Selasa sore, Mrs. Argenot berjalan keluar dari kantor Robert dengan tangan penuh.
"Aku akan pergi ke kantor pengadilan, Renee. Aku harus memasukkan formulir ini untuk mendapatkan berkas izin, dan mengambil salinan peta datar untuk jemaah gereja La Fourche. Setelah itu, aku akan ada di kantor penilai wilayah. Kau akan menjaga kantor selama sisa hari ini."
"Tak masalah. Siang ini tak banyak janji temu kecuali dengan Cameron Industrial Supplies. Yang lainnya adalah bisnis seperti biasa. Hati-hati diluar sana."
Renee benar benar menyukai wanita yang lebih tua itu. Mrs. Argenot mengutamakan bisnis dengan balutan keibuan diluarnya. Menyenangkan sekali bekerja dengannya hari demi hari.
Mrs. Argenot berhenti sebentar dalam perjalannya ke pintu dengan pandangan penuh perhitungan. "Oh, James Cameron yang itu! Kau belum pernah bertemu dengannya, kan? Perusahaan ini telah membangun 2 gudang miliknya. Konsultasi ini cuma formalitas saja. Kita akan mendapatkan tendernya." Ia memelankan suaranya. "Ia seorang pria yang baik, Renee. Ia single, sayang. Ia membayar tagihannya dalam tiga puluh hari. Dan juga sangat tampan. Kau harus mengatakan padaku apa yang kau pikirkan tentangnya besok."
Mrs. Argenot memberinya senyum penuh konspirasi dan berlalu dari kantor.
*****
Pada pukul tiga sore, Renee mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas kerja di mejanya kepada pria yang masuk dari luar. Ia langsung paham apa maksud Mrs. Argenot. pria itu tinggi, besar dan amat sangat tampan, meskipun agak muda. Ia punya rambut coklat dengan lapisan keemasan. Renee langsung menekan perbandingannya ke dalam tempat gelap sekuat baja dalam pikirannya dan fokus pada pekerjaannya.
"Anda pasti Mr. Cameron." Renee memberi James Cameron senyum teramah miliknya.
"Dan kau pasti sekretaris baru yang terus diocehkan terus menerus oleh Mrs. Argenot." Ia berjalan menyeberangi ruangan dan mengulurkan tangannya ke arah Renee.
Renee mendengar bunyi klik pelan di belakangnya ketika ia berdiri dan berjabat tangan dengan James Cameron. "Ya. Saya Renee Guillot." Renee menahan senyumnya ketika James Cameron terus memegang tangannya.
"Tolong panggil aku James. Kita akan sering bertemu. Karena sekarang aku sudah bertemu denganmu, kupikir aku tidak akan menghabiskan waktuku dengan mencari tender-tender lainnya." Renee merasa James mempererat jabatan tangannya. Jika otaknya belum terpikat dengan Robert Thibodeaux, Renee tahu ia akan menikmati sentuhan tangan James.
James memutuskan kontak matanya dengan Renee saat mendengar suara yang datang dari seberang ruangan.
Robert berdiri dan memandang tidak suka pada kami di depan pintu kantornya. Renee merasakan efek provokatif Robert padanya setiap kali Renee berada dalam jarak pandangnya.
Robert mengamati keduanya. Ketegangan mencengkeram Renee. Akhirnya Robert bicara.
"Cameron. Senang bertemu denganmu. Kalau kau bisa melepaskan tangan sekretarisku untuk sementara waktu, kita bisa mengurus masalah bisnis."
Pelan pelan James melepaskan tangan Renee dan mengikuti Robert ke dalam kantornya.
*****
Hampir dua jam kemudian, Renee sedang membersihkan mejanya ketika kedua pria itu keluar dari pertemuannya. Mereka berjabat tangan dan James Cameron melihat kearahnya, mengangguk, dan meninggalkan gedung.
Robert berdiri dengan tangannya menyilang, melotot ke arah Renee. Detak jantung Renee berpacu ketika Robert mendatanginya. Robert menyeberang ke belakang meja tempat Renee duduk dan meletakkan tangannya di kedua lengan kursi Renee dan memenjara dia pada posisinya.
Nafas Renee menggila. Matanya terpaku pada Robert.
"Jangan bermain-main dengan klienku lagi." Kata-katanya tajam, penuh penekanan.
Renee menarik nafas dan mulai menggelengkan kepalanya untuk menyangkal. Empat-puluh-tujuh-hari-lagi. "Aku tidak—"
"Bohong. Aku melihatmu. Aku tidak butuh bantuanmu untuk melancarkan bisnisku. Cukup kau kerjakan pekerjaanmu dan simpan senyum kecil manismu itu untuk dirimu sendiri." Pegangan tangannya mengencang di kursi hingga memutih. Kemarahan memancar dari Robert. Robert Terlalu marah pada Renee untuk mendengarkan alasannya.
Renee mengangguk menyetujui.
*****
Robert berdiri di bawah pancuran air dingin dan mencoba menahan emosi liar yang menghampirinya. Harinya sudah dekat. Cameron brengsek itu melihat Renee seolah-olah ia mengira-ngira Renee di tempat tidurnya. Senyum balasan Renee pada Cameron. Dan nafsu serta posesif yang mengalir dalam tubuh Robert ketika Renee duduk dengan sangat kaku di lengannya.
Robert adalah bom waktu yang berdetik dan menunggu untuk meledak. Ia butuh seorang wanita di ranjangnya. Butuh seorang wanita malam ini.
Tapi hanya satu yang bisa. Dan ia belum bisa memilikinya.
Penantiannya akan membuatnya tergelincir dan melakukan sesuatu yang bodoh.
Dengan sumpah serapah yang mengalir dengan ganas, ia menyalakan air panas dan ia mengarahkan tangannya penuh sabun ke bawah dan melakukan apa yang harus dia lakukan, jadi ia akan punya kendali yang cukup untuk menghadapi Renee keesokan harinya.