Feng Sujin yang sedari tadi memaksakan diri untuk terus berdiri sorot matanya tampak semakin suram. Begitu Song Qiuyin pergi, tubuhnya pun goyah, dia akhirnya harus berjongkok sedikit untuk memulihkan tenaganya.
Dengan firasatnya yang tajam, dia merasakan keanehan atmosfer di sekitarnya, kemudian dia menoleh untuk melihat ke depan.
Dia melihat seorang pria yang berdiri tidak jauh di depannya.
Pria itu memegang sebuah payung, sosok tubuhnya terlihat seperti lukisan di tengah kabut dan hujan, memancarkan aura yang mempesona di sekitarnya.
Pria itu berjalan ke arahnya selangkah demi selangkah, setiap gerakannya memancarkan kemuliaan dan keagungan keluarga kerajaan. Setiap langkah dari kakinya yang panjang seperti bisa menginjak hati setiap orang yang melihatnya.
Setelan jas yang dia kenakan membuat tubuhnya terlihat semakin jenjang seperti pohon Eukaliptus.
Saat pria itu mulai berjalan semakin mendekat, Feng Sujin akhirnya bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia kemudian merasa takjub sampai-sampai merasa jika waktu telah berhenti berjalan.
Paras pria itu begitu indah dan menawan, alisnya seperti lukisan tinta, sepasang mata phoenix-nya gelap namun tenang seperti air. Meskipun ada kehangatan yang tak terkatakan dari penampilan elegannya, namun auranya sangat luar biasa, seluruh tubuhnya memancarkan hawa dingin yang menakjubkan.
Dengan aura yang terpancar dari tubuhnya, pria ini punya modal yang sangat bisa untuk dibanggakan.
Feng Sujin mendongak dengan bingung, dia tidak pernah tahu sejak kapan di Kota Beiquan terdapat sosok berkelas seperti ini.
Pria itu berhenti di hadapan Feng Sujin dan mengulurkan payung ke atas kepalanya, dia lalu memberinya sehelai saputangan, "Keringkan wajahmu dari air hujan."
Suaranya yang jernih seperti mata air di pegunungan seakan bisa menyejukkan hati setiap orang yang mendengarnya.
Feng Sujin menatap saputangan di depannya, seketika jantungnya berdetak sangat kencang.
Hari ini pernikahan antara keluarga Lan dan keluarga Feng telah dibatalkan, semua orang menjauh darinya, bahkan keluarga Feng sendiri pun tidak peduli padanya.
Ketika dirinya berada dalam situasi yang sangat memalukan, tidak disangka ada orang asing yang memberinya sedikit perhatian.
Feng Sujin tahu bahwa dirinya begitu memalukan, dan dia sama sekali tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan. Dia hanya mengambil saputangan dari tangan pria itu dan berkata, "Terima kasih."
Kemudian pria itu meletakkan payung hitam yang dia bawa ke tangan Feng Sujin, "Seorang gadis harus belajar bersikap baik pada diri mereka sendiri."
Setelah mengatakannya, pria itu memasuki istana dengan dipersilakan oleh beberapa pengawal.
Feng Sujin menggenggam pegangan payung itu dan merasakan gagangnya yang sedikit hangat, seolah suhu hangat itu bisa mengalir ke hatinya melalui telapak tangannya, dan membuatnya untuk tidak putus asa akan dunia ini.
Para pengawal mengawal pria itu hingga masuk ke dalam sebuah ruangan megah yang ada di dalam istana.
Ye Xing juga ikut masuk dan menyerahkan sebuah dokumen kepada Jun Mohan, "Tuan Muda Jun, ini adalah data terbaru, silakan Anda memeriksanya. Dokumen ini memerlukan tanda tangan Anda."
Jun Mohan membuka dokumen itu dan melihatnya sekilas. Setelah memeriksa tidak ada kesalahan, tangannya yang lentik dan bagaikan giok itu mengambil sebuah pulpen dan menandatanganinya.
Ye Xing menatap Jun Mohan dan terlihat ragu-ragu sesaat, tidak tahu apakah harus berbicara atau tidak.
Mata jernih Jun Mo Han memancarkan tatapan suram, dia lalu berbicara dengan nada suaranya yang datar, "Katakan!"
Ye Xing terkejut hingga tubuhnya bergetar, "Mengapa Tuan Muda Jun membantu Nona Feng itu?"
Dia merasa jika Tuan Muda Jun selalu melakukan segala hal dengan serius. Dia selalu memiliki tujuan dan tidak pernah membuang-buang waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna.
Tapi hari ini Tuan Muda Jun telah membantu Nona Feng yang ditinggal pergi oleh calon suaminya, kenyataan ini benar-benar membuat semua bawahannya merasa heran.
Jari-jari ramping Jun Mohan mengetuk bagian atas meja, matanya yang indah memancarkan sorot yang dalam, "Dia unik."
Jun Mohan tidak menjelaskan alasan spesifiknya, tetapi itu juga sudah menunjukkan bahwa status Nona Feng di sini berbeda.
Apa pun alasannya, setelah mendengar kalimat ini, seluruh bawahannya nanti harus lebih memperhatikan jika bertemu dengan Nona Feng.
.....
Feng Sujin memegang payung dan berjalan kembali ke kediaman keluarga Feng. Begitu sampai di depan pintu rumah, dia mendengar suara kekacauan di dalam yang bercampur dengan tangisan.
"Jangan pukul aku… jangan pukul… Kakak… Kakak…"
"Itu semua karena kakakmu, bajingan kecil! Jika bukan karena kalian, keluarga Feng tidak akan dipermalukan seperti ini!"
"Bukan kakak, bukan kakak…"
"Benar-benar membuatku marah setengah mati! Sekarang pernikahan bisnis dengan keluarga Lan hilang sudah…"