*Tok Tok Tok
"Masuk!" pinta Pak Dedi.
"Pagi pak, maaf saya terlambat hari ini."
DEGG DEGG…
Hati Ririn berdegup kencang, wajahnya sedikit memerah melihat orang itu. Entah apa yang membuat hatinya tak karuan, namun seakan-akan dia melihat sesuatu yang membuatnya benar-benar kagum daripada sekolah ini.
"Datang juga akhirnya kamu Dam. Ayo perkenalkan dirimu dulu."
"Baik pak. Selamat pagi adik-adik."
"Selamat pagi kak."
"Perkenalkan, nama saya Ardham Narendra, kalian bisa panggil saya kak Adam atau kak Dam. Saya dari kelas 12 IPS 1. Saya disini akan menjadi pendamping Pak Dedi dalam mata pelajaran Sejarah selama satu semester, sekaligus perwakilan dari Kelas Mandiri Prima. Salam kenal."
"Oke kalau begitu kamu bisa duduk di bagian belakang sana," sambil menunjuk bangku disamping Sukma.
"Baik pak," jawab Ardham.
Hati Ririn semakin tak karuan, ketika mendengar Pak Dedi meminta Ardham duduk disamping Sukma.
"Kak Adam lagi Kak Adam lagi," kata Sukma dengan wajah bosan.
"Gak suka ya? Sini gantiin kakak," dengan tawa kecil di wajahnya membalas perkataan Sukma.
Triiiinggggggggg Triiiiingggggggg!!!
Bel istirahat pun berbunyi. Ririn pun langsung bertanya kepada Sukma. Semua pertanyaan yang dia simpan tadi dicurahkan.
"Ma, kamu kok tau aku bakalan dimasukkin kelas ini sama Bu Riska?" tanya Ririn dengan sedikit nada serius.
"Ohh itu… beberapa hari sebelum hari pertama masuk sekolah, Bu Riska sempat ngechat aku di Whatsapp. Dia bilang bakalan ada anak baru di kelasnya. Nah karena kebetulan, kelas ku ngga kena rolling dannnn… Bu Riska juga udah tau aku dari kelas 10, makanya aku disuruh ngajak kamu ketemu sama dia."
"Oh iya, ada satu lagi yang ingin aku tanyakan. Program Kelas Mandiri Prima itu kayak gimana sih? Aku agak bingung," tanya Ririn.
"Ya yang kaya Pak Dedi jelasin tadi. Bisa dibilang kelas unggulanlah kaya di sekolah-sekolah lain. Tapi bedanya, sekolah ini ngga mau bikin suatu kelas khusus kaya gitu, pihak sekolah gamau di cap membeda-bedakan siswa. Makanya, kelas unggulan disini cumin dibentuk kaya organisasi aja, tapi yang mengontrolnya tetap sekolah. Perekrutannya dulu agak sulit, minimal rangking 5 besar di masing-masing kelas yang boleh ikut mendaftar saja, setelah itu ada tes lagi. Setiap kelas minimal 2 perwakilan yang akan diterima, sisanya harus gugur. Nah kelas 3 yang tergabung di program itu harus ikut yang namanya 'Pengajar Samping' untuk nilai tambahan mereka besok saat ujian praktik," jelas Sukma.
"Berarti kakak yang tadi sedang ikut itu yah?"
"Iya. Btw, aku panggil tadi kok kamu agak malu noleh kebelakang yah?" tanya Sukma dengan senyum dan tatapan elangnya.
"Ehh maaf, aku agak ga denger tadi, habisnya kamu manggil aku bisik-bisik sih," jawab Ririn dengan wajah yang sedikit memerah.
"Masaaaaaa???" lagi-lagi dengan senyumnya yang menyeramkan.
"Ahh udah ah, ekspresimu seram tau." jawab Ririn dengan wajahnya yang mulai memerah.
"Tuh kan merah lagi, muehehehehe ...."
"Apaan sih Ma."
Ririn pun mulai terbiasa dengan Sukma, bahkan sudah menganggapnya sebagai teman dekatnya. Padahal baru pertama bertemu.
Tak terasa, sudah seharian Ririn disekolah. Dalam perjalanan pulang, ia masih heran karena tak menyangka akan mendapatkan hal-hal yang menyenangkan di hari pertamanya masuk sekolah. Seakan-akan ia dikendalikan oleh imajinasinya lagi.
Namun, satu hal yang membuat Ririn masih penasaran. Iya … tak lain adalah Ardham. Siswa kelas 3 yang menjadi pendamping Pak Dedi tadi. Ardham membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama.
Dia masih bingung, kenapa dirinya dengan mudah jatuh hati, apalagi pada pandangan pertama. Padahal sebelumnya, ia biasa-biasa saja ketika melihat cowok, bahkan yang terganteng sekalipun di sekolahnya yang dulu.
"Kok bisa-bisanya sih aku kaya gini?" tanya nya dalam hati.
"Cowok itu bener-bener beda banget dengan cowok yang pernah aku temui sebelumnya. Arrgggh kenapa aku jadi kepikiran gini sih!!!"
************
Keesokan harinya...
"Rin, mau ikut ke perpus ngga? Aku mau minjem buku nih," ajak Sukma
"Ohh iyaya aku ikut," jawab Ririn
Mereka pun pergi ke perpustakaan. Kebetulan, Ririn juga hobi membaca.
Disekolahnya dulu, selama jam istirahat, ia menghabiskan waktunya hanya untuk membaca buku, baik itu novel maupun buku pelajaran.
Ketika sampai di perpus…
*Drrrrt drrrt
"Bentar Rin, Hp ku getar nih."
*Chat Open
Bu Riska: "Sukma, anak-anak Kelas Prima Mandiri ini kumpul ya, kasitau anggota yang lain."
Sukma: Typing…
Sukma: "Baik bu."
*Chat Close
"Sial, kok aku lupa sih sekarang ada jadwal ngumpul."
"Ngumpul?" tanya Ririn.
"Iya nih, Bu Riska ngingetin aku kalo sekarang Kelas Mandiri Prima ada jadwal kumpul, kebetulan aku ketuanya. Aku juga disuruh ngasitau anak-anak mandiri prima yang lain nih."
"Ohh kamu ketuanya. Mmm...gapapa deh aku sendirian aja."
"Jangan gitulah. Hmmm… gimana yah…"
Tiba-tiba…
"Ahh itu dia… Oooy gus tunggu," Sukma menarik tangan Agus, ketua kelas mereka.
Agus menoleh dengan tatapan sok imutnya "Ada apa??? Sukma-chan??"
Plaakkkk Plaakkkkk
Cap 5 jari Sukma melayang ke pipi Agus.
"Gausah panggil gue chan kampret, nama gue Sukma, gaada embel-embel lagi. Mukelu kaya paci gosong gausah sok di imut-imutin yah," dengan ekspresi kesal.
"Ahh elo, ga asik lo Suk, baperan" sambil mengusap-usap pipinya yang merah.
Ririn tertawa kecil melihat kelakuan mereka berdua.
"Lu mau kemana?" tanya Sukma.
"Mmmm…mau ke perpuslah, yakali mau ngedate ame lu," jawab Agus dengan ekspresi cemberut.
"Ni anak gaada kapok-kapoknya yah, mau gue tambah pemerah pipi lu?" sambil kembali bersiap mengeluarkan cap 5 jarinya
"Ngga ngga becanda. Emangnya ada apa?" tanya agus
"Nah gitu donk. Ini nih, Bu Riska nyuruh gue ngumpul, tapi nih si Ririn gaada temennya ke perpus, lu temenin gih. Gue juga gatau sampe kapan ngumpulnya," jawab Sukma
"Ohh gitu. Kenalin gue Agus, salam kenal ya."
"Iya salam kenal," jawab Ririn.
"Yaudah lu ngumpul ajalah kalo gitu"
"Okelah, awas ya jangan di ajarin yang ngga ngga anak orang," ancam Sukma ke Agus.
"Iyaya...cerewet," balas Agus.
"Ntar kalo aku belum balik, kamu sama Agus duluan aja ke kelas," kata Sukma ke Ririn.
"Iya Ma."
"Hati-hati Rin, orangnya baperan, jangan mau kalo digebet sama dia," sambil melirik ke arah Agus.
"Hahaha...iyaiya,"jawab Ririn.
"Eeeehh...Lu yang baperan taek!!" balas Agus.
"Wkwkwk...Gue cabut dulu ya" sambil berlari.
"Iyaya pergi sana!" jawab Agus.
Sukma pun meninggalkan Agus dan Ririn.
Ketika mereka masuk ke perpustakaan, Agus menjelaskan tata cara meminjam buku di perpus.
Memang, perpustakaan disana berbeda dengan perpustakaan pada umumnya, karena disana petugas piketnya adalah siswa juga. Perpustakaan disana memiliki organisasinya sendiri yang selalu dipantau oleh guru pembinanya.
"Permisi."
"Iya kak ada yang bisa dibantu?" tanya petugas piket.
"Ini mau minjem buku tutor Bahasa Jepangnya untuk kelas 10 ada?" kata Agus.
"Bentar ya kak."
"Eh, lu mau minjem buku apaan Rin?" tanya agus .
"Mmm… novel aja."
"Yaudah sekalian sama novelnya."
"Ok, tunggu bentar ya."
Sembari menunggu petugas piket mencarikan tempat buku yang ingin dia pinjam, Agus juga menjelaskan tata tertib di perpustakaan ini.
"Nah kaya gitu caranya Rin kalo lu mau pinjem buku disini. Kalo biasanya kan kita sendiri tuh yang langsung cari, tapi kalo disini petugasnya yang nyariin di komputer. Kalo tata tertibnya ya sama aja kaya di perpustakaan sekolah lain."
"Hmm…cara minjemnya beda banget ya sama disekolah ku dulu," jawab Ririn
"Taulah sekolahnya kaya gini."
Petugas piket pun memberitahu tempat buku yang dicari Agus.
"Ahh bukunya ada di lorong di kiri sana kak, kalo deretan novel ada disebelah kanan dekat tempat membaca."
"Ok makasi ya."
"Yaudah Rin, gue mau ambil bukunya dulu, ntar kalo lu dah dapet novelnya gue tunggu disini yak."
"Iya," jawab Ririn
Ririn pun pergi ke lorong tempat novel-novel diletakkan. Ia juga berencana akan membaca sebentar, sambil menunggu Agus.
Saat Ririn ingin mengambil salah satu novel, tiba-tiba seseorang mendekatinya.
Awalnya ia tak terlalu memperdulikannya, karena dia pikir mungkin orang itu akan meminjam buku. Tetapi ketika Ririn meliriknya, ternyata…
~~ Bersambung ~~