temukan? Apakah sesuatu tentang ... tele ... portasi?"

"Itu dia. Tapi apakah Kau memang percaya, atau memiliki kemampuan seperti itu, atau sekedar ... tak sengaja mengalaminya?"

Tyra menggeleng, pandangannya kosong, pikirannya berputar acak, mengingat kembali rentetan peristiwa aneh mulai dari kecelakaan sampai dengan penemuan benda bercahaya biru misterius kemarin, "Aku tidak mengerti, dan kurasa ... ketiganya memungkinkan."