Abdul memberikan jawaban yang membuat sultan Hassan merasa iri. " saudaraku dari seluruh jalur Padang pasir ini hanya kotamu ini saja yang ketiga baruku datangi?." Ungkap abdul. Lantas sultan meminta agar Abdul menyebutkan dari kedua tempat yang pernah ia singgahi. "saudaraku tidaklah bisa aku menyebutkan dari kedua tempat yang aku singgahi, namun ada nama yang paling aku ingat diantaranya yaitu Palestina bahkan tempat sekecil sekalipun sudah aku singgahi tetapi mengapa kotamu ini baru terlihat sedangkan kotamu ini cukup besar dari yang terakhir aku sebutkan." Sultan Hassan kembali marah ketika Abdul mengatakan hal yang tidak ingin di dengarkannya.
"Berani sekali kamu mengatakan seperti ini kepadaku."
"saudaraku tidaklah aku ingin membuatmu merasa rendah dari tempat yang baru aku sebutkan, sebab aku hannyalah menuruti kemauan mu untuk menyebutkan kedua tempat yang pernah aku singgahi. " Sultan Hassan berfikir kembali dengan perintahnya itu, sedangkan Abdul mencoba lagi mempermainkan emosi sultan. "Saudaraku tidakkah kamu ingin melihat tempat terkecil yang aku sebutkan tadi?."
Jawabnya sang sultan sambil menyombongkan istana miliknya. "untuk apakah aku melihatnya? Sedangkan aku lebih nyaman di istanaku ini, lihatlah betapa megahnya." Di jawablah lagi oleh Abdul. "Saudaraku walau istanamu ini megah namun kamu tak akan pernah melihat hal yang belum pernah kamu lihat." ucap Abdul meyakinkan sultan. "Tempat yang jauh lebih baik dimiliki orang-orang yang belum kamu jumpai." Terpengaruh oleh perkataan abdul, pada akhirnya sultan Hassan mengikutinya. "baiklah aku akan akut dimana tempat itu berada."
Tidaklah sebegitu cepat Abdul menunjukkan tempat yang dia sebutkan, karena merasa lelah yang di rasakannya, dia meminta izin untuk pergi mencari tempat tinggal sementara. Sang sultan menyarankan agar Abdul menginap di kerajaannya, agar dia tidak repot-repot lagi bolak-balik ke kerajaan. Abdul menerima tawaran sang sultan, sebab itulah yang diinginkannya agar dia dapat mempelajari secara keseluruhan sistem kepemimpinan sang sultan.
Menjelang malam Abdul menelusuri seisi kerajaan sang sultan, sudut demi sudut di masuki olehnya, berbagai peninggalan dan pusaka sultan terdahulu banyak tersimpan. Kiri dan kanan melihat semua di hiasi emas membuatnya seakan takut jika rakyat terus memiliki pemimpin seperti sultan Hassan, negeri ini akan tertimpa murkanya. Dari atas kepala Abdul tiba-tiba terjatuh kertas yang entah dari mana asalnya, dia membaca isi kertas tersebut, kertas tersebut merupakan peninggalan dari ayah sultan Hassan berupa nasehat dan peraturan yang harus Hassan ikuti dan tegakkan. Lantas Abdul merasa senang dengan petunjuk yang di berikan kepadanya. "terima kasih atas petunjukmu, tiada yang berkuasa dari engkau yang berkuasa, tiada yang sebaik-baiknya dalam rencana melainkan engkau yang maha mengetahui."
Saat matahari mulai menaiki puncak sinarnya, sultan hassan beserta pasukannya akan melakukan perjalanan, sultan Hassan duduk di dalam tandu yang di angkat oleh beberapa pasukannya dan sebagian lagi dari pasukannya menggunakan kuda, sedangkan Abdul hanya di berikan tunggangan berupa keledai. Melihat Abdul yang tidak menaiki hanya menarik keledai dengan tali lantas sultan Hassan membuka tirai tandunya lalu menegur Abdu. "hay Abdul mengapa kamu tidak menaiki keledai itu?." Jawab Abdul. " tidaklah bisa aku menaiki hewan yang tidak mampu menanggung beban yang lebih berat atau besar dari tubuhnya." tegas Abdul. Sultan Hassan kembali bertanya. "tetapi keledai ini terlihat sehat dan kuat."
Abdul tersenyum lalu melepaskan keledai itu, sultan Hassan kembali di buat kesal dengan perilaku Abdul yang semena-menanya. "Mengapa kamu melepaskannya, kamu tidak bersyukur atas pemberianku. "Tegas Sultan hassan dengan nada tinggi. Tanpa rasa takut Abdul menjawab perkataan sang sultan. "Maka bersyukurlah sang pencipta menciptakan kita sebagai manusia bukan seperti keledai itu saudaraku, sedangkan kamu tahu walau keledai itu sehat namun tubuhnya tidaklah memungkinkan, mengapa hanya aku yang kamu berikan keledai sedangkan pasukanmu kamu berikan kuda yang tinggi dan kuat."
Sala satu pasukan Sultan Hassan memberikan saran kepada sultan Hassan agar menyudahi perdebatan mereka, sebab Abdul akan selalu menjawab perkataan sultan Hassan tanpa batas. Pada akhirnya sultan Hassan meminta agar Abdul duduk bersamanya di dalam tandu, namun Abdul menolak untuk menaiki tandu sang sultan. Penolakan dari Abdul membuat sultan geram, namun tidak ingin meneruskan perdebatan sultan melanjutkan perjalanan. tak beberapa lama perjalanan mereka berhenti di sebuah puncak gunung pasir. Sultan bingung mengapa mereka berhenti di gunung pasir yang kosong tak ada tempat yang terlihat, maka bertanyalah sultan kepadanya. "mengapa kita berhenti di gunung ini? Dimanahkah kota yang terkecil yang kamu sebutkan itu."
"Tidakkah kamu melihat kota itu saudaraku?." Sultan kembali marah kepada Abdul. " ternyata dari tadi kamu mencoba terus mempermainkanku."