Tania sudah berada dikelasnya, ia duduk bersama Zenna. Tania hanya mendengarkan lagu menggunakan earphone nya, sementara Zenna bingung harus berbuat apa.Karena bosan, Zenna langsung menarik salah satu earphone Tania.
"Kenapa sih Zennot?"tanya Tania.
"Ngapain lo panggil gue pake panggilan Zennot? Elo tuh jangan sama kayak si Leon donk. Gue narik earphone lo tuh karena gue bosen Tania"jawab Zenna.
"Terus gue harus gimana?"tanya Tania.
"Ngapain kek, ngobrol kek, apa ajalah.. yang penting gue gak bosen"jawab Zenna.
"Oke, lo lagi suka ya sama Leon?"tanya Tania.
"Hahh... e..enggak. Ya kali gue suka sama buaya rawa kayak dia.Najiss..."jawab Zenna.
"Habisnya lo tadi ngomong tentang Leon"ucap Tania.
"Enak aja. Lo sendiri suka ya sama Arsen?" tanya Zenna.
"Ya enggak lah Zenna. Lo kan tau, gue mau sekolah dulu, cari kerja dulu baru pacaran" jawab Tania.
"Kita lihat aja. Habisnya gue tadi liat lo sama Arsen turun dari bus yang sama di halte" ucap Zenna.
"Ya kali cuma karena satu bus gue jadi suka sama dia"balas Tania.
"Ya kan siapa tau"ucap Zenna.
"Tan, hari ini gue mau beli kado buat ulang tahun sepupu gue.Lo temenin gue ya belanja" ajak Zenna.
"Duhh...maaf ya Zen, gue lagi gak di bolehin keluar sama papah gue"balas Tania tak enak hati.
"Yahh... yaudah deh gak papa"ucap Zenna lesu.
"Sorry ya Zen..."ucap Tania.
"Gak papa"balas Zenna.
"Selamat pagi anak-anak!!! Mari kita mulai pelajaran"ucap guru yang tiba-tiba masuk.
"Pagi bu"ucap anak murid kelas serentak.
🌟🌟🌟
Bel pulang baru saja berbunyi.Karena kelas Tania jam kosong, Tania dengan cepat merapihkan semua barang-barangnya.
"Kok cepet banget Tan?"tanya Zenna.
"Iya papah gue lagi jemput dan sebentar lagi dia ada meeting di kantornya"jawab Tania.
"Ohh..."balas Zenna.
"Ya udah gue duluan ya..."pamit Tania.
"Iya udah, hati-hati..." balas Zenna.
Tania hanya mengacungkan jempolnya.
Tania keluar dengan berjalan cepat.
Saat di parkiran ia melihat ada Arsen, tetapi Tania tetap berjalan keluar.
"Cuek banget sih dia"gumam Arsen.
Tania berjalan ke toko kue tempatnya bekerja dengan berjalan kaki, karena toko kue itu tidak jauh dari sekolahnya.
"Siang mbak Vika"sapa Tania.
"Eh iya siang"balas Vika.
"Aku mau ngambil seragam dimana mbak?" tanya Tania.
"Ke ruangan bos aja"jawab Vika.
"Oke...Ya udah aku ke ruangan bos dulu ya" pamit Tania.
"Oke..."balas Vika.
Tania langsung pergi ke ruangan bos nya.
"Permisi Bu eh maksudnya kak"ucap Tania.
"Ya, Siang Tania..."sapa Elan.
"Siang kak..."balas Tania sedikit canggung.
"Udah siap untuk kerja?"tanya Elan.
"Siap kak"jawab Tania mantap.
"Oke, bagus..."balas Elan.
"Saya mau minta seragam kerja nya kak"ucap Tania.
"Ohh...itu ada di atas laci itu"balas Elan menunjuk ke arah sebuah laci.
"Saya ambil ya kak..."ucap Tania.
"Silahkan..."balas Elan.
Lalu Tania mengambil seragam yang berada di laci yang ditunjukkan oleh Elan.
"Saya permisi ya kak..."pamit Tania.
"Iya semangat ya..."balas Elan menyemangati Tania.
Tania tersenyum manis dan mengangguk.
Setelah itu Tania keluar dan memulai pekerjaannya.
Tania bekerja seperti Vika, menjaga kasir.
Dan ini membuat Tania dan Vika bertambah dekat.
🌟🌟🌟
Tania baru sampai di kamarnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang nyamannya.
Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Hari ini adalah hari pertama Tania kerja, tetapi badannya sudah sangat lelah. Mungkin karena belum terbiasa. Setelah merasa tubuhnya sedikit lebih baik, Tania berjalan untuk mengambil pakaiannya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
'Mungkin air hangat bisa membuatku lebih rileks' batin Tania.
Setelah selesai mandi, Tania turun untuk mengambil makan malam karena ia tahu, pasti papahnya sudah makan duluan bersama Reina.
Tania melihat papahnya sedang duduk di ruang keluarga sambil merangkul Reina.
Tania cuek dan melanjutkan langkahnya ke arah dapur dan ruang makan.Tania melihat sudah tidak ada makanan yang tersedia di meja makan, lalu berjalan ke dapur untuk mencari makanan.Ia melihat tidak ada makanan juga di dapur.Tania pergi ke kamar pembantunya.
"Bi Tum..."panggil Tania di depan pintu kamar pembantunya.
"Iya non"jawab bi Tum yang langsung membuka pintu kamar.
"Biasanya kalo ada yang belum makan, makanan tetap ada di meja makan.Kok sekarang gak ada? Tania cari di dapur juga gak ada. Bibi gak masak?"tanya Tania beruntun.
"Bibi masak kok non.Tapi tadi suruh yang sisa bibi buang.Sebenarnya bibi udah bilang kalo non belum makan, tapi nyonya ancam bibi akan di pecat, jadi bibi buang non.Maafin bibi ya non"jawab bi Tum merasa bersalah.
'Dasar nek lampir' batin Tania kesal.
"Iya gak papa kok bi"jawab Tania.
"Ya udah Tania makan di luar aja deh"pamit Tania.
"Hati-hati ya non"ucap bi Tum.
"Iya bi"balas Tania.
Setelah itu Tania naik menuju kamar. Mengambil jaket dan uang secukupnya.
Lalu berjalan keluar melewati ruang tamu.
"Kau mau kemana Tania?"tanya Dika yang di hiraukan oleh Tani.
Tania tetap berjalan tanpa menoleh.
Semakin hari Dika merasa putrinya benar-benar berubah.
Tania berada di pos satpam rumahnya.
Tania ingin meminjam motor milik mang Dadang.
"Mang Tania mau pinjem motor boleh gak?" tanya Tania.
"Boleh kok non. Tapi malem-malem gini mau kemana atuh non? Bahaya..."balas mang Dadang.
"Mau ke depan komplek doank kok mang. Cuma mau beli nasi goreng di dalam makanan habis"jawab Tania.
"Hati-hati ya non. Atau mau mang Dadang anterin?"balas mang Dadang.
"Siap mang...gak papa kok Tania sendiri aja cuma sebentar kok"jawab Tania.
"Ya udah nih non..."ucap mang Dadang sambil memberikan kunci motornya.
"Makasih mang..."ucap Tania mengambil kunci motor yang mang Dadang berikan.
Tania langsung menaiki motor dan menghidupkan mesin motor. Untung saja matic, jadi Tania masih bisa bawa.
"Tania pergi ya mang..."pamit Tania.
"Hati-hati non..."balas mang Dadang.
Tania hanya mengangguk mengerti lalu pergi ke tempat penjual nasi goreng di depan kompleknya.
"Bang pesen satu porsi ya, berapa bang?" tanya Tania.
"Oke neng...Cuma dua belas ribu aja"jawab penjual tersebut.
Tania mengambil uang seratus ribu dari sakunya dan diberikan kepada penjual tersebut. "Nih bang"
"Oke sip" ucap penjual tersebut menerima uang Tania dan memberikan kembalian.
"Tinggal aman kan bang?"tanya Tania.
"Aman kok neng..."
"Tinggal ya bang"
"Sip...."
Tania menyebrang untuk pergi ke minimarket seberang jalan. Dengan uang kembalian tadi, Tania ingin membeli beberapa cemilan untuk dirinya.
Tania memilih membeli satu chiki berukuran besar, wafer,roti dan beberapa minuman bervitamin karena mengingat dirinya sekarang yang kesibukannya akan bertambah karena pekerjaan barunya.
Setelah membayar semua, Tania berjalan keluar dan melihat seorang perempuan yang tidak asing dari belakang yang sepertinya sedang bingung. Tania menghampiri perempuan tersebut, dan ternyata adalah...