Tapi akhir-akhir ini, Ji Ruoqian selalu dihukum karena Ji Anning, tentu saja ia tidak bisa menerimanya dan merasa tersiksa.
Melihat adiknya menangis begitu sedih, Ji Xiangting menggertakkan giginya dan menatap Ji Anning, "Ji Anning, kamu sudah puas, kan?"
Iya, ia sangat puas!
Seorang gadis yang berusia lima belas hingga enam belas tahun biasanya masih polos dan baik hati, tetapi Ji Ruoqian sama sekali tidak menunjukkan sedikit pun sikapnya yang baik hati.
Pada saat berumur tujuh tahun, ia pernah meletakkan seekor ular di tempat tidur Ji Anning. Pada saat berumur sepuluh tahun, ia dengan sengaja menikam lengannya sendiri dengan pisau namun menyalahkan Ji Anning, dan akhirnya ia dihukum satu hari satu malam tanpa setetes pun air. Saat umur dua belas tahun, ia menyalakan api dan membuat dirinya terbakar bahkan membuatnya hampir mati.
'Tolong aku, tolong aku…..'
'An An, jangan takut, ulurkan tanganmu padaku.'
'An An, tolong buka matamu, buka matamu, jangan tinggalkan aku.'
Saat itu, jika bukan karena Ji Jingfeng menerjang api untuk menyelamatkan nyawanya, kemungkinan besar saat ini ia sudah tidak ada di dunia ini.
Ji Anning merasa linglung, gugup dan putus asa ketika Ji Jingfeng memeluknya dan memanggilnya. Seolah-olah ia telah mengalami kehidupan dan kematian yang menyakitkan, dan memintanya untuk tidak meninggalkannya.
Ketika ia membuka matanya, orang yang pertama kali ia lihat adalah Ji Jingfeng yang selalu berjaga di sebelah tempat tidurnya. Ia mengurungkan niatnya untuk melarikan diri dari Keluarga Ji, meskipun nanti ia memiliki kesempatan untuk pergi.
Bahkan ia tahu bahwa jika Jingfeng sangat mengkhawatirkannya itu hanya karena ada seorang peramal yang mengatakan bahwa Ji Anning adalah obat yang terbaik seumur hidupnya, dan juga akan memberikan keberuntungan seumur hidupnya. Kerena itulah ia akan menyelamatkannya ketika menghadapi sesuatu yang berbahaya, ketika ia merasa sangat putus asa, ia akan merasa tidak takut dan tidak gelisah. Ji Jingfeng tidak pernah meninggalkannya, dan selalu mengulurkan tangan untuk membantunya.
Jadi bagaimana ia bisa melarikan diri dan tidak peduli pada Ji Jingfeng? Bagaimana mungkin ia bisa menyerah padanya?
Ji Anning menundukkan kepalanya dan tersenyum dingin, tetapi di mata orang lain, ia terlihat begitu rendah hati dan sangat memprihatinkan saat ini.
Kakek yang baru saja meluapkan amarah dan kini kakek sepertinya masih emosi, sehingga Yang Yufang tidak berani melakukannya apa-apa lagi. Ia menatap Ji Xiangting dengan dingin lalu berjalan ke arah Ji Anning, sambil meraih tangannya ia berkata, "Anning, ikuti Ibu ke atas."
Ji Anning ditarik oleh Yang Yufang menuju lantai atas.
Yang Danning memandang Ji Anning dan merasa sangat tertekan melihat keadaan Ji Anning. Kemudian ia pun memanggil Yang Yufang, "Ibu Anning, aku akan mengajak Anning jalan-jalan untuk menenangkan pikirannya."
Mendengar Yang Danning berkata seperti itu, Yang Yufang hanya menatap Ji Anning ia tahu Ji Ruoqian dan kakaknya pasti telah membuat hatinya sangat terluka. Lingkaran matanya tiba-tiba memerah dan air mata berlinang di matanya.
Tersirat emosi yang begitu rumit, ada kesusahan, ada cinta dan juga ada kebencian…
"Itu boleh juga." Yang Yufang mengangguk dan melepaskan tangan Ji Anning.
"Ayo pergi, Anning." Yang Danning meraih tangan Ji Anning dan menariknya keluar dari ruang makan.
Ia mengabaikan tatapan sinis dari Lin Yanqin dan putri-putrinya.
"Haduhhh, Ji Ruoqian itu benar-benar terlalu berlebihan."
Yang Danning terus menarik Ji Anning hingga akhirnya ia masuk ke dalam mobil, dan dengan kesal ia mengeluh, "Jika Pamanmu tidak bertindak lebih dulu, aku sudah menyiramnya dengan minuman."
Ji Anning tersenyum dengan pasrah, ia percaya bahwa dengan kepribadian Yang Danning. Kemungkinan besar jika ia bisa melakukannya maka ia akan benar-benar melakukannya.
Melihat penampilan Anning yang acuh tak acuh dan masih tersenyum, Yang Danning mengerutkan keningnya sembari bertanya, "Apakah kamu tidak marah?"
Ia bertanya sambil menyalakan mobil.
Ji Anning mengangkat bahu dengan acuh tak acuh, "Tidak ada yang membuatku marah, lagi pula aku hanya mendengarkan kutukan yang sering kudengar."
Keadaannya memang seperti itu, ia juga sudah merasa terbiasa dengan itu semua. Sehingga meskipun mendapat perlakuan seperti itu hatinya seperti sudah mati rasa dan tidak bisa merasa apa-apa lagi.
"Apakah kamu benar-benar baik-baik saja?" Yang Danning mengerutkan keningnya, dan menatap Ji Anning dengan ragu.