Fiana berjalan santai menuju Lab Bahasa dengan sesekali menatap lesu kearah lantai. 2 hari ujian di Lab Bahasa sudah dia laksanakan dengan baik, hanya tinggal beberapa hari saja, ia akan terbebas dari penjara terkutuk itu.
GUBRAK!
Fiana berjengkit kaget dan mengumpat dalam hati kala mendengar suara bantingan yang cukup keras. Ia bergegas memasuki kelas dan membulatkan kedua bola matanya saat dirinya melihat William sudah memporak-porandakan kelas.
"LEON GOBLOK! KELAMAAN ELO NYET! GUE JADI MATI! RANK GUE TURUN JAUH ASU! SEHARUSNYA NAIK!"
"HEH MONYET! GAK ELU DOANG YA YANG RANK NYA TURUN! GUE JUGA TURUN JAUH BEGO! MUSUHNYA PRO BANGET SIH PAKE FANNY! KAN GUE JADI KALAH GOBS!"
BRAK!
"GUE HARUS BALAS DENDAM! GAK ADA YANG NAMANYA KEKALAHAN! AYO MAIN LAGI! SAMPAI MENANG!"
"WILLIAM ANJIM! BENTAR LAGI MASUK WOI! ENTAR ELU SAMA LEON PASTI GAK BAKALAN SEMPAT SELESAI!"
"DENGER YA ALVIN! MENDING ELO DIEM AJA DARIPADA NGEBACOD GAK BERFAEDAH! INI PERTARUNGAN ANTARA NAIK DAN TURUNNYA RANK!"
"GASKEUN AJA DAH WIL! GAK USAH DENGERIN ALVIN! RANK LAGI SAMPAI MENANG!"
"NAH!"
GUBRAK!
BRAK!
"LEON! KENAPA IKUT-IKUTAN BANTING KURSI SIH GOBLOK! ENTAR GUE JUGA YANG TATA BALIK!"
"BODOAMAT!"
Fiana mengusap dadanya pasrah mendengar pertengkaran tak bermutu yang mereka lakukan dipagi hari begini. Kursi dan meja bahkan sudah berserakan dimana-mana akibat ulah William dan Leon hanya gara-gara sebuah game.
"Eummm b-boleh gue bantu?"Tanya Fiana saat dirinya baru saja sampai disamping Alvin yang menata beberapa kursi dan meja. "Oh boleh kok! tapi entar kalau capek bilang ya? jangan dipaksain."
"Iya, nanti gue bilang."
BRAK!
"HELLOW EPRIBADEHHH! TRENO BEK!"
"BERISIK!"
DUAGH!
Alvin dengan kesal melempar buku paket tebal dan tepat mengenai kepala Treno yang baru saja datang. Tanpa merasa bersalah, ia kembali melanjutkan acara beres-beres kursi bersama Fiana.
"Itu... gak papa emang?"Tanya Fiana merasa was-was saat melihat Treno terdiam ditempat tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Udah gak papa, biarin, gak peduli gue."
"ALVIN SIALAN!"
BUGH!
GUBRAK!
DUAGH!
"HEH! KALIAN NGAPAIN GOBLO! JANGAN KAYAK GITU!"
Hendri dan Juna kompak menarik Alvin yang sudah mau menonjok Treno yang terkapar dilantai. Fiana menutup mulutnya tak percaya saat melihat kemarahan sekilas Alvin yang mengerikan.
"GUE KESEL YA ASU! UDAH LEON SAMA WILLIAM BIKIN NI KELAS PORAK PORANDA! TRENO MALAH BIKIN EMOSI! BANTUIN GUE TATA INI KELAS LAGI BANGSAT!"
"IYA PADUKA IYA!"Hendri dan Juna kompak berlari menuju tengah-tengah kelas dan menata beberapa kursi yang berserakan. Fiana menghela nafas dan kembali menata beberapa kursi kembali.
"Fin? Fiana? lo kenapa?"Tanya Alvin saat dirinya dapat melihat tubuh Fiana bergetar kecil. "A-a gak p-papa kok..."Jawab gadis itu dengan gagapnya membuat Alvin semakin curiga.
"Fin! beneran loh ini! lo kenapa dah?"Tanya Alvin yang kali ini benar-benar menatap tajam kearah Fiana. "G-gue... sebenarnya hanya kurang b-biasa aja sama kalian... gue rada takut liat pertengkaran kayak tadi..."
"ALVIN! LO APAIN FIANA!"
BUGH!
"JIHAN GOBLO! BERHENTI!"Geon memeluk leher Jihan dan menariknya menjauh dengan paksa. Pemuda itu meringis kecil saat tenaga Jihan berkali-kali lipat lebih kuat dari dia.
"Jihan... jangan kayak gitu... g-gue takut..."
"Ya Allah Fiana!"Deno berlari kecil dan membantu Fiana berdiri, gadis itu baru saja mengalami shock akibat ulah Jihan yang tiba-tiba menerjang Alvin.
"DUH ANJIR! PIPI GUE LEBAM ASU!"
"HEH GOBLOK! GUE KAGET!"Omel Treno yang hampir saja tertimpa badan Alvin yang terjatuh kearahnya. Jihan berhenti memberontak dan menatap Fiana dengan kalem.
"Maaf ya Fin..."
"Udah cukup! gue gak mau! gue takut sama kalian..."Lirih Fiana yang dapat didengar jelas oleh semua orang, bahkan Leon dan William yang sudah menghentikan aktivitas mabar mereka.
Fiana menggeleng kecil dan berjalan cepat keluar kelas. Jihan menatap tajam kearah teman-temannya yang baru saja datang dengan tatapan mengintimidasinya.
"PORAK-PORANDAKAN KELAS! GUE KESEL BAMSAT! BODOAMAT DIMARAHIN SAMA GURU! INTINYA GUE EMOSI!"
"GASKAN!"
GUBRAK!
BRUAK!
BUGH!
GEDUBRAK!
PRANGGG!
"Pemandangan yang begitu indah~"
•|•|•|
"Jadi? siapa yang berbuat seperti ini?"Tanya Bu Henny dengan tatapan sinisnya membuat Jihan segera mengangkat tangan.
"Saya Bu, saya lagi emosi hari ini, makanya saya ajak teman-teman yang lain hancurin kelas, salah? lha emang salah kok, saya akui, masih mending saya hancurin kelas, daripada saya ajak tawuran satu sekolahan?"
"Jihan Aarav Caldwell, sebenarnya kamu ini niat sekolah gak si?"
"Enggak, tapi saya tetap sekolah, buat apa? demi Bunda saya, gitu doang si."Jawab Jihan seadanya yang dibalas gelengan tak percaya dari ke-15 teman nakalnya.
"Bunda ataupun Ayah kamu pasti kecewa sekali melihat sikap berandal kamu yang seperti ini."Ujar Bu Henny terkesan tajam membuat Jihan mengangkat bahunya cuek.
"Mana ada, Ayah saya aja bilang gini 'Nak, kamu walaupun gak niat sekolah, tapi harus tetap sekolah ya, gak papa jadi berandal, yang penting setiap hari masuk sekolah' gitu lah Bu."Jawab pemuda itu terkesan santai membuat Henny diam-diam mematahkan pensil kayunya.
"Lari-larian dikalangan 20 kali, lumayan buat olahraga."Titah Bu Henny dengan tegas yang segera dibalas anggukan pasrah dari 16 murid nakalnya sekolah.
"BALAPAN HAYUK ANJIR!"Seru Juna yang sudah berlari duluan bersama Treno.
"TUNGGUIN HEH!"
"AYO REY!"
"ARFAN HATI-HATI GOBLO!"
"INDRA ANJIR! GUE HAMPIR NYUNGSEP!"
"KEN JANGAN SENYUM-SENYUM MULU ANJIP!"
"RIVAN JANGAN JAUH-JAUH!"
"ZIANO CEM BABYK! AYO LARI GOBLOK!"
"ILYAN! JANGAN SERET GUE! MENTANG-MENTANG ELU LEBIH TINGGI DARI GUE!"
"HENDRI BANYAK BACOD!"
Bu Henny memijat pelipisnya pelan merasa pusing sendiri melihat sikap bar-bar anak nakal seperti mereka ini. Apalagi bos mereka, Jihan Aarav Caldwell, yang pintar sekali berbicara sinis.
"JUNA ANJIR! TUNGGUIN GUE!"
"ARFAN LAMA AMAT ANJIR LARINYA!"
"GUE MAGER ASU!"
"GEON! JANGAN NARIK-NARIK TANGAN GUE NAPA!"
"KEN! BERHENTI SENYUM!"
"KAKI GUE MAU PATAH!"
"ALASAN! BARU JUGA SATU PUTARAN!"
"GUE KAN KAUM REBAHAN ANJIR! MAGER BANGET!"
"PULANG SEKOLAH! GUE TRAKTIR KALIAN MAKANAN SEPUASNYA! MAKANYA CEPET SELESAIIN INI!"
"JIHAN LUP YU!"
"JIHAN SARANGEK!"
"JIHAN AISITERUUUU!"
"ALL HATE TO YOU!"
•|•|•|
"Mau meninggoy gue rasanya."Ucap Ziano dengan pasrah saat dirinya baru saja terkapar tak berdaya diatas lantai kelas. "Kaki gue serasa mau copot dari tempatnya."Balas Ilyan yang juga ikut terkapar disamping Ziano.
"Permisi anak-anak, waktunya ujian ya, waktu kalian tinggal tersisa 1 jam, jadi ngebut ya kalau ujian."Ucap seorang guru yang baru saja datang dengan map berisikan kertas ujian dikedua tangannya.
"FIANA! MINTA CONTEKAN!!!!!"
"Maaf anak-anak, Fiana sudah kami suruh mengerjakan ujian di kantor, jadi kalian berusaha sendiri ya???"
"TIDAK!!"