Chereads / TANIA / Chapter 12 - 11. Balkon

Chapter 12 - 11. Balkon

Tania menyebrang untuk pergi ke minimarket seberang jalan. Dengan uang kembalian tadi, Tania ingin membeli beberapa cemilan untuk dirinya.

Tania memilih membeli satu chiki berukuran besar, wafer,roti dan beberapa minuman bervitamin karena mengingat dirinya sekarang yang kesibukannya akan bertambah karena pekerjaan barunya.

Setelah membayar semua, Tania berjalan keluar dan melihat seorang perempuan yang tidak asing dari belakang yang sepertinya sedang bingung. Tania menghampiri perempuan tersebut, dan ternyata adalah Elan.

"Lho kak Elan..."

"Ehh Tania, lagi ngapain?"tanya Elan.

"Oh ini kak habis beli beberapa cemilan, kak Elan sendiri habis ngapain?"tanya Tania.

"Sama habis belanja juga"jawab Elan.

"Kakak lagi nunggu jemputan atau gimana?" tanya Tania.

"Dari tadi nunggu taxi tapi setiap lewat selalu ada yang isi"jawab Elan.

"Ohh kalo gitu bareng Tania aja kak. Tapi Tania bawa motor, kakak gak papa?"tanya Tania.

"Ya gak papalah. Malah kakak berterima kasih, kamu mau bantu kakak"jawab Elan.

"Ya udah kak, tunggu sebentar ya Tania mau ambil motor sama sate"ucap Tania.

"Iya"balas Elan.

Lalu Tania menyebrang untuk mengambil sate pesanannya dan motor.

-

-

-

"Yuk kak..."ajak Tania.

"Iya..."

Elan langsung menaikan dirinya dan belanjaannya ke atas motor. Di sepanjang jalan mereka berbincang dan bercanda ria.

"Tania kamu kan masih sekolah kenapa kamu cari kerja?"tanya Elan.

"Ceritanya panjang dan ada beberapa alasan, salah satunya pengen mandiri kak"jawab Tania dengan tenang.

"Ohh gitu...Trus kamu kan cantik,manis,pinter, baik, pekerja keras, mandiri pasti udah punya pacar kan?"tanya Elan.

"Belum kak"jawab Tania.

"Lho kenapa?"tanya Elan bingung.

"Mau fokus sekolah dan kerja aja. Lagi pula aku juga fokus untuk nunggu seseorang" jawab Tania.

"Pasti pacar kamu ya?"tanya Elan.

Tania menggeleng "Sahabat dekat aku, tapi sekarang aku gak tau dia kemana. Ingin rasanya lihat dia lagi. Rindu banget sama dia"jawab Tania.

"Kan jadi curhat gini..."ucap Tania.

"Gak papa lah, aku malah seneng ada yang mau berbagi cerita sama aku"balas Elan.

"Tania boleh gak anggap kakak sebagai kakak Tania? Dari kecil Tania gak pernah ngerasain punya kakak.Gak bisa cerita bareng. Tapi kalo kakak gak mau juga gak papa kok"tanya Tania.

'Seneng rasanya jadi punya dua adik 'batin Elan.

Melihat Elan yang diam, Tania menyimpulkan kalau ia tidak setuju.

"Maaf ya kalo kakak jadi risih sama pertanyaan aku tadi. Lupain aja"ucap Tania tidak enak hati.

"Siapa yang nolak buat jadi kakak kamu" ucap Elan sambil tersenyum.

"Makasih kak"ucap Tania tersenyum bahagia.

"Rumah kakak dimana?"tanya Tania.

"Komplek Permata Kirana Residence"kawat Elan.

"Berarti kita satu komplek donk kak"ucap Tania senang.

"Iya"jawab Elan.

"Tapi kok aku gak pernah lihat kakak ya?" tanya Tania bingung.

"Sebenarnya aku baru pindah dari Amrik sekitar 2 bulan yang lalu.Kebetulan mamah punya toko kue pakai nama aku sebagai nama toko jadi aku ambil alih karena mama mau istirahat aja"jelas Elan.

"Oohh...."balas Tania.

🌟🌟🌟

Saat ini Tania sedang duduk di kursi balkonnya sambil memakan sate yang dibelinya tadi.

"Gak nyangka beberapa bulan lagi gue ujian dan lulus"ucap Tania tersenyum.

"Gue harus berjuang untuk beberapa bulan ini. Setelah itu gue bisa ketemu mamah.Gue harus dapet nilai yang bagus, gue gak mau mamah kecewa sama gue"ucap Tania.

"Maksud kamu ketemu mamah apa?"tanya seseorang yang tiba-tiba datang.

Tania diam membisu.

"Maksud kamu apa Tania?"tanya Dika. Ya, seseorang tersebut adalah Dika.

"Ya ketemu mamah.Di saat Tania lulus nanti, Tania mau ke makam mamah dan buat mamah bangga dengan hasil nilai Tania" jawab Tania bohong.

Dika tersenyum lalu duduk di kursi tepat di depan Tania.

"Tanpa kamu harus dapat nilai yang bagus pun, mamah kamu sudah sangat bangga sama kamu"ucap Dika.

Tania hanya bergumam.

"Ini kenapa kamu makan di kamar?"tanya Dika.

"Tanya aja sama istri tercinta papah.Nanti kalau Tania makan di bawah di buang lagi" jawab Tania.

"Kok di buang?" tanya Dika.

"Ya tanya donk sama istri papah itu"jawab Tania.

"Masa sih?"tanya Dika tidak percaya.

Tania menampilkan smirk nya.

"Oh iya Tania lupa, kalau pun Tania bilang dia pembunuh juga papah gak percaya"ucap Tania sinis walau dalam hati sedih karena papah nya saja tidak percaya padanya.

Dika langsung berdiri.

PLAKK....

Suara nyaring terdengar di telinga Tania.

Tania memegangi pipinya yang memanas akibat tamparan papahnya.

"JAGA UCAPANMU TANIA"bentak Dika.

Tania terkekeh sinis.

"Kenapa? Mau belain sampah itu?"tanya Tania sinis.

PLAKK....

Sekali lagi Dika menampar Tania dengan kencang.

"JANGAN PERNAH BILANG MAMAHMU SAMPAH"bentak Dika.

Tania langsung menatap Dika penuh kebencian.

"HARUS BERAPA KALI SAYA TEKANKAN KALAU MAMAH SAYA HANYA MAMAH ARINA. ARINA VIDYA. MENGERTI ANDA?" ucap Tania sambil berteriak.

"Mamah kamu sudah meninggal Tania" ingat Dika.

"Seriously?"tanya Tania terkekeh sinis.

"Yes"jawab Dika.

"Kenapa mamah bisa meninggal?" tanya Tania serius.

"Karena kecelakaan"jawab Dika.

"Kenapa bisa kecelakaan?"tanya Tania lagi.

"Karena rem mobil yang di kendarai blong" jawab Dika.

"Siapa yang membuat blong rem nya. Tidak mungkin kan kalau rem itu blong dengan sendirinya karena mobil di rumah ini selalu di check ke bengkel sebulan sekali.Bahkan anda gak pernah tau ataupun mencari tahu siapa yang membuat rem mobil yang dikendarai mobil mamah blong"ucap Tania sinis.

Dika diam membeku.Kenapa ia tidak terpikirkan?

"Bingung kenapa Tania bisa berpikir sampai situ? Karena Tania sayang banget sama mamah. Coba papah tanya kepada diri papah sendiri. Apa papah sayang sama mamah?"

ucap Tania.

"Maafkan papah..."lirih Dika.

"Maaf gak bisa kembalikan keadaan lagi pah, jadi kata maaf papah udah gak berguna lagi" balas Tania tajam.

"Tania capek berdebat lagi sama papah.Tania butuh waktu sendiri"ucap Tania sebelum pergi dari hadapan Dika.

Sedangkan Dika, ia diam membeku memikirkan kebodohan dan perkataan anaknya.