Chereads / Jadi Kamu Selalu Mencintaiku / Chapter 23 - Cepat atau Lambat, Dia adalah Milikku (7)

Chapter 23 - Cepat atau Lambat, Dia adalah Milikku (7)

Selama 2 tahun lebih Ji Anning telah diam-diam menjadi pemeran pengganti, kurang lebih ia sudah tahu dan mengenal tentang keterampilan dalam berakting.

Ji Chicheng menundukkan kepala dan melihat tangannya yang digenggam oleh Ji Anning. Di balik tatapan matanya yang tajam itu, tersimpan senyuman yang tidak bisa disembunyikan.

Wajah Ji Chicheng yang semula tampak sangat tegang kini menjadi sedikit lembut.

Tapi suaranya masih terdengar dingin, "Kakek akan bahagia, jika anggota keluarga Ji ada yang menjadi bintang besar."

"Aku benar-benar tahu kalau aku salah." Ji Anning tidak peduli dengan sarkasme Ji Chicheng, dan sekarang ia berpikir bagaimana cara agar Ji Chicheng tidak melaporkan pada kakek. Ia pun meminta maaf pada Ji Chicheng sambil menangis.

Meskipun dirinya tahu bahwa memohon belas kasihan pada Tuan ketiga Ji yang sombong itu adalah tindakan yang konyol, tapi ia tetap melakukannya.

Namun, sekarang Ji Anning tidak bisa berbuat apa-apa selain meminta belas kasihan padanya.

"Apa yang membuatmu menangis?" Ji Chicheng mengerutkan keningnya sambil melihat wajah Ji Anning yang menangis tersedu-sedu.

Wajahnya benar-benar terlihat menyedihkan.

Tangan Ji Chicheng yang dimasukkan ke dalam kantongnya terasa sedikit gemetar.

Namun pada akhirnya ia bisa menenangkan dirinya sendiri.

Tangisan Ji Anning semakin menjadi-jadi, dan suaranya menjadi tersengal-sengal, "Paman, kamu orang dewasa yang sudah bisa menilai, tolong jangan beritahu Kakek, jangan beritahu Ibuku juga."

Ji Chicheng melihatnya dengan dengan penuh belas kasihan, ia mengerutkan kening dan berkata, "Apakah aku terlihat seperti orang yang tidak ada kerjaan dan melaporkan masalah ini pada semua orang?"

Apakah itu berarti Ji Chifeng benar-benar tidak akan melaporkan ini kepada kakek dan yang lainnya?

Mata Ji Anning tampak berbinar, seolah ia telah dilahirkan kembali. Kemudian ia pun mengangkat wajahnya yang dipenuhi air mata dan memandang Ji Chicheng dengan penuh semangat sekaligus rasa bersyukur, "Terima kasih, Paman."

Ia pun melepaskan tangan Ji Chicheng dan menghapus air mata dengan punggung tangannya.

Riasan wajahnya langsung luntur saat ia mengusap air matanya dan ini membuatnya terlihat menggemaskan seperti kucing.

Mata Ji Chicheng menyiratkan senyumannya, ia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya lagi, dan menatap Ji Anning dengan tenang.

Angin pantai yang sepoi-sepoi, disertai dengan segarnya aroma laut, datang silih berganti. Hembusan angin yang sepoi-sepoi itu membuat rambut panjang dan rok Ji Anning berkibar perlahan.

Yang dilakukan Ji Anning ini perlahan mulai membuat hati pria yang ada di depannya ini menjadi tersentuh dan membuat jantungnya berdegup kencang.

Suasana tegang akhirnya mulai mereda. Qi Helian menatap Ji Chicheng dengan sedikit mengernyit, dan menyipitkan matanya dengan curiga.

Setelah beberapa saat mengamati dengan seksama, ia berkata pada asisten wanita yang ada di sampingnya itu, "Minnie, antarkan Nona Ji ke mobil untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian."

"Baik." Minnie mengangguk, lalu tersenyum dan menatap Ji Anning, "Nona Ji, silakan ikut denganku."

"Tidak perlu…"

Ji Anning melambaikan tangannya dan ingin menolak, tapi sebelum ia selesai berbicara, pria yang ada di sebelahnya itu langsung menyela.

"Pergilah dan cuci mukamu."

Nadanya seperti nada memerintah. Setelah berbicara, ia membungkuk dan kembali duduk di kursi yang ada di samping Qi Helian lagi.

Saat Ji Chicheng berbicara, Ji Anning tidak berani membantahnya. Ia pun mengangguk dan menurutinya, "Oke."

Asisten Mickey menunjukan jalan Ji Anning untuk masuk ke mobil mewah Qi Helian.

Qi Helian menatap punggung Ji Anning yang mulai menjauh, kemudian ia pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Setelah itu berkata sambil mengangkat minumannya, dan menyesapnya dengan santai, "Aku tidak menyangka gadis itu ternyata calon istri Jingfeng. Pantas saja tadi dia terus berusaha menghindariku."

Setelah selesai berbicara, ia menatap Ji Chicheng yang ada di sampingnya dengan tatapan yang dalam.

Wajah tampan Ji Chicheng langsung berubah suram seperti bagian bawah panci yang gosong. Kemudian ia mengalihkan pandangannya dari arah mobil RV, dan menatap Qi Helian dengan dingin, "Qi Helian, malam ini kita batal makan bersama dulu ya."

Qi Helian mengabaikan kata-kata Ji Chicheng, melihat ke arah mobil RV lagi, dan berkata dengan santai, "Gadis ini terlihat sangat manis ketika dia masih kecil, tapi sayang sekali dia sudah ada pemiliknya."

Saat ia berkata seperti itu, ia tampak melirik Ji Chicheng dari samping.

Ji Chicheng berkata dingin, "Cepat atau lambat, dia akan menjadi milikku."