Renee masih berbaring di bawahnya dan mencoba untuk tidak membiarkan rasa takut menyerang inderanya. Ia tidak bisa berpura-pura menjadi korban di sini, atau menangis karena pemerkosaan, karena sudah jelas bagi Robert, bahwa mereka sudah melakukannya bersama sepanjang proses. Seratus persen, bersama dengannya.
Ya Tuhan, Renee bahkan tidak bisa menyalahkan Robert atas semua ini. Sejak hari pertama, Renee sudah tergila-gila. pria itu begitu menarik, begitu memikat, pria yang begitu maskulin. Ia melakukan sesuatu padanya, menekan sesuatu kedalam dirinya, dan ia tidak bisa mengontrolnya. Renee sudah bersumpah pada dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan membuat hal ini mudah bagi pria itu, dan disinilah ia, telanjang dibawahnya lagi.
Kenyataan itu mengguncang dirinya. Ia mulai mendorong tubuh Robert sebagai upaya melepaskan dirinya sendiri. Ia butuh ruang. Ruang untuk berpikir. Kebingungan mencengkram dirinya, dan ia mendorong lebih keras lagi tubuh itu.
Robert merasa sikap Renne berubah, dari tenang kemudian mendorong panik tubuhnya. "Hei, diamlah sebentar. Kau sudah memberiku kesulitan membuatku harus memakai kondom ini, aku tahu kau tak ingin ada kecelakaan di sini,"
Renne menegang. "Apa maksudnya itu?"
Robert merasa dirinya mulai membesar lagi karena gerakan wanita itu. "Bukan apa-apa. Bukan sesuatu yang buruk. Tapi diamlah." Perlahan-lahan ia menarik diri darinya, menarik kondom itu keluar bersamanya. Ia memutar tubuh besarnya, dan meraih tisu dari meja samping tempat tidur, dan melepaskannya.
"Selesai. Senang sekarang?" Pertanyaan singkat Robert mengikis perasaannya. Renee tersentak menjauh darinya.
"Ya. Bagus," ia menarik ujung selimut keatas tubuhnya, menutupi tubuh telanjangnya dari pandangan Robert.
Robert memandangnya dengan tatapan gelap yang sulit dipahami. "Kau membuang-buang waktumu. Aku sudah melihat semuanya," suaranya datar, tanpa emosi.
Sebuah ketegangan yang baru menyerang tubuhnya ketika Robert terus mengawasinya. Kupu-kupu dalam perutnya beterbangan ketika Robert mengulurkan tangannya dan mencengkram selimut diantara payudaranya, dan menariknya.
Renee memegangnya erat-erat.
"Lepaskan," Robert bisa saja dengan mudah menarik selimut itu darinya, tapi ia ingin Renee sendiri yang menyerah, dan melepaskannya.
Renee menggelengkan kepalanya dan terus bertahan. "Renee. Sweetheart. Kau tidak berpikir bahwa keadaan ini bisa ditarik mundur, kan?" Ia melepaskan cengkramannya dan menyentuh tulang selangkanya yang terbuka. Jarinya bergerak maju mundur. "Ini sudah terjadi. Dan ini akan terus terjadi. Kau harus memahami hal itu." Tangannya bergerak kebelakang lehernya dan membawa mulut Renee untuk bertemu miliknya sendiri.
Ia menciumnya dengan lembut, begitu tak terduga. Begitu berbeda dengan apa yang sudah ia tunjukan pada Renee malam tadi. Pikiran Renee melayang ketika Robert menyentuhnya. Sebuah kelemahan yang berbahaya menyerang sistemnya. Matanya tertutup dan tubuhnya bergetar ketika ia merasa tegukan ringan tersedot dari mulutnya. Bibirnya bergerak ke pipi Renee, naik ke dahinya, kemudian ketelinganya.
Nafasnya tersenggal. Perlahan-lahan tangannya melepaskan cengkramannya pada selimut itu, dan bergerak melingkari kepala Robert.
*****
Robert tahu saat ini Renee sudah menyerahkan dirinya, dan darahnya mengalir deras ke pangkal pahanya, mengeraskan miliknya sepenuhnya lagi. Matanya terbuka, dan mulutnya bergerak turun kepayudaranya, Renee masih memakai bra berendanya yang menggiurkan, dan kilatan nafsu yang murni menghantamnya.
Robert meletakan kepalanya di payudara Renee, dan menghisap putingnya dengan mulutnya. Ia menusukan lidahnya. Rasa manis tubuhnya menjalar ke kepala Robert seperti wiski. Ia memindahkan mulutnya ke payudara Renee yang penuh dan lembut dan mulai menghisap, bemaksud untuk memberi tanda kepemilikan pada dirinya. Ia terus menerus menghisap dengan kuat sampai tubuh Renee mulai bergetar dibawahnya.
Tanpa melepaskan Ambrosia (makanan dewa mitologi Yunani) dari mulutnya, ia mulai bergerak ke antara paha wanita itu dan mendorong kakinya terbuka.
Renee tersadar dari gairah yang mencengkramnya ketika ia merasa Robert mulai mendorong masuk ke dalam dirinya. Dengan panik ia berusaha menjauh darinya. Ia benar-benar merasa panik ketika Robert mencengkram kedua pergelangan tangannya dan menempatkannya diatas kepalanya sendiri. Renee membuka matanya, dan menatap wajah maskulinnya tampan yang begitu panas.
Bibirnya ditarik menempel kegiginya, dan setetes keringat menetes dari tulang pipinya. Kekuatan terpancar dari dirinya. Renee harus menerobos sifat dominasinya. "Berhenti. Robert. Berhenti."
Robert tidak menunjukan tanda-tanda kalau ia mendengarnya, atau akan berhenti dan Renee mulai melawan. Ia menarik pergelangan tangannya dan memperketat tubuhnya melawan Robert. "Berhenti. Ambil kondom. Ya Tuhan. Robert. Berhenti." Ia meneriakan kata-kata terakhirnya.
Robert tersadar dari kabut nafsunya dan cukup untuk memahami kata-katanya. Amarah sekali lagi merobek dirinya dan ia kesal pada kebutuhannya untuk menahan diri. Ia sepenuhnya tersentak dalam kesadaran oleh tubuh kaku dibawahnya, dan wajahnya benar-benar berpaling. Robert melepaskan tubuhnya dari Renee, dan berdiri di samping ranjang.
Sialan! Dia telah melakukan hal itu lagi. Merasakannya lagi. Kebutuhan untuk melakukan tanpa kondom dengannya adalah sebuah hal yang tidak bisa dikuasainya. Begitu mendasar. Bodoh. Apa yang salah dengan dirinya? Ia tidak pernah bercinta tanpa pelindung. Bahkan ia menolak untuk berpikir tentang hal itu. Dan sekarang, disinilah ia, merasa putus asa untuk merasakan ketelanjangan Renee. Robert ingin telanjang di dalam dirinya, terhadap dirinya.
Robert menunduk, menatap sosok Renee yang berbaring tak berdaya, tangannya bergerak untuk menutupi wajahnya. Mata Robert menatap tubuhnya. Lebam berwarna ungu yang gelap menutupi payudara kanannya.
Robert merasakan tendangan pada perutnya ketika ia melihat kerusakan yang telah ia lakukan padanya. Dan mengapa ia melakukannya. Robert hanya ingin memberi tanda padanya. Mengecap sebagai miliknya. Menidurinya tanpa pelindung. Pemikiran itu seharusnya menenangkannya, namun nyatanya tidak. Hal itu hanya menambah provokasi pada dirinya.
Ia berbalik dan memasangkan kondom yang lain, kembali mengikuti keinginan Renee. Tapi tidak akan lama lagi.
Waktunya akan tiba.
*****
Lima minggu telah berlalu.
Renee terlempar kedalam pusaran pola aktivitas yang terdiri dari hubungan pekerjaan dan seksual. Ia tidak bisa melawan Robert tentang hal ini, karena sesungguhnya ia sendiri tidak bisa melawan dirinya sendiri.
Hari-harinya dihabiskan untuk mempelajari hal-hal kecil dari pekerjaan yang dipindahtugaskan oleh Mrs. Argenot padanya. Sebagian besar malamnya dihabiskan di rumah Robert.
Minggu pertama adalah minggu yang terjal. Membuatnya menggunakan kondom selalu menjadi pertengkaran sengit diantara mereka. Alasannya adalah bahwa ia bersih, begitu pula dirinya, jadi mengapa harus menggunakannya? Robert hanya akan terdiam murung ketika Renee mengungkit tentang kehamilan, dan Renee memiliki perasaan tidak enak, bahwa sebenarnya Robert tidak peduli jika ia hamil atau tidak. Akhirnya, selama pertikaian sengit tentang menggunakan kondom itu, Renee menemukan alasannya. Ini sesederhana alasan mengapa terjadi banyak sekali kehamilan yang tidak direncanakan di dunia ini. Robert tidak ingin memakainya. Ia ingin merasakan seluruh tubuhnya. Itu tidak ada hubungannya dengan pro kontra dari alat kontrasepsi. Ini semua lebih mendasar dari pada hal itu. lebih primitif. Sisi kebinatangan. Robert membenci apapun yang memisahkan mereka.
Setelah perdebatan yang sangat mengerikan, akhirnya Renee pergi ke dokter dan meminum pil. Ia tidak pernah bermasalah dengan meminum pil sebelumnya, dan jika memang mereka berniat untuk menjalin sebuah hubungan, ia pikir ini adalah jalan terbaik. Tapi Renee tidak suka menggunakan istilah berhubungan atau istilah lain dengannya. Jadi ia tidak menggunakannya. Ia hanya meminum pil, dan ketika ia aman, ia mengatakan kepadanya.
Hubungan mereka mulai membaik sejak saat itu. Seks yang fantastik, dan Renee masih mengingat saat pertama kali Robert mendorong masuk kedalam dirinya tanpa penghalang apapun. Saat itu sangat hingar bingar, gila, dan cepat.
*****
Dan, Ya Tuhan, semuanya semakin terasa lebih baik dan lebih baik lagi.
Pil KB itu sudah menenangkan Robert, atau lebih tepatnya, ketidakharusannya menggunakan kondom sudah menenangkannya. Memang tidak menenangkannya secara keseluruhan, tapi setidaknya sebagian darinya. Ia menjadi lebih santai, dan menikmati setiap aspek dari permainan cinta mereka.
Robert juga tidak pernah mengungkit lagi agar Renee berhenti dari pekerjaannya. Renee tidak beranggapan bahwa Robert lupa akan hal itu, tapi itu bukanlah prioritasnya lagi. Kebutuhan seksualnya sudah terpenuhi, dan hari-hari di kantornya menjadi lebih stabil.
Sampai suatu hari James Cameron berjalan ke kantornya.
"Hai Cantik," senyuman dan keangkuhannya tentu akan menjadi sebuah ekstasi untuk seorang wanita beruntung suatu hari nanti, tapi dia bukan wanita itu.
Renee balas tersenyum. "Hai, bagaimana kabarmu James?" Ia mendekati mejanya, membungkuk dan melepaskan senyum yang menawannya memancar.
"Hampa tanpa dirimu, sweetheart." Ia mengedipkan matanya pada Renee.
"Benarkah. Apakah kau pikir kata-kata itu akan berhasil?" Senyumannya menular, dan Renee balas tersenyum kearahnya.
"Kau akan terkejut, Renee. Walaupun Thebodeaux mengalahkanku kali ini, katakan saja bahwa aku tidak datang di saat yang tepat. Bahkan, aku sudah terpikat pada wanita bartender kecil…"
Tiba-tiba pintu terbanting dengan kasar dan Robert masuk ke dalam ruangan. Renee mendongkak dan melihat kerutan mengancam muncul di wajahnya.
Robert berjalan diantara mereka. ia membanting folder manila kepada James dan berkata. "Itu dokumen yang kau perlukan. Sekarang keluar." James tertawa.
"Demi Tuhan, Thibodeaux. Bagaimana kau bisa terus ada dalam bisnis ini jika kau selalu memperlakukan klienmu seperti kau memperlakukanku?"
Robert berusaha untuk mengendalikan dirinya ketika James terus mencacinya. "Kau sangat beruntung karena aku adalah orang yang sangat santai, atau mungkin aku sudah lama tidak memakai jasamu sejak dulu. Kenapa kau tidak meniikahinya saja, sehingga kau bisa mengendalikan kecenderungan sifat membunuhmu? Mungkin dengan begitu kau tidak akan merasa takut seseorang akan mencurinya darimu. Ikatlah ia bersamamu, Man," James melirik folder itu dan mengangguk puas dengan apa yang ia lihat disana. Kemudian ia memandang Renee.
"Semoga beruntung dengan yang satu ini. Aku akan menemuimu sekitar enam minggu lagi," ia berbalik dan meninggalkan gedung itu.
Renee menatap Robert. Ia mengawasinya dengan ekspresi tertegun di wajahnya. Akhirnya ia berkata. "Aku harus melakukan hal itu,"
Renee merasa jantungnya menyumbat tenggorokannya ketika ia menatap Robert. Ia mendengar batuk kecil dari lorong dan mereka berdua berbalik untuk melihat wajah Mrs. Argenot yang tersenyum mengatakan, "Ya, sayang, mengapa kau tidak menikahinya? Itulah mengapa aku menyewanya untukmu. Sungguh sulit menemukan wanita yang tepat untukmu. Aku harap kau menghargai seluruh kerja kerasku anak muda."
Wajah Robert perlahan berubah dari frustasi menjadi ekspresi puas. Ia tersenyum ketika menjawab pernyataan sekretaris lamanya. "Ya, Ma'am. Akan kulakukan."